Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam-diam
Arka menatap setiap detail tubuh Aluna, seolah ia baru pertama kalinya melihat keindahan tubuh perempuan itu.
Sontak Aluna cepat-cepat membalikkan badan dan menutup bagian intim tubuhnya.
Ia menutup matanya dan menghela nafas.
Beberapa saat kemudian ia merasakan hangat tubuh Arka yang menempel pada punggungnya.
Tangan pria itu perlahan menyentuh pundak Aluna, membuat bulu kuduknya berdiri.
Tangan itu perlahan turun menyentuh dadanya, Aluna mendesah pelan saat kedua tangan Arka meremas lembut.
"Aku mencintaimu." Kalimat itu terucap dengan lirih di telinga Aluna.
Tangannya kembali menyentuh bahu Aluna lalu perlahan memutarnya agar menghadap ke arahnya.
Ia memutar keran, dan dalam hitungan detik, air jatuh dari atas, membasahi seluruh tubuh mereka.
Mereka tetap diam di sana, membiarkan air mengalir—seolah berharap semua yang terasa berat ikut luruh bersamanya.
Mereka berdua melanjutkan untuk mandi—Arka memilih untuk tidak melakukannya di sana.
Bukan karena tidak menginginkannya,
ada hal-hal yang menurutnya tidak seharusnya dimulai di tempat seperti itu.
...***...
Jam weker di samping tempat tidur berbunyi nyaring.
Arka mematikan jam itu dengan uluran tangannya. Matanya masih terpejam, rasa kantuknya masih begitu berat.
Tangannya meraba bagian kasur disebelahnya, sepertinya ia tidak menemukan sosok yang di cari.
Mata itupun akhirnya terbuka, menyapu seluruh kamar.
Aluna...
Ia bergegas bangun, membuka kamar mandi
namun tak menemukannya.
Ia turun ke lantai bawah, kakinya melangkah dengan cepat menuruni anak tangga.
Matanya mencari keseluruh sudut rumah itu, ekpresinya mulai menunjukkan rasa panik ketika tak kunjung menemukan perempuan itu.
Klontang...
Terdengar suara benda dari arah dapur, Arka langsung mendekatinya.
Ia menghela nafas lega saat akhirnya menemukan Aluna di dapur.
Arka mengendap-endap mendekati Aluna yang tengah sibuk dengan wajannya.
Tangannya memeluk pinggang perempuan itu, dagunya bertumpu pada pundak Aluna.
Sontak membuat Aluna terkejut.
"Pak Arka... sudah bangun?"
"Mau sampai kapan memanggil ku dengan sebutan Bapak?"
Aluna terdiam sesaat. "Saya harus memanggil apa?"
"Emm..." Arka berpikir sesaat. "Bagaimana kalau... Sayang."
Dada Aluna berdegup mendengar kalimat itu.
"Sepertinya saya tidak akan terbiasa."
"Kalau begitu kamu harus belajar menggunakan bahasa formal."
"Tapi itu juga terdengar tidak sopan," jawab Aluna.
Arka menghela nafas setengah kesal. "Kalau kamu terus memanggil ku Bapak, rasanya seperti aku adalah bapak kamu."
Aluna tiba-tiba tertawa kecil.
"Yasudah, terserah Bapak saja," kalimatnya terhenti. "Eh... maksud ku, terserah kamu saja."
Arka tertawa kecil mendengar Aluna untuk pertama kalinya berbicara non-formal padanya.
"Tapi selama di kantor, kita harus tetap berbicara formal," tegas Aluna.
"Gimana kalau tiba-tiba aku nggak sengaja panggil kamu... sayang."
Aluna berbalik menghadap pria itu, tiba-tiba—
Plak.
Ia menepuk jidat Arka.
"Awas saja kalau begitu," ucapnya mengancam.
...***...
"Pak, eh.. maaf." Aluna menepuk jidatnya. "Maksud ku... jangan turunkan aku di kantor. Aku tidak mau kalau orang-orang bergosip tentang kita."
Arka masih fokus pada kemudinya. "Kamu bisa keluar diam-diam dari dalam mobil. Lagipula di area basement parkir biasanya sepi."
Aluna terdiam sesaat.
Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu.
Sesuatu yang selama ini ia abaikan.
Aluna menunduk, jemarinya saling bertaut di atas pangkuannya.
Diam-diam...
Semua harus dilakukan diam-diam...
Turun dari mobil tanpa terlihat.
Berjalan tanpa menarik perhatian.
Bersikap seolah tidak ada apa-apa di antara mereka.
Padahal…
Ia adalah istrinya.
Sah.
Namun kenyataan itu justru terasa seperti sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Napasnya tertahan pelan.
Sejak kapan hidupnya berubah menjadi seperti ini?
Harus menyembunyikan sesuatu yang seharusnya bisa ia banggakan.
Harus menahan diri di tempat yang seharusnya tidak membutuhkan jarak.
Ia menatap lurus ke depan, namun pikirannya jauh.
Entah sampai kapan… Ia harus terus seperti ini.
Berjalan di sampingnya—
tanpa pernah benar-benar bisa berdiri di sisinya.
Dan untuk pertama kalinya…
Aluna merasa, bahwa kebahagiaan yang ia miliki sekarang datang dengan harga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Mobil itu akhirnya berhenti di basemen parkir eklusif.
Aluna bersiap keluar dari mobil setelah ia memastikannya tidak ada siapapun di area itu.
Namun tiba-tiba tangannya ditahan oleh Arka, membuatnya menoleh pada pria itu.
"Sebelum kita berpisah, berikan aku semangat untuk memulai pekerjaan ku, yang begitu melelahkan," kata Arka.
Aluna menatap pria itu. "Oke... semangat suamiku." Tangannya terangkat dan mengepal.
Arka menghela nafas kecewa. "Bisa romantis sedikit?"
"Seperti apa?" tanyanya polos.
Arka mendekatkan wajahnya pada Aluna, tangannya menyentuh pipi perempuan itu.
Bibir mereka saling bertemu—
Hangat dan nyaman.
Aluna mencengkram bahu Arka, matanya terpejam erat.
Beberapa saat kemudian, Aluna melepaskan dirinya, nafasnya tersengal, tangannya mengusap bibirnya.
"Sampai bertemu di tempat yang sama," ucap Arka sambil tersenyum puas pada Aluna.
...***...
Sesampainya di kantor.
Aluna bersiap untuk memulai pekerjaannya, kopi yang telah ia buat sebelumnya diletakkan di atas mejanya.
Beberapa tumpukan kertas menyambutnya, ia menghela nafas panjang.
Ayo semangat untuk status yang baru.. namun kehidupan tetap sama.
Gumamnya sambil tersenyum sinis.
Seolah ia sedang meledek dirinya sendiri.
Tak berselang lama, ia melihat Arka berjalan melewati meja karyawan lalu menghilang di balik pintu ruang CEO.
"Wah.. CEO itu. Pintar sekali ber-akting, seolah tidak terjadi hal apapun," gumam Aluna.
Suasana kantor yang semula tenang mendadak berubah.
Beberapa karyawan mulai berbisik satu sama lain, sementara pesan singkat tentang rapat mendadak sudah tersebar ke seluruh divisi.
Aluna yang sedang fokus di mejanya mengangkat kepala, sedikit mengernyit.
“Meeting?” gumamnya pelan.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, sebuah suara datang dari sampingnya.
“Kamu juga dapet?”
Aluna menoleh.
Revan berdiri di sana, satu tangannya menyelip di saku celana, ekspresinya terlihat santai seperti biasa.
“Iya,” jawab Aluna singkat. “Tiba-tiba banget.”
Revan menghela napas ringan, lalu menyeringai tipis.
“Biasanya kalau mendadak gini… bukan kabar baik.”
Aluna mengangkat alisnya.
“Kamu selalu mikir negatif, ya?”
“Bukan negatif,” sahut Revan santai.
“Realistis.”
Aluna mendengus pelan, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Ya semoga aja bukan hal besar,” katanya.
Revan menatapnya sekilas, lalu bahunya terangkat ringan.
“Kalau cuma hal kecil, biasanya nggak bakal bikin satu kantor dikumpulin.”
Kalimat itu membuat Aluna terdiam sesaat.
Entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya.
Di ruang meeting.
Arka berdiri di ujung meja meeting besar, tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti sejenak.
“Mulai hari ini, akan ada sedikit perubahan dalam struktur kerja kita.”
Suaranya tenang, namun cukup untuk membuat semua orang langsung fokus.
“Damar akan dipindahkan ke cabang lain dalam waktu dekat.”
Ruangan sempat hening, beberapa orang saling berpandangan.
Arka tidak berhenti.
“Dan untuk posisi sekretaris yang kosong…”
Ia memberi jeda singkat.
“…akan diisi oleh Aluna.”
Beberapa bisikan kecil mulai terdengar, namun langsung mereda saat Arka kembali berbicara.
“Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan.”
Tatapannya tajam, seolah menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk mempertanyakan.
“Aluna sudah menunjukkan kemampuan dan dedikasi yang cukup untuk berada di posisi tersebut.”
Ia sedikit memiringkan kepalanya, menatap ke arah Aluna.
“Mulai hari ini, semua hal yang berkaitan dengan jadwal dan koordinasi kerja akan melalui dia.”
Arka kembali mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan.
“Dan saya harap… semua pihak bisa bekerja sama dengan baik.”
Nada kalimat terakhirnya terdengar lebih dalam—
bukan sekadar harapan,
melainkan penegasan.
Revan menoleh cepat ke arah Aluna, alisnya terangkat.
“Wah…” bisiknya pelan. “Selamat, ya.”
Namun Aluna tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju ke depan, tepat ke arah Arka.
Karena entah kenapa—
keputusan itu tidak terasa seperti kabar baik.
Begitu Aluna melangkah masuk ke ruangan barunya sebagai sekretaris baru, suasana terasa sedikit berbeda.
Tidak ada yang benar-benar berhenti bekerja.
Tidak ada yang terang-terangan menatap.
Namun entah kenapa…
ia bisa merasakannya.
Tatapan-tatapan singkat yang segera dialihkan.
Bisik-bisik pelan yang terpotong begitu ia lewat.
“Dia ya?”
“Cepat banget naiknya…”
“Pantas aja…”
Suara-suara itu tidak terdengar jelas,
namun cukup untuk membuat langkah Aluna terasa lebih berat dari biasanya.
Ia menunduk sedikit, mempercepat jalannya.
Berpura-pura tidak mendengar.
Berpura-pura tidak peduli.
Padahal setiap kata itu…
seolah menempel di telinganya.
Menusuk.
Aluna sampai di mejanya, menarik kursi perlahan.
Tangannya bergerak membuka berkas di depannya—
namun matanya tidak benar-benar membaca.
Pikirannya penuh.
Ia tahu posisi ini tidak datang begitu saja.
Ia tahu apa yang orang-orang pikirkan.
Dan mungkin…
mereka tidak sepenuhnya salah.
Napasnya tertahan.
Untuk pertama kalinya sejak ia duduk di kursi itu
posisi yang seharusnya ia syukuri…
justru terasa menekan.
Seolah kursi itu terlalu besar untuknya.
Seolah semua orang sedang menunggu
kapan ia akan jatuh dari sana.
Jemarinya mengepal pelan di atas meja.
Ia ingin bertahan.
Tapi di tengah semua tatapan dan bisikan itu…
ia tidak tahu apakah dirinya cukup kuat untuk tetap berdiri.