"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
Tomi bangkit dari kursi kebesarannya, meraih kunci mobilnya di atas meja, kemudian berlalu.
"Saya akan menemui Cili." Ucap Tomi sebelum memutar handle pintu ruangannya.
Tak ada perintah yang terucap dari mulut Tomi, namun asisten Azam paham apa yang harus dilakukannya.
"Baik, tuan."
Tomi pun berlalu seorang diri tanpa ditemani oleh asisten pribadinya.
Di lobby sebuah apartment elit di pusat kota, di sinilah Tomi berada sekarang. Tomi hanya tahu alamat apartemen Cili, tapi tak tahu unit apartment yang ditempati oleh wanita itu. Hingga mau tak mau, Tomi pun mendatangi meja resepsionis guna menanyakan nomor unit apartment yang ditempati Cili.
"Maaf tuan, demi keamanan serta kenyamanan penghuni apartment, kami harus menyampaikan kedatangan anda terlebih dahulu kepada Nona Pricilia Marda." Kata petugas resepsionis, mereka tak langsung memberitahukan nomor unit apartment Cili.
Tomi pun mengangguk.
"Silahkan!." Tomi paham resepsionis hanya melaksanakan tugasnya. Melaksanakan tugas sesuai dengan aturan serta ketentuan yang berlaku di apartment tersebut. Ya, saking tak sabar ingin bertemu dengan Cili demi menepis semua tuduhan wanita itu, Tomi sampai lupa menanyakan pada asisten Azam nomor unit apartment Cili. Hendak menelepon namun ponsel Tomi tiba-tiba kehabisan daya, rupanya semalam ia lupa mengisi daya ponselnya.
*
Di dalam unit apartment miliknya, Cili buru-buru merapikan penampilannya, memastikan polesan make up di wajahnya sudah sempurna, setelah mendapat telepon dari petugas resepsionis apartment perihal kedatangan Tomi. Tak lupa, Cili pun menyampaikan pada putranya perihal kedatangan Tomi.
Tak lama berselang, suara bel berbunyi.
"Sayang, itu pasti Daddy yang datang." Cili yang kini tengah berjongkok dihadapan putranya guna menyamakan tinggi dengan bocah itu, terlihat melebarkan senyumnya. Ya, kedatangan Tomi mampu merubah suasana hati Cili.
"Benarkah, Mom?."
"Tentu saja, sayang. Ayo, kita buka pintunya, kasihan Daddy kelamaan menunggu di luar!." Ajak Cili dan bocah bernama Tora tersebut mengangguk dengan antusias. Cili menggandeng tangan putranya menuju ke arah pintu.
"Daddy...." Bocah itu memeluk kaki Tomi. Sebenarnya Tomi tidak tega mengabaikan Tora, mengingat bocah itu pasti tidak akan paham dengan situasi orang dewasa. Akan tetapi, Tomi juga tidak bisa melanjutkan kesalahpahaman di hati Tora kepadanya. Bocah itu harus tahu jika dirinya bukanlah Daddy-nya.
Tomi berjongkok dihadapan bocah itu.
"Tora...Om bukan Daddy kamu, jadi berhentilah memanggil om dengan sebutan Daddy, nak!." Dengan lembut Tomi berkata demikian pada Tora. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah, tentunya Tomi tak suka jika kelak anaknya mendapat kata-kata kasar dari orang lain, makanya Tomi tetap bicara dengan nada lembut pada putranya Cili.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu, Tomi?." Cili tidak suka dengan apa yang baru saja dikatakan Tomi pada putranya.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku bukanlah Daddy-nya." Tegas Tomi.
Terlihat jelas gurat kecewa di wajah bocah berusia lima tahun tersebut.
"Apa itu benar, mom?." Bocah itu menarik ujung kemeja yang dikenakan ibunya, menuntut jawaban.
Di saat Tomi tengah terlibat perdebatan kecil dengan Cili, Tiba-tiba Linda datang.
"Tuan Tomi." Linda merasa telah terjadi sesuatu hingga Tomi rela meluangkan waktu ditengah kesibukannya hanya untuk mendatangi Cili.
Merasa tidak seharusnya Tora mendengar perdebatan orang dewasa, Linda lantas mengajak putranya Cili masuk ke kamar, meninggalkan Tomi dan Cili di ruang tamu.
Tomi menyodorkan amplop coklat yang berisi hasil pemeriksaan DNA antara dirinya dan putranya Cili.
"Buka dan bacalah! Di dalam amplop itu terdapat hasil pemeriksaan DNA yang menunjukkan bahwa aku tidak memiliki ikatan da-rah dengan putramu."
Deg
Perlahan Cili membuka amplop tersebut dan membaca lembaran kertas yang menunjukkan hasil pemeriksaan DNA antara Tomi dan putranya. Sebenarnya, tanpa melihat hasil pemeriksaan tersebut pun, Cili sudah tahu jawabannya. Karena, Tora adalah putranya, otomatis ia tahu betul siapa ayah kandung bocah itu.
"Apa sebenarnya maksud dan tujuanmu sampai melakukan semua ini padaku, Cili? Bukankah dulu kau sendiri yang pergi begitu saja dihari pernikahan kita, lalu kenapa kini kau kembali lagi dan mengusik kehidupan rumah tanggaku?." Tak ada intonasi tinggi, Tomi bicara dengan intonasi pelan namun rasanya mampu menusuk hingga ke jantung Cili. Karena aura wajah serta tatapan Tomi begitu dingin.
"Maafkan aku, Tomi. Aku terpaksa melakukan semua ini demi putraku. Aku hanya ingin putraku memiliki Daddy yang pantas untuknya." Tatapan serta raut wajah Cili kini berubah memelas. Berharap Tomi dapat memahami posisinya dan bersedia mewujudkan keinginannya.
Tomi tersenyum getir lalu berkata.
"Kau benar-benar egois dan tidak punya perasaan, Cili. Apa kau tidak pernah berpikir sedikitpun, bagaimana hancurnya hatiku saat melihat wanita yang aku cintai terluka hatinya akibat fitnah yang kau arahkan padaku?."
Deg
Pengakuan cinta secara tidak langsung dari mulut Tomi untuk istrinya, sanggup meluluh lantahkan hati Cili. Ya, Tomi adalah harapan Cili satu-satunya untuk memperbaiki jalan hidupnya yang sudah tidak tentu arah akibat perbuatan seseorang. Tomi adalah harapan Cili satu-satunya untuk bisa melindungi dirinya serta putranya dari sosok pria jahat yang selama ini mengacaukan hidupnya.
"Aku mohon padamu, berhentilah mengusik kehidupanku! Selagi aku masih memintanya dengan cara baik-baik, tolong menjauh lah dari kehidupanku! Jangan paksa aku mengimbangi kejahatanmu, Pricilia." Peringatan dari Tomi masih terdengar pelan namun terkesan tegas dan tak ingin mendengar bantahan.
"Apa sudah tidak ada lagi cintamu yang tersisa untukku, Tomi?." Air mata Cili jatuh berlinang membasahi pipinya. Kali ini bukan lagi air mata dusta, melainkan air mata yang mewakili suasana hatinya.
"Cintaku sudah ku habiskan pada istriku, tidak lagi tersisa untuk wanita manapun, termasuk dirimu. Aku sangat mencintai istriku, Cili. Sekali lagi aku mohon, berhenti memprovokasi istriku dan sebaiknya jauhi kehidupan kami, terutama Sonia!. Saat ini Sonia sedang mengandung buah cinta kami, aku tidak ingin sampai dia kenapa-napa akibat banyak pikiran. Karena, jika sampai terjadi hal buruk pada istriku, aku pasti akan memberi pelajaran padamu dengan caraku sendiri." Peringatan terakhir dari Tomi, sebelum pria itu berlalu begitu saja meninggalkan Cili yang masih diam terpaku usai mendengar peringatan keras dari Tomi.
Baru saja mengayunkan langkah keluar dari apartment Cili, Tomi menyaksikan keberadaan Sonia di depan pintu apartment yang tidak tertutup dengan sempurna. Sehingga bisa dipastikan, tadi Sonia dapat mendengar semua percakapan antara Tomi dan Cili.
"Sayang..."
Sonia tak menanggapi seruan suaminya, wanita itu justru membawa diri ke dalam pelukan suaminya.
"Terima kasih, mas. Terima kasih sudah menerimaku sebagai istri Kamu sepenuhnya." Gumam Sonia di dalam hati.
Tomi melirik sekilas pada asisten Azam, pasti pria itu yang berinisiatif mengajak Sonia ke sana tanpa sepengetahuannya.
"Kau memang terbaik. Tak salah aku memilihmu menjadi asisten pribadiku." Batin Tomi memuji asisten Azam.
dari kisah keluarga besar orang tua Abil dan Dika juga🤗😍🙏
apakah Tante Livy ikut jugaaa