Iago Verbal tiba di Citywon, ibu kota Cirland, dengan niat sederhana: mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, kota megah yang awalnya menjanjikan ketenangan itu justru menyimpan bayang-bayang masa lalunya yang hilang.
Secara bertahap, kilasan ingatan yang terpecah-pecah kembali menghantuinya, diikuti kehadiran orang-orang misterius yang mengaku mengenalnya, termasuk putri kerajaan yang penuh curiga dan organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago pun terseret dalam pusaran konspirasi dan kekerasan, memaksanya menyadari satu
kebenaran yang mengerikan: identitas aslinya bukanlah pemuda desa yang polos, dan kedatangannya ke kota ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tahap terakhir dari rencana gelap yang bahkan ia sendiri sudah lupa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Api
Mereka berdua mulai berjalan dengan arah melingkar. Tatapan mereka saling terkunci. Thorne masih berdiri di tengah lapangan latihan yang luas, sementara para prajurit lainnya sudah menjauh dan duduk di kursi-kursi kayu yang disediakan di pinggir ruangan, menanti tontonan dengan ekspresi yang campuran antara bosan dan penasaran yang tak bisa disembunyikan.
"Jadi, apa peraturannya selain tidak memakai sihir?" tanya Draven, matanya terus fokus pada Otto yang berjalan melingkar di hadapannya.
Thorne menyeringai lebar, bahunya terangkat acuh tak acuh. "Tidak ada peraturan lain. Dan ingat, ini hanya latihan, Draven." Ia mengangkat satu jari telunjuknya. "Jika salah satu menyerah, pertandingan selesai. Sisanya... terserah kalian berdua mau bagaimana."
Draven tidak menjawab. Tangannya sudah bersiap, memegang erat gagang pedangnya yang masih tersarung rapi di pinggang. Ia terus berjalan dengan langkah melingkar yang sama, membentuk lingkaran yang perlahan semakin mengecil, semakin dekat ke pusat.
Otto melakukan hal yang sama, topeng kelinci putihnya yang retak berkilat redup di bawah cahaya lampu-lampu minyak yang tergantung di langit-langit tinggi. Namun berbeda dengan Draven yang memegang pedang panjangnya, Otto hanya mengeluarkan satu belati pendek dari balik jubah cokelatnya yang lusuh.
"Wah? Hanya itu?" Si prajurit botak selain Thorne berseru dari kejauhan. "Dia cuma pakai belati pendek? Apa dia sedang bercanda atau memang sedang mencari mati?"
"Baiklah, satu, dua, ti—"
WHOSH!
Tanpa aba-aba, tanpa peringatan, tanpa hitungan yang selesai, Draven melesat ke depan seperti anak panah yang dilepaskan dari busur.
Bukan dengan pedang panjangnya yang tersarung, tetapi dengan tinju kosong. Serangan itu datang begitu cepat, begitu mendadak, begitu di luar dugaan, hingga Otto hanya sempat mengangkat lengannya dengan refleks untuk menepis.
Namun tenaga di balik tinju Draven bukanlah tenaga manusia biasa. Otto terpental ke belakang, tubuhnya berguling-guling di lantai batu yang kasar dan dingin, sebelum akhirnya membentur dinding besi di pinggir ruangan dengan suara BRUK! yang memekakkan telinga.
"Gila," gumam Otto pelan di antara napasnya yang terengah-engah. Ia berusaha bangkit dengan susah payah. Ketika ia melihat ke tangannya yang gemetar, belati yang tadi ia pegang kini terbelah menjadi dua bagian.
Para prajurit elit sontak tertawa terbahak-bahak tanpa bisa menahan diri.
Suara tawa mereka menggema keras di seluruh ruangan latihan yang luas, memantul dari dinding batu ke dinding batu, menciptakan gema yang memekakkan. Si prajurit botak, bukan Thorne, sampai memukul-mukul pundak temannya yang duduk di sampingnya dengan tangan kirinya. "Hei, hei, lihatlah, lihat!" serunya di sela-sela tawa yang tersengal-sengal. "Masa iya sih dia langsung kalah dalam satu serangan? Kocak banget, bener-bener kocak! Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh para penasihat tua itu waktu merekrut orang seperti ini?"
"Haha!" Seorang wanita berambut hitam panjang yang diikat ke belakang—satu-satunya prajurit wanita di antara mereka—menutup mulutnya dengan satu tangannya, bahunya yang ramping bergetar hebat. "Kau benar, Alex. Draven bahkan hanya memakai tangan kosong, dan dia sudah hancur berkeping-keping. Bayangkan kalau Draven serius."
Di tengah gelak tawa yang riuh dan menghina itu, Draven melangkah mendekati Otto yang masih tergeletak lemas di dekat dinding besi, tubuhnya setengah tersungkur. Ia berjalan dengan santai, penuh percaya diri, kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya, bibirnya bersiul-siul kecil lagu yang tak jelas.
"Bagaimana, Topeng Kelinci?" ejeknya, berhenti beberapa langkah dari Otto yang masih berusaha mengumpulkan tenaga. "Sepertinya senjatamu sudah hancur tuh. Mau pinjam punyaku? Aku punya beberapa pedang cadangan yang lumayan bagus. Atau kau mau menyerah saja? Tidak perlu malu."
Otto, dengan gerakan yang sangat lambat, melempar sisa-sisa belati yang sudah hancur itu ke lantai batu. Logam-logam kecil itu berdenting nyaring dan berputar-putar di tengah keheningan yang tiba-tiba menyergap ruangan—tawa para prajurit yang tadinya riuh mulai mereda perlahan.
Dengan kedua tangannya yang gemetar namun masih kuat, Otto mulai menekan jari-jarinya satu per satu, dengan gerakan yang lambat dan penuh kesadaran.
Krek. Krek. Krek.
Suara tulang-tulang jari yang bergesekan terdengar sangat jelas di ruangan yang mulai sunyi senyap, memantul dari dinding ke dinding. Ia kemudian memiringkan kepalanya ke kanan dengan gerakan tersentak, lalu ke kiri—KREK! KREK!—lehernya berbunyi nyaring, disusul oleh bahunya yang ia putar-putar dengan gerakan melingkar.
"Kau hebat, Draven."
Draven mengerutkan kening dalam-dalam. Langkahnya yang tadinya santai terhenti mendadak. "Huh? Apa maksudmu?"
"Kau menyerangku sebelum hitungan selesai." Otto akhirnya berhasil berdiri tegak dengan susah payah, meskipun seluruh tubuhnya jelas-jelas kesakitan. "Aku tidak menduganya."
"Lalu kenapa?" Draven tertawa sinis. "Kau pikir kau bisa menghindar jika aku menyerangmu setelah hitungan selesai? Jangan terlalu percaya diri, Topeng Kelinci."
"Tepat sekali." Otto mengeluarkan belati lain dari balik jubahnya yang kotor dan robek—masih pendek, masih sederhana.
"Cih... Sok hebat kau, bocah—"
KLANG!
Otto menyerang lebih dulu dengan kecepatan yang tak terduga.
Serangannya cepat, terarah dengan presisi mematikan, dan menusuk tepat ke arah leher Draven. Namun Draven, dengan refleksnya, berhasil menghunus pedang panjangnya dari sarung dalam sekejap dan menahan serangan itu dengan ujung bilahnya. Pedang panjang Draven bertemu dengan belati pendek Otto.
Draven menahan serangan itu hanya dengan satu tangan saja, tanpa perlu bantuan tangan satunya. Tubuhnya yang tegap tak bergeming sedikit pun, kakinya kokoh tertanam di lantai batu.
"Kau cepat juga ternyata," akunya dengan nada yang berubah drastis. "Siapa yang melatihmu? Tidak mungkin kau bisa secepat ini tanpa guru yang hebat."
Otto, dari balik topeng kelincinya yang retak parah, tersenyum tipis meski tak terlihat oleh siapa pun. "Oh? Kenapa, kau jadi terobsesi padaku sekarang? Aku tidak tahu kalau kau tertarik pada pria."
Mata Draven menyipit tajam, amarahnya tersulut kembali. Dengan dorongan kuat yang berasal dari otot-otot kakinya, ia melemparkan Otto dan belatinya ke belakang dengan satu hentakan. Kemudian, tanpa memberi kesempatan sedikit pun bagi Otto untuk mengatur napas atau mengambil posisi, ia maju lagi dengan agresif.
KLANG! KLANG! KLANG!
Suara benturan logam yang cepat dan keras memenuhi seluruh ruangan latihan. Percikan-percikan api kecil berhamburan setiap kali pedang panjang Draven yang berat bertemu dengan belati pendek Otto yang ringan. Para prajurit yang tadinya tertawa terbahak-bahak, kini terdiam total. Mulut mereka terbuka sedikit, mata mereka membelalak lebar.
Otto terus bertahan dengan sabar. Meskipun Draven jelas lebih kuat secara fisik, lebih cepat dalam gerakan, dan bersenjata lebih panjang serta lebih berat, Otto berhasil menangkis setiap serangan yang datang dengan ketepatan yang mengagumkan.
Lebih dari itu, ia balas menyerang di sela-sela pertahanannya, memanfaatkan setiap celah kecil yang terbuka. Beberapa goresan tipis mulai muncul di lengan Draven, di pipinya, di lengannya yang tak terlindungi. Garis-garis merah tipis yang segera mengeluarkan darah segar, membasahi kulitnya yang mulai berkeringat.
Draven frustrasi tingkat tinggi. Amarah yang membabi buta mulai mengaburkan pikirannya yang jernih, menggantikan strategi dengan serangan-serangan asal. Saat Otto melancarkan serangan cepat ke arah wajahnya dengan belati yang berkilat, ia dengan sigap menunduk, lalu berputar dengan kecepatan penuh ia menendang kaki Otto dengan sekuat tenaga.
Otto jatuh ke tanah dengan keras, lututnya dan sikunya menghantam lantai batu.
Melihat posisi lawan yang sangat rentan dan tak berdaya, Draven segera melompat ke udara dengan kedua kaki terbuka. Namun Otto langsung mengangkat pinggulnya dengan kekuatan perut. Kedua kakinya yang panjang mengunci erat leher Draven dari belakang, dan dengan putaran tubuh yang cepat, ia melemparkan Draven ke samping dengan keras.
Draven berguling-guling tak beraturan di lantai batu yang kasar, debu dan keringat bercampur di wajahnya.
Otto tidak memberi waktu untuk bernapas. Ia bangkit dengan cepat dan segera mendekati Draven yang masih sempoyongan berusaha berdiri. Draven, dengan sisa-sisa refleks dan insting bertarungnya, berhasil menahan serangan Otto dengan pedangnya yang diangkat tinggi—namun serangan Otto kali ini seperti palu godam yang diayunkan dengan sekuat tenaga.
Lutut Draven yang tadinya kokoh mulai tertekuk di bawah tekanan yang luar biasa. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Kedua tangannya yang menahan serangan itu gemetar hebat tak terkendali, otot-otot di lengannya menonjol dan berdenyut.
Meski wajahnya sudah kotor oleh debu dan keringat yang bercampur menjadi satu, meski napasnya tersengal-sengal, Draven memaksakan senyuman tipis di bibirnya. "Hmm, tidak buruk, Topeng Kelinci. Kau ternyata menyimpan banyak kejutan di balik topeng anehmu itu."
"Menyerahlah sekarang," ucap Otto. Topengnya kini juga berdebu dan kotor. "Aku tidak ingin membuang-buang waktuku."
"Haha. Kurang ajar sekali kau, bocah baru."
Dengan dorongan terakhir dari sisa tenaganya, ia melompat mundur dengan cepat, menciptakan jarak aman beberapa langkah dari Otto. Postur tubuhnya yang tadinya tegap dan penuh percaya diri kini agak membungkuk. Ia memegang pedang panjangnya dengan kedua tangan yang masih gemetar, ujung bilahnya mengarah ke Otto yang mulai mendekat dengan langkah santai.
Dia benar-benar hebat, batin Draven. Tak satu pun seranganku yang benar-benar mengenainya. Dia membaca semua gerakanku dengan mudah.
Draven melirik lengannya yang penuh dengan luka-luka goresan kecil di sana-sini, basah oleh darah segar yang mengalir pelan. Lalu ia menatap teman-temannya yang menonton dengan diam, dengan mata yang penuh dengan berbagai macam emosi.
"Oi, Draven!" suara Alex yang keras memecah konsentrasinya yang sudah buyar. Wajah si botak itu kini tampak kesal, kecewa, dan marah sekaligus. "Apa-apaan kau, Draven?! Jangan mempermalukan nama baik kita di depan anak baru yang belum tahu apa-apa!"
Mata Draven membelalak lebar mendengar teriakan temannya itu. Ia melihat sekilas wajah-wajah teman-temannya yang lain—kekecewaan yang terpampang jelas di mata mereka.
Api baru yang membara pun menyala di dadanya.
Dalam sekejap mata, tanpa peringatan, Draven menghilang dari tempatnya berdiri. Bukan menghilang sungguhan, tentu saja—tetapi bergerak begitu cepat, begitu lincah, hingga bagi mata biasa ia seperti berteleportasi dari satu titik ke titik lain. Dalam satu kedipan yang singkat, ia sudah berada tepat di belakang Otto.
Otto berbalik secepat yang ia bisa, mengangkat belatinya untuk menahan serangan yang akan datang—tetapi yang datang bukanlah pedang panjang Draven. Sebuah tendangan keras mendarat tepat di perutnya yang tak terlindungi dengan kekuatan yang menghancurkan.
Mata Otto membelalak lebar di balik topengnya yang retak. Udara di paru-parunya terhempas keluar paksa dengan suara tersedak. Tubuhnya yang ringkih melayang di udara beberapa saat sebelum membentur lantai batu dengan keras dan berguling-guling beberapa kali.
Saat ia masih terkapar lemas di lantai, memegangi perutnya, tangan Draven yang kuat dan panas mencengkram pergelangan kakinya dengan erat.
"Argh..." erang Otto pelan.
Dengan gerakan cepat, tanpa sedikit pun belas kasihan, Draven berputar di tempat dengan kecepatan penuh—sekali, dua kali, tiga kali—lalu melemparkan Otto ke arah dinding besi di pinggir ruangan dengan seluruh kekuatannya.
BRAAAAK!
Tubuh Otto menghantam dinding besi yang dingin, lalu jatuh ke lantai batu seperti boneka kain yang tak bernyawa, tergeletak lemas.
Darah mengalir deras di lengannya yang robek. Di lehernya yang tergores. Di mana-mana, membasahi jubah cokelatnya yang sudah lusuh. Namun kedua tangannya yang bergetar hebat, yang memar, masih bisa menopang tubuhnya yang hendak bangkit dengan susah payah.
Draven terengah-engah di tempatnya, keringat bercucuran deras di wajahnya. Tubuhnya yang tegap membungkuk, dadanya naik turun dengan cepat. Matanya tetap tertuju pada Otto yang perlahan bangkit.
Kenapa... pikirnya dengan jantung yang berdegup kencang tak karuan. Kenapa dia belum pingsan juga?! Seharusnya kepalanya membentur besi dengan keras! Seharusnya dia sudah tak sadarkan diri sekarang! Ini
Suasana di ruangan yang tadinya riuh itu berubah drastis. Menjadi berat. Menjadi tegang. Menjadi canggung yang mematikan.
Thorne yang sejak tadi berdiri di pinggir lapangan dengan senyum main-mainnya, kini masih tersenyum, matanya terus mengamati Otto. Para prajurit elit lainnya ternganga, beberapa dari mereka bahkan tanpa sadar berdiri dari kursi mereka. Bahkan Alex, yang tadi berteriak paling keras, kini diam membisu dengan mulut terbuka.
Perlahan, sangat perlahan, dengan gerakan yang terasa seperti berabad-abad, Otto akhirnya berhasil bangkit kembali.
Tubuhnya yang ringkih goyah hebat, tangannya yang berlumuran darah gemetar saat menopang berat badannya yang nyaris tak tertahankan. Ia menunduk dalam-dalam, napasnya terengah-engah, dada dan bahunya naik turun dengan ritme yang kacau.
Lalu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, seolah-olah tubuhnya tidak terasa hancur berkeping-keping, ia mulai berjalan menuju Draven.
Langkahnya tidak cepat. Tidak lambat. Hanya... tenang. Sangat tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihantam berkali-kali, ditendang, dilempar, dan dibanting ke tembok besi dengan kekuatan penuh.
Draven mundur selangkah. Tanpa sadar. Tanpa bisa ia kendalikan.
Otto berhenti beberapa langkah di hadapannya. "Kalau aku boleh tahu, Draven... Apa sebenarnya sihir yang kau miliki?"
Draven mengerutkan kening, napasnya masih tersengal-sengal. "Huh? Kenapa kau tanya itu sekarang?"
"Aku hanya penasaran." Otto mengangkat kepalanya perlahan, menatap Draven dari balik topeng kelinci yang kini retak parah di beberapa bagian. "Apakah sihirmu api?"
Mata Draven sedikit melebar. "Iya. Api. Bagaimana kau bisa menebaknya?"
"Aku hanya mengira-ngira." Otto terdiam sejenak, mengatur napasnya yang masih belum stabil. "Ngomong-ngomong, Putri Stella juga pengguna sihir api, bukan?"
"Ya. Aku tahu itu. Apa hubungannya dengan pertandingan ini?"
"Kalau begitu..." Otto merentangkan kedua lengannya lebar-lebar di udara. "Gunakan sihirmu, Draven. Serang aku dengan api yang kau miliki."
Draven membeku total.
Untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ia hanya berdiri terpaku di tempat. Lalu, perlahan, sangat perlahan, senyum tipis muncul di bibirnya.
"Kau benar-benar meremehkanku?" tanyanya dengan suara pelan. "Lihatlah dirimu sendiri, Steve. Kau sudah kewalahan, kau berlumuran darah, kau nyaris tidak bisa berdiri. Apa kau benar-benar ingin mati di sini hari ini?"
"Karena itulah, Draven." jawab Otto dengan suara yang tetap tenang. "Aku ingin kau menggunakan sihirmu yang terkuat. Cepat dan selesaikan semua ini segera. Aku tidak punya waktu seharian hanya untuk bertanding denganmu."
Tangan Draven mengepal erat di gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Dengan gerakan kasar, ia menancapkan pedang panjangnya ke lantai batu hingga bilahnya bergetar, lalu mengangkat kedua tangannya yang kosong ke depan dada.
Dari kedua telapak tangannya yang terbuka, api muncul dengan tiba-tiba.
Bukan api kecil yang hanya untuk pemanasan—tetapi kobaran api biru yang membara, panasnya menerangi seluruh ruangan dengan cahaya yang terang dan menyilaukan. Urat-urat biru di pelipis Draven menonjol dan berdenyut hebat, wajahnya yang tegang oleh konsentrasi penuh tampak mengerikan di bawah cahaya apinya sendiri.
"Aku akan menurutimu, Topeng Kelinci." Suaranya rendah. "Ingat baik-baik, jika kau mati di sini, aku hanya akan bilang bahwa kau sendiri yang menginginkan ini. Para penasihat tidak bisa menyalahkanku."
Melihat kuda-kuda Draven yang siap dan api biru yang berkobar di kedua telapak tangannya, para prajurit elit sontak bangkit dari kursi mereka dengan panik.
"Oi, Draven!" teriak Alex dengan, berlari beberapa langkah ke depan dengan tangan terangkat. "Apa kau gila?! Kau bisa membunuhnya! Dia manusia biasa, dia tidak akan selamat!"
Namun Draven mengabaikannya. Matanya hanya terkunci pada Otto. Tidak ada yang lain.
Alex dengan cepat memutar tubuh Thorne yang masih berdiri diam. "Hei, Thorne! Kenapa kau malah diam saja?! Cepat hentikan mereka berdua, bodoh! Kau yang paling senior di sini!"
Thorne hanya terdiam membatu. Senyumnya kini telah memudar. Matanya kini fokus sepenuhnya pada pertarungan yang terjadi di depannya.
"Apa kau mengerti konsekuensi dari permintaanmu ini, Topeng Kelinci?" tanya Draven sekali lagi, api biru di kedua tangannya semakin membesar dan berkobar. "Ini adalah sihir level tertinggiku. Aku tidak bisa mengendalikannya sepenuhnya. Kau bisa mati."
Otto hanya mengangguk pelan. "Ya. Aku mengerti."
tapi karena di pf ini didominasi sama novel kultivasi atau fantim, novel ini jadi sepi. sayang sekali, padahal novel ini punya potensi besar.
novel ini saya kasih rating 9/10 lah. paling masalahnya itu pacing di 5 bab pertama. itu cukup lambat dan mungkin para pembaca ada yang langsung gak betah dan kabur.
tapi percayalah, kalau kalian sanggup membaca 5 bab pertama, kalian pasti akan ketagihan.