LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Bayangan Di Balik Cahaya Kota
Malam hari di kawasan Senayan. Sabiru duduk sendirian di kafe, sesuai rencana umpan. Tapi kali ini, dia tidak merasa sendirian.
Melalui earpiece mini yang tersembunyi di balik rambutnya, suara Allbiru terdengar jelas dan tenang. "Posisi atap gedung sebelah timur. Sudut pandang jelas. Aku lihat tiga pengamat. Satu di meja pojok kiri, dua di luar jendela. Jangan menoleh, Ru. Tetap akting lemah."
Sabiru mengambil kopinya, tangannya sengaja dibuat gemetar. "Copy, Biru. Aku rasain sinyal mereka. Lemah. Mereka ragu-ragu."
"Bagus. Biarkan mereka ragu. Reza, status?"
"Firewall kafe udah kubobol. Kamera CCTV loop. Kalau mereka coba rekam, videonya bakal kosong. Aman, Biru."
Tiba-tiba, seorang pelayan mendekati meja Sabiru, meletakkan amplop hitam. Sabiru menatapnya.
"Jangan buka dulu," perintah Allbiru tajam. "Ada serbuk halus di atas amplop. Bisa jadi racun kontak atau pelacak kimia."
Sabiru menahan diri. Dia menatap pelayan itu, lalu menggeleng pelan. "Saya tidak memesan ini."
Pelayan itu pergi. Sabiru menunggu sampai pelayan itu hilang dari pandangan, lalu dengan hati-hati, dia menggunakan ujung sendok untuk mendorong amplop itu ke tepi meja, jauh dari tubuhnya.
"Kenzi, siap di van?" tanya Allbiru.
"Mesin panas, Biru. Siap gas kapan aja. Dinda udah siapin antidote universal di tas medis, just in case."
Sabiru akhirnya membuka amplop itu dengan hati-hati, menghindari serbuknya. Isinya kartu hitam.
"Mereka minta pertemuan di Pelabuhan Sunda Kelapa," lapor Sabiru. "Mereka bilang punya obat untuk Neural Link-ku."
"Itu jebakan, Ru," kata Arisendra dari ruang komando. "Tidak ada obat untuk implant bawaan. Mereka ingin memancingmu keluar untuk dipasang Jammer."
"Aku tahu, Yah," jawab Sabiru. "Tapi kita butuh konfirmasi siapa pemimpin lapangan mereka. Aku akan pergi. Tapi Allbiru..."
"Aku nggak akan ninggalin kamu sedetik pun," potong Allbiru. Suaranya rendah, penuh janji. "Kalau mereka sentuh kamu, aku habisi mereka. Titik."
Sabiru tersenyum di balik kegelapan kafe. Ancaman kekerasan dari Allbiru biasanya menakutkan, tapi bagi Sabiru, itu adalah bentuk cinta tertinggi. Dia tahu Allbiru akan membakar dunia demi dirinya.
"Aku percaya sama kamu, Biru. Ayo kita kerjakan mereka."
Pertemuan di gudang berjalan sesuai rencana. Saat lampu padam dan kekacauan terjadi, Allbiru tidak menembak sembarangan. Dia bergerak seperti bayangan, melumpuhkan pengawal dengan teknik bela diri efisien, selalu memastikan posisinya berada di antara Sabiru dan ancaman.
Saat Sabiru ditarik masuk ke van oleh Kenzi, Allbiru adalah orang terakhir yang masuk. Sebelum pintu tertutup, dia menendang perut salah satu pengawal yang mencoba mengejar, lalu melompat masuk.
Van melaju kencang. Di dalam, napas Sabiru tersengal-sengal.
Allbiru segera meraih wajah Sabiru, memeriksa pupil matanya. "Kamu kenapa? Sakit? Disentuh?"
Sabiru menggeleng, lalu memeluk Allbiru erat-erat, membenamkan wajahnya di leher pria itu. "Aku nggak apa-apa. Cuma... aku takut tadi. Takut kalau kamu kenapa-napa."
Allbiru menghela napas lega, lalu membalas pelukan itu, mencium rambut Sabiru. "Aku nggak akan kenapa-napa. Karena aku punya alasan kuat buat pulang. Yaitu kamu."
Di depan, Kenzi menyalakan radio mobil, musik rock keras mengisi van untuk menghilangkan ketegangan. Reza tertawa. "Dasar pasangan bucin. Tapi hebat sih koordinasi kalian. Kayak satu otak."
Dinda, yang duduk di samping Sabiru, tersenyum. "Cinta memang obat penenang terbaik, kan? Detak jantung Sabiru sudah normal kembali."
Sabiru menatap Allbiru, lalu tersenyum lelah. Di tengah bahaya, di tengah kejaran organisasi jahat, dia menemukan ketenangan di
pelukan Allbiru. Dan itu adalah kekuatan terbesarnya.