Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nanti Juga Kerasa
"Ya nyesel, tapi nggak yang nyesel-nyesel banget!" ujar Dena.
Mika mengerinyit tipis, sambil fokus memegang kemudi.
"Cuma, gara-gara kejadian itu gue langsung dipanggil kakak lo, dan jadinya ya gini. Gue mendadak jadi kakak ipar lo," lanjutnya.
Mika terdiam sejenak. Lalu tersenyum kemudian.
"Tapi, lo ikhlas menerimanya kan?" tanyanya.
"Ya gimana, mau nggak mau gue harus ikhlas," jawab Dena cepat.
"Daripada nasib gue ke depannya bakal runyam gara-gara ancaman Kakak lo, ini satu-satunya pilihan yang gue punya waktu itu," katanya lagi.
Kali ini Mika langsung senyum tanpa ragu, diliriknya Dena lebih dalam.
"Udahlah."
"Lagian kakak gue nikahin lo juga nggak main-main. Dia serius!" ujarnya.
Dena ngerti, tak sedikit pun ia menyangkal perkataan Mika.
"Iya tau. Gue juga nggak gimana-gimana tiba-tiba jadi istri kakak lo."
Dena diam sejenak, pandangan beralih ke luar jendela.
"Cuma... gue masih nggak nyangka aja, gue punya suami gara-gara masalah bully," balasnya.
"Dan sejak terakhir kalinya gue bully dan kebetulan korbannya lo sendiri. Gue udah nggak mau lagi ngelakuin itu. Gue kapok!" imbuhnya.
"Kapok?"
Dena menoleh. "Ya iyalah! Hukumannya aja begini. Untung pernikahannya dirahasiakan. Coba kalau terang-terangan?" sungutnya.
"Apa nggak heboh satu sekolahan!"
Mika spontan tertawa, renyah. Dan entah kenapa si rambut pelangi itu tertawa, Dena nggak tau, padahal nggak ada yang lucu.
"Ngetawain apa lo?" dengus Dena.
Mika menggeleng-geleng.
"Enggak..."
"Gue cuma seneng aja lo udah tobat sebagai ratu bully di Harina," ujarnya sambil masih tertawa ringan.
"Kenapa seneng, emang ada untungnya buat lo?" sergah Dena.
"Mungkin," jawab Mika tertawa ringan.
"Apaan?"
Mika menoleh, menatap Dena yang mewawasnya bingung.
"Ya dengan lo yang udah berhenti, artinya ada ruang yang terbuka lebar," ujarnya.
Dena langsung melirik.
"Ruang?"
Mika ngangguk-ngangguk.
"Untuk apa?"
Namun, berapa kali pun Dena bertanya. Mika tak acuh, ia seperti enggan memperpanjang penjelasannya.
Hingga setibanya mereka di depan gedung bertabur lampu neon—salon langganannya Mika.
Dena masih belum berhenti bertanya.
"Heh! Jawab dulu!"
"Maksud lo tadi apa?" desak Dena.
"Ck! Diem ah! Gue lagi parkir!" ketus Mika.
"Sambil jawab kan bisa!"
"Bisa, tapi lo yang parkirin mobil gue, mau?"
"Kan gue nggak bisa!"
"Ya udah diem!"
Alhasil, Dena mendadak diam, semetara perkataan Mika sebelumnya, tetap menggantung tanpa penjelasan.
Mika tersenyum jahil. Tapi tidak dengan Dena yang mendadak kesal.
"Tauk ah!"
Mobil akhirnya terparkir sempurna.
Mika kemudian turun lebih dulu, sementara Dena masih diam sebentar di dalam.
Dan entah kenapa ucapan Mika barusan, agaknya masih nyangkut di kepalanya.
...***...
Di malam yang sama. Malam Minggu itu, Alvaro juga punya agendanya tersendiri.
Di tempat tersembunyi—sebuah gedung berhawa sunyi, tempat ratusan mobil yang menjadi jaminan para depcollector terparkir rapi.
Alvaro melangkah santai masuk ke dalam. Sepatunya berderap pelan, menggema tipis.
Bau oli, besi, dan sisa asap rokok lama masih nempel di udara. Lampu-lampu redup menggantung seadanya, bikin bayangan jatuh panjang di lantai semen.
Di sana, Dicky Ardana—sudah menunggunya. Bersandar di salah tiang, bara rokok di sela jarinya nyaris mati terkikis udara.
"Tempat ini, hawanya masih sama aja." Alvaro memandang sekitar, matanya menyapu setiap sudutnya, lalu berhenti pada satu titik—sebuah kursi berdebu.
Dicky nyengir tipis, ikut melirik ke arah yang sama.
"Ya iyalah, tempat ini nggak pernah dijamah orang, Var, dan kalau berubah malah kelihatan aneh," sahutnya santai sambil menyentil abu rokok ke lantai.
Alvaro tertawa sekilas, mengalihkan pandangan ke atas.
"Gimana keadaan Harlan sekarang?" tanyanya kemudian.
"Dia?" Dicky sejenak mengingat.
"Kembali ke habitat," jawabnya.
"Balik jadi pemahat?"
"Udah turun pangkat," kata Dicky. "Jadi pengrajin asbak."
"Oh..."
Alvaro bersedekap dada, mengangguk pelan sambil agak tertawa. Lucu juga membayangkan Pak tua Harlan, menjadi seorang pengrajin asbak.
"Jadi dia ninggalin tempatnya di sini, untuk kembali ke tempatnya dulu," kekehnya.
"Sebagai seniman?"
Dicky ikut tertawa, tapi agak ringan.
"Sama seperti lo kan?" ujarnya kemudian.
Alvaro langsung melirik.
"Apanya?"
"Merelakan takhta terminal, untuk duduk di posisi lo sekarang," sahut Dicky sembari menggeser posisi bersandarnya, bahunya menempel ke badan mobil. Senyum tipis tersungging di ekor bibir.
"Pakai baju rapi, duduk di ruangan nyaman, mimpin banyak perusahaan," lanjut Dicky, nada suaranya terdengar santai tapi ada sedikit nada menyindir.
"Lo yang sekarang, udah jadi bos besar di tempat yang benar," lanjut Dicky.
Alvaro mendengus.
"Itu cuma warisan," tukasnya.
Dicky nyengir. Nggak langsung nyaut. Ada setitik jeda ketika Alvaro sedang membakar rokok.
"Tapi lo bisa pegang kendali," kata Dicky tak lama.
"Pegang, apa yang nggak semua orang bisa."
Alvaro diam sebentar, abu rokok jatuh perlahan. Matanya melirik Dicky. Asap mengepul samar di depan wajahnya.
"Lo juga."
"Gue?" Dicky ngangkat alis.
"Tempat ini juga warisan," ujar Alvaro.
Pelan.
"Dari Harlan."
Dicky terdiam, nyentil abu rokoknya. Lalu nyengir.
"Iya sih. Tapi gue cuma jagain aja," katanya dalam. "Jagain yang dari dulu emang udah rapi."
Alvaro mengisap batang rokoknya, lalu menghembuskan asapnya perlahan.
"Harlan emang begitu, dia selalu hati-hati, bahkan ketika mau pergi, dia nggak mau ninggalin tempat ini dalam keadaan nggak rapi," ujarnya.
Dicky mengangguk, setuju.
"Tapi terminal kagak, Var," celetuknya tiba-tiba.
Alvaro melirik sekilas.
"Terminal kenapa?"
"Kacau," sahut Dicky. "Sejak lo tinggal..."
Hening sebentar. Cuma terdengar suara tikus yang saling beradu jotos di loteng.
Alvaro menggeleng, nyandar ke kap mobil.
"Itu udah lama. Gue nggak ada hubungannya," sahut Alvaro.
"Tiga tahun belum terlalu lama, Var."
Dicky melirik Alvaro.
"Tapi, Rangga yang sekarang pegang terminal, yang naik cuma karena keadaan, bukan karena siap..."
"Di bawahnya, semua kacau. Terminal udah berubah semenjak lo nggak di sana," ujar Dicky.
"Sedangkan di sini, kita semua tau. Cuma lo satu-satunya orang yang bisa bikin terminal rapi. Dan Rangga, bocah ingusan itu nggak bisa jagain apa yang dulu pernah lo perjuangkan," imbuh Dicky lagi.
Tapi, Alvaro tidak menanggapinya secara berlebihan. Udah kebayang duluan keadaan terminal sekarang, meskipun baru dari mendengar dari ceritanya.
"Kalau Pelabuhan?" tanya Alvaro merambat ke wilayah lain. Seolah, enggan membicarakan terminal lebih dalam.
"Masih Johar yang pegang," jawab Dicky. "Dan cuma dia doang yang bener-bener nggak goyang."
Alvaro diam sebentar. Johar Bahari—nama itu membuatnya langsung teringat bagaimana cara pria itu menatap, dan setiap pukulannya yang bisa bikin orang langsung masuk unit gawat darurat, alias sekarat.
"Dia emang beda," gumam Alvaro sambil menatap Dicky saat ada yang sedikit mengganjal di benaknya.
"Tapi, kalau cuma Pelabuhan yang nggak goyang, artinya wilayah dunia malam?" tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.
Dicky nggak langsung jawab. Ia buang puntung rokoknya, lalu diinjaknya pelan.
"Iya, tempat itu juga goyang." Dicky berkata pelan. "Yang pegang di sana udah bukan orang lama kita. Udah ganti dari lama," lanjutnya.
Alvaro menoleh.
"Andra?"
"Sejak istrinya sakit-sakitan dia terpaksa mundur," ujar Dicky. "Nggak sempet ngatur siapa pewarisnya."
"Jadi tempat dia udah dikuasai kelompok lain?"
Dicky mengangguk. "Iya..."
"Siapa?"
"Sekelompok orang bertopeng," sahut Dicky. "Nggak jelas asalnya, tapi gerakan mereka rapi."
"Tapi, semua orang kita dulu, nggak ada yang peduli," imbuhnya.
Alvaro mengernyit sesaat.
Lalu sunyi lagi.
Kali ini agak lama.
"Nggak ada yang pengen ngerebut balik?" sindir Alvaro.
"Nggak ada," jawab Dicky.
"Takut?"
"Bukan!" sangkal Dicky.
Kemudian laki-laki tersenyum.
"Cuma, lagi nunggu komando aja dari lo," lanjutnya, kemudian laki-laki itu tertawa.
"Itu juga kalau lo mau turun," kikiknya.
Alvaro mendengus.
"Gue nggak akan turun. Tempat gue udah nggak di sini lagi," ujarnya. "Dan lo sendiri tau kan, kenapa gue pergi?"
Dicky manggut-manggut. "Tau, bahkan ceritanya terlalu rumit untuk dijelaskan."
Alvaro tertawa, gema suaranya memantul di segala dinding baja.
"Dan gue juga nggak mau jelasin itu ke siapapun. Bagi gue orang-orang di luar sana nggak penting untuk tau," katanya.
Dicky mengangguk saja, ia tau betul bagaimana laki-laki di hadapannya itu dalam memegang prinsip—selalu jauh dari kata mudah digoyah.
"Termasuk pernikahan lo?"
Alvaro tersenyum miring. "Ya, terutama itu..."
"Orang-orang di luar sana nggak perlu tau!" tegasnya.
Dicky tersenyum kecil, nyaris nggak kelihatan. "Termasuk Aura?"
"Tentu."
"Dan kapanpun itu, dia nggak perlu tau apa-apa tentang pernikahan gue..."
Alvaro menggantung perkataannya. Sorot matanya lurus ke depan.
Lalu tersenyum. "Nanti juga kerasa sendiri..."
...***...
Oh... hai.
Buat yang udah baca sampai bab 35, masih penasaran nggak gimana lanjutannya? Ah, kalau iya minta likenya dulu dong.
makasih...
dan semangat buatnya 💪