NovelToon NovelToon
Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nama dari pasar, bukan dari istana

Nama dari Pasar, Bukan dari Istana

Nggak cape-cape waktu muter. Matahari udah turun lagi. Langit jingga, trus ungu, trus item. Bulan naik pelan-pelan, nggak buru-buru.

Semua orang duduk di ruang tengah rumah Jendral. Lampu gantung nyala kuning, bikin bayangan goyang di dinding.

Anna, Chandra, Chandrawati, Arjuna duduk di kursi. Sementara di karpet, 8 bidadari — selir-selir muda Chandra — lagi menggambar bareng Cikal. Krayon warna-warni, kertas A3, seriusnya kaya lagi sidang perang.

Cekikikan rame. Adu argumen. “Punya aku lebih bagus!” “Enggak, punyaku yang mirip naga!”

Dan Cikal? Jadi juri sekaligus mentor. Duduk sila di tengah, alisnya nyatu, tangan di dagu, gayanya kaya kritikus lukis.

“Ibu ini nggak gini, harusnya gitu. Langitnya kurang biru. Warnanya ini bukan itu,” apa-apa dia komentarin. Galak, tapi gemes.

Melati sampe kesel karena gambarnya yang paling sering dikomentar. Bibirnya udah manyun.

“Ih, emang gambar Ibu sejelek itu?” protes Melati, krayonnya diketok-ketok ke lantai.

Cikal langsung berdiri. Jalan deket Melati. Terus… ambil wajah ibu tirinya pake dua tangan kecil, ditarik, _cup_. Dicium. Agak maksa, agak basah, bunyinya nyaring.

“Ibu yang semangat, ya. Yang gambarnya paling bagus dikasih hadiah sama Paman Jahat,” ucapnya nyemangatin, polos tapi modusnya licin.

Spontan satu ruangan ketawa. Pecah. Chandrawati sampe nutup mulut, Arjuna geleng-geleng, Chandra batuk buat nutupin senyum.

Cikal emang ada-ada aja tingkah gemesnya. Jago rayu, jago bujuk. Kalo udah besar bukan cuma 10, mungkin 100 cewe bakal antre pengen jadi istrinya. Bakat Jendral, tapi versi gombal.

Keadaan hening lagi. Semuanya balik fokus ke gambar. 8 selir keliatan ada di dunianya sendiri-sendiri. Ngucek krayon, lidah keluar dikit, serius.

Usia mereka baru belasan. Belum ada yang lulus SMA tapi sudah dipaksa nikah. Dijodohkan dengan Jendral biar kedudukan keluarga mereka keangkat.

Jaman itu nikah muda emang masih wajar. Umur 15 aja kadang udah gendong bayi, nyuapin bubur sambil nyuci popok. Perempuan nggak ditanya mau apa. Cuma ditanya: “Kapan?”

Tapi di rumah Jendral enggak. Status mereka istri, surat nikah ada, tapi nggak pernah dipake jadi pelampiasan nafsu. Chandra jaga mereka kaya adik. Ditegur kalo bandel, ditolong kalo susah, dibeliin buku kalo mau sekolah lagi.

Makanya setiap giliran “tidur bareng”, lebih sering diajak main catur, bukan main di kasur. Bidik skak mat, bukan yang lain.

Biarpun namanya manusia nggak pernah puas. Ada aja yang berebut, lirih minta, “Jendral, kapan saya dilirik?” Ada yang nangis diam-diam, pengen ngelahirin pewaris. Nggak jarang Chandra diminta sentuh mereka, tangannya ditarik pelan.

Tapi wibawa Jendral nggak ngikutin nafsu. Batas dia jelas. Istri yang udah bener-bener dia jadiin istri cuma Ratna sama Anna. Yang lain dijaga kaya adik sendiri, dijaga nama baiknya, dijaga masa depannya.

“Cikal harus segera bikin nama. Buat urus akta,” ucap Arjuna buka pembicaraan. Suaranya mecah hening. “Kasihan kalo ke sekolah ditanya nama bapak.”

Chandra ngangguk. Semua orang juga setuju. Waktunya.

“Namanya Abimanyu,” kata Chandra. Tegas. Lengkap dengan nama panjang dan filosofinya, “Abimanyu Chandra. Putra prajurit, lahir di medan perang hati. Berani sejak dalam kandungan.”

Semua orang diem. Mencerna. Gagah. Berat. Nama Jendral banget.

Semua orang setuju, termasuk Anna. Mau gimana pun Chandra bapaknya. Darah cikal sama dia sama, Dia punya hak. Anna nggak mau egois.

“Panggilannya Bima,” ucap Chandra lagi. Final.

“Enggak,” sahut Anna pelan. Tangannya naruh cangkir teh ke meja. _Ting_. Pelan, tapi semua nengok. “Panggilannya Cikal.”

Hening lagi. Tapi hening yang beda. Tebal.

Mata Anna ngangkat, liat Cikal yang lagi asik ngasih nilai 9 ke gambar Mawar. Matanya mulai berkaca, tapi nggak jatuh. Ditahan.

“Dia tumbuh di tengah orang-orang miskin,” sahut Anna. Suaranya bergetar, tapi jelas. “Dia penghibur orang yang sedih. Penolong orang yang susah. Waktu aku jualan jamu di pasar, dia yang bagiin permen ke anak pemulung.”

Anna narik napas. Panjang. Mengingat 5 tahun yang bau amis, bau darah, bau sayur busuk, tapi juga bau tawa.

“Cikal itu nama dari paman dan bibinya di pasar. Tukang sayur, tukang ikan, tukang daging. Artinya bocah cilik banyak akal. Yang kalo nangis, satu pasar heboh. Kalo ketawa, satu pasar ikut ketawa.”

Suaranya makin meremang. “Yang jaga dia bukan Chandra. Bukan prajurit bersenjata. Yang jaga dia tangan kotor tukang sayur yang masakin bubur, tangan amis tukang ikan yang ngasih kepala ikan buat kaldu, tangan berlumuran darah tukang daging yang ngasih tetelan biar gizinya cukup.”

“Paman dan bibi yang siap direpotin, pas aku harus tinggalin Cikal karena jaga klinik, karena ada ibu-ibu mau lahiran jam 2 pagi.”

“Paman dan bibi yang selalu ngeluh karena Cikal nakal, manjat-manjat, nyolong cabe, tapi tetep mereka rawat. Karena nakalnya nggak mereka anggap pengganggu. Tapi... penghibur. Satu-satunya warna di pasar becek.”

Kalimat terakhir jatuh. Pelan. Tapi beratnya kaya nampol dada.

Mata Anna merah. Nahan nangis. 5 tahun. Dari hamil 9 bulan, ngelahirin sendirian, ngasuh di bedeng triplek, sampe Cikal lari-lari bisa beliin dia teh poci.

Semua orang ngangguk paham. Nggak ada yang bisa bantah. Chandrawati ngelus punggung tangan Anna, pelan. Ngangetin. Seolah bilang, “Sekarang bukan cuma ada pedagang di pasar. Ada kami. Ada aku. Yang bakal jagain kamu sama Cikal.”

Chandra? Nggak kalah geter. Dadanya kaya ditabok fakta, bukan peluru. Rahangnya keras, tapi mata elangnya... basah. Malu. Rasa bersalah muncul, naik dari dada sampe ubun-ubun.

Masa kecil Cikal nggak sebaik dirinya. Nggak ada mainan mahal, nggak ada seragam lucu. Adanya pasar, becek, sama cinta orang-orang asing.

Merebut panggilan “Ayah” nggak akan segampang dia panggil “Ayah” ke tukang daging. Pangkat Jendral nggak laku di pasar. Pangkat “Papa” harus dia cicil, pake sabar, pake bukti.

Chandra nunduk. Suaranya serak, hampir nggak kedengeran. “...Iya. Panggilannya Cikal. Cikal Chandra putra.”

Dia ngangkat muka, natap Anna. Nggak minta maaf pake kata. Minta maaf pake mata.

Anna natap balik. Sekilas. Terus ngangguk. Pelan. Nerima.

Cikal yang nggak ngerti drama orang dewasa, tiba-tiba angkat gambarnya. “Udah! Pemenangnya Ibu Melati! Soalnya gambar naganya ada kumis kaya Paman Jahat!”

Satu ruangan ketawa lagi. Pecah. Basah. Lega.

Air mata Anna akhirnya jatuh juga. Satu tetes. Jatuh ke kebaya kuningnya. Tapi bibirnya senyum.

Malam itu, nama “Cikal” nggak cuma jadi nama. Jadi pengingat. Bahwa anak ini besar karena cinta banyak orang. Bukan cuma karena darah Jendral.

...

onty, nama cikal bagus ngak?, kalo bagus kasih like dong, terus komen, yang paling bagus komenan-nya dikasih hadiah sama paman jahat 👹

1
Ma Em
Mungkin yg nolong Chandra tenggelam dulu bkn Ratna tapi Anna .
Anne
gaskeuuuuunnnn.... biar mama papa rapat yaa cikal
Anne
haii cikal.. onty kasih kopi yaa buat mamah cikal
Anne
kereeen thor.. bru ketemu ini td malam.. baca marathon.. eh udh kelar aja smp bab ini.. ditunggu y updateny thor..
Rosmawati
bgus cerita nya
lnjut thor
awesome moment
gubrak g c?
Anne
kopi thor... udh dikrm
Anne: okeee okeee
total 2 replies
Rubi Yati
cikal keren😍😍😍
supyani: makasih onty😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!