Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35: Wajah yang Sesungguhnya dan Momen yang Menentukan
Setelah melihat Darius yang mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah bertemu dengan ayahnya, Alexandria merasa sedikit lega namun juga sangat cemas. Leonard masih sangat dingin padanya, dia hanya fokus pada perawatan Darius dan urusan penangkapan Seraphina, tidak pernah berbicara langsung dengannya kecuali mengenai hal-hal yang sangat penting.
"Saya sudah mengatur pasukan untuk menyerbu benteng tua itu besok pagi, Yang Mulia Raja," lapor Marcus dengan serius saat berkumpul di ruang kerja. "Kita telah mendapatkan informasi pasti bahwa Seraphina sedang mengumpulkan pasukan dan senjata untuk menyerang istana dalam beberapa hari lagi."
Leonard mengangguk dengan wajah yang penuh dengan tekad. "Baiklah, kita akan melakukan serangan pukulan cepat agar dia tidak punya kesempatan untuk melakukan apa pun yang lebih kejam. Aku tidak akan membiarkan dia merusak kerajaan dan keluarga ku lagi."
Alexandria yang juga hadir dalam rapat itu kemudian maju dengan hati-hati. "Aku ingin ikut dalam serangan ini, Leo. Aku tahu cara bertarung dan aku juga ingin membantu menangkap orang yang telah menyakiti kita semua."
Leonard melihatnya dengan tatapan yang masih dingin namun sedikit menunjukkan rasa khawatir. "Ini sangat berbahaya, Alex. Aku tidak bisa membiarkan kamu membahayakan dirimu sendiri atau membuat Darius kehilangan ibunya."
"Aku sudah siap menghadapi risiko apa pun," jawab Alexandria dengan suara yang penuh dengan tekad. "Seraphina telah merusak hidup kita cukup banyak. Aku ingin melihat dengan mataku sendiri bahwa dia mendapatkan hukuman yang layak."
Leonard tidak bisa membantahnya lagi. Dia tahu bahwa Alexandria adalah orang yang kuat dan tidak akan pernah menyerah begitu saja. Hanya saja dia masih merasa sulit untuk menghadapinya dan berbicara dengan dia seperti dulu.
Pada pagi harinya, pasukan kerajaan mulai bergerak menuju benteng tua di daerah pedalaman. Udara terasa sangat tegang dan penuh dengan antisipasi, semua orang tahu bahwa pertempuran yang akan datang akan menentukan masa depan kerajaan Eldoria.
Ketika mereka tiba di benteng tua yang tua dan menjulang tinggi, mereka melihat bahwa Seraphina telah mengumpulkan pasukan yang cukup banyak di sekitar benteng. Dia berdiri di atas tembok benteng dengan wajah yang penuh dengan kebanggaan dan kemarahan.
"Leonard!" teriak Seraphina dengan suara yang menggema kuat. "Aku tahu kamu akan datang! Sekarang waktunya untuk kamu menyerahkan kerajaan padaku yang layak mendapatkannya!"
Leonard keluar dari kereta dengan wajah yang penuh dengan kemarahan. "Seraphina, kamu telah melakukan banyak kejahatan terhadap kerajaan dan rakyat kita. Serahkan dirimu sekarang juga dan kamu akan mendapatkan hukuman yang adil!"
Seraphina hanya tertawa dengan sinis. "Hukuman yang adil? Kamu yang telah mengambil apa yang seharusnya milikku selama ini berani berbicara tentang keadilan? Aku adalah satu-satunya orang yang layak memimpin Eldoria, bukan kamu dan bukan pula wanita manusia yang kamu nikahi itu!"
Baru saat itu semua orang menyadari alasan sebenarnya dibalik kebencian Seraphina, dia merasa bahwa dia adalah penerus sah kerajaan Eldoria karena keluarganya yang juga berasal dari garis keturunan raja. Namun karena kutukan yang pernah terjadi pada keluarganya, hak warisnya telah dicabut dan diberikan kepada keluarga Leonard.
"Semuanya adalah milikku, Leonard!" teriak Seraphina semakin marah. "Kekuasaan, kehormatan, bahkan cintamu seharusnya untukku! Tapi kamu malah memilih wanita asing itu dan membuatku tersingkirkan!"
Alexandria yang berdiri di samping Leonard merasa tubuhnya menjadi kaku mendengarnya. Dia tidak menyangka bahwa alasan kebencian Seraphina adalah karena cinta yang tidak terbalas pada Leonard.
"Kamu salah besar, Seraphina!" ucap Leonard dengan suara yang kuat. "Cinta tidak bisa dipaksakan dan kekuasaan tidak bisa didapat dengan cara yang salah. Aku memilih Alexandria karena dia adalah orang yang mencintaiku dengan tulus dan selalu ada untukku dalam suka dan duka."
Tanpa basa-basi lagi, pertempuran pun dimulai. Pasukan Seraphina menyerang dengan sangat ganas, namun pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Leonard dan Marcus mampu bertahan dengan baik. Alexandria juga ikut bertempur dengan keahlian yang luar biasa, membuat semua orang terkejut dengan kekuatannya.
Selama pertempuran berlangsung, Seraphina mencoba untuk menyerang Leonard dengan ramuan berbahaya yang dia siapkan sendiri. Namun sebelum dia bisa melakukannya, Alexandria dengan cepat menghalangnya dan bertarung dengannya satu lawan satu.
"Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan, Seraphina!" ucap Alexandria dengan suara yang penuh dengan kemarahan. "Kamu telah menyakiti terlalu banyak orang hanya karena keinginanmu yang tidak terkendali!"
Mereka bertarung dengan sangat sengit, kedua wanita itu sama-sama kuat dan terampil dalam pertempuran. Akhirnya, dengan kecepatan dan kecerdikan yang luar biasa, Alexandria berhasil mengalahkan Seraphina dan mengikat tangannya dengan tali sihir yang tidak bisa dilepaskan.
"Bagaimana mungkin seorang wanita manusia bisa mengalahkanku?" bisik Seraphina dengan suara yang penuh dengan rasa tidak percaya dan kemarahan.
"Karena aku tidak bertarung untuk kekuasaan atau hasrat yang tidak terbalas," jawab Alexandria dengan suara yang tenang namun penuh dengan kekuatan. "Aku bertarung untuk cinta, keluarga, dan rakyat yang aku cintai."
Setelah Seraphina ditangkap dan pasukannya menyerah, Leonard mendekat dengan hati-hati ke arah Alexandria. Dia melihat wajahnya yang penuh dengan kesusahan namun juga kebanggaan, dan dia tahu bahwa dia telah melakukan kesalahan besar dengan menjauhinya.
"Terima kasih, Alex," bisiknya dengan suara yang penuh dengan emosi. "Tanpamu, aku tidak akan pernah bisa mengalahkan dia dan menyelamatkan kerajaan."
Alexandria melihatnya dengan mata yang penuh dengan air mata. "Kita adalah keluarga, Leo. Kita harus saling membantu satu sama lain dalam suka dan duka."
Mereka kemudian kembali ke istana dengan membawa Seraphina yang akan diadili secara adil sesuai dengan hukum kerajaan. Ketika mereka tiba di istana, kabar bahwa Seraphina telah ditangkap dan kebenaran telah terbongkar segera menyebar ke seluruh penjuru kerajaan. Rakyat keluar dari rumah mereka dengan wajah penuh kegembiraan dan rasa syukur.
Di kamar perawatan istana, Darius yang sudah semakin baik melihat kedatangan kedua orang tuanya dengan wajah yang penuh dengan senyum lebar. Dia segera meraih tangan mereka berdua dan menyatukannya bersama-sama.
"Ayah dan Bu harus selalu bersama ya," ucap Darius dengan suara yang polos namun penuh dengan makna. "Aku tidak suka kalau kalian berdua bertengkar dan tidak bicara satu sama lain."
Leonard dan Alexandria saling melihat dengan mata yang penuh dengan emosi. Mereka menyadari bahwa mereka telah membuat kesalahan besar dengan membiarkan perasaan sakit hati dan kecewa memisahkan mereka, padahal mereka memiliki cinta yang kuat dan anak yang sangat mencintai mereka berdua.
"Aku minta maaf padamu, Alex," ucap Leonard dengan suara yang penuh dengan kesedihan dan cinta. "Aku seharusnya tidak menjauh darimu dan membuatmu merasa tidak diinginkan. Aku mencintaimu lebih dari segalanya dan aku tidak bisa hidup tanpa kamu."
Alexandria menangis deras mendengar kata-katanya. "Aku juga minta maaf padamu, Leo. Aku seharusnya tidak memaksakan keputusan cerai padamu dan seharusnya mempercayai cintamu padaku. Aku mencintaimu dan aku ingin kita bisa mulai lagi dari awal."
Mereka saling memeluk dengan erat, dengan Darius berada di tengah mereka. Di luar jendela kamar, matahari mulai bersinar terang menyinari istana dan kerajaan Eldoria seolah menandakan bahwa masa depan yang cerah dan bahagia sedang menanti mereka semua.
Seraphina kemudian diadili dan dihukum untuk tinggal di penjara khusus kerajaan selama sisa hidupnya. Meskipun dia masih merasa tidak puas, dia akhirnya menyadari bahwa cinta dan kekuasaan tidak bisa didapat dengan cara yang salah.
Beberapa bulan kemudian, perayaan besar diadakan di istana untuk merayakan kemenangan atas kejahatan dan persatuan kembali keluarga kerajaan. Rakyat dari seluruh penjuru Eldoria datang untuk merayakan bersama mereka, membawa hadiah dan doa restu yang tulus.
"SAUDARA-SAUDARAKU!" suara Leonard bergema kuat dari atas panggung, dengan Alexandria dan Darius di sisinya.
"Hari ini kita merayakan bukan hanya kemenangan atas kejahatan, tapi juga persatuan dan cinta yang telah membawa kita melalui semua rintangan. Bersama-sama kita akan membangun kerajaan yang lebih baik dan penuh dengan cinta untuk semua orang!"
Suara sorak dan tepukan tangan menggema ke seluruh penjuru istana. Leonard melihat ke arah Alexandria dengan mata yang penuh dengan cinta dan rasa syukur, dan dia tahu bahwa mereka akan selalu bersama-sama dalam suka dan duka karena cinta mereka adalah seperti kumbang yang selalu menemukan jalan untuk bersinar terang meskipun dalam kegelapan yang paling dalam.