NovelToon NovelToon
WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cekcok dengan Mbak Annisa

Malam itu, lampu-lampu neon di depan Klub  berpendar seperti bunga api yang tak pernah padam. Musik berdentum dari dalam, memecah keheningan malam kota yang pengap oleh udara lembab. Aroma parfum wanita bercampur alkohol tipis menyeruak setiap kali pintu kaca terbuka.

Friska baru tiba.

Ia mengenakan dress hitam sederhana, tidak terlalu mencolok namun cukup elegan untuk menyesuaikan atmosfer klub. Mata para pegawai yang melihatnya langsung berbinar.

“Fris.... Akhirnya datang juga.” seru Mona sambil memeluknya cepat.

“Kami rindu banget sama kamu. Klub sepi tanpa ocehanmu.”

“Tumben sentimental.” Friska terkekeh, menepuk bahu Mona.

Dua bartender yang baru selesai meracik minuman juga melambaikan tangan.

“Lama banget nggak kelihatan, Fris.”

“Kami kira kamu kabur ke kalimantan sama Pak Daniel.”

Friska tersenyum kecil. “Andai saja.”

Di balik senyum itu ada lelah yang ia sembunyikan. Beberapa hari ini ia praktis tidur hanya dua-tiga jam sehari karena menjaga Bu Sasmi di rumah sakit.

Tak lama, Manajer Robby mendekat. Sikapnya tenang namun matanya memperhatikan Friska penuh simpati.

“Kamu sudah lebih baik?” tanyanya lembut. “Aku dengar kondisi ibunya Aluna sempat kritis.”

“Iya, Pak. Makanya aku nggak masuk kerja dulu.” jawab Friska.

“Aku paham.” Robby menepuk bahunya. “Kamu kerja yang santai dulu malam ini. Jangan dipaksa.”

Friska hanya mengangguk dan berbaur sebentar dengan teman-temannya. Mereka saling bertukar kabar tentang apa saja yang terjadi selama ia dan Aluna tidak ada.

“Klub sempat chaos kemarin.” bisik Mona. “Dua pelanggan sampai ribut.”

“Terus?” tanya Friska.

“Ya biasa… sampai Pak Robby turun tangan.” Mona mengedikkan dagunya. “Tapi yang penting sekarang kamu balik. Aluna gimana? Ibunya?”

Mata Friska melembut.

“Aluna ya gitu deh… tapi dia rapuh juga. Ibunya mulai stabil hari ini. Semoga terus membaik.”

“Alhamdulillah.” ujar Mona. “Sampaikan doa kami buat Aluna dan ibunya, ya.”

Friska tersenyum hangat. “Pasti.”

Tak berapa lama, musik berubah lebih pelan, tanda tamu-tamu VIP mulai berdatangan. Para wanita pun kembali ke meja masing-masing.

“Kerja dulu, Fris.”

“Semoga dapat tamu yang royal.”

Friska terkekeh dan melambaikan tangan.

Malam itu ia ditempatkan di meja Pak Mulyadi, seorang pria berusia sekitar lima puluhan pengusaha restoran ternama. Di meja itu ada dua rekannya yang tak kalah mapan.

Suasananya ramai namun elegan. Lampu lounge berwarna keemasan, asap tipis dari rokok cerutu dan gelas-gelas kristal yang dipenuhi minuman mahal. Friska mengisi gelas mereka dengan penuh perhatian.

“Hahaha… Friska, kamu ini anak baik.” ucap Pak Mulyadi sambil tertawa terbahak. Tawa yang sedikit terlalu keras. “Beberapa hari nggak ada rasanya klub kurang manis.”

“Maaf, Pak. Ada urusan keluarga.” jawab Friska sopan.

“Tak apa, tak apa… yang penting kamu kembali.”

Sesekali tangan Pak Mulyadi menyentuh pahanya. Friska hanya menahan napas sejenak lalu melanjutkan tugasnya dengan senyum profesional.

Baginya, sentuhan seperti itu bukan hal baru. Ia sudah terlalu kenyang dengan perlakuan tamu-tamu seperti ini.

Hingga suara langkah Manager Robby terdengar mendekat.

“Fris.” katanya pendek. “Masuk ke ruang VIP. Pak Daniel sudah datang. Dia menunggu kamu.”

Friska terdiam sepersekian detik. Jantungnya memukul dadanya, reaksi yang berbeda dari biasanya.

“Oke, Pak.”

Ia meminta izin dari Pak Mulyadi.

“Wah, sudah mau pergi?” raut kecewa melintas pada wajah pria itu. “Padahal kita baru mulai seru.”

“Maaf, Pak. Saya dipanggil.”

Tapi kekecewaan itu seketika lenyap ketika Mona datang menggantikan Friska.

Pak Mulyadi tersenyum lebar. Mona memang jauh lebih agresif dalam servis dan itu sesuai selera sebagian besar pelanggan.

Friska pun melangkah ke ruang VIP.

**

Ruang VIP itu jauh lebih tenang. Lampunya lebih redup, aromanya wangi, musiknya terdengar seperti bisikan halus.

Saat pintu tertutup, seseorang langsung menariknya.

Tubuhnya terdorong ke dinding.

“Mas..."

Belum sempat ia berbicara, Daniel sudah menempelkan bibirnya ke bibir Friska. Ciuman itu tidak lembut lebih seperti luapan kerinduan yang tersimpan terlalu lama.

Friska terengah, memukul dada Daniel.

“Hoosh… Mas… hosshh.”

Ia menahan napas sambil menatap pria itu dengan wajah memerah.

Daniel menarik wajahnya sedikit.

“Maaf, sayang.” katanya sambil mengusap bibir Friska dengan ibu jarinya. “Aku sudah sangat merindukanmu.”

Pipi Friska makin panas.

Daniel menariknya duduk ke sofa, tepat di pangkuannya. Tangannya melingkari pinggang Friska, erat, seakan takut wanita itu menghilang. Friska reflek melingkarkan tangan di leher pria itu.

“Kamu nggak merindukanku?”

Nada suara Daniel terdengar ragu, penuh harap.

Friska menggigit bibir. Ia tidak langsung menjawab dan itu membuat Daniel tampak kecewa.

“Rinduku bertepuk sebelah tangan, ya?” ucapnya pelan.

Friska akhirnya tersenyum tipis. “Aku merindukanmu juga, Mas.”

Ia mengecup pipinya perlahan.

Mata Daniel berbinar. “Benarkah? Katakan sekali lagi.”

“Aku merindukanmu, Mas.” bisik Friska tepat di telinganya.

Daniel kembali mencium bibirnya kali ini lebih lembut, lebih hangat tanpa tergesa.

Friska membalasnya dengan hati yang tenang, seolah kehangatan pria itu merontokkan semua kepenatan hari-harinya.

Sisa ruangan dipenuhi suara napas mereka yang beradu cepat, mempertebal keintiman yang tercipta.

**

Sementara itu…

Di rumah sakit, lampu-lampu lorong menyala dingin. Aroma antiseptik menusuk hidung. Aluna baru sampai dengan dua kantong kresek berisi makanan dan buah. Matanya lelah, namun langkahnya tegas.

Namun sesampainya di ruang rawat, ia langsung disambut tatapan tak suka dari Sultan dan Annisa.

“Mau apa lagi kamu ke sini?” tanya Sultan sinis.

“Menjenguk ibu. Apalagi?” jawab Aluna tenang, tapi nadanya tajam. Ia sudah muak diperlakukan seperti sampah.

“Masih berani kamu muncul di depan ibu?” sahut Annisa. “Nggak takut ibu tambah sakit?”

“Sudahlah, Mbak. Aku malas berdebat. Aku mau masuk.”

Ia hendak melangkah, tapi tangan Sultan menahan bahunya.

“Kamu nggak boleh masuk. Aku nggak mau ibu drop lagi liat muka kamu.”

Aluna terdiam. Ada rasa sakit yang ia coba telan. Ia juga takut jika kehadirannya benar-benar memengaruhi kondisi ibunya.

Annisa menyeringai. “Sadarkan? Makanya kamu nggak usah masuk. Sini makanan itu.”

Ia merampas kantong kresek dari tangan Aluna.

Saat itu, Alika baru keluar dari ruangan.

“Kak Aluna…” suaranya lirih, hampir seperti cicitan.

“Alika… ibu belum tidur?” tanya Aluna.

Alika menggeleng. “Baru minum obat. Katanya ingin sendiri dulu.”

Suasananya janggal. Alika bicara tanpa melihat Aluna, tapi suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.

“Ya sudah.” kata Aluna pelan. “Aku pulang. Itu ada makanan buat kamu dan ibu.”

Alika mengangguk kecil.

“Sudah pulang sana!” usir Annisa.

Aluna mendengus. “Nggak usah diusir juga. Aku memang mau pulang. Lama-lama sifat asli kamu kelihatan, Mbak.”

“Apa maksudmu bicara begitu sama istriku?” bentak Sultan.

“Aku nggak ada maksud apa-apa.” jawab Aluna dingin. “Hanya… aku kaget aja. Dulu Mbak Nisa lembut, perhatian, sayang keluarga. Tapi sekarang? Berubah 180 derajat. Oh… atau memang itu sifat aslinya yang dulu ditutupi.”

Tangan Annisa mengepal. “Jangan sembarangan bicara, ya. Aku berubah karena ada alasannya.”

“Dan aku tahu alasannya.” Aluna menatapnya tajam. “Karena keluarga kami jatuh miskin, kan? Kamu takut kami minta uang. Kamu takut jatah kamu berkurang. Kamu bahkan melarang Kak Sultan membantu ibu yang sekarat."

Wajah Annisa memerah. Sultan menegang.

“Sejak Ayah meninggal, kalian berubah.” lanjut Aluna dengan suara bergetar. “Ayah yang menopang hidup kalian. Tanpa ayah, kalian panik. Lalu menjauh dari ibu, dari aku, dari Alika…”

Alika menatap dengan mata membesar, baru mengetahui kebenaran yang berbeda jauh dari versi Annisa.

“Berhenti bahas Ayah!." seru Sultan.

“Memangnya salah? Kalau bukan karena Ayah, kalian....”

“Diam, Aluna!” bentak Sultan lagi. “Kamu sengaja mengalihkan dari perbuatan kotormu.”

“Percuma."  dengus Annisa. “Sekali kotor tetap kotor.”

Aluna menatapnya lama.

Senyumnya miring.

“Aku memang kotor, Mbak… tapi apa Mbak yakin jauh lebih bersih dariku?”

Annisa terdiam. Degup jantungnya terdengar sampai ke tenggorokan.

Dan untuk sesaat… hanya suara mesin infus dari kamar Bu Sasmi yang terdengar di antara mereka.

1
Ariany Sudjana
Marko bodoh, kenapa kamu ga bunuh sekalian si pelacur murahan Renata? hanya dikasih peringatan ga akan berpengaruh, si jalang murahan itu akan mengulang lagi perbuatannya
Ariany Sudjana
owh ternyata Renata itu jalang peliharaan 😂😂🤣🤣 tuan amar bodoh kalau percaya semua omongan pelacur peliharaan kamu itu
Ariany Sudjana
Aluna itu adik kamu sultan, dan Aluna itu keluarga inti, yang bukan keluarga itu si pelacur murahan Anisa, kamu bodoh percaya semua omongan si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
sabar yah Aluna, sultan ini bodoh,punya istri tapi pelacur murahan, dan masih percaya dengan semua omongan pelacur murahan itu
Boa
nama karakternya kok beda ya sama yg di sinopsis, apa aku yg salah baca? 🙏
Boa: semangat Thor, mana udah 14 episode 💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!