Salam dari author untuk pembaca 😊✨🙏
Putri Adelia yang biasa di panggil adel, usianya kini menginjak 24 tahun. Dia menjalani kisah cinta yang romantis dan begitu membuat iri orang-orang.
Kisah cintanya dengan devan alvano begitu indah dan tampak sempurna di mata siapa pun yang melihatnya.
Devan adalah sosok pria yang hampir tidak memiliki celah—tampan, mapan, dan selalu bersikap lembut pada Adel. Di hadapannya, Devan seperti pria yang hanya hidup untuk mencintai satu wanita.
Tapi tiba-tiba semuanya runtuh ayah adel memutuskan untuk menjodohkan nya dengan kakak Devan, yaitu Lucas yang usianya sudah 36 tahun terpaut jauh dari usia adel.
HEHEH SEMOGA SUKA YA SAMA NOVEL AKU 🙏😁✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tayanlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35.
Lucas mengangguk singkat.
" Bagaimana jadwal hari ini " tanya Lucas langsung tanpa basa basi.
" Semua sudah di siapakan tuan, meeting besok pagi pukul 07:00 dan malam ada makan malam dengan klien " jawab sekretaris itu cepat.
Lucas hanya memberi respon singkat.
" baik "
Sementara itu sopir sudah mengambil alih koper dan memasukannya ke dalam bagasi mobil, lalu dengan cepat Ia membuka pintu mobil.
" silakan masuk non " ucapnya sopan dan senyum tipis.
Adel masuk ke dalam mobil, di susul oleh Lucas yang duduk di sampingnya beberapa detik kemudian.
Mobil mulai bergerak meninggalkan bandara.
Di sepanjang jalan, suasana menjadi hening, Lucas yang sibuk dengan layar ponselnya dan Adel yang sibuk dengan pikiranya sendiri, Ia menatap ke arah jendela.
gedung-gedung tinggi, jalan padat, klakson bersahutan, semuanya terasa asing, sekaligus asing.
Tangannya tanpa sadar meremas ujung dress yang Ia kenakan.
Lucas melirik sekilas.
" jika, pusing bilang " ucap Lucas datar.
" aku tidak pusing " Jawab Adel, Ia menoleh menatap Lucas yang masih sibuk dengan dunianya.
Lucas tidak menanggapinya lagi, namun beberapa detik kemudian AC mobil sedikit di turunkan suhunya.
Adel terdiam, Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Mobil terus melaju cepat, hingga akhirnya memasuki kawasan perumahan elit dengan gerbang tinggi, gerbang itu terbuka otomatis saat mobil yang membawa mereka.
Adel sedikit menegakkan tubuhnya.
" ini...!! " ucap Adel pelan.
" Ah... aku belum memberitahu kamu "
" selama kita di jakarta, kita akan tinggal bersama kedua orang tua ku " ucap Lucas datar.
" Aku dan papa belum bicara soal kita akan memiliki rumah sendiri " lanjut Lucas.
" hah.... kamu yakin? " tanya Adel dengan nada kesal dan sedikit terkejut.
" Kamu tau kan, aku.... aku "
" aku apa? " tanya Lucas, seolah tidak tau apa-apa.
" Lucas Arthur mahendra, kamu tau aku dan Devan masih belum benar-benar selesai " ucap Adel meninggi.
Lucas terdiam, menatap Adel datar.
" Jika kamu tidak membuat masalah dan menjaga sikap, aku yakin semuanya akan baik-baik saja " ujar Lucas, Ia segera keluar saat mobil berhenti tepat di halaman rumah.
Ck...
Adel berdecak kesal, menatap tajam punggung Lucas yang sudah keluar dari mobil.
Lalu dia turun perlahan dari mobil, Adel berdiri di depan rumah besar dengan hati yang belum siap, menatapnya lama.
" mari non " ucap sang sopir sopan.
Adel mengangguk pelan, lalu melangkah dengan berat hati, mengikuti Lucas yang sudah masuk lebih dulu.
Kakinya terasa berat, Ia menyusul Lucas sampai bisa berjalan berdampingan, agar dia merasa lebih baik.
ku mohon.... ku mohon... semoga tidak ada dia ( bisik Adel dalam hatinya).
Lucas sadar Adel merasa gelisah, tangannya bahkan bergetar halus.
Tanpa aba-aba Lucas menggenggam tangan Adel, hingga jari-jarinya masuk ke sela jari Adel, yang terasa dingin.
Adel menoleh cepat, menatap Lucas dengan campur aduk, terkejut, bingung dan sedikit tidak percaya.
tangannya hangat, memberi sedikit kekuatan di kaki Adel.
" lakukan dengan baik " bisik Lucas tanpa menoleh.
Adel tidak menjawab, Ia hanya diam.
Tak lama tuan mahendra dan nyonya risma menuruni anak tangga dengan hati-hati, senyum tipis terukir di wajah keriputnya.
" selamat datang kembali " ucap ringan tuan mahendra, Ia terlihat senang dengan kedatangan Lucas dan Adel.
Berbeda dengan nyonya risma, Ia hanya diam menatap tidak suka pada Adel, bahkan nyonya risma dengan terang-terangan menujukan sikap ke-tidak sukaannya.
Tuan mahendra berhenti tepat di depan Lucas, senyumnya tidak hilang, lalu pandangannya beralih pada Adel yang ada di samping Lucas.
Perlahan tatapan tuan mahendra turun ke bawah, melihat Lucas menggenggam tangan Adel.
" Sepertinya hubungan kalian semakin baik, setelah honeymoon di sana " ucap tuan mahendra dengan senyum lebar, dan wajahnya yang berseri-seri.
" Iya " jawab Lucas datar, tanpa cela.
" Apa kabar dengan papa dan mama " tanya Lucas kaku tanpa sedikitpun emosi di dalamnya.
" Aku... baik " jawab tuan mahendra.
" Sebaiknya kalian istirahat, besok kita bicara lagi " ucap nyonya risma dingin, jelas tidak ingin melihat mereka berdua.
Tuan mahendra menoleh pelan pada istrinya, Ia dengan jelas tahu dari ekpresi risma yang tidak menyambut kedatangan putra sulungnya dan menantunya.
tuan mahendra menghela nafas pelan.
senyumnya masih ada, tapi kini sedikit di paksakan.
" Risma " panggilnya lembut, seolah. mencoba menahan suasana agar semakin dingin.
Namun nyonya risma tidak menoleh.
tatapannya lurus ke arah Adel, dingin, tajam, menilai tanpa berusaha menyembunyikan apapun.
Adel refleks menunduk sedikit, genggaman tangan Lucas terasa semakin jelas sekarang, bukan hanya sebagai penopang, tapi sebagai batas seolah mengatakan aku di sisimu.
" silahkan istirahat " ulang nyonya risma singkat, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban.
Langkahnya pelan namun tegas, meninggalkan ruangan itu bersama hawa dingin yang Ia bahwa.
Suasana menjadi hening dan tidak nyaman setelah kepergian nyonya risma.
Tuan mahendra tersenyum canggung.
" jangan di masukan ke hati " ucapnya pada Adel, nadanya lebih lembut.
Adel sedikit terkejut lalu dengan cepat Ia mengangguk pelan.
" Iya... " jawab Adel.
Tuan mahendra mengangguk.
" kamarmu masih seperti dulu tidak ada yang berubah " ucap tuan mahendra.
Lucas tidak menjawab, Ia menarik Adel pelan menaiki anak tangga.
" ayo " ucap Lucas.
mereka berjalan menyusuri lorong panjang rumah itu, di sepanjang jalan pelayan yang berpapasan langsung menunduk hormat.
Adel merasa seperti orang asing di tempat yang seharusnya menjadi rumahnya.
Tak lama mereka sampai di depan pintu besar, Lucas membukanya, kamar luas itu langsung terlihat, rapi, elegan dan dingin, mengambarkan pemiliknya.
Lucas masuk lebih dulu, lalu melepaskan genggaman tangannya.
Adel terdiam sesaat, Ia merasa kehilangan sesuatu saat Lucas melepas genggaman tangannya.
" Kenapa? " tanya Lucas,Ia menoleh menatap Adel yang hanya berdiri di ambang pintu.
" tidak ada " jawab Adel singkat, Ia melangkah masuk, dan langsung menutup pintu kamar.
Adel menghela nafas panjang.
" Sepertinya nyonya risma tidak menyukaiku " celetuk Adel, Ia menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
" Seharusnya kamu tahu itu sejak kita menikah " jawab Lucas tanpa menoleh, Ia melepas jasnya, lalu pergi ke ruang ganti.
Adel menoleh, Ia hanya bisa melihat punggung Lucas yang sudah masuk ke dalam ruang ganti.
" Huh....benar-benar deh, sepertinya aku harus mempersiapkan mental marshmallow ku ini.... " gumam Adel.
" Aku harus siap berhadapan dengan mertua sepertinya " lanjut Adel.
Ia berbaring, menatap langit-langit kamar, mengingat apa yang terjadi tadi membuat Adel merasa tidak nyaman.
" Ganti baju " ucap Lucas tiba-tiba.
Adel segera bangun dan langsung melihat ke arah Lucas.
" Enggak mau " jawab Adel.
" kamu ingin tidak di luar?..." ucap Lucas datar.
" bawel " gerutu Adel, tapi Ia tetap berdiri dan mengambil pakaian ganti.
Lu doyan ma perempuan kaga sih 🙄🙄🙄🙄
a elaaaaaaah lu lambat banget jadi cwo.
Readers kecewa nih 😒😒😒
Reader : elu nyesel khan Cas, yg begitu lu anggurin.
Udeh buruan lu tubruk deh...udah halal juga khan
Lu gimana sih Lucaaaaaasss, masa iya lu diem aja dibilang laki ga normal.
Harusnya tuh lu tunjukin ke Adel...kasih paham ke Adel, kl lu laki tulen
Hanya Othorlah pemegang kendali atas segalanya
Tunjukkan kl kamu ga terpengaruh ocehan Karina, biar Karina tidak memandangmu remeh.