NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:33k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Untuk Apa?

Perkataan Ibu Laila menghantam ulu hati Shanum, ia terduduk di lantai dapur dan air matanya mulai luruh membasahi pipi. Ketakutan terbesar Shanum bukan pada kemiskinan, tapi pada murka Ibunya dan pandangan buruk Abi terhadapnya.

^^^Ibu... tolong jangan bicara kayak gitu.^^^

Pokoknya Ibu nggak mau tahu! Besok sore uang itu harus sudah masuk ke rekening Ibu. Kalau nggak, jangan salahkan Ibu kalau Ibu nekat datang ke Bandung dan minta langsung sama suamimu atau ke kampusnya sekalian! Biar semua orang tahu kalau Dosen mereka itu punya istri yang pelit sama Ibunya sendiri!

​Sambungan telepon diputus sepihak, Shanum memeluk lututnya di tengah dapur yang luas dan mewah itu. Apartemen yang biasanya terasa seperti istana pelindung, kini mendadak terasa seperti penjara kaca yang menyesakkan dan menatap ponsel di sampingnya dengan perasaan campur aduk.

Tangis Shanum pecah di keheningan dapur yang dingin, ancaman Ibunya untuk datang ke Bandung dan melabrak Abi di kampus benar-benar melumpuhkan logikanya. Ia tahu watak ibunya, Ibu Laila tidak pernah main-main jika sudah menyangkut gengsi di depan tetangga. Namun, membayangkan wajah kecewa Abi jika mengetahui dirinya dijadikan sapi perah oleh keluarga sendiri, membuat ulu hati Shanum semakin nyeri.

Shanum bangkit dengan kaki gemetar dan mencuci mukanya berkali-kali agar sembab di matanya memudar, ia mencoba memeriksa saldo di rekening tabungan pemberian Abi. Di sana ada uang sisa belanja yang sengaja ia sisihkan, namun jumlahnya tak sampai dua juta.

"Gimana aku bisa dapat lima juta dalam satu hari tanpa bertanya pada Mas Abi?" gumam Shanum.

Shanum sempat terpikir untuk menjual ponselnya, namun ia segera menggelengkan kepala, itu adalah pemberian pertama Abi yang paling berharga dan Abi pasti akan langsung menyadari jika benda itu hilang.

Seharian itu, Shanum kehilangan selera makan. Ia hanya duduk di balkon dan menatap gedung-gedung tinggi sambil memutar otak hingga suara kunci pintu apartemen yang terbuka mengejutkannya.

Abi melangkah masuk dengan wajah yang sedikit lelah namun langsung cerah saat melihat Shanum. Namun, sebagai pria yang teliti, ia segera menangkap ada yang tidak beres. Shanum menyambutnya dengan senyum yang dipaksakan, tangannya dingin saat menyalami Abi.

​"Kamu sakit?" tanya Abi langsung, punggung tangannya menempel di dahi Shanum.

"Wajahmu pucat sekali," lanjut Abi.

​"Enggak, Mas. Mungkin cuma kurang tidur," jawab Shanum lirih dan menghindari tatapan intens Abi.

Abi tidak lantas percaya, ia mengikuti Shanum ke dapur.

Saat makan malam, Shanum hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya, gerakannya kaku dan ia lebih banyak diam.

​"Shanum, ada masalah?" tanya Abi dan meletakkan sendoknya, suaranya berat, penuh intimidasi yang protektif.

"Sejak aku datang, kamu nggak berani menatapku. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Abi lagi.

​Shanum meremas jemarinya di bawah meja, "Mas... kalau, kalau seandainya aku butuh uang dalam jumlah banyak, apa Mas Abi akan marah?" tanya Shanum.

​Alis Abi bertaut, "Untuk apa?" tanya Abi.

"Un-untuk beli baju, a-ada baju yang aku suka," ucap Shanum yang asal menjawab, ia tidak berani mengatakan jika uang tersebut untuk dikirim ke Ibunya.

"Kalau gitu aku temenin belinya ya," ucap Abi.

Mendengar jawaban Abi, jantung Shanum terasa seperti berhenti berdetak sesaat. Rencana untuk berbohong demi mendapatkan uang tunai itu langsung menemui jalan buntu, Abi bukan tipe pria yang hanya memberikan kartu kredit lalu membiarkan istrinya pergi sendirian, ia adalah pria yang ingin terlibat dalam setiap detail hidup Shanum.

​"Enggak usah, Mas. Maksudku... a-aku bisa beli sendiri lewat aplikasi yang Mas ajarkan kemarin. Tapi harganya agak mahal, jadi aku ragu," ucap Shanum dan mencoba mencari celah lain dengan suara yang semakin mengecil.

​Abi menatap Shanum, sebagai seorang Dosen yang terbiasa menghadapi berbagai gelagat mahasiswa kini menangkap sinyal ketidakjujuran dari istrinya. Shanum tidak pandai berbohong, jemarinya yang gelisah dan matanya yang terus menghindari kontak mata adalah bukti nyata bahwa ada beban yang lebih besar dari sekadar harga sebuah baju.

​"Sayang, lihat aku," perintah Abi lembut namun tegas.

​Shanum perlahan mendongak, di bawah sinar lampu ruang makan yang terang, Abi bisa melihat sisa-sisa sembab di sudut mata istrinya dan membuat hatinya mencelos.

​"Berapa harga baju itu sampai membuat kamu menangis seharian?" tanya Abi, suaranya kini merendah dan penuh selidik yang sarat akan kekhawatiran.

​"Lima... li-lima juta, Mas," jawab Shanum terbata.

​Abi terdiam sejenak, angka itu bukan masalah besar baginya. Namun, untuk seorang Shanum yang meminta uang lima juta untuk membeli baju adalah hal yang tidak mungkin.

​"Yasudah, besok aku transfer ke rekening kamu ya. Tapi aku ingin kamu jujur, apa benar ini hanya untuk baju?" tanya Abi sambil meraih tangan Shanum yang dingin.

​Shanum semakin terpojok, ia tahu jika ia menerima uang itu dan tidak ada baju yang dibeli, kebohongannya akan terbongkar. Namun, bayangan Ibu Laila yang mengamuk di kampus Abi jauh lebih mengerikan.

​"I-iya, Mas. Terima kasih," jawab Shanum pelan, meskipun hatinya terasa seperti diremas.

Malam harinya, Shanum sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Di sampingnya, Abi sudah terlelap dengan napas yang teratur, lengannya melingkar posesif di pinggang Shanum seolah takut istrinya itu akan menghilang.

​Keesokan paginya, setelah Abi berangkat ke kampus, sebuah notifikasi masuk ke ponsel milik Shanum, di mana Abi sudah mentransfer uang lima juta seperti yang dikatakannya kemarin.

​Tanpa menunggu lama, Shanum segera mentransfer seluruh uang itu ke rekening Ibunya. Jarinya gemetar saat menekan tombol kirim dan begitu transaksi berhasil, ia segera menghubungi Ibunya.

Assalamualaikum, Bu. Uangnya sudah Shanum kirim, tolong... jangan minta lagi ya, Shanum harus bohong sama Mas Abi buat dapat uang ini.

Nah, gitu dong! Jadi anak itu harus berbakti. Lagian suamimu kan kaya, lima juta nggak akan bikin dia jatuh miskin. Sudah ya, Ibu mau ke pasar dulu, mau beli pesanan si Diva.

​Shanum melempar ponselnya ke atas meja ruang tamu dan menutup wajahnya dengan bantal sofa, tangisnya pecah, ia merasa bersalah dan merasa seperti pencuri di rumahnya sendiri.

​Setelah itu, Shanum memutuskan membersihkan apartemen untuk mengalihkan pikirannya dan meninggalkan ponselnya di atas meja ruang tamu.

Sore harinya, saat Shanum selesai mandi setelah bersih-bersih apartemen, tiba-tiba bel pintu berbunyi, Shanum mengernyit karena biasanya Abi langsung masuk.

​Begitu pintu dibuka, Shanum tertegun. Di depannya berdiri Bunda Rina dengan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya dan membawa sebuah tas belanja kecil.

​"Bunda?" sapa Shanum kaget.

​"Kebetulan Bunda lewat daerah sini, jadi mampir sebentar, mana Abi?" tanya Bunda Rina sambil melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan.

"Mas Abi masih di kampus, Bun. Sebentar lagi mungkin pulang," jawab Shanum sopan.

.

.

.

Bersambung.....

1
Naufal Affiq
suami kakak mu itu sangat sayang sama istrinya,jadi jangan buat kecewa kakak mu,dan jangan cari masalah untuk keluarga kakak mu ya diva
May Maya
lah d kampung mah bgus lah lulusan SMA kan biasa nya lulusan nya SD n SMP aku aja yg d kota lulusan nya SMA tp Alhamdulillah dapat kerja lumayan lah
Naufal Affiq
itu hal yang wajar,kalau kita menumpang di rumah orang diva,jadi gak usah cari masalah atau pun merasa kurang di perhatiin lho
Naufal Affiq
abi cari kan aja kos untuk diva,jangan satu rumah,itu berbahaya lho,itu gak benar
mamayasna
diva masukin pesantren aj Thor 🤭🤭jgn d jadiin pelakor y
Valen Angelina
gak ada cerita ipar itu maut kan 😂😂😂😂
Rea
jangan jadikan adik dan ipar dlm satu rumah thor, timbulnya fitnah nanti, setan gentayangan menggoda
falea sezi
azab buat ortu durhaka
falea sezi
cwek oon miskin
falea sezi
mending pergi jauh deh tolol bgt mau di jadiin babu ibumu
Agunk Setyawan
ibu tolol
Agunk Setyawan
ibu tolo
Naufal Affiq
manusia gak ada perasaan,jual rumah sesuka hati,gak mau jaga perasaan
Naufal Affiq
jadi panutan mu adalah eyang mu yang sangat menyayangimu,jadi istri lagi rapuh,tolong kau jaga hati dan perasaannya
RaDja
terima kasih
RaDja: sama-sama
total 2 replies
Valen Angelina
kenapa gak mama nya si yg dluan😁😁habis ini pasti minta uang trus...alasan bapaknya Uda meninggal 😁😂
Naufal Affiq
memang suami idaman lah mas abi ini
Erna Riyanto
Habis makan malam bersama ..mereka ngapain yaa???🤭🤭
Nurminah
selama suami adil tidak termakan omongan siapapun siap bertahan tapi ketika suami sendiri orang yg paling duluan menghina kita tingalkan karena kekuatan wanita adalah suaminya seberat apapun badaii nya kalo suami disamping kita pasti kuat menghadapi nya
mamayasna
semangat kakaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!