NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35.

Makan malam berlangsung penuh kehangatan di meja makan yang sudah dihiasi dengan bunga mawar merah muda dan lilin kecil yang menyala lembut. Hidangan-hidangan khas rumah yang dibuat Helena dan Alana memenuhi meja. sup krim jamur yang harum, ayam panggang dengan bumbu rempah khas Nenek Aretha, sayuran rebus yang segar, dan nasi pulen yang hangat.

Sepanjang makan, cerita-cerita masa lalu mengalir bebas. Samuel bercerita tentang ketika Alana masih kecil dan selalu menyelinap ke dapur untuk mencuri potongan kue yang sedang dibuat Helena, sementara Nenek Aretha menambahkan bahwa gadis itu bahkan pernah mencoba memasak sendiri hingga membuat seluruh dapur berantakan. Aslan hanya mendengarkan dengan senyum hangat, sesekali menatap Alana yang sudah merah padam karena cerita masa kecilnya yang terbongkar.

Setelah semua orang selesai makan dan mulai membersihkan meja, Samuel menoleh ke arah Aslan dengan tatapan penuh kehangatan. "Nak, ini sudah larut malam. Menginap lah semalam ini saja, Ada kamar yang sudah kami siapkan di atas, kamu bisa menginap semalam saja. Besok pagi baru berangkat, jarak Lyon dan Paris terlalu jauh untuk menyetir sendirian."

Aslan menggeleng perlahan namun tegas, meskipun wajahnya penuh rasa terima kasih. "Maafkan saya, Paman. Saya sudah ada janji penting di kantor besok pagi-pagi sekali. Tapi rencana saya memang kembali ke Paris malam ini."

Alana yang sedang membersihkan piring di tiba-tiba berhenti sejenak. Hatinya merasa sedikit senang karena tahu Aslan akan kembali ke Paris setidaknya dia bisa memiliki waktu untuk diri sendiri tanpa harus merasa terancam setiap detik berada dekat dengan pria itu. Namun, ia cepat menyembunyikan perasaan itu dengan terus bekerja dan terkadang menyelinap pandangan ke arah pria itu.

Aslan merasakan adanya perubahan pada Alana meskipun gadis itu berusaha menyembunyikannya. Namun berbeda dengan Alana yang senang dengan rencana Aslan pria itu justru merasakan kebalikannya. Rasa berat mulai menghimpit dadanya. Hanya beberapa jam bersama sudah membuatnya tidak ingin pergi, apalagi menghadapi jarak yang cukup jauh antara Paris dan Yogyakarta, Hanya antara Paris dan Lyon. Rindu sudah mulai merayap jauh sebelum mereka benar-benar berpisah; setiap detik yang berlalu membuatnya semakin menyadari betapa banyaknya waktu yang akan ia lewati tanpa melihat wajah Alana.

Helena yang sedang mengeringkan piring hanya tersenyum lembut sambil melihat keduanya. Ia bisa membaca isi hati kedua muda mudi itu dengan jelas. rasa ingin bersama namun juga rasa hormat satu sama lain. Tanpa berkata apa-apa, ia perlahan masuk ke dapur dan mulai mengemas beberapa wadah plastik kedap udara dengan makanan yang tersisa. ayam panggang yang dipotong rapi, sup yang sudah didinginkan, dan bahkan potongan kue coklat yang dibuat khusus oleh Nenek Aretha.

Sementara itu, Nenek Aretha mendekati Aslan yang sedang berdiri di teras melihat langit yang mulai penuh bintang. Wanita tua itu menarik lengan pria itu dengan lembut, lalu berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Nak, Minggu depan adalah ulang tahun ku, Dan aku ingin kamu datang. Alana pasti akan senang, dan aku juga ingin berbicara denganmu lebih banyak tentang rencana kamu berdua."

Aslan segera menoleh dengan mata yang bersinar. "Tentu saja, Nek. Saya akan datang dengan senang hati."

Nenek Aretha hanya tersenyum dan menepuk pelan tangan pria itu sebelum kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, Helena datang menghampiri dengan tas kain berisi makanan yang sudah dikemas rapi. "Ini untukmu, Nak. Bawa pulang ke Paris, jangan sampai kelaparan di jalan ya."

Aslan menerima tas itu dengan kedua tangan, wajahnya penuh rasa terima kasih yang tulus. "Terima kasih banyak, Bibi. Ini pasti akan sangat membantu. Saya akan menyimpan semuanya dan menikmatinya dengan senang hati."

Waktu untuk berpisah akhirnya tiba. Aslan mengambil jasnya dan berjalan menuju mobil hitam yang sudah siap di depan rumah. Alana mengikutinya sampai ke halaman, sementara Samuel dan Helena berdiri di pintu utama menyaksikan.

Keduanya berdiri diam sebentar, saling menatap tanpa berkata apa-apa. Mata Aslan penuh dengan rasa sayang dan janji, sementara mata Alana menyimpan rasa rindu yang sudah mulai muncul. Tanpa sadar, tangan mereka hampir bersentuhan sebelum Aslan menarik napas panjang dan membuka pintu mobil.

Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi ke arah Alana. Meskipun tidak mengucapkannya dengan keras, di dalam hatinya ia berjanji. "Aku akan datang sesegera mungkin. Tidak akan terlalu lama, sayang. Aku akan membuat semua ini berharga." Ucap batin Aslan.

Dengan senyum lembut yang penuh makna, Aslan memasuki mobil dan menutup pintunya. Mesin mobil menyala dengan suara yang tenang, dan perlahan-lahan kendaraan itu mulai bergerak menjauh dari rumah keluarga Alana. Alana tetap berdiri di situ sampai mobil hitam itu benar-benar hilang di sekitar tikungan jalan, menyimpan harapan bahwa hari pertemuan berikutnya tidak akan terlalu lama untuk datang.

Setelah mobil Aslan menghilang dari pandangan, Alana menghela napas panjang dan berbalik menuju rumah. Langkahnya terasa sedikit berat meskipun hati nya menyimpan harapan untuk bertemu lagi. Samuel dan Helena masih berdiri di pintu utama, wajah mereka penuh kehangatan.

"Sudahlah sayang, Ayo masuk, Alana," ucap Samuel dengan lembut, menyandarkan tangan di bahu putrinya. "Kamu harus istirahat. Besok kamu masih punya jadwal di rumah sakit kan?"

Alana mengangguk dan memberikan senyum lembut. Ia masuk ke dalam rumah, membersihkan sisa-sisa makanan yang tersisa di dapur sebelum menuju kamar atas. Saat membuka jendela kamar nya, dia melihat langit yang penuh bintang sama seperti yang dilihat Aslan di teras tadi malam. Di dalam hati, dia berdoa agar perjalanan pria itu aman dan cepat sampai tujuan.

****************

Mesin mobil hitam berjalan mulus di jalan raya yang menghubungkan Lyon dan Paris. Aslan menyalakan musik klasik yang dulu sering ia dengarkan bersama Alana, dan aroma makanan yang dibungkus Helena masih tercium jelas di dalam mobil. Ia sesekali melihat ke arah tas makanan di jok sebelahnya, merasakan rasa terima kasih yang mendalam pada keluarga Alana yang selalu menerima nya dengan hangat.

Perjalanan sekitar tiga jam lebih terasa sangat lama karena rasa rindu yang menghimpit hatinya ia memutuskan untuk mengubah rute sedikit menuju rumah orang tuanya di Neuilly sur Seine sebelum kembali ke apartemennya di Le Marais.

Mobil Aslan memasuki halaman rumah keluarga Lenoir. Rumah bergaya klasik Prancis dengan taman yang indah terlihat megah di bawah kabut tipis di Paris. Annabelle de Lenoir sudah berdiri di depan pintu, mengenakan gaun tidur putih dengan selimut lembut di pundaknya, sementara Marcel berdiri di belakangnya dengan secangkir kopi di tangan.

"Saya tahu kamu akan datang," ucap Annabelle dengan senyum hangat saat Aslan keluar dari mobil. Ia segera berlari mendekat dan memeluk putranya erat erat. "Kamu terlihat lelah, Nak. Ayo masuklah dan beristirahat."

Marcel mendekat dan memberikan jabat tangan yang kuat sebelum membungkus lengannya di bahu Aslan. "Bagaimana keadaan di Lyon?" tanya nya dengan suara yang dalam namun penuh perhatian.

"Semua baik, Papa," jawab Aslan berjalan masuk ke dalam rumah mereka berbincang tentang rencana ulang tahun Nenek Aretha dan persiapan pernikahan nya dengan Alana. Merasa lelah Aslan beristirahat di ruang tamu sebelum memutuskan untuk kembali ke apartemennya di Le Marais.

"Jangan lupa untuk menghubungi Alana ya, Nak," ucap Annabelle saat mengantar nya ke depan pintu. "Wanita itu sangat spesial untukmu, kita semua bisa melihatnya."

Aslan mengangguk dan memberikan pelukan terakhir pada kedua orang tuanya sebelum memasuki mobil kembali.

****************

Sinar matahari sudah cukup terik. saat mobil Aslan berhenti di depan gedung apartemen mewah di Le Marais. Ia turun dengan tas makanan dari Helena di tangannya, langkah nya mantap menuju unit apartemennya. Saat berada di depan pintu kamar, ia berhenti sejenak, ada sosok seorang wanita cantik berdiri dengan tenang di sana.

Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna merah anggur yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang anggun, rambut pirangnya yang panjang terurai dengan alami, dan wajahnya yang masih sama cantiknya seperti dulu. Ketika melihat Aslan, matanya langsung berbinar dengan emosi yang dalam.

"Aslan..." panggil nya dengan suara yang lembut namun penuh makna.

Aslan terkejut seketika, wajahnya menunjukkan ekspresi yang tidak terduga. "Liora? Apa yang kamu lakukan di sini?"

Liora Anderson mantan kekasihnya, cinta pertamanya yang pergi ke Jerman lima tahun yang lalu untuk mengejar karir modeling tanpa pamit panjang langsung melangkah mendekat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membungkus kedua tangan di sekitar leher Aslan dan memeluk tubuh nya dengan sangat erat. Tubuh nya menggigil sedikit, seolah merindukan sentuhan hangat tubuh pria itu selama bertahun-tahun lamanya. Aroma parfum yang dulu masih tetap menjadi favorit nya menyelimuti udara di sekitar mereka.

"Aku sudah menunggumu sejak jam enam pagi," bisik Liora dekat telinga Aslan, napas nya hangat menyentuh kulit nya. "Aku kembali dari Jerman minggu lalu. Aku telah menjadi model utama di sana, tapi aku selalu merindukanmu. Aku tidak bisa lagi tinggal diam dan tidak melihatmu."

Aslan berdiri diam sebentar, merasakan getaran tubuh wanita di pelukannya. Ingatan masa lalu segera muncul kenangan tentang bagaimana mereka bertemu di pesta kampus, bagaimana mereka menghabiskan malam-malam panjang berbicara tentang impian dan cita-cita, hingga hari itu lima tahun yang lalu ketika ia menemukan surat kosong kecuali beberapa kata: "Aku harus pergi. Ini kesempatan besar yang tidak bisa aku lewatkan."

Tanpa berkata apa-apa, Aslan dengan hati-hati melepaskan pelukan Liora. Ia menjaga jarak yang cukup untuk bisa melihat wajahnya dengan jelas, ekspresi wajahnya tetap tenang namun penuh ketegasan. Di dalam hati nya, keputusan sudah sangat jelas meskipun wanita yang dulu pernah dia cintai ada di dekatnya, hatinya hanya milik satu orang. Alana Hadinata. Hanya sang tunangan yang mampu mengubah dirinya dari sosok yang sombong dan egois menjadi seseorang yang memahami arti cinta yang tulus dan kehidupan yang bermakna. Tidak ada yang bisa menggantikan tempat Alana di hatinya.

"Liora, aku tidak mengerti kenapa kamu muncul sekarang," ucap Aslan dengan suara yang jelas dan penuh rasa hormat. "Kamu pergi untuk mengejar karirmu, dan aku menghargai itu. Tapi kamu harus tahu...aku sudah bertunangan. Hanya Alana yang menguasai hatiku kini."

Liora melihatnya dengan mata yang penuh harapan, tangannya perlahan menyentuh lengan Aslan dengan gerakan yang lembut. "Aku tahu aku salah untuk pergi begitu saja, Aslan. Tapi di Jerman, tidak ada sehari pun tanpa aku memikirkan mu." Ia mendekat lagi, tubuh nya mulai menempel perlahan pada tubuh Aslan. "Aku sudah menyewa hotel di dekat sini, tapi aku merasa sangat sendirian. Bisakah aku masuk, Aslan? Kita bisa bicara dengan tenang tentang semua yang telah kita lewati."

Darah Aslan seolah mendidih mendengar permintaan gadis itu. Ia tidak bisa percaya apa yang ia dengar. Tangan Liora perlahan bergerak naik dari dada Aslan, kemudian ke leher nya dengan gerakan yang lambat dan penuh keinginan. Ia memeluk tubuh Aslan dengan lebih erat, wajahnya menyandar pada bahu nya, dan ada sesuatu yang jelas dalam pelukan itu selain rasa rindu keinginan yang dalam untuk mendapatkan kembali yang dulu pernah mereka bagikan, sesuatu yang telah lama dirindukan oleh wanita cantik itu.

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!