"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Imam Dari Neraka
Udara di koridor menuju Masjid Jami Pondok Hikmah terasa berat, seolah oksigen telah berubah menjadi timah yang menyumbat paru-paru. Rasyid melangkah dengan sisa-sisa wibawa yang coba ia kumpulkan dari reruntuhan hatinya. Sorban putihnya melilit rapi, kontras dengan wajah albinonya yang kian pucat tertimpa cahaya mataharisiang yang garang.
Namun, di sebuah gang sempit yang diapit dinding asrama tua berlumut, langkahnya terhenti.Yusuf berdiri di sana, menyeringai dengan tatapan yang memancarkan kebencian yang murni. Empat pria berotot kawat mengepung Rasyid, memutuskan jalan pelarian.
"Mau kemana, Kyai? Panggungmu sudah siap, tapi kaliini bukan kamu yang akan tampil," desis Yusuf.
"Sebelum Rasyid sempay membalas, sebuah kain kasar mendarat di wajahnya. Aroma bahan kimia yang menyengat menyergap indra penciumannya, mengirmkan sinyal berbahaya yang terlambat ditangkap oleh otaknya. Rasyid meronta, jemarinya mencakar udara, berusaha menggapai cahaya yang kian menjauh. Dalam detik-detik sebelum dunianya gulita, sesosok pria melangkah keluar dari bayangan dinding.
Rasyid terkesiap di ambang pingsan. Pria itu menggunakan jubah dan sorban yang identik dengannya, sebuah pantulan cermin yang memiliki jiwa iblis. Itulah hal terakhir yang ia lihat sebelum kegelapan menelan kesadarannya.
Masjid Jami Pondok Hikmah tak pernah terasa seasing ini sebelumnya. Aroma kayu cendana yang biasanya menenangkan kini telak oleh ribuan aroma keringat yang berdesakan dengan gelisah. Di barisan belakang, kilatan lampu kamera wartawan nasional memantul di dinding pualam, siap menguliti setiap gerak-gerik samg "Kyai Narkoba" yanmg sedang menjadi buah bibir satu negeri.
Zein melangkah naik ke mimbar kayu jati dengan keangunan yang mematikan. Ia merapikan ujung jubah putihnya, menatap ke depan dengan sorot mata biru yang teduh, sebuah kepalsuan yang ia poles dengan sangat rapi.
"Bismillahirahmanirahim..." suara Zein mengudara, rendah dan penuh getaran wibawa yang sama persis dengan Rasyid. "Saudara-saudaraku, jamaah yang dirahmati Allah. Kesabaran adalah perisai bagi nmukmin. Di tengah badai fitnah dan cobaan yang menerjang saya, say hanya bisa bersandar pada satu keyakinan... bahwa cahaya kebenaran tak akan pernah dipadamkan oleh kegelapan apa pun."
Jamaah terdiam. Beberapa dari mereka mulai terisak, merasa iba melihat "Kyai" mereka tampak begitu tegar fi tengah tuduhan keji.
"Dunia ini adalah penjara," lanjut Zein, nada bicaranya mulai merendah, merayap masuk ke sanubari pendengar."Kita sering kali merasa terikat oleh aturan, oleh ekspetasi, bahkan oleh ketakutan-ketakutan yang kita ciptakan sendiri atas nama iman. Namun, bukankah keimanan yang sejati adalah sebuah kebebasan?"
Suasana mulai berubah. Matahari tepat berada di puncak kubah, mengirimkan panas yang menyengat ke dalam masjid. Zein terdiam sejenak, bibirnya membentuk senyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Tetapi, lihatlah kalian..." Zein terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar ganjil di tengah khotbah.
"Kalian datang ke sini tiap minggu, bersujud hingga dahi kalian hitam, memohon-mohon pada sesuatu yang kalian sendiri pun tidak tahu seperti apa wujudnya. Mengapa? Karena kalian pengecut! Kalian terlalu takut menghadapi kenyataan bahwa dunia ini keras, maka kalian mencari perlindungan di balik jubah agama yang usang ini!"
Senyap. Ribuan orang terpaku. Napas kolektif seolah tertahan di tenggorokan, bahkan Zaki pun turut terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Agama ini hanyalah rantai bagi orang-orang lemah seperti kalain!" rau Zein tiba-tiba. Suaranya menggelegar, menghantam dinding-dinding masjid hingga gema suaranya terasa menyakitkan di telinga. "Tuhan tidak butuh doa-doa kalian! Dialah yang menciptakan racun dan narkoba di dunia ini sebagai alat untuk orang-orang yang berani! Hanya mereka yang berani melampaui aturan moral sampah inilah yang pantas menjadi penguasa, bukan domba-domba penurut seperti kalian!"
"Astagfirullah, Rasyid! Jaga lisanmu!'
Kyai Mansur berdiri dari saf terdepan. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya yang keriput menunjuk tepat ke arah wajah "Rasyid". Dia memang pernah jahat pada Rasyid, tetapi bagaimanapun cintanya terhadap Tuhan dan agamanya tidak bisa dipungkiri. Air mata kemarahan mengalir di pipinya yang cekung. "Mimbar ini suci! Kau telah mengotori rumah Allah dengan ajaran setan! Berhenti atau kami paksa kamu turun!"
Zein tidak berkedip. Ia hanya menatap Kyai Mansur seolah pria tua itu adalah seekor lalat yang mengganggu. Zein memberikan isyarat kecil, hanya sebuah kedipan mata ke arah saf tiga.
Phut!
Sebuah suara letupan halus, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan, merobek udara. Kyai Mansur tersentak. Bahu kirinya mendadak koyak, memuncratkan darah merah kental yang membasahi sorban putihnya. Ia terjerembab ke belakang, menghantam jemaahnya di belakangnya mata terbelalak menahan sakit yang luar biasa.
"Kyai Mansur!" jerit jemaah.
Kericuhan pecah. Namun, sebelum ada yang sempat berdiri, puluhan pria berjaket hitam di berbagai sudut masjid tiba-tiba saja muncul melepaskan senjata api, mereka bahkan sudah menyergap polisi dan pihak keamaanan lain. Dua jemaah yang mencoba merangsek ke arah mumbar langsung dihantam popor senjata hingga jatuh tersungkur, darah segar mulai membasahi karpet hijau yang bisanya suci.
"Duduk dan dengarkan!" raung Zein, suaranya kini benar-benar murni kegilaan. Ia mencengkram pinggiran mimbar hingga buku-buku jarinya memutih. "Siapa pun yang mulut terbuka lagi, masjid ini akan menjadi kuburan massal bagi kalian semua sebelum adzan ashar berkumandang!"
Ketakutan murni membungkam masjid. Di bahwa sorot lampu kamera yang masih menyala, Zein berdiri tegak dengan wajah albinonya yang tampak seperti iblis berkulit malaikat. Di hari itu, Pondok Hikmah bukan lagi tempat mencari hidaya, melainkan panggung bagi horror yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Berita penembakan itu tersebar seperti rayap melahap kayu lapuk. Sangat cepat dan tidakmemberikan ruang untuk berita lain masuk. Saat Zein yang masih dalam penyamaran Rasyid, menginjakkan kaki di rumah Joglo, suasana sudah seperti medan peperangan yang kalah.
Alih-alih jawaban lembut, sebuah cengkeraman kasar mendarat di rahang Shanum. Zein mendorong tubuh Shanum hingga punggung wanita itu menghantam pilar kayu jati dengan bunyi dub yang menyesakkan.
"Diam, pelacur Turki!" desis Zein, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Shanum yang ketakutan. "Jangan sok suci di depanku! Urus saja dapurmu sebelum aku mengirimmu kembali ke rumah bordil tempat ayahku menemukanmu!"
Nyai Salamah muncul dengan tubuh limbung, tangannya memegang dada yang terasa sesak. "Rasyid! Istigfar, Nak! Apa yang kau lakukan pada istrimu?!"
Zein menoleh, menatap ibunya dengan tatapan menjijikkan yang bisa membekukan darah. Ia menendang vas bunga antik di sampingnya hingga pecah berkeping-keping. "Masuk ke kamarmu, orang tua! Atau kau mau aku membakar rumah ini bersamamu di dalamnya?"
Kehancuran moral itu mencapai puncaknya saat Zein memanggil seorang santriwati yatim ke ruang tamu. Dengan sengaja ia membiarkan pintu terbuka, membiarkan para pengurus pesantren menyaksikan adegan nista di mana ia melecehkan gadis itu secara verbal dan fisik. Di hari itu, nama besar Al-Habsyi terkubur di bawah lumpur kehinaan.
Di sisi lain kota, di bawah lantai sebuah nightclub eksklusif yang berdentum oleh musik techno, Rasyid terbangun. Tangannya terikat kuat di kursi kayu, mulutnya tersumpal lakban hitam. Namun, matanya tidak lagi memancarkan kepasrahan.
Ia melihat sekeliling. Tempat ini bukan gudang biasa; ini adalah tempat "nongkrong" Zein dan Yusuf. Rasyid melihat botol-botol minuman mahal dan sisa-sisa barang haram yang sama dengan yang digunakan untuk memfitnahnya.
Dengan sisa tenaga, Rasyid menggeser kursinya menuju pecahan botol kaca di sudut ruangan. Keringat dingin mengucur, membasahi kain jubahnya saat ia mulai menyayat tali pengikatnya. Butuh waktu lama, hingga pergelangan tangannya lecet dan berdarah, namun akhirnya tali itu putus.
Ia tidak langsung lari. Ia menggeledah sebuah laci di sudut ruangan dan menemukan sebuah dompet kulit. Di dalamnya, ia menemukan foto seorang wanita asing dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
"Siapa dia, kenapa wajahnya mirip sekali denganku?"
Rasyid keluar melalui celah ventilasi, mendarat di lorong belakang club. Saat ia melangkah keluar, seorang pengawal berbadan besar membungkuk hormat padanya.
"Selamat sore, Tuan Zein! Tumben lewat pintu belakang?" sapa pria itu tanpa curiga.
Rasyid membeku sejenak, namun otaknya bekerja cepat. Ia menyesuaikan postur tubuhnya, menatap pengawal itu dengan tatapan dingin yang entah ia pelajari dari mana.
"Siapkan mobil. Ada urusan mendesak di pesantren," perintah Rasyid dengan suara yang ditekan serendah mungkin.
"Siap, Tuan!"
Rasyid memacu mobil mewah milik Zein dengan kecepatan tinggi menembus jalanan. Di radio, suara penyiar terus mengulang-ulang berita tentang "Kyai Radikal yang Mengamuk". Air mata Rasyid jatuh, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang kini membakar jiwanya. Ia harus sampai ke rumah sebelum "bayangannya" menghancurkan apa yang tersisa dari nyawa Shanum dan Ibunya.
biarkan shanum bertemu keluarganya dulu, smua orang mengganggapmu rendah tapi shanum anggap kamu suami yg baik dan pantas dihormati...
shanum berharap pulang keturkey bisa hamil....
zein ingin menghancurkan nama baik rasyid Zen punya dendam kesumat kayaknya...
semoga aja rasyid segera kembali, mencari bukti-bukti akurat agar baik bersih...
yusuf dan zein jebloskan aja kepenjara, ada bukti-buakti yg kuat...
💪
apakah rasyid fan zein ada hubungan saudara....
rasyid sangat terpuruk telah difitnah sama yusuf, apalagi shanum cuekin rasyid tidak terima ulah ayah rasyid dulu sampai tega membuang shanum dirumah bordir🤭
kayaknya yusuf punya dendam kesumat sama rasyid, yusuf berusaha menjatuhkan rasyid...
shanum dan rasyid lebih hati-hati sama yusuf sangat jahat dan licik..