NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Hitam

Pendekar Elang Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah Kelam Pedang Kilat

Setelah jalanan bersih dari pasukan ular, Jaka melangkah dengan gagah berani memasuki ruangan utama candi. Udara di dalam terasa sangat pengap dan dingin menusuk tulang. Di tengah ruangan yang luas itu, terpancar cahaya biru putih yang sangat terang menyilaukan mata.

Di atas sebuah altar batu kuno, sebuah pedang tertancap, altar itu jelas ada bekas retakan seakan pernah sengaja di tutup atau di sembunyikan

Jaka menatap pedang itu, cahaya pedang itu membuatnya merinding seakan sedang di tatap oleh puluhan orang tak terlihat

Jaka memberanikan diri untuk mendekat

wush

wush

wush

dari luar melesat tiga orang dengan kecepatan tinggi, dari ilmu meringkan tubuh mereka bisa di bilang ilmu mereka satu tingkat di bawah ilmu Jaka

Jaka menatap satu persatu mereka ternyata sisa pendekar  yang selamat dari serangan ular dan pertarungan di luar tadi

Orang di depannya, bersenjatakan Kapak besar dan tubunhnya tinggi besar, di wajahnya ada luka melintang membuat wajahnya menjadi menyeramkan

di sisi kanan, seorang pendekar pedang dengan tubuh berukuran sedang, namun dari sinar matanya Jaka bisa tahu jika orang ini sangat licik

sedangkan yang di sebelah Kanan berpenampilan seperti prajurit bersenjatakan Tombak perang panjang

"Hehehe... Lihatlah siapa ini? Bocah ingusan berani-beraninya datang ke sini?" ejek pendekar kapak dengan suara berat.

"Minggir kau anak muda! Pedang Kilat bukan mainan anak kecil! Itu milik kami bertiga!" seru pendekar tombak dengan nada sombong.

Pendekar pedang hanya tersenyum miring, tangannya sudah siap mencabut senjatanya. "Bunuh saja dia cepat. Jangan buang waktu. Yang penting pusaka itu jadi milik kita."

Jaka berdiri tenang di tengah kepungan, wajahnya datar tanpa ekspresi.

"Kalian salah. Pedang ini bukan milik siapa pun yang memiliki hati penuh darah dan keserakahan. Benda ini telah membunuh banyak orang, dan hari ini aku akan menghentikannya," jawab Jaka tenang namun tegas.

"Berisik!!"

TRANG!

KRING!

SRET!

Tiga senjata terhunus serentak. Aura membunuh dari ketiga pendekar itu meledak keluar. Mereka benar-benar ingin membunuh Jaka demi menguasai pusaka.

"MATI KAU!!"

HIAAT!!

Pendekar Kapak menyerang duluan. Dengan kekuatan luar biasa ia mengayunkan kapaknya ke arah kepala Jaka. Angin berdesir kencang, hantamannya cukup untuk membelah batu besar.

TRAAAAANG!!!

Jaka maju dengan gerakan kilat. Pedang Elang Hitamnya menyambar dengan cepat.

Traaang

Ah

Pendekar Kapak itu terkejut, tangannya terasa getar dan nyeri saat senjata mereka beradu. Ia tidak menyangka pemuda sekecil ini memiliki kekuatan sebesar itu.

Swiiing

Namun, saat Jaka sibuk menangkis kapak, pendekar pedang menyerang dari samping.

Wush

sriiing

bilah pedang menyambar leher dengan gerakan sangat cepat dan licik.

Hiaaaat

"ELANG HITAM BERPUTAR!!"

Jaka memutar tubuhnya bagaikan kincir angin.

TRANG!

TRANG!

KLING!

KLING!

Percikan api beterbangan di mana-mana. Dua pedang pendek itu berhasil ditangkis sempurna.

Belum sempat mereka menarik senjata, Jaka sudah memberikan serangan balasan.

heaaaah

wuuut

Bugh!

Plak!

Siku dan telapak tangan Jaka menghantam dada dan bahu kedua pendekar itu.

"Aaaagh!" Mereka terhuyung mundur, wajahnya pucat karena hantaman tenaga dalam Jaka.

Syuuuut

Namun, serangan tombak mengarah dari atas!

memanfaatkan Jaka yang sedang menghadapi dua pendekar lainnya,Pendekar Tombak melompat tinggi, menusurkan tombaknya lurus ke arah punggung Jaka. Ujung tombak itu sangat tajam, menyerang Jaka dari belakang

WUUUUSSSSH!!!

"MATI KAU!!" teriak Jaka.

Dengan gerakan secepat kilat, Jaka menundukkan tubuhnya serendah mungkin, ujung tombak nyaris menyisir rambutnya. Saat tombak itu lewat di atas kepalanya, Jaka memukul gagang tombak itu dengan gagang pedangnya.

PRAKK!!

"APA?!" teriak pendekar tombak kaget. Tombaknya terpental sedikit ke samping, membuka pertahanannya.

Wush! Craasss!

Jaka membalikkan pedangnya, satu tebasan cepat menyambar leher pendekar tombak itu.

"BLUUGGH!!"

Darah menyembur deras. Pendekar tombak itu jatuh tersungkur, tewas seketika. Matanya masih terbelalak kaget, tidak percaya ia bisa tewas secepat itu.

Melihat rekannya tewas dalam sekejap, dua pendekar yang tersisa menjadi sangat mengamuk.

" KU BUNUH KAU!!"

Pendekar Kapak menyerang dengan nekat, ia menghantamkan kapaknya tanpa memikirkan pertahanan. Ia ingin mati-matian membunuh Jaka.

TRANG!

BUGH!

WUSH!

Jaka didesak habis-habisan. Namun semakin lawan menyerang nekat, semakin banyak celah yang terbuka.

"Kau terlalu marah, dan kemarahan itu akan membawamu ke kematian," bisik Jaka.

Saat kapak itu diayunkan ke kiri, Jaka menghindar ke kanan, lalu dengan cepat menancapkan ujung pedangnya tepat ke bagian terlemah lawan

"SRETT!!

"AAAAAAGH!!"

Pendekar Kapak itu menjerit panjang. Pedang Jaka menembus tubuhnya yang kekar. Jaka mendorong pedangnya masuk hingga gagang.

Dengan tenaga terakhir, pendekar itu mencoba memukul wajah Jaka, namun Jaka sudah menarik pedangnya dan menendang dada lawan.

wuuut

Desh

Brak!

Tubuh besar itu ambruk, tanah menjadi merah oleh darahnya.

Pendekar Pedang yang melihat kedua rekannya tewas dalam waktu singkat. Kakinya mulai gemetar. Keberaniannya lenyap digantikan oleh ketakutan yang luar biasa.

"Jangan... jangan mendekat... aku... aku menyerah!" teriaknya panik sambil mundur perlahan.

"Terlambat. Kalian yang memulai ini. Kalian yang ingin membunuhku tanpa alasan," kata Jaka dingin. Matanya kini memancarkan aura pembunuh yang menakutkan.

"TIDAK!! MATILAH KAU!!"

Karena putus asa, pendekar itu menyerang lagi dengan gila. Ia melemparkan salah satu pedangnya ke arah wajah Jaka, lalu menyusul dengan pedang satunya untuk menikam.

Wush!

Jaka menunduk menghindari pedang terlempar, lalu menangkap pergelangan tangan lawan yang sedang menikam.

KRAKK!!

"AAAAAAGH!!

TANGANKU!!"

Pergelangan tangan itu patah digenggam kekuatan super Jaka. Pedang terakhir jatuh ke tanah.

Wush

Craass!

Satu tebasan terakhir, leher pendekar licik itu terpisah dari tubuhnya.

Tiga tubuh tergeletak tak berdaya di lantai batu candi. Ruangan itu kini hening, hanya tersisa suara napas Jaka yang teratur dan cahaya Pedang Kilat yang semakin menyala terang

Jaka melangkah mendekati altar batu. Jantungnya berdegup kencang. Di hadapannya sekarang berada benda yang menjadi sumber semua malapetaka ini.

Dengan hati-hati, Jaka meraih gagang pedang itu.

"Ggrrrr...."

Saat kulitnya bersentuhan dengan besi pedang, tiba-tiba Jaka merasakan sensasi aneh. Seperti ada aliran listrik yang menyengat, namun juga ada hawa panas yang membara.

Begitu pedang tercabut dari altar batu

SREET!!!

WUUUUSH!!!

Cahaya biru putih meledak sangat terang, memancarkan kilatan seolah ada petir yang menyambar di dalam ruangan tertutup itu. Bentuk pedangnya sangat indah, bilahnya tipis, panjang, dan sangat tajam, memantulkan cahaya seperti permata langit.

Namun, saat itulah terjadi sesuatu yang aneh pada diri Jaka.

Mata Jaka yang biasanya teduh dan tenang, tiba-tiba membelalak, memerah, dan terlihat sangat beringas! Tatapannya berubah menjadi liar, penuh nafsu membunuh!

"HAAAAHHH!!"

Jaka menggeram rendah, tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa seolah ada ribuan suara teriakan dan amarah yang masuk ke dalam kepalanya. Nafsu untuk membunuh, untuk menghancurkan segalanya, tiba-tiba muncul begitu saja dan sangat kuat!

"Apa... apa ini...? Kenapa aku ingin... ingin membunuh...?" batin Jaka berjuang.

Pedang ini benar-benar memiliki roh jahat yang sangat kuat! Ia mencoba menguasai pikiran Jaka, mencoba membuatnya menjadi pembunuh gila seperti orang-orang sebelumnya.

"TIDAK!! AKU JAKA WISESA! AKU TIDAK AKAN KUDISURU OLEH BENDAMATI!" teriak Jaka dalam hati.

Dengan kekuatan mental yang luar biasa, Jaka menekan kembali nafsu jahat itu. Matanya yang merah perlahan kembali normal, meski masih terlihat tajam. Genggamannya pada pedang itu

Saat Jaka berhasil menenangkan diri dan memegang pedang itu dengan stabil, tiba-tiba pandangannya menjadi kabur. Gambar-gambar aneh dan masa lalu muncul di benaknya seolah-olah pedang itu sedang menunjukkan sejarah kelamnya.

Di dalam penglihatannya, Jaka melihat sebuah bengkel rahasia yang gelap dan menyeramkan. Terlihat beberapa orang berpakaian hitam, mungkin para pandai besi hitam atau penyihir kuno, sedang menempa pedang ini.

Namun yang dilihat Jaka selanjutnya membuat darahnya mendidih dan bulu kuduknya meremang ketakutan sekaligus marah.

Terlihat jelas, mereka tidak menggunakan air biasa atau minyak besi untuk membasuh dan mendinginkan pedang yang baru saja ditempa itu.

Mereka membawa sebuah wadah besar yang berisi darah segar!

Dan sumber darah itu...

"TIDAK MUNGKIN!!" batin Jaka teriak histeris melihat kenyataan pahit itu.

Di dalam penglihatannya, terlihat beberapa anak kecil yang masih balita, ditelanjangi, dan lehernya digorok dengan kejam! Darah segar yang memancar dari tubuh mungil mereka ditampung, lalu pedang yang masih membara panas itu dicelupkan dan dibasuh langsung dengan darah anak-anak tak berdosa itu!

< SSSSSSSSSST!!! >

Suara mendesis dahsyat terdengar saat besi panas bertemu darah segar.

Jaka gemetar hebat menahan amarah yang meledak-ledak. Jadi inilah rahasia kenapa Pedang Kilat ini begitu ganas dan haus darah! Karena sejak awal pembuatannya, pedang ini sudah diberi makan darah anak-anak yang suci dan tak berdosa! Energi dendam dan kesedihan dari anak-anak yang tewas mengenaskan itulah yang menghuni pedang ini dan membuat siapa pun yang memegangnya menjadi gila dan kejam!

"Dasar pencipta yang kejam... kalian benar-benar iblis yang menyamar jadi manusia!" geram Jaka dengan mata berkaca-kaca menahan marah dan sedih.

Ia kini mengerti segalanya. Pedang ini bukanlah pusaka suci, melainkan Senjata Iblis yang terbuat dari dosa besar dan pembantaian anak anak

Jaka kembali sadar sepenuhnya di ruangan candi. Ia menatap Pedang Kilat di tangannya. Sekarang pedang itu terlihat indah namun juga menyimpan sejuta dosa.

" Kau tak seharusnya berada di dunia ini!" seru Jaka, ia menyarungkan pedang itu

ia akan mencari kawah gunung berapi untuk memusnahkan pedang itu

1
Night Watcher
rara jadi niken..
Blue Angel: salah ketik kak
total 1 replies
Night Watcher
berkali2 salah nama. srenggi jd lingga
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor lanjut terus
Blue Angel
salah up nanti di revisi
pendekar angin barat
lah kok lompat pertarungan nya mana? kok aneh seh Thor tau tau sdh di galungan
Dania
semangat tor
Lili Aksara
Wah, kok nggak ada yang heran sama elang itu ya, entah terkesima apa gimana gitu. Lanjutkan, unik ini novelnya, soalnya tokohnya dilatih sama burung elang.
pendekar angin barat
nah gitu donk .nhrs kejam ma penjahat..
Bagaskara Manjer Kawuryan
berasa baca kitab perndekar rajawali sakti 😁
Blue Angel: hampir mirip kak
total 1 replies
erick
hanya kena racun sdh keok... memalukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!