NovelToon NovelToon
Mengandung Anak Teman Sekelas

Mengandung Anak Teman Sekelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

[Kamar Raline]

Kaisar membuka matanya saat sinar mentari yang semakin panas masuk melalui jendela yang tirainya terbuka sebagian. Membuatnya silau dan terpaksa bangun dari tidur nyenyaknya.

Ia mencoba untuk bangkit, tapi ia meringis dan mengerang merasakan seluruh tubuhnya terasa remuk. Ia lupa, semalam tubuhnya digunakan untuk berkelahi dengan Bisma, menyebabkan kondisinya tidak sebugar biasanya.

"Aduhhh... sakit banget," ringisnya sembari berusaha duduk meski seluruh tubuhnya sakit.

Kaisar bersandar pada kepala ranjang, napasnya masih terasa berat setiap kali ia mencoba menarik oksigen dalam-dalam. Dadanya sesak, sisa hantaman Bisma semalam benar-benar membekas.

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang cat dindingnya sebagian mengelupas.

Kamar itu terlihat tua meskipun bersih dan rapi. Wangi lavender dari pengharum ruangan sungguh menenangkan.

"Oh iya, gue kan tidur di kamar Raline semalam," gumamnya pelan.

Ingatannya perlahan kembali. Tentang bagaimana Raline mengomelinya sambil mengobati lukanya dengan telaten. Kaisar menyentuh sudut bibirnya yang terasa kaku karena salep yang dioleskan Raline di sana.

"Dia galak, tapi manis," Kaisar tersenyum tipis membayangkan Raline.

"Akhhh..." sedetik kemudian ia meringis karena otot pipinya tertarik saat tersenyum.

Ia melirik jam dinding. Pukul 08.30 pagi.

"Sial, gue kesiangan!" serunya panik.

Ia mencoba melompat turun dari tempat tidur, tapi rasa nyeri di rusuknya membuat kakinya lemas dan ia nyaris tersungkur ke lantai jika tidak berpegangan pada meja belajar Raline.

Di atas meja itu, ia melihat sebuah catatan kecil yang ditempelkan di dekat tumpukan buku pelajaran.

“Gue sekolah dulu. Lo istirahat aja sampai gue balik dan jangan kemana-mana. Gue udah siapin bubur di meja dapur, kalo mau anget tinggal angetin aja sendiri. Jangan lupa minum obat yang di plastik bening. Kalau lo mati di kamar gue, nanti bisa jadi hantu nyebelin!_Raline”

Kaisar terkekeh membaca pesan ketus namun perhatian itu. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas dan melihat belasan panggilan tak terjawab dari Nana.

Ia terbelalak melihat banyaknya panggilan yang tak sempat ia terima. Nana pasti mencemaskan dirinya karena sejak semalam tak dapat dihubungi.

Kaisar ingin balik menghubunginya, tapi saat ini tentu Nana sedang berada di sekolah dan sibuk di kelasnya. Sehingga Kaisar mengurungkan niat dan akan menghubungi Nana nanti saja.

Kaisar meletakkan ponselnya kembali, lalu keluar dari kamar Raline dengan langkah pelan. Ia langsung pergi ke dapur karena merasa perutnya sudah lapar. Ia menghampiri meja makan.

Saat membuka tudung saji, di bawahnya terdapat bubur ayam yang masih dibungkus plastik di dalam mangkuk, dan obat pereda nyeri yang disiapkan Raline.

Kaisar tersenyum lagi. "Perhatian banget dia."

Ia duduk di kursi, menuangkan bubur yang sudah dingin itu ke dalam mangkuk dan mulai menikmatinya. Ia tak berniat menghangatkannya dulu, perutnya sudah terlalu lapar.

Sembari makan, ia memikirkan tentang obrolan semalam dengan Raline. Ia tiba-tiba terdiam saat mengingat kembali apa yang Raline katakan, dan ekspresi gadis itu jelas menunjukkan ia tak suka dengan kelakuannya yang terlalu kekanak-kanakan.

"Tapi itu masa lalu, Kai."

"Hubungan Nana sama musuh lo itu udah berlalu, dan sekarang mereka udah hidup bahagia di jalan masing-masing. Terus kenapa lo harus balasin dendam yang gak ada kaitannya secara langsung sama lo?"

"Terserah lo lah, Kai,"

"Ternyata lo masih kekanak-kanakan."

Kata-kata gadis itu masih terngiang jelas di telinganya.

Kaisar menghentikan suapannya. Bubur yang tadinya terasa nikmat mendadak hambar di lidah. Kata "kekanak-kanakan" itu memukul ego kaisar lebih telak daripada bogem mentah Bisma semalam.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, meringis pelan saat luka di rusuknya berdenyut. Selama ini, ia merasa menjadi pelindung bagi Nana. Ia merasa amarahnya adalah bentuk kesetiaan. Tapi melihat bagaimana Raline menatapnya semalam, membuat Kaisar mulai ragu.

"Apa bener gue cuma nyari alasan buat berantem?" gumamnya pada ruang dapur yang sepi.

Ia teringat wajah Nana yang selalu memohonnya untuk berhenti mencari masalah dengan kelompok Bisma. Nana sudah lama melupakan masa lalu itu, tapi justru Kaisar yang terus menggali lukanya sendiri, seolah-olah dia adalah tokoh utama dalam drama balas dendam yang tidak diinginkan siapa pun.

Ia meraih obat yang disiapkan istrinya, lalu tersenyum getir, sadar betapa Raline begitu peduli padanya, tapi ia selalu membahas tentang wanita lain di hadapannya.

"Kayaknya gue keterlaluan kalo sering bahas Nana di depan dia," gumamnya. "Meski Raline gak suka sama gue, tapi faktanya dia istri gue, kan? Sedikit banyak dia pasti ngerasa gak nyaman kalo gue bahas cewek lain, apalagi dia lagi hamil anak gue. Keterlaluan banget rasanya."

Kaisar mengusap wajahnya kasar, mencoba mengenyahkan rasa bersalah yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Logika dan egonya sedang berperang hebat; antara harga diri seorang lelaki dan kenyataan bahwa ia baru saja ditegur keras oleh realita bernama Raline.

Ia beranjak dari meja makan dengan langkah yang masih agak terseret, lalu kembali masuk ke kamar Raline. Alih-alih merebahkan diri ke ranjang, ia menarik kursi kayu di depan meja belajar dan duduk di sana. Matanya tertuju pada sebuah bingkai foto kecil yang diletakkan di antara tumpukan buku paket Biologi.

Di sana, Raline tampak tersenyum tipis, pose yang jarang Kaisar lihat secara langsung. Rambutnya yang lurus sebahu dipasangi bando kecil, menampakkan wajahnya yang tegas namun punya sisi lembut yang tersembunyi.

Kaisar tersenyum lagi, jemarinya meraih foto itu dan menatapnya dari jarak dekat. "Manis, tapi galak. Cewek yang unik," bisiknya pelan.

Ada getaran aneh di hatinya saat menyadari bahwa perempuan di foto ini adalah ibu dari janin yang hadir dari kesalahan yang ia lakukan, seseorang yang justru lebih peduli pada lukanya daripada dirinya sendiri.

Cukup lama ia terdiam di sana, sampai bunyi ponsel membuyarkan lamunannya.

Ada pesan masuk dari Bu Esta, tapi Kaisar tak langsung memeriksa pesan dari ibunya itu karena malas.

Kaisar akhirnya meletakkan foto itu kembali ke tempat semula dengan hati-hati.

Ia meraih ponselnya, lalu bangkit berdiri. Dengan sisa tenaga yang ada, ia keluar dari kamar Raline dan melangkah menuju kamarnya sendiri di lantai dua. Suasana rumah yang sepi membuatnya punya waktu untuk berpikir: mungkin sudah saatnya ia berhenti mengejar bayangan masa lalu dan mulai melihat siapa yang benar-benar ada di depannya sekarang.

*****

Sore hari...

Raline baru pulang dari sekolah setelah lebih dulu latihan voli dengan timnya, mengingat jadwal pertandingan sudah dekat.

Ia membuka pintu rumah dan masuk. Suasana rumah sangat sepi, seperti awal pertama ia datang.

Karena tubuhnya sangat lelah, ia pun langsung duduk di sofa ruang tamu, punggung dan kepalanya bersandar pada sandaran sofa sambil menghela napas panjang.

"Lo baru balik?"

Suara itu mengejutkan Raline, membuatnya menoleh ke arah asal suara.

Kaisar berdiri di samping sofa yang ia duduki, kemudian ia mendekat lalu duduk di sebelah Raline.

Raline sendiri mengubah posisi duduknya, melepas ikatan pada rambutnya yang pendek.

"Masih sakit?"

Bukannya menjawab pertanyaan Kaisar, ia malah balik bertanya.

"Ya masih lah. Sekarang malah sakitnya makin kerasa," jawab Kaisar jujur.

"Resiko buat orang sok jago kayak lo ya gitu. Makanya, lain kali gak usah berantem-berantem lagi. Gak ada gunanya juga."

Kaisar tidak menyahut. Ia justru menatap wajah Raline lekat.

"Gimana kalo weekend kita jalan?" katanya.

Raline langsung menatapnya tak percaya. Benarkah Kaisar mengajaknya jalan di hari libur nanti?

"Kesambet lo?" tanya Raline dengan nada judesnya.

Kaisar terkekeh hambar, lalu meringis lagi saat luka di sudut bibirnya terasa tertarik. "Anggap aja ucapan terima kasih karena lo udah ngobatin gue semalam. Minggu depan kan lo tanding, anggap aja kita healing biar lo bisa lebih full power pas pertandingan nanti."

Raline menaikkan sebelah alisnya, masih tampak curiga. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, memperhatikan Kaisar yang tampaknya serius mengajaknya pergi.

"Pasti ada maunya, kan?"

"Ada maunya apa?" sahut Kaisar. "Emang gak boleh gitu kalo kita jalan berdua aja? Lo kan lagi hamil. Minimal lo bisa seneng-seneng meski cuma sehari, biar janin lo juga happy."

"Soalnya gak bisa lo ngajak gue pergi," jawab Raline cuek. "Kalo tiba-tiba ngajakin, udah jelas ada maunya."

Kaisar terkekeh lagi. "Iya, ada maunya. Gue mau lo rileks. Puas?"

Raline memutar bola matanya. Ia bangkit, mengambil tas miliknya. "Gak usah repot-repot ngajak gue pergi. Ajak Nana aja kayak biasa. Gue udah ada janji sama Faiz," ujarnya datar lalu melangkah pergi menuju kamarnya.

Mendengar nama Faiz disebut, Kaisar berdiri dan menyusul Raline. Ia menghentikan langkah gadis itu dengan memegang pergelangan tangannya.

"Lo janjian sama Faiz?" tanyanya. Nada bicaranya terdengar rendah dan menuntut, ada nada tidak suka yang terselip meski ia berusaha menutupinya. "Lo janjian sama Faiz?" Kaisar mengulang pertanyaan yang sama, cengkeramannya di pergelangan tangan Raline sedikit mengerat, namun tidak sampai menyakiti.

Raline menoleh, menatap tangannya yang dipegang Kaisar lalu beralih ke mata pemuda itu dengan tatapan menantang. "Iya. Kenapa emang?" jawabnya singkat dan padat.

Mendengar jawaban datar itu, Kaisar merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Rasa panas yang asing menjalar, membuatnya semakin penasaran sekaligus jengkel dengan hubungan Raline dan Faiz yang belakangan ini terlihat semakin akrab. Fakta bahwa mereka saling menyimpan nomor kontak dan sering mengobrol secara daring membuat kepala Kaisar kian berisik.

"Lo pacaran sama dia?" tanya Kaisar lagi.

Kali ini suaranya lebih tajam, penuh rasa ingin tahu yang mendesak. Ia sendiri tidak sadar kalau dirinya sedang cemburu buta, hatinya terasa terbakar membayangkan Raline menghabiskan waktu bersama cowok lain.

Raline menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Kaisar. Ia berbalik sepenuhnya, menatap Kaisar dengan dingin dan tak gentar sedikit pun.

"Sekarang belum. Tapi ke depannya gak tau. Dan bukan gak mungkin juga gue bakal jadian sama dia," ujarnya tanpa beban.

Rahang Kaisar mengeras. Ia mencoba menahan emosi karena cemburu butanya.

"Lo suka sama dia?"

"Iya," potong Raline cepat. "Gak salah kan kalo gue suka sama dia? Dia juga suka gue, jadi kami cocok. Lo juga pernah bilang kalo gue bebas deket sama siapapun, karena lo juga pacaran sama Nana dan gue gak peduli."

"Kita emang suami istri, tapi sementara. Lo bilang soal perasaan, kita bebas menentukan itu buat siapa. Dan kita bebas punya hubungan dengan orang yang kita suka," tambahnya, seolah memperjelas apa yang pernah Kaisar katakan padanya sejak awal mereka menikah.

Setelah mengatakan kata-kata yang telak itu, Raline melangkah pergi meninggalkan Kaisar yang terpaku di tempatnya. Kata-kata Raline barusan seolah menampar wajahnya berkali-kali. Kaisar mengepalkan tangannya kuat-kuat, merutuki rasa sesak yang kini jauh lebih sakit daripada luka di rusuknya.

Bersambung...

1
Martha Dimas
lnjut thor
Nurul Hilmi
lanjut Thor, selalu menunggu karyamu
Lisdaa Rustandy: makasih
total 1 replies
deeRa
nyess kan bang-kai🤭
Martha Dimas
double up thor, mkin seru
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
kok judulnya beda ya thor
Lisdaa Rustandy: aku ubah kak🙏
total 1 replies
deeRa
Kai, aku bingung mau mendeskripsikan kamu Seperti apa.
😌
falea sezi
lama amat cerai nah laki oon gini nunggu lo nyesel kai
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double thor
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!