Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Kamu dan Karir
Siang itu, apartemen kerasa lebih sepi pasca Arga berangkat. Suara ketukan palu dari tukang yang benerin atap kamar kedengeran saut-sautan sama bunyi mesin penyedot air. Nara duduk di meja makan, laptopnya kebuka, tapi kursor di layar cuma kedip-kedip ngeledek. Dia nggak bisa fokus. Pikirannya masih nyangkut di bisikan Arga soal "akhir cerita" tadi pagi.
Tiba-tiba, HP Nara getar hebat. Ada telepon masuk dari nomor yang nggak dikenal. Pas diangkat, suara di seberang sana bikin jantung Nara mencelos.
"Halo, Nara? Ini Sarah, asisten pribadinya Pak Surya."
Sarah, tangan kanan bapaknya Arga. Orang yang paling ditakuti seantero perusahaan Xan-Land setelah Pak Surya sendiri.
"I-iya, Mbak Sarah. Ada apa ya?" tanya Nara, suaranya agak gemeter.
"Pak Surya mau ketemu kamu. Sekarang. Di kafe bawah kantor pusat. Beliau nggak mau ada Arga atau Bayu di sana. Cuma kamu, Nara."
Nara nelan ludah. Perasaannya langsung nggak enak. Dia tahu Pak Surya emang sempet "baik" pas di rumah kemarin, tapi di dunia korporat, nggak ada yang bener-bener gratis. Dengan tangan gemeter, Nara ganti baju pakai setelan yang paling rapi tapi tetep simpel, terus langsung meluncur ke lokasi.
Pas nyampe, Pak Surya udah duduk di pojokan kafe yang eksklusif banget. Beliau lagi baca koran bisnis, kacamatanya nangkring di hidung, auranya bener-bener intimidatif.
"Duduk, Nara," kata Pak Surya tanpa ngeliat.
Nara duduk dengan kaku. "Ada apa ya, Om... eh, Papa?"
Pak Surya naruh korannya, terus natap Nara tajam. Di depannya ada sebuah map biru tipis. "Arga itu aset terbesar Xan-Land. Tahun ini, dia dijadwalin buat ekspansi ke London. Itu langkah besar buat karirnya, buat nama keluarga kita. Tapi gara-gara skandal kontrak kalian dan drama sama Rio Pratama, dewan komisaris mulai ragu."
Nara diem. Dia udah nebak arah pembicaraan ini.
"Arga itu keras kepala. Dia bilang dia bakal tetep pergi ke London dan bawa kamu. Tapi kamu tahu kan? Di sana dia bakal diawasi media internasional. Kalau masa lalu kamu terus-terusan digali kayak kemarin, Arga nggak bakal bisa fokus. Dia bakal sibuk jadi tameng kamu, bukan jadi CEO," lanjut Pak Surya, suaranya tenang tapi tiap katanya kayak sembilu.
Pak Surya nggeser map biru itu ke arah Nara. "Ini surat rekomendasi buat kamu. Beasiswa penuh buat lanjutin studi penulisan di Paris. Semua biaya hidup, apartemen, sampai biaya hapus jejak digital masa lalu kamu, saya yang tanggung. Syaratnya cuma satu: Jangan ikut Arga ke London. Biarin dia fokus sama karirnya tanpa gangguan."
Nara ngerasa dunianya mendadak gelap. "Maksud Papa... saya harus ninggalin Arga?"
"Saya nggak bilang cerai. Saya cuma bilang, kasih dia ruang buat sukses tanpa beban masa lalu kamu yang selalu ngintil. Kamu dapet impian kamu di Paris, Arga dapet singgasananya di London. Adil, kan?" Pak Surya berdiri, benerin jasnya. "Pikirin baik-baik, Nara. Jangan jadi penghambat buat orang yang kamu sayang."
Nara ditinggal sendirian di kafe itu. Map biru di depannya kerasa panas banget. Di satu sisi, ini adalah kesempatan emas buat karir menulisnya yang selama ini cuma mentok di draf laptop. Tapi di sisi lain, ini artinya dia harus ngelepasin tangan Arga yang baru aja dia genggam erat.
Pas Nara jalan keluar kafe dengan langkah gontai, dia dapet chat dari Arga.
> Arga: Rio udah beres. Gue otw pulang. Mau makan malem di luar? Gue pengen ngerayain kemenangan kecil kita.
Nara nutup mukanya pakai tangan. Air matanya hampir tumpah. Pilihannya sekarang cuma dua: jadi beban yang bikin Arga jatuh dari puncak karirnya, atau pergi demi ngeliat Arga tetep bersinar, meskipun tanpa dia di sampingnya. Pucuk harapan yang tadi pagi baru mekar, mendadak layu kena badai realita.
---
Nara menatap layar HP-nya lama banget. Pesan dari Arga yang tadinya selalu bikin dia senyum, sekarang malah kerasa kayak beban yang narik dia ke dasar laut. Dia nggak tahu harus bales apa. Tangannya masih gemeteran gara-gara denger kata "penghambat" dari mulut Pak Surya tadi.
"Masa lalu gue... emang beneran bakal hancurin dia ya?" bisik Nara pelan, suaranya hilang ketutup bising kendaraan di pinggir jalan.
Dia ngelihatin map biru itu lagi. Paris. Tempat impian semua penulis. Di sana dia bisa jadi siapa aja tanpa perlu takut ditunjuk-tunjuk sebagai "istri kontrak" atau "cewek pelunas hutang". Tapi di sana nggak ada Arga. Nggak ada sate padang pinggir jalan, nggak ada omelan kaku soal garis pembatas kasur, dan nggak ada tangan hangat yang selalu siaga nangkep dia pas mau jatuh.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan Nara. Kaca jendelanya turun, nampilin wajah Arga yang kelihatan capek tapi langsung berubah cerah pas liat Nara.
"Nara? Ngapain di pinggir jalan begini? Gue tadi ke apartemen kata Bi Ijah lo pergi keluar," Arga turun dari mobil, mukanya panik dikit. Dia langsung nangkup pipi Nara. "Muka lo pucat banget. Lo sakit?"
Nara buru-buru nyembunyiin map biru itu di balik badannya, terus diselipin ke dalem tas selempangnya secepat kilat. "Enggak... gue tadi cuma... pengen cari udara segar aja. Kamar kan lagi berisik banget dibenerin."
Arga ngerutin dahi, matanya yang tajam nyoba nyari kebohongan di mata Nara. Tapi dia nggak bilang apa-apa, dia cuma ngelepas jasnya terus disampirin ke bahu Nara.
"Dingin. Ayo masuk mobil," ajak Arga lembut.
Di dalem mobil, Arga nyalain musik pelan. Dia nggak langsung jalanin mobilnya, tapi malah narik tangan Nara buat digenggam. "Rio udah beres, Ra. Dia setuju buat tarik semua tuntutan dan dia bakal pindah ke kantor cabang keluarganya di Singapura. Dia nggak bakal berani muncul lagi di depan lo."
Nara maksa senyum. "Makasih ya, Ga. Lo... lo emang hebat banget."
"Gue lakuin itu biar kita tenang di London nanti," lanjut Arga, matanya lurus ke depan, ngebayangin masa depan yang dia susun. "Gue udah pesen apartemen di deket Hyde Park. Ada ruang kerja yang jendelanya gede banget, pas buat lo nulis novel sampai lima ratus bab sekalipun."
Denger itu, dada Nara rasanya kayak ditusuk ribuan jarum. Arga udah ngerencanain semuanya seindah itu, sementara bapaknya sendiri lagi nyiapin tiket buat Nara ke arah yang berlawanan.
"Ga..." Nara manggil pelan.
"Ya?"
"Kalau... kalau seandainya gue nggak ikut ke London, lo bakal tetep sukses kan?"
Arga langsung ngerem mendadak, untung jalanan lagi sepi. Dia muter badannya, natap Nara dengan tatapan yang bener-bener serius. "Maksud lo apa? Kita udah bahas ini, Ra. Lo ikut gue. Titik."
"Gue cuma nanya, Ga. Karir lo itu besar banget. Gue nggak mau lo harus milih antara gue atau masa depan lo di Xan-Land," Nara nunduk, nggak berani liat mata Arga yang mulai berkilat marah.
Arga nangkup dagu Nara, maksa cewek itu buat liat dia. "Dengerin gue. Karir gue itu nggak ada artinya kalau gue harus balik ke rumah yang sepi lagi. Karir bisa dibangun lagi, tapi 'rumah' yang gue temuin di lo... itu cuma ada satu. Jangan pernah tanya hal bego kayak gitu lagi."
Nara cuma bisa ngangguk pasrah, tapi di dalem tasnya, map biru dari Pak Surya kerasa makin berat. Dia ngerasa terjepit di antara cinta Arga yang tulus dan realita pahit kalau cintanya itu mungkin bakal jadi batu sandungan buat laki-laki yang dia sayang. Malam itu, di tengah perjalanan pulang, Nara sadar kalau perang yang sesungguhnya bukan lagi lawan Rio atau wartawan, tapi lawan egonya sendiri demi masa depan Arga.
---
Arga kembali menjalankan mobilnya, tapi suasana di dalam kabin mendadak berubah jadi dingin. Genggaman tangan Arga di setir kelihatan lebih kencang dari biasanya, urat-urat di punggung tangannya menonjol, tanda kalau dia lagi nahan emosi. Nara cuma bisa nunduk, meremas tali tasnya yang di dalamnya ada "bom waktu" dari Pak Surya.
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu, Ra?" suara Arga datar banget, tipe suara yang biasanya dia pakai kalau lagi mau mecat karyawan. "Ada yang nyamperin lo pas gue nggak ada?"
Nara tersentak. Insting Arga emang tajamnya nggak masuk akal. "Nggak... nggak ada kok. Gue cuma kepikiran omongan wartawan tadi pagi aja. Mereka bilang lo itu 'bintang' di Xan-Land, dan gue cuma... ya, lo tau lah, skandal."
Arga mendengus sinis, dia muter setirnya masuk ke area parkir apartemen. Begitu mesin mati, dia nggak langsung turun. Dia lepas sabuk pengamannya, terus badannya miring ke arah Nara.
"Dengerin gue baik-baik, Nara. Di dunia bisnis, skandal itu kayak debu. Gue tinggal kibasin, bersih lagi. Tapi kalau lo yang nggak ada..." Arga menjeda kalimatnya, matanya natap Nara dalem banget, seolah mau nyari kejujuran di sana. "Gue nggak bakal punya alasan buat menangin tender apa pun lagi. Jadi, berhenti dengerin omongan orang, termasuk bokap gue kalau suatu saat dia mulai aneh-aneh."
Nara makin merinding. Arga kayak bisa baca pikiran Pak Surya.
"Gue mau lo ikut gue ke London bukan cuma buat jadi pajangan, Nara. Gue mau lo ada di sana biar gue tahu, sesibuk apa pun gue ngerubah dunia, ada satu orang yang nungguin gue pulang dan manggil nama gue tanpa embel-embel CEO," lanjut Arga.
Nara ngerasa hatinya makin hancur. Kalimat Arga itu indah banget, tapi justru itu yang bikin Nara makin merasa bersalah. Dia nggak mau jadi penghalang buat orang sehebat Arga. Dia nggak mau Arga dicibir kolega internasionalnya karena bawa istri yang masa lalunya digali-gali terus.
"Iya, Ga. Maaf ya gue lagi melow aja," dusta Nara sambil maksa senyum paling manis yang dia punya.
Arga ngeraih tangan Nara, terus dia cium punggung tangan cewek itu lama banget. "Jangan minta maaf. Mending sekarang kita naik, Bi Ijah pasti udah masak banyak. Terus kita mulai packing. Gue mau semua baju favorit lo masuk koper, jangan ada yang ketinggalan."
Pas mereka jalan nuju lift, Arga ngerangkul bahu Nara protektif banget. Nara ngerasa aman, tapi di saat yang sama dia ngerasa kayak pengkhianat. Di dalem tasnya, map biru dari Pak Surya seolah makin panas, membakar rasa percayanya.
"Entre kamu dan karir..." gumam Nara pelan banget pas mereka udah di dalem lift.
"Lo ngomong apa?" tanya Arga.
"Nggak, gue cuma mikir... London pasti dingin banget ya?" Nara langsung ngalihin pembicaraan.
Arga senyum tipis, "Tenang, ada gue yang bakal ngangetin lo tiap malem."
Nara cuma bisa ketawa hambar. Di kepalanya, dia udah mulai nyusun rencana paling gila. Kalau dia bener-bener sayang sama Arga, dia harus milih jalan yang paling bener buat masa depan cowok itu, meskipun jalan itu artinya dia harus ngilang dari hidup Arga tepat di hari keberangkatan mereka.