NovelToon NovelToon
SANG PERWIRA

SANG PERWIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengantin Pengganti
Popularitas:98.4k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.

Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...

Penasaran dengan alurnya? yukk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PERWIRA 35

"Astaga Rara, Dito." Pikiranku tiba-tiba teringat pada kedua anak itu, genggaman tangan kulepaskan dari selina.

Lalu aku menuju ke arah kamar dan mengetuknya. Tak ku pedulikan keluarga Dimas yang masih sibuk menenangkan anaknya itu.

"Dito, Rara, keluar anak-anak. Para Zombi sudah terkendali. Aman, kita menang," ujarku di depan pintu yang terkunci itu sembari melirik ke arah Dimas yang terlihat seperti orang kesurupan.

Pintu terbuka dan seketika Rara memelukku erat, anak ini benar-benar membuatku merasa dibutuhkan. Aku duduk menyamai Rara.

"Sudah Om bilang, jangan takut. Selama ada Om semua akan baik-baik saja." Ku sapu air mata yang membasahi pipinya dengan jemariku.

"Nggak ada yang marah-marah lagi, Om sama Teh selina dan bapak Rara?" tanyanya lugu dan polos.

Aku menggeleng pelan.

"Nggak ada, semua sudah kalah sama Om."

Senyumnya melebar, mata sendu itu pun kembali berbinar.

"Sekarang, kita ke depan. Makan," ajak ku lalu bangkit.

Aku menggandeng tangan Rara. Tapi ada yang menghambat langkahku untuk maju. Dito.

Ia tampak bergeming dengan wajah murung di depan pintu. Aku menepuk pundaknya.

"Kecut sekali muka kamu, katanya mau duet. Ayo." Aku mencoba untuk menghibur, masalah di panggung akan seperti apa, aku singkirkan dulu.

Mendengar ucapanku, tangannya dengan cepat terangkat, mengusap sudut matanya yang basah. Dari sini aku bisa melihat, di balik sikapnya yang keras kepala dan tempramen, ia masih menyimpan kelembutan di dalam hatinya, terlebih saat orang tua dan keluarganya terancam dan terluka.

"Oke, Om siapa takut."

***

Langkahku mengayun keluar setelah Dimas diseret keluarganya pulang karena terus enggan meninggalkan rumah selina.

Entah apa yang akan terjadi di luar nanti, yang pasti sekarang dadaku berdentam kuat melihat panggung mini di depan sana.

Kami keluar sebagai keluarga pengantin baru yang lengkap dan mereka menatap kami begitu kami sampai di ambang pintu.

Ya, tentu saja karena kami adalah tuan rumah sekaligus pemeran utama kali ini.

Aku tersenyum ramah dengan menggandeng tangan Rara dan Dito memilih menyebelahi ku. Sementara keluarga yang lain mengekori ku termasuk selina dan orang tuanya.

Di saat seperti ini aku seolah merasa bahwa mereka memperlakukanku seperti seorang penyelamat yang harus diistimewakan bagi mereka bahkan saat berjalan. Tapi sebenarnya bukan itu yang aku harapkan.

Yang aku harapkan adalah kebahagiaan Pak Harun dan juga Bu Asri terutama Rara, yang sudah banyak menerima penderitaan dari orang yang seharusnya memberi dan melindungi, itu saja.

"E ... Mas Ganteng mau ajak ke mana pengantinnya?Ganti bajunya dulu, setelah itu baru kita ke pelaminan," seru seorang yang kurasa perias mengagetkanku. Aku tersadar lalu menatapnya.

"Ganti baju?" Mataku menyipit dengan dahi berkerut dalam.

"Iya atuh, kita ganti pakaian dulu, lalu baru ke pelaminan sana. Ini baju untuk akad saja setelah itu ganti yang lain."

"Emang harus?!" tanyaku memperjelas, aku tahu memang itu yang seharusnya, bahkan aku mengganti pakaian entah berapa kali saat menikahi radina dulu, mungkin aku lupa karena begitu banyaknya.

Tapi, bukankah sekarang pernikahan yang terjadi hanyalah sandiwara? Lalu kenapa harus berlebihan?

"Harus, lah. Udah dibayar nanti saya makan gaji buta lagi! Lagian masak pengantin pake batik kayak gini!" jawabnya sedikit jengkel sembari memegang kemeja batik yang ku kenakan.

Lalu ia pun langsung meraih pergelangan tanganku dan selina.

"Ta ... ta ...." Wanita yang terlihat sebagai ketua dari perias itu menarik tangan kami tanpa menunggu jawabanku yang ingin mengatakan bahwa itu tidaklah perlu.

"Aku tunggu di panggung, Om, eh, A." Bukan memperbaiki keadaan, teriakan Dito justru membuatku semakin tegang saja.

Namun, sekilas dapat kulihat Pak Harun dan Bu Asri melengkungkan senyuman, rasa ingin memberontak dalam diriku pun luruh seketika kala melihat senyum kebahagiaan mereka. Akhirnya, demi senyum keduanya aku menurut saja di bawa ke kamar selina.

Sedangkan selina? Aku sempat melirik ke arahnya. Ia tampak pucat sekarang dan aku terbahak dalam hati lalu berkata.

"Rasakan, salah sendiri bermain-main dengan orang yang sudah mati rasa. Mana sanggup kamu selina melawanku setelah ini." Senyum penuh kemenangan ku ukir setelahnya.

Aku masuk ke dalam kamar yang pernah kulihat sebelumnya, tapi kali ini kamar itu terlihat jauh berbeda. Kamar yang begitu memprihatinkan kala kulihat malam itu kini sudah dihias sedemikian rupa, menggunakan bunga-bunga, dindingnya dipasang kain berkerut indah, menutupi keadaan dinding yang asli, dan yang paling menyita perhatianku adalah ranjangnya yang diberi kelambu indah berwarna putih, menjuntai hingga ke bawah.

Pikiranku lalu melayang, mengingat video kotor yang pernah ku sita di mana ada video yang dekorasinya persis seperti yang kulihat sekarang. Aku menatap selina.

Lalu ku sapu pandangan saat aku tiba-tiba bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi di dalamnya nanti malam jika saja selina dan Dimas jadi menikah.

Sebuah tangan menepuk pundakku tak lama setelah aku berpikir perihal malam pertama selina dan Dimas, tepukannya cukup keras sehingga aku sempat terlonjak.

"Woe, Mas, sabar, nanti malam bebas mau ngapain aja. Nggak sabar banget dari tadi lihat Mbak selina terus. Sabar," ujar perempuan di depanku lalu terkikik.

Aku menajamkan penglihatan, astaga, rupanya sejak tadi aku berdiri menghadap ke arah selina yang ada di seberang dan hanya terpisah ranjang.

Bisa besar kepala dia mendengar ucapan perempuan ini. Padahal sama sekali aku tak melihatnya. Untuk apa?

"Ayo dipakai," ujarnya sembari menunjukkan baju pengantin berbahan beludru berwarna hitam. Aku lantas membuka baju batik yang aku kenakan agar bisa cepat keluar dari kamar yang membuat imajinasiku tak normal.

"Fitnes, Mas, kayak roti sobek?" tanyanya lagi, sambil menatap bagian dada hingga perutku.

Cepat aku menutupinya dengan kemeja bagian dalam baju pengantin berwarna putih. Bagaimana lagi, kaos dalam pun aku tak punya. Sehingga aku hanya mengenakan batik tanpa kaos singlet.

"Kerja keras, kuli, angkat batu bata, semen, makanya gini," jawabku yang sudah jengkel pada wanita cerewet yang terus saja ingin tahu.

"O ... kuli. Besok saya mau bangun garasi. Bisa dong sewa?!" ujar ya mengedipkan mata padaku.

Sudah tahu suami orang tapi genitnya masih setengah mati wanita ini.

Aku membuang muka tak mau menjawab pertanyaan di luar logika. Ya, kali jadi kuli beneran. Ogah sekali.

"Ayo, Mbak selina," seru perias lain yang ada bersama selina menyita perhatianku, aku menoleh ke arahnya.

Kulihat selina menundukkan kepala dan tak kunjung membuka kancing kebayanya. Adegan saling berebut kancing kebaya pun terjadi antara selina dan perias yang terlihat sudah tak sabar itu.

"Aduh, Mbak, kan udah jadi suami istri kenapa musti malu-malu gini," ujar perias itu lalu menatapku dengan raut kesal.

Aku hanya meliriknya, kemudian aku pun memalingkan wajah dan bergegas memunggunginya.

Aku sadar dan paham pernikahan yang terjadi bukanlah pernikahan yang normal maka wajar saja jika selina merasa malu padaku yang bahkan baru ia kenal.

Menit berselang, terdengar gemerisik di belakang sana, mungkin selina mulai mengganti kebayanya.

Jantungku sempat berdegup dan sedikit berdebar, bagaimana tidak? Berada dalam satu ruang mengganti pakaian bersama orang yang tak seharusnya. Ini cukup menyiksa.

Tak ada seragam ataupun pedang pora, kali ini aku memakai pakaian adat saja dengan blangkon di kepala dan mereka memasang kain batik berwarna putih dengan corak berwarna coklat untuk bawahannya.

Namun, ini cukup membuatku merasa canggung untuk mengenakannya.

"Kalian ini bikin jantung saya mau lepas tadi. Kayak drama aja. Mencengangkan. Padahal Mbak selina tadi kelihatan begitu bahagia. Nggak nyangka saya kalau ternyata seperti itu ceritanya," seloroh wanita di belakang sana, berbincang dengan selina. Namun, tak terdengar jawaban dari selina walau hanya sepatah kata.

Bahagia? Artinya sekarang selina tidak bahagia? Tentu saja, pernikahan tak diinginkan lah yang terjadi bagaimana mungkin dia bahagia.

Yang ada patah hati batal nikah sama lelaki tak tahu diri.

Selina, selina, makanya matikan saja hatimu kalau mau bebas dan lepas dari kesakitan yang bisa saja membuatmu gila.

Aku mengiringkan senyum remeh.

"Sama. Apa lagi saya. Meskipun tidak mengikuti tapi dengar saja saya merinding," sahut wanita di depanku yang sedang merapikan kain bawahan yang kupakai dan memberikan sepatu slop senada dengan warna baju yang ku kenakan.

Sementara tak ada yang bisa kukatakan, aku hanya mendengar tanpa bisa membantah, menyela, ataupun menanggapi.

Begitu juga dengan selina, tak sepatah kata pun kudengar keluar dari wanita yang membuatku banyak kehilangan wibawa hari ini, menurut setiap kali ia menatap tajam ke arahku.

Padahal selama ini tak ada satupun orang yang berani mengancam ku, sementara dia, dengan mudahnya memberi ancaman hanya dengan gerakan matanya yang... lentik itu. Ah, menyebalkan.

"Nah, udah selesai, kasep pisan. Gimana selina, sudah selesai? Kalau sudah kita keluar," kata wanita di hadapanku lagi, kemudian bertanya pada wanita lain yang merias selina.

Aku masih bergeming dan tak berani membalikkan badan sebelum kata selesai kudengar.

1
Reni Anggraeni
udah unboxing aja 🤭
aliyya
akhirnya udh bisa menyatu selina dan Aabid,besok selina mo d boyong ke jakarta am Aabid,selina harus kuat dan sabar nanti takut ketemu radina yg akan bt ulah bt balas dendam,,,(sotoy)🤭🤣🤣🤣
Intan Nurwulan
Up ka othor
Price Nada
lanjut Thor
aliyya
ceee ileyyyy,,,
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Anggraeni
up LG kk
Siti Siti Saadah
sudah memang buat jujur
Danny Muliawati
semakin seruuuuuu semangat thor
raditya Sujana
ceriganya terlalu bertelele kk, udah waktunya abaid bicara jujur berihal hatinya, jangan terlalu monoton,, tp aku ttp suka, ttp penasaran juga,, 10bunga deh buat kk biar daubel update nya💪💪💪💪kk
Intan Nurwulan
Knpa pd gengsi ya,coba saling jujur kalo mrk sdh mulai ada rasa. Jd gemezzzz😁
Reni Anggraeni
kak kok kmarin up 1 tok
Intan Nurwulan
Double up ka othor
Kharisma Afifa
ayo kang aabid segerah beraksi👍😄
Yus Marni
selalu tambah penasaran aku thor,lanjutt
Siti Siti Saadah
dibandingkan Selina trauma aabid lebih parah. meskipun dia seorang polisi dalam hal jiwa dia belum mampu mengelola traumanya
Fazira Fazira
asyeeeek makin seruuu💪semangat ya Thor
aliyya
sabar y selina Aabid blm jujur sama km,krna Aabid msh sakit hati sama mantan istrinya yg sudah selingkuh,dan dia jg blm sadar klo skrg udah mulai jatuh cinta ke kamu,,,❤️
aliyya
tinggal dimas ini mo di apa in sm Aabid,,,,🤭
double up thor,,,🙏🙏🙏
Reni Anggraeni
up LG kk
Reni Anggraeni
up jam berapa kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!