NovelToon NovelToon
Batas Pintu Jati

Batas Pintu Jati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: penavana

Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Bersembunyi

Suasana di ruang keluarga pagi itu terasa jauh lebih berat dari biasanya. Padahal, sinar matahari baru saja menyentuh ukiran rumit di kursi jati tempat Mbah Kung Brotojoyo duduk. Laras sudah siap dengan seragamnya, tas tersampir di bahu, berniat segera kabur dari aura intimidasi yang memenuhi ruangan.

​"Duduk dulu, Nduk.," suara Mbah Kung Brotojoyo menghentikan langkah Laras tepat di depan bufet kayu besar.

Laras duduk di sofa kulit, sementara Mbah Kung menyesap kopi hitamnya tanpa gula. Aroma kopi yang pahit memenuhi indra penciuman Laras, selaras dengan perasaan tidak enak yang menyergap hatinya.

​"Mbah ingat dulu, saat kakekmu masih ada," Mbah Kung memulai pembicaraan, matanya menatap lukisan keluarga besar mereka yang tergantung di dinding ruang keluarga.

"Kita sering duduk di sini. Bertiga, bersama Tedjo."

​Laras terdiam, hanya berani menatap jemarinya sendiri.

​"Kakek Tedjo... apa ada kabar tentang beliau, Mbah?" tanya Laras hati-hati.

Mbah Kung Brotojoyo meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting pelan yang terdengar nyaring di tengah kesunyian.

"Tedjo itu adik eyang kakungmu, wajahnya mirip sekali. Seperti cermin. Tapi hatinya... dia terlalu lemah untuk urusan besar. Sejak eyangmu meninggal tiga tahun lalu, dia menghilang karena tidak sanggup memikul beban keluarga ini."

Beliau kemudian menoleh ke arah Laras, tatapannya tajam seolah sedang membedah isi kepala Laras.

"Nduk, kalau kamu bertemu pria tua itu, jangan sekali-kali menyapa. Orang itu tidak pantas disebut keluarga. Kamu paham?"

​Laras mengangguk kaku.

"Paham, Mbah Kung."

​"Sudah, berangkatlah sekolah. Hati-hati di jalan," ucap Mbah Kung, kembali pada sikap tenang dan berwibawa khas seorang kepala keluarga.

​Laras segera berdiri, menyalami Mbah Kung. Sambil berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di carport, Laras merogoh ponselnya. Bayangan wajah Kakek Tedjo yang dulu sering memberinya permen diam-diam kini muncul kembali. Mengapa Mbah Kung Brotojoyo seolah-olah memberikan peringatan agar ia menjauh dari kakeknya sendiri?

⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️

Bara memacu motornya sedikit lebih cepat karena jam sudah menunjukkan pukul 06.25. Sebuah tikungan tajam menuju jalan raya, tiba-tiba, sesosok bayangan melintas dari balik deretan pohon pelindung jalan.

​Ckiiiiiiitttt!

​Ban motor Bara berdecit keras, meninggalkan bekas hitam di aspal. Ia berhasil berhenti hanya beberapa sentimeter sebelum menghantam seorang kakek tua yang sedang menyeberang dengan langkah gontai.

​Bara segera mematikan mesin motornya dan turun dengan jantung yang masih berpacu.

"Kakek! Kakek nggak apa-apa, kan? Maaf, Kek... kalau nyeberang hati-hati. Kakek mau ke mana?"

​Kakek itu berdiri mematung. Pakaiannya sangat lusuh, compang-camping, dan berbau debu jalanan yang pekat. Rambut dan janggutnya putih tak terawat, menutupi sebagian besar wajahnya yang penuh kerutan. Tubuhnya tampak sangat ringkih, seolah-olah embusan angin sedikit saja bisa merubuhkannya.

​"Saya... lapar," bisik kakek itu. Tangannya yang kurus dan kotor bergetar hebat saat mencoba menunjuk ke arah perutnya.

​Bara tertegun. Amarah karena hampir celaka tadi seketika lenyap, digantikan oleh rasa iba yang menusuk. Ia melihat ke arah jam tangannya; bel masuk sekolah sudah hampir berbunyi. Jika ia pergi sekarang, ia mungkin masih sempat ikut jam pertama. Tapi melihat kondisi kakek ini, hati nurani Bara tidak bisa membiarkannya begitu saja di pinggir jalan.

​"Ayo, Kek. Ikut saya," ucap Bara lembut. Ia menuntun kakek itu dengan hati-hati menuju sebuah warteg sederhana yang berada sekitar seratus meter dari lokasi mereka.

​Sesampainya di warteg, Bara memesankan nasi bungkus dengan porsi besar lengkap dengan lauk pauk bergizi. Ia mendudukkan kakek itu di bangku kayu panjang yang agak pojok. Begitu makanan disajikan, kakek itu langsung makan dengan lahap, seolah-olah ia belum menyentuh makanan selama berhari-hari. Tangannya masih gemetar, memaksa Bara untuk tetap duduk di sampingnya, menjaganya agar tidak tersedak.

Ia memperhatikan cara kakek itu makan. Meskipun lusuh dan tampak seperti gelandangan, ada sesuatu pada struktur wajah kakek itu yang membuat Bara merasa tidak asing. Di balik kotoran dan janggut putih itu, garis rahangnya terasa familier. Bara menelan ludah. Ia menatap kakek itu dengan lebih intens, mencoba membedah wajah di balik kekusaman itu.

Bara menggeleng cepat, "Enggak, Kek. Rumah kakek dimana?"

​Kakek itu terdiam lama, lalu mengusap sisa nasi di sudut bibirnya dengan punggung tangan yang gemetar. Ia merogoh sesuatu dari balik saku bajunya yang robek—sebuah bungkusan kain kusam yang diikat rapi. Dengan gerakan sangat hati-hati, ia membuka ikatan itu, memperlihatkan sebuah arloji emas dengan logo keluarga Widjaya.

"Keluarga Widjaya?"

Kakek itu mengangguk sedangkan Bara terpaku. Darah Bara seolah berdesir dingin. Siapa lagi ini? Kenapa dia punya arloji itu, dan wajahnya mirip sekali dengan Eyang Kakung Laras? Kenapa penampilannya seperti ini? Di kepala Bara penuh dengan pertanyaan tentang sosok yang ada di depannya ini.

"Kakek... sebenarnya siapa?" suara Bara nyaris berbisik, takut ada orang lain di warteg yang mendengar.

​Kakek itu tidak menjawab. Ia justru buru-buru membungkus kembali arloji itu dengan kain kusamnya, seolah-olah benda itu adalah jantungnya yang tidak boleh terlihat orang lain. Ketakutan di matanya semakin jelas. Bara merasakan sesak di dadanya. Ia tidak menyangka percakapan di bangku warteg yang reyot ini akan membawanya pada kenyataan yang begitu hantam. Ia menggeser duduknya, mencoba menatap mata keruh pria di hadapannya dengan tulus.

​"Kakek... kalau malam, biasanya tidur di mana?" tanya Bara, suaranya melunak, berusaha meredam kebisingan di sekitar mereka.

​Kakek itu menjawab tanpa menoleh, matanya kosong menatap sisa nasi di piring.

"Di mana saja. Di mana pun aspal terasa hangat, atau di mana pun bayangan tidak bisa menemukan saya."

​"Kakek ikut saya saja, mau?" tawar Bara spontan.

Ia tidak bisa membayangkan pria setua ini harus meringkuk di emperan toko saat hujan turun.

​Kakek itu langsung menggelengkan kepala dengan cepat, sebuah gerakan defensif yang tampak sudah menjadi instingnya selama bertahun-tahun.

​"Enggak apa-apa, Kek. Jangan takut sama saya," Bara mencoba meyakinkan, tangannya bergerak ragu ingin menyentuh bahu ringkih itu namun ia urungkan.

"Saya... saya temannya Laras. Kakek kenal?"

​Mendengar nama itu, gerakan tangan sang kakek terhenti. Untuk pertama kalinya, sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga nyaris menyerupai tarikan luka—muncul di balik janggut putihnya yang tak terawat.

​"Laras Kusuma Widjaya?" gumamnya pelan.

"Iya, Kek. Benar. Laras yang itu."

​"Cucuku..." bisik kakek itu.

Setetes air mata jatuh, membelah debu yang menempel di pipinya yang cekung. ​Bara merasakan bulu kuduknya berdiri. Dugaan yang tadi berputar di kepalanya kini terkonfirmasi.

"Kakek, kalau begitu ikut saya yuk. Tidur di rumah saya. Di sana aman, Kek. Mau ya?"

​Namun, reaksi sang kakek di luar dugaan. Matanya yang tadi sendu mendadak melebar penuh ketakutan yang murni. Ia menarik tangannya dari meja seolah baru saja menyentuh bara api.

​"Enggak! Aku enggak mau ikut kamu!" suaranya mendadak meninggi, penuh histeria.

"Bisa jadi kamu orang suruhan iblis itu, kan? Kamu disuruh dia buat bunuh aku! Kamu mau habisi aku supaya rahasia ini mati!"

​"Kek, tenang, Kek! Saya bukan—"

​"Enggak mau! Aku enggak mau pergi!" kakek itu mulai memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kedua kepalan tangannya yang bergetar.

"Pergi kamu! Pergi! Jangan bawa aku kembali ke iblis itu!"

​Suasana warteg mendadak tegang. Beberapa orang mulai menoleh. Bara panik, namun ia lebih mengkhawatirkan kondisi mental pria tua itu.

​Siapa "iblis" yang dimaksud? Dan rahasia sebesar apa yang membuat seorang Widjaya lebih memilih membusuk di jalanan daripada kembali ke rumahnya sendiri?

1
Ros 🍂
semangat ya Thor 💪🏽
Ijin mampir🙏
penavana: thankyouuuu
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Kaaaaan.... bah ternyata bukan kulkas pintu seratus, tapi manusia yang perlu penakhluk. mana si putri lagi
Faeyza Al-Farizi
modus....modus.... gak usah dipinjemin ndoro... 😌😌😌😌
Faeyza Al-Farizi
Nah kan.... yang waras gitu loh
Faeyza Al-Farizi
ya bukan berarti dia yang godain bujang..... bisa-bisanya, makanya gak usah pacaran, 😌
Faeyza Al-Farizi
Heh sabun Wing gak usah ngadi-ngadi, kamu yang pertama bangunin macan tidur, udah tau lawannya membara, malah di pancing 🫵, lagian gak bisa gitu anteng orang sekola kok nantang2
Faeyza Al-Farizi
sumpah seru bagian ini, berasa kembali ke jaman pas awal-awal demen novel. seger banget hawanya 😌😌
Faeyza Al-Farizi
cupu amat make nama bapak, HUUUUUUUUUU 🫵🫵🫵🫵🫵🫵
Faeyza Al-Farizi
ngebayangin Laras, lari buat nolongin. 😌
Faeyza Al-Farizi
sumpah habis ini kamu kemana-mana punya pengawal pribadi😌
Faeyza Al-Farizi
ketahuan bohong kau 😌😌
Faeyza Al-Farizi
😭😭😭😭 bisa-bisanya ada kebetulan model gini 😭😭
penavana: fakta nih kaak 🤭
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Bara, heh... tapi paham sih aku, emang modelan kamu paling hapalnya nama guru BK, gadis unceran sama pak satpam 😌
Faeyza Al-Farizi
heeeee preman nyuruh ndoro agung buat ndatengin, berani amat 🫵
Faeyza Al-Farizi
buseeeet ini intuisinya kuat banget 😱
Adi Lima
ya kalo gitu pesan ayam geprek online aja, suruh kurir taroh di sekuriti, terus numpang makan di situ 😄🤣🤣🤣🤣
Adi Lima
Biar bapak yang kasih Tips & Trik untuk ngelawan secara intelek 😄🤣
Adi Lima
oooooh, jadi berani melawan itu pertanda kedewasaan
Adi Lima
yaaaah, shutdown lagi... mungkin dipandang soal ini si Laras gak perlu tau detilnya 🤣
Adi Lima
eh, surprise, ternyata ibunya penuh pengertian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!