Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Mobil mewah Damian berhenti dengan halus tepat di depan lobi penthouse yang megah. Suasana di dalam kabin masih terasa tenang, kontras dengan gemuruh di dada Damian saat menatap gadis yang tertidur di bahunya.
Dengan gerakan yang sangat pelan, Damian mengusap pipi Valerie menggunakan punggung jarinya, sentuhan lembut yang membuat Valerie perlahan membuka matanya.
Valerie mengerjap, kesadarannya terkumpul perlahan. Begitu menyadari kepalanya bersandar nyaman di bahu tegap sang bos, ia langsung menegakkan tubuh dengan sentakan kecil. Wajahnya memerah padam di bawah temaram lampu kabin mobil.
"Sudah sampai," ucap Damian rendah, suaranya tenang tanpa nada mengejek seperti biasanya.
"Maaf... maafkan aku, Bos. Aku benar-benar tidak sengaja," gagap Valerie sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Ia merasa sangat bodoh dan memalukan karena bisa-bisanya terlelap di bahu pria yang seharusnya ia waspadai. "Aku sungguh asisten yang buruk." rutuknya dalam hati.
Damian hanya bersikap santai, ia bahkan tidak tampak terganggu sedikit pun. "Tidak apa-apa. Kau lelah, itu manusiawi," jawabnya singkat sambil membuka pintu mobil.
Mereka pun turun hampir bersamaan. Valerie berjalan di samping Damian, mencoba menjaga jarak profesional meskipun sisa kehangatan di bahu pria itu masih terasa di pipinya.
Namun, baru saja mereka hendak melangkah memasuki lobi penthouse yang dijaga ketat, sebuah suara yang sangat familiar memecah keheningan malam dari arah luar area lobi.
"Valerie!"
Langkah Valerie seketika terhenti. Jantungnya serasa merosot ke perut. Ia mengenali suara itu—suara yang selama ini menjadi tempatnya pulang, namun kini terdengar penuh dengan kecemasan yang tertahan.
Begitu pula dengan Damian; pria itu berhenti dan perlahan memutar tubuhnya dengan tatapan mata yang langsung menajam, kembali ke mode predatornya yang dingin.
Valerie menoleh dengan perlahan, dan napasnya seakan terhenti. Di sana, berdiri seorang pria dengan wajah lelah dan sorot mata yang terluka.
"Aiden..." gumam Valerie lirih, bibirnya bergetar menyebut nama kekasihnya itu.
Aiden berdiri di sana, menatap nanar ke arah Valerie yang sedang berjalan berdampingan dengan pria asing yang tampak begitu berkuasa. Pertemuan yang ditakuti Valerie akhirnya terjadi juga.
Aiden melangkah lebar, mengabaikan kehadiran pria gagah di samping Valerie. Wajahnya yang biasanya lembut kini dipenuhi garis-garis kecemasan yang mendalam.
Tanpa permisi, ia langsung meraih tangan Valerie, menggenggamnya erat seolah takut gadis itu akan menghilang lagi jika ia melepaskannya.
"Val! Kamu ke mana saja? Aku sudah menghubungimu ratusan kali, mencarimu ke apartemen tapi kamu menghilang begitu saja tanpa kabar!" cecar Aiden dengan suara yang serak karena khawatir.
Valerie tertegun, lidahnya terasa kelu. Ia bisa merasakan kehangatan tangan Aiden yang familiar, namun di saat yang sama, ia juga merasakan tatapan tajam Damian yang menusuk punggungnya.
Aiden kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok Damian. Matanya menyipit, memindai pria yang berdiri dengan aura dominan di samping kekasihnya itu. Ada kilat ketidaksukaan yang nyata di mata Aiden saat melihat betapa dekatnya posisi mereka tadi.
"Dan... sedang apa kamu di sini? Siapa pria ini, Val?" tanya Aiden lagi, nadanya menuntut penjelasan.
Valerie segera mengambil inisiatif. Ia tahu jika dibiarkan, situasi ini bisa meledak menjadi keributan yang membahayakan Aiden.
"Aiden, tenanglah. Aku akan menjelaskannya padamu, tapi tidak di sini. Mari kita bicara sebentar," ucap Valerie sambil mencoba meredakan emosi kekasihnya.
Di sisi lain, Damian hanya berdiri mematung dengan ekspresi datar dan dingin. Namun, di balik wajah tenangnya, ada kekesalan yang mendidih. Ia merasa terganggu dengan cara Aiden menyentuh Valerie—gadis yang baru saja beberapa jam lalu tertidur pulas di bahunya.
Valerie menoleh pada Damian, mencoba memberikan kode agar pria itu memberinya ruang.
"Bos... naiklah lebih dulu. Aku akan menyusul sebentar lagi," ucapnya dengan nada formal yang dipaksakan.
Damian tidak langsung bergerak. Ia memberikan tatapan tajam dan penuh peringatan ke arah Aiden, seolah sedang menandai wilayahnya. Kemudian, ia kembali menatap Valerie dengan sorot mata yang sulit dibaca.
"Jangan lama-lama," ucap Damian dengan suara baritonnya yang berat. "Ingat, jam kerjamu masih belum berakhir."
Tanpa menunggu balasan, Damian berbalik dengan angkuh. Langkah kakinya yang tegas bergema di lobi saat ia melangkah masuk menuju lift, meninggalkan Valerie dalam posisi yang sulit di hadapan Aiden.
Valerie menuntun Aiden menjauh dari lobi yang terasa mencekam, membawanya ke sebuah sudut taman di depan penthouse yang lebih tenang.
Mereka duduk di bawah bayangan pohon rindang yang daunnya berdesir tertiup angin malam, namun suasana di antara mereka tetap terasa tegang.
"Val, tolong jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?" suara Aiden terdengar parau, matanya menatap Valerie dengan binar kecemasan yang mendalam.
Valerie menarik napas panjang, mencoba menyusun kata-kata yang tidak akan membahayakan Aiden. "Aku baik-baik saja, Aiden. Tolong, jangan khawatir berlebihan, aku mungkin belum bisa kembali ke kampus atau ke apartemen. Aku sedang bekerja saat ini."
Aiden tersentak, kelopak matanya melebar karena terkejut. "Bekerja? Untuk apa, Val? Apa kamu sedang kekurangan uang? Pekerjaan macam apa yang kamu jalani sampai harus menghilang dan bersama pria seperti dia?"
Valerie menunduk, menghindari tatapan menyelidik Aiden. "Aku... aku memiliki hutang yang besar pada pria itu. Dan saat ini, satu-satunya cara untuk membayarnya adalah dengan bekerja sebagai asistennya. Aku terikat kontrak dengannya."
Aiden terdiam sejenak, menatap Valerie dengan tatapan tidak percaya. Baginya, penjelasan itu terdengar sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kekasihnya yang biasanya fokus pada kuliah, tiba-tiba menjadi asisten pribadi seorang pria asing yang terlihat berbahaya dalam sekejap mata?
"Hutang? Berapa banyak, Val?" Aiden meraih bahu Valerie, suaranya naik satu oktaf karena frustrasi.
"Katakan padaku jumlahnya. Aku akan mencari cara untuk melunasinya sekarang juga. Aku punya tabungan, aku bisa meminta bantuan keluargaku... berapa pun itu, aku akan bayar agar kau bisa berhenti dari pekerjaan gila ini dan pulang bersamaku malam ini juga!"
Valerie merasa hatinya tersayat melihat ketulusan Aiden. Ia tahu Aiden akan melakukan apa saja untuknya, tapi Aiden tidak tahu bahwa "hutang" yang ia maksud bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan nyawanya yang kini berada di bawah perlindungan—sekaligus kendali—Damian.
Valerie menatap mata Aiden yang penuh ketulusan, merasa dadanya sesak karena harus menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.
Ia menggenggam tangan Aiden, mencoba memberikan keyakinan yang bahkan ia sendiri ragukan.
"Aiden, kau tidak akan mengerti... Bukan hutang uang seperti itu yang kumaksud. Aku berhutang budi padanya, sebuah budi yang sangat besar. Jadi kumohon, tolong mengertilah posisiku saat ini," ucap Valerie lembut, berusaha menahan getaran di suaranya.
Ia memaksakan sebuah senyum tipis untuk menenangkan kekasihnya.
"Bosku itu orang yang baik, jadi kau tidak perlu khawatir, oke? Maaf aku menghilang dan belum bisa menghubungimu, tapi aku berjanji secepatnya akan mengabarimu." Valerie mengusap punggung tangan Aiden dengan ibu jarinya, sebuah gerakan akrab yang biasanya selalu berhasil meredam amarah pria itu.
Aiden menatap Valerie cukup lama, mencari kebohongan di mata gadis itu, namun akhirnya pertahanannya luluh. Ia menghela napas panjang, bahunya merosot tanda menyerah.
"Baiklah... aku percaya padamu, Val. Tapi berjanjilah kau akan menjaga dirimu baik-baik."
Tanpa peringatan, Aiden menarik Valerie ke dalam pelukannya. Ia memeluk gadis itu dengan sangat erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kerinduan dan ketakutan yang ia rasakan sepanjang hari.
"Aku sangat merindukanmu, Val. Jangan menghilang lagi seperti itu," bisiknya di sela rambut Valerie.
Valerie memejamkan mata, membalas pelukan Aiden dan mendesah perlahan. Namun, di tengah dekapan pria yang seharusnya ia cintai sepenuhnya itu, sebuah realita pahit mengusik hatinya.
Ia menyadari satu hal yang membuatnya merasa sangat bersalah: berada di pelukan Aiden terasa hangat dan aman, namun jantungnya tetap tenang.
Tidak ada debaran liar, tidak ada sensasi panas yang meledak-ledak seperti saat Damian menyentuhnya atau sekadar berada di dekatnya.