NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Badai Es Tanjungbalai

Genggaman tangan Kala merenggang. Rasa hangat yang sempat tersisa dari kulitnya mendadak menguap, digantikan oleh hawa dingin yang luar biasa menusuk tulang. Aku tersentak mundur saat melihat permukaan kulit lengannya mulai bergetar hebat. Sisik perak berukuran besar mencuat satu demi satu dari balik pori-porinya, tumbuh dengan cepat, kasar, dan mengeluarkan bunyi gesekan logam yang memekakkan telinga.

Pertumbuhan sisik yang masif itu memisahkan kontak fisik kami. Tubuh Kala yang tadinya ringkih kini melenting ke atas lantai semen. Ukuran tubuhnya membesar dua kali lipat, memanjang, dan meremukkan sisa-sisa pakaian kain yang melekat di badannya.

"Kala!" teriakku, mencoba meraihnya kembali.

Namun, gelombang hawa es yang menguar dari tubuhnya melemparkanku hingga terseret beberapa meter ke belakang. Punggungku menghantam tumpukan mesin rusak. Aku terbatuk, merangkak mundur mendekati sudut ruangan yang mulai runtuh karena getaran hebat di bawah lantai. Langit-langit beton di atas kami retak seribu.

Dalam hitungan detik, sosok cowok yang mengajariku melipat sarung itu lenyap. Sebagai gantinya, sesosok naga perak raksasa meliuk anggun di tengah ruangan laboratorium yang gelap. Kulitnya dilapisi zirah keperakan yang memantulkan sisa kilat listrik. Di punggungnya, sepasang sayap besar membentang lebar. Sayap itu tidak terbuat dari daging, melainkan dari gulungan pusaran air muara yang berputar cepat, murni, dan berkilauan dingin.

Mata emas itu terbuka lebar. Aku tertegun, menahan napas di tengah kepungan debu semen.

Tidak ada lagi kehangatan di sana. Tidak ada lagi binar canggung atau tatapan kesal yang biasa dia berikan padaku di kamar kos yang sempit. Sepasang mata emas itu kini berubah menjadi dingin, sangat asing, kosong dari segala jenis emosi. Dia menatap lurus ke arahku, namun tatapan itu melewati tubuhku begitu saja, seolah-olah aku hanyalah sebutir debu di lantai semen. Penghapusan ingatan itu telah selesai. Dia benar-benar tidak mengenalku lagi.

GRAAAARRRRRR!!!

Naga perak itu meluncurkan raungan purba yang dahsyat. Gelombang suaranya menggetarkan udara, seketika memecahkan sisa-sisa kaca ruang interogasi menjadi serpihan halus. Dinding beton laboratorium Baron yang tebal bergoyang hebat, lalu runtuh berkeping-keping. Naga itu melesat ke atas, memecah atap tanah dan fondasi besi gudang, membubung tinggi menuju langit malam Tanjungbalai.

"Uhuk! Uhuk!"

Aku terbatuk-batuk, berusaha melindungi kepalaku dari reruntuhan semen. Cahaya bulan malam merembes masuk dari lubang besar di langit-langit yang baru saja dihantam Kala. Dengan sisa tenaga yang ada, aku merangkak naik melewati gundukan tanah, batu beton yang pecah, dan besi-besi penyangga yang bengkok. Telapak tanganku yang lecet terasa sangat perih terkena gesekan material tajam, namun dorongan untuk melihatnya membuatku terus memanjat hingga berhasil mencapai permukaan dermaga luar.

Begitu kepalaku menyembul di udara bebas, hawa dingin ekstrem langsung menyergap wajahku.

Langit malam Tanjungbalai yang biasanya gerah mendadak membeku. Awan hitam berputar membentuk pusaran raksasa tepat di atas pelabuhan. Di tengah pusaran awan itu, naga perak raksasa meliuk-liuk murka, menyebarkan badai es raksasa ke segala arah.

Brak! Jasss!

Hujan es mulai turun dengan brutal. Butiran es sebesar kepalan tangan hantam demi hantaman menghujani kawasan industri milik Baron Logistics.

Prang! Menara pengawas dermaga yang tinggi menjulang langsung retak dan hancur luluh setelah dihantam ekor sang naga. Lampu sorot raksasanya pecah, padam seketika, menyisakan kerangka besi yang tumbang membelah aspal.

Duar! Duar!

Besi berderit keras beruntun. Kontainer-kontainer raksasa seberat puluhan ton milik Baron yang tertata rapi di tepi dermaga terguling satu demi satu seperti mainan plastik. Hantaman es yang tajam menusuk sisa-sisa truk logistik hingga bodi besinya penyok dan kacanya hancur berantakan. Dermaga yang tadinya menjadi simbol keangkuhan bisnis Tuan Baron kini luluh lantak dalam hitungan menit. Seluruh fasilitas bongkar muat kargo lumpuh total, tertutup oleh lapisan es tebal yang membekukan air laut di tepian dermaga.

Di tengah kekacauan yang meledak-ledak itu, aku berdiri membeku.

Rambutku basah kuyup oleh lelehan es. Butiran es kasar menghantam bahu dan lenganku, meninggalkan rasa sakit yang mati rasa, namun mataku tidak bisa beralih. Aku mendongak, menatap langit malam dengan perasaan campur aduk yang luar biasa menyiksa dada.

Ada rasa takjub yang membuncah melihat keagungan mahluk pelindung rawa itu. Dia begitu besar, begitu indah, dan bebas dari belenggu kabel-kabel menyakitkan milik Baron. Namun, di saat yang sama, separuh hatiku rasanya seperti diremuk dan dihancurkan hingga tidak berbentuk. Makhluk agung yang sedang mengamuk di atas sana tidak lagi memiliki bagian yang bernama Kala. Selesai sudah kisah cowok yang hobi mengeluh karena kasur kosanku yang tipis. Dia telah kembali menjadi penguasa hulu sungai yang tak tersentuh oleh manusia biasa.

"Kala..." lirihku, suaraku langsung hilang ditelan gemuruh angin badai es.

Jeritan sirene dari arah kota mulai terdengar sayup-sayup di kejauhan. Lampu-lampu merah biru dari mobil polisi dan pemadam kebakaran mulai berkedip-kedip, mencoba mendekati area pelabuhan yang kini sudah berubah menjadi wilayah bencana es. Orang-orang di luar sana pasti mengira ini adalah serangan monster baru yang mengancam pelabuhan Tanjungbalai.

Aku mengusap air mata yang membeku di pipiku dengan kasar. Cukup sudah tangisannya. Tugas Kala untuk menyelamatkanku sudah selesai, dan sekarang giliranku untuk bertahan hidup. Aku tidak boleh membiarkan pengorbanan ingatannya menjadi sia-sia dengan membiarkan diriku tertangkap oleh aparat atau sisa-sisa anak buah Baron yang tersisa.

Sambil memegang pergelangan tangan kiriku yang tatonya kini meredup pasrah, aku membalikkan badan. Di antara derit kontainer yang hancur dan hujan es yang kian menderu, aku melangkah cepat mencari jalan keluar dari dermaga yang runtuh ini, bersiap untuk menghilang ke dalam kegelapan sebelum seluruh pelabuhan ini dikepung oleh pihak luar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!