NovelToon NovelToon
PESONA PERAWAT IBUKU

PESONA PERAWAT IBUKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:34.2k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...

"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Malam turun semakin pekat di rumah kecil milik Bakri.

Lampu ruang tamu menyala terang, tapi suasananya justru terasa panas dan menekan.

Pintu rumah baru saja dibanting keras.

Bakri masuk dengan wajah kusut. Kancing atas kemejanya sudah terbuka, rambutnya sedikit berantakan. Ia terlihat jelas menahan emosi sejak pulang dari kelurahan.

Di belakangnya, Sari menyusul dengan langkah cepat.

Wajah perempuan itu masih merah padam.

“Kenapa kamu diam saja dari tadi?” suara Sari langsung meninggi.

Bakri berhenti di tengah ruang tamu. Ia memijat pelipisnya seolah mencoba menahan sakit kepala.

“Sari, aku capek. Jangan mulai lagi.”

“Mulai lagi?” Sari tertawa pendek, tapi terdengar sinis. “Kamu yang seharusnya menjelaskan!”

Bakri menoleh tajam.

“Menjelaskan apa?”

“Jelaskan kenapa kamu tadi diam saja waktu perempuan itu datang!”

Bakri menghela napas panjang.

“Perempuan itu ada urusan resmi.”

“Resmi?” Sari mencibir. “Datang ke kelurahan, berdiri di depan kamu, terus pura-pura tidak kenal?”

Bakri mulai kehilangan kesabaran.

“Dia memang datang untuk urusan surat nikah!”

Sari terdiam sesaat. Namun wajahnya justru semakin menegang.

“Jangan pikir aku bodoh, Bakri.”

“Memang kamu sedang terlihat begitu sekarang.”

“Bakri!”

“Cukup!” suara pria itu akhirnya meninggi.

Sari terkejut. Jarang sekali Bakri membentaknya seperti itu.

Bakri menatap istrinya dengan wajah kesal.

“Kamu tahu tidak betapa malunya aku tadi?”

Sari langsung membalas,

“Malunya kenapa? Karena aku bilang dia datang menggoda kamu?”

“Karena kamu membuat keributan di depan orang banyak!”

Bakri menunjuk ke arah luar rumah.

“Semua orang di sana melihat! Pegawai kelurahan, warga, bahkan laki-laki yang datang sama dia!”

Nama itu seolah menggantung di udara.

Tama.

Sari menggertakkan gigi.

“Memangnya kenapa kalau mereka lihat?”

Bakri menatapnya tak percaya.

“Kamu menuduh mantan pacarku datang menggoda aku padahal dia jelas-jelas mengurus surat nikah!”

Sari membalas dengan cepat.

“Karena aku tahu kamu masih melihat dia seperti dulu!”

Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Bakri tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Sari menatapnya tajam, seolah menunggu pembelaan.

Namun Bakri justru tertawa pendek.

“Serius kamu berpikir begitu?”

“Kenapa? Tidak benar?”

Bakri memalingkan wajahnya.

Di dalam hatinya, sesuatu terasa tidak nyaman.

Karena sebenarnya…

Ada bagian kecil dalam dirinya yang memang terpukul tadi.

Bukan karena Sari.

Bukan karena keributan itu.

Tapi karena kalimat Dita.

“Aku sudah punya calon suami dengan spek tinggi begitu.”

Kalimat itu seperti menampar harga dirinya.

Bakri bahkan masih bisa melihat jelas bagaimana Dita berdiri di sana—tenang, percaya diri, dan… berbeda dari dulu.

Lalu pria yang berdiri di sampingnya.

Tenang.

Berwibawa.

Dan ketika urusan di kelurahan mulai dipersulit…

Pria itu hanya mengangkat ponsel.

Beberapa menit kemudian, atasan dari kelurahan langsung menelpon.

Semua masalah selesai.

Bakri bahkan tidak bisa berkutik.

Ia merasa seperti pegawai kecil yang dimarahi.

Kenangan itu membuat rahangnya mengeras.

Namun ia tidak mengatakan apa pun.

Sebaliknya ia berkata dingin,

“Sudah selesai urusannya.”

Sari mengernyit.

“Apa maksudmu?”

“Dita sudah punya calon suami.”

“Terus?”

“Terus apa lagi?” Bakri menatapnya lelah. “Dia sudah mau menikah. Jadi berhenti membuat drama.”

Sari mengepalkan tangan.

“Jadi kamu membelanya sekarang?”

“Aku tidak membela siapa pun!”

“Bohong!”

Sari maju satu langkah.

“Kamu masih peduli padanya!”

Bakri menatapnya tajam.

“Yang membuat aku malu tadi itu kamu, Sari.”

Perempuan itu terdiam.

Bakri melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Kalau kamu masih punya harga diri… berhenti mempermalukan diri sendiri.”

Sari merasa seperti disiram air dingin.

“Mempermalukan diri sendiri?”

“Iya.”

Bakri menunjuk ke arah pintu.

“Dia datang untuk urusan surat nikah. Itu saja.”

“Dan kamu percaya begitu saja?”

Bakri menghela napas berat.

“Dia bahkan bilang sendiri kalau calon suaminya jauh lebih dari aku.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Namun begitu diucapkan, dada Bakri terasa sedikit perih.

Sari menangkap nada itu.

“Kamu sakit hati?”

Bakri langsung mengalihkan pandangan.

“Tidak.”

“Bohong.”

“Sudahlah.”

Ia melangkah menuju kamar.

“Sari, aku tidak mau membahas ini lagi.”

Sari masih berdiri di ruang tamu.

“Bakri!”

Pria itu berhenti di depan pintu kamar.

“Biarkan saja Dita.”

Nada suaranya dingin sekarang.

“Toh dia juga sudah mau menikah dengan orang lain.”

Lalu ia membuka pintu kamar.

“Dan kamu tidak perlu membuat keributan lagi tentang dia.”

Pintu kamar tertutup.

Sari berdiri sendirian di ruang tamu.

Dadanya naik turun karena marah.

“Dasar laki-laki tidak tahu diri…” gumamnya kesal.

Ia menjatuhkan diri ke sofa.

Namun semakin lama duduk di sana…

Kemarahannya berubah menjadi sesuatu yang lain.

Rasa tidak nyaman.

Ucapan Bakri tadi kembali teringat.

Dia bilang calon suaminya jauh lebih dari aku.

Sari mengerutkan kening.

“Tama…”

Nama itu terasa asing.

Tapi cara pria itu berdiri tadi memang berbeda.

Tenang.

Tidak banyak bicara.

Namun ketika ia bergerak… semua orang langsung berubah sikap.

Sari menggigit bibirnya.

“Memangnya siapa dia…”

Rasa penasaran mulai muncul.

Ia mengambil ponselnya dari meja.

Layar menyala.

Sari membuka aplikasi pencarian.

Jarinya mengetik pelan.

Tama

Beberapa detik…

Hasil pencarian langsung muncul.

Sari mengernyit.

“Apaan ini…”

Ia membuka salah satu artikel.

Matanya mulai membaca.

Detik pertama…

kedua…

ketiga…

Lalu wajahnya perlahan berubah.

Alisnya terangkat.

Matanya membesar.

1
partini
hemmmm ayo kenapa ada sesuatu yang bisa bangun gicuhhhh
kymlove...
kenapa?? jangan2 tama ada masalah😰
Yunita Asep
kasian Dita.. y thorr..
Yunita Asep
songongnya si sari, ngerasa gk punya dosa banget.. ih..
Yunita Asep
iya tu si Bakei erangkt desa, gk cocok...
Yunita Asep
kok masih nebeng am nnek rumahnya y si sari bakri..
Yunita Asep
gila tu si perempuan jalang.. amit2 dah..
Ibrahim Efendi
modusnya, ganti rugi gagal nonton 🤭😁
Ibrahim Efendi
rasakno!!!!! 😁
Ibrahim Efendi
udaaahhh... ngaku aja 😁
Ibrahim Efendi
biar kau panas 😁
Ibrahim Efendi
gak rela dia, ma 🤭
Ibrahim Efendi
mama diana lagi bikin Tama cemburu. biar sadar... 🤭🤭🤭
Ibrahim Efendi
yessss!!!!!! akhirnyaaaaa...... caught in the act...👍💪🤭
Ibrahim Efendi
wih! mantap juga idemu Butet!!...👍👍👍
Ibrahim Efendi
cewek liar...
Ibrahim Efendi
first step. menuju lunak. sentuh hatinya. itu resep manjur.
Ibrahim Efendi
baru bab 1 udah seru. kesabaran diuji 💪
sunaryati jarum
Semoga kecanggungan kamu dan Tama segera cair
partini
semoga ga cuma kamu aja dit yg cepat cinta tamanjuga harusnya sebelum Kunti bogel datang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!