NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 ​Surat yang Tak Pernah Dibaca

Hening malam di dalam ruang kerja apartemen Baskara terasa begitu mencekik. Lembar demi lembar berkas usang dari London yang berserakan di atas meja kayu solid itu seolah berubah menjadi saksi bisu atas kekejaman yang pernah ia lakukan. Di antara tumpukan kertas laporan akademik dan revisi proposal yang dulu ia lemparkan ke tempat sampah dengan angkuh, jemari Baskara yang bergetar menarik selembar kertas memo resmi berlambang universitas.

​Itu adalah sebuah surat dispensasi dari Aruna yang dikirimkan beberapa minggu sebelum gadis itu jatuh koma. Dulu, Baskara yang dipenuhi ego dan keangkuhan tinggi tidak pernah sudi membacanya sampai selesai. Dia langsung menolaknya mentah-mentah, menganggapnya sebagai alasan klasik dari mahasiswa malas yang mencari belas kasihan.

​Namun malam ini, di bawah temaram lampu meja, Baskara membaca setiap baris kalimat formal itu dengan dada yang berdenyut amat perih.

​Kepada Yang Terhormat,

Dosen Pembimbing Akademik, Pak Baskara Dirgantara.

​Melalui surat resmi ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena tidak dapat menghadiri kelas asistensi pagi ini. Saya memohon dengan sangat kebijakan Bapak untuk memberikan tambahan waktu satu minggu dalam pengumpulan draf riset.

​Saat ini saya sedang berada di rumah sakit untuk menjalani serangkaian pemeriksaan medis mendalam. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengabaikan tugas atau meremehkan kelas Bapak. Saya akan berusaha mengejar ketertinggalan sesegera mungkin setelah kondisi saya dinyatakan stabil.

​Hormat saya,

Aruna Prawijaya.

​Kertas di genggaman Baskara perlahan meremuk. Air mata penyesalan yang teramat pekat luruh menetes membasahi tinta tulisan tangan Aruna. Untuk pertama kalinya, Baskara mengetahui kenyataan mengerikan yang selama ini ia butakan. Di saat ia berdiri dengan angkuh di atas mimbar kelas, menghina Aruna sebagai mahasiswa 'sampah' dan bodoh yang tidak berguna, Aruna sebenarnya sedang berjuang sendirian mempertaruhkan nyawanya melawan penyakit jantung yang belum terdiagnosis penuh. Pria itu mencengkeram dadanya sendiri yang terasa hancur berkeping-keping, menyadari bahwa dialah algojo utama yang mempercepat runtuhnya kesehatan gadis yang kini teramat ia cintai.

​Sementara itu, di kediaman keluarga Prawijaya, Aruna duduk termenung di tepi jendela kamarnya. Beberapa hari telah berlalu sejak kepulangannya dari daerah terpencil, dan ada satu hal aneh yang mulai mengusik benaknya.

​Baskara benar-benar menghilang.

​Tidak ada lagi pesan teks protektif yang masuk ke ponselnya. Tidak ada kiriman bunga, tidak ada mobil sedan hitam yang mengawal taksinya, dan tidak ada gangguan apa pun dari pria itu. Awalnya, Aruna merasa sangat lega karena beban berat yang menghimpitnya mendadak diangkat. Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan yang terlalu radikal dan mendadak ini justru menumbuhkan tanda tanya besar di kepalanya. Kenapa dia berhenti begitu saja? Pertanyaan itu muncul bukan karena Aruna merindukannya, melainkan karena ia terlalu mengenal tabiat Baskara yang keras kepala dan tidak pernah menyerah. Perubahan sikap yang tiba-tiba ini terasa janggal dan menciptakan kekosongan misterius yang mengganggu ketenangannya.

​Di sela-sela kebingungan itu, Vano Brahmanta tetap hadir di sisi Aruna. Pria berkacamata itu datang berkunjung ke rumah Aruna dengan membawakan beberapa catatan riset tata kota yang mereka bahas di posko bantuan hukum tempo hari. Vano tetap bersikap dewasa, santun, dan memperlakukan Aruna dengan penuh rasa hormat.

​Namun, Vano tetaplah manusia biasa yang tidak sempurna. Rasa khawatirnya yang besar terhadap Aruna memicu sebuah kesalahan kecil dalam bertutur kata. Saat mereka sedang duduk di beranda sambil menikmati teh sore, Vano melirik Aruna lalu berkata dengan nada protektif, "Aruna, kalau aku jadi kamu, aku tidak akan pernah memaafkan pria bernama Baskara itu setelah semua yang dia lakukan dulu padamu."

​Vano berniat baik, ia ingin membela dan memvalidasi luka masa lalu Aruna. Namun, kalimat itu justru membuat atmosfer di antara mereka mendadak canggung. Aruna terdiam, ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya. Untuk pertama kalinya, Aruna menyadari bahwa sekadar menjadi pria baik pun tidak memberi Vano hak untuk mendikte perasaannya. Keputusan untuk memaafkan atau tidak memaafkan adalah mutlak miliknya sendiri, bukan hak orang lain untuk menentukan, batin Aruna bersuara. Vano adalah teman yang luar biasa, namun dia bukanlah pahlawan sempurna yang berhak mengatur jalan hidupnya.

​Ketegangan yang tertahan itu mendadak mencapai puncaknya beberapa hari kemudian, ketika Aruna kembali menghadiri evaluasi program bantuan hukum di posko daerah pinggiran. Kondisi fisik Aruna yang belum pulih total sempat membuatnya kembali lemas saat hendak bangkit dari kursi plastik di dalam posko.

​Vano yang berada di dekatnya langsung bergerak dengan niat membantu secara wajar. Ia mengulurkan tangan untuk mengecek suhu cangkir teh yang terlalu panas, membetulkan letak selimut yang tersampir di bahu Aruna, dan menahan lengan gadis itu agar tidak limbung.

​Tepat pada detik itu, tirai posko tersibak kasar. Baskara Dirgantara datang dengan napas memburu dan tatapan mata yang liar akibat didera rasa takut kehilangan yang luar biasa. Begitu netranya menangkap tangan Vano yang hendak menyentuh tubuh mungil Aruna, logika Baskara langsung lumpuh total.

​Tanpa berpikir panjang dan tanpa membuat keributan verbal, Baskara melangkah cepat lalu mendorong lengan Vano menjauh dari Aruna dengan gerakan yang sangat tegas dan bertenaga.

​Vano spontan mundur satu langkah, mengernyitkan keningnya tajam karena menganggap tindakan pria di hadapannya ini sudah terlampau berlebihan dan tidak berdasar. "Saya tidak sedang menyakitinya, Pak Baskara," ujar Vano dengan nada suara yang ditekan, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak di depan Aruna.

​Baskara mengabaikan Vano sepenuhnya. Ia menempatkan tubuh tegapnya tepat di depan tempat duduk Aruna, berdiri kokoh bagai tembok raksasa yang memisahkan Aruna dari jangkauan Vano. Sikap posesif dan dominannya kembali mengambil alih kendali karena rasa panik yang telanjur menguasai isi kepalanya.

​"Terima kasih atas bantuan Anda, Saudara Vano. Namun setelah ini, saya yang akan mengambil alih dan menjaga Aruna," ucap Baskara dengan suara rendah yang sarat akan penekanan mutlak, menatap Vano dengan binar mata elang yang mengancam.

​Aruna yang menyaksikan arogansi itu kembali bangkit seketika merasa dadanya sesak karena kesal setengah mati. "Pak Baskara, hentikan! Aku baik-baik saja dan tidak butuh bantuanmu" sentak Aruna dingin, mencoba menghentikan kegilaan pria itu.

​Namun, Baskara yang telanjur didera rasa takut luar biasa tidak mundur seujung kuku pun. Ia justru menurunkan tubuhnya, berjongkok tepat di hadapan Aruna. Dengan gerakan cepat yang tak terbantahkan, Baskara meraih pergelangan tangan mungil Aruna, meraba denyut nadinya untuk memastikan kondisi fisik gadis itu, sembari menatap wajah pias Aruna dengan tatapan yang sangat intens dan khawatir, mengabaikan fakta bahwa Aruna sedang menatapnya dengan kebencian yang mendalam.

​Aruna melepaskan tangannya dengan sentakan kasar, lalu menatap Baskara dengan sorot mata yang mendingin hingga ke titik beku.

​"Tolong beri tahu aku, Pak... apa bedanya Bapak yang sekarang dengan Bapak yang dulu?" desis Aruna, suaranya bergetar menahan amarah yang teramat pekat. "Dulu, Bapak menggunakan kekuasaan Bapak sebagai dosen untuk mengendalikan dan menghancurkan hidup saya di dalam kampus. Sekarang, Bapak menggunakan kekuatan Bapak untuk mendikte dan mengendalikan hidup saya di luar kampus. Bapak tidak pernah berubah!"

​Mendengar kalimat yang teramat menyakitkan itu keluar dari bibir Aruna, pertahanan batin Baskara runtuh seutuhnya. Rasa bersalah dari surat yang ia baca semalam berpadu dengan ketakutan ekstrem akan kehilangan Aruna membuat akal sehatnya hilang.

​Tanpa memedulikan penolakan lagi, Baskara maju menerjang ke depan dan membawa tubuh mungil Aruna ke dalam dekapan erat kedua lengan kekarnya. Ia memeluk Aruna dengan begitu posesif, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu seolah-olah Aruna adalah satu-satunya napas yang tersisa di dalam hidupnya.

​Berada di dalam dekapan dada bidang Baskara yang hangat, Aruna mendadak membeku. Di luar dugaan, tubuh mungilnya tidak membalas pelukan itu, namun ia juga tidak memberontak. Aruna hanya diam mematung, hatinya didera rasa bingung yang luar biasa karena bisa merasakan detak jantung Baskara yang berdegup dengan ritme yang teramat kacau dan rapuh. Sementara itu, hanya beberapa jengkal dari tempat mereka berdiri, Vano Brahmanta menyaksikan adegan tersebut dengan sepasang mata yang menyipit tajam, memandang lurus ke arah Baskara dengan tatapan sinis yang sarat akan permusuhan mutlak.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!