Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adeline Broke - FBI
Rick memutuskan satu hal malam itu: ia tidak akan jadi umpan yang diam.
Wanita tanpa nama, yang menyebut dirinya tahu “Fred Tucker” dan membaca ruangan tanpa menoleh, mungkin benar bahwa Rick mentah. Tapi Rick juga tahu, jika ia terus menunggu, Robert Ng akan memindahkan papan catur, dan semua orang akan terlambat.
Jadi keesokan paginya, Rick melakukan sesuatu yang Mercer selalu larang kecuali kalau kamu sudah siap mati:
mendekati target secara langsung.
Gedung Arthhone berdiri rapi dan dingin, seperti perusahaan yang tidak pernah melakukan kesalahan. Lobby-nya luas, bersih, dan terlalu terang. Rick masuk memakai setelan paling “bisnis”: jas rapi, jam tangan sederhana, tas kerja tipis. Ia menekan emosi, mengubah wajah jadi senyum sopan.
Di meja resepsionis, seorang wanita menatapnya ramah.
“Selamat pagi, bisa dibantu?”
Rick menyerahkan kartu nama palsu yang Mercer buat, nama perusahaan fiktif, jabatan fiktif, semuanya rapi.
“Saya ingin bertemu pihak penjualan,” kata Rick. “Ada pembicaraan bisnis. Kami sudah bertukar email.”
Resepsionis mengetik, mengangguk. “Silakan tunggu, Pak.”
Rick duduk di sofa lobby, posisi yang menghadap lift dan pintu, tapi cukup santai agar tidak terlihat mengawasi. Ia mengeluarkan ponsel, pura-pura membaca email. Di dalam kepalanya, ia menghitung: CCTV di sudut kanan, satu lagi di dekat pintu masuk, satu di belakang resepsionis.
Ia menunggu.
Lima belas menit.
Tiga puluh.
Empat puluh lima.
Satu jam.
Tidak terasa, tapi Rick tahu: waktu itu sengaja. Kalau ada orang yang menunggu terlalu lama, pola tubuhnya berubah, mulai gelisah, mulai menatap jam, mulai terlihat “tidak punya urusan nyata.”
Rick menahan semuanya.
Akhirnya, seseorang datang: pria dengan pakaian rapi, senyum tipis. “Pak Nolan?”
Rick berdiri. “Ya.”
“Silakan ikut saya.”
Rick mengikuti, tapi langsung merasakan sesuatu salah.
Mereka tidak menuju lift ke lantai atas.
Mereka menuju pintu samping, lalu turun tangga… menuju basement.
Rick menelan ludah.
Kepalanya berkata: ini jebakan.
Tapi tubuhnya tetap berjalan, karena berhenti sekarang akan memicu reaksi lebih cepat.
Pintu basement terbuka. Koridor dingin. Lalu pintu lain bertuliskan SECURITY.
Rick masuk.
Di dalam ruangan security, sudah ada orang-orang menunggu.
Pria-pria berpakaian jas rapi. Wajah dingin. Dan di balik potongan jas mereka, Rick melihat tonjolan yang ia kenal baik: senjata.
Mereka pro, bukan satpam
Satu hal yang Rick tahu tanpa perlu analisis panjang:
ia sudah ketahuan.
Sebelum Rick sempat bergerak, dua orang menutup jarak. Tangan terlatih meraba pinggang Rick, mengambil pistolnya, mengambil pisau kecilnya. Semua dilucuti cepat.
Rick mencoba tetap tenang, tapi detak jantungnya naik.
Lalu borgol.
Klik.
Tangan Rick terkunci di belakang.
Satu pria menekan bahunya agar Rick duduk. Rick menuruti, bukan menyerah, tapi menahan energi.
Di dalam kepala, otaknya bekerja liar:
Berapa orang?Di mana pintu?Ada kamera?Apakah ada satu celah untuk mematahkan borgol?Seni bela diri dalam kondisi tangan terikat?Jika bergerak sekarang, berapa detik sebelum peluru?Rick menarik napas panjang, memaksa dirinya tidak panik. Mercer selalu bilang: panik membuatmu jadi target yang mudah.
Pintu ruangan terbuka.
Seorang pria masuk dengan langkah tenang.
Robert Ng.
Wajahnya lebih tua dari yang Rick lihat dari jauh, tapi aura kekuasaannya sama. Matanya tajam, senyumnya tipis seperti orang yang tidak pernah terburu-buru.
Robert Ng menatap Rick—dan menyebut satu kata yang membuat darah Rick turun dingin:
“Paper.”
Rick menegang.
Robert Ng tersenyum. “Kau langsung menghadapiku padahal belum sampai satu tahun kau jadi assassin.”
Rick merasakan panik menyentuh tenggorokan.
Dia tahu code name-ku.
Robert Ng melanjutkan, seperti mengobrol santai. “Broker-mu terlalu menghina aku. Mengirim anak baru.”
Rick menahan napas.
Robert Ng menoleh sebentar pada orang-orang jas, lalu kembali menatap Rick.
“Jangan kaget,” kata Robert Ng. “Aku punya jaringan kuat. Saat kau menunggu di lobby, aku sudah selidiki siapa kau.”
Rick menelan ludah, mencoba menggerakkan pergelangan tangan di borgol, menguji apakah ada kelonggaran.
Tidak ada.
Robert Ng mendekat satu langkah, menatap Rick seperti menatap produk gagal.
Lalu Robert Ng berkata pelan, kalimat yang mengunci:
“Bunuh dia. Bersihkan.”
Waktu langsung menyempit.
Rick bergerak sebelum orang lain sempat mengangkat senjata.
Dengan tangan terborgol, ia memutar bahu, menabrak kursi ke belakang, lalu menghantam siku ke perut pria terdekat, teknik yang Mercer latih untuk kondisi terikat. Kursi jatuh. Ruangan kacau.
Seseorang meraih pistol.
Rick menendang lututnya. Orang itu jatuh.
Rick memutar tubuh, memanfaatkan berat borgol untuk menghantam pelipis pria lain. Darah muncul. Jeritan tertahan.
Satu pukulan ke tenggorokan. Satu sapuan kaki. Satu dorongan ke dinding.
Gerakannya cepat, brutal, dan tidak indah—tapi efektif.
Rick merasakan logam borgol menggesek tulang. Ia menahan sakit, memaksa tenaga. Ia menekan borgol ke sudut meja dengan teknik leverage yang Mercer ajarkan, memutar, menekan, menekan lagi,hingga salah satu kunci borgol longgar.
Klik.
Satu tangan lepas.
Rick meraih pistol yang jatuh, menendang seorang pria hingga ambruk, lalu bergerak lagi.
Dalam beberapa detik, pria-pria berjas itu tumbang satu per satu, ada yang pingsan, ada yang tidak bergerak lagi. Ruangan berubah jadi bau keringat dan logam.
Rick berdiri terengah, pistol di tangan, menatap Robert Ng.
Robert Ng mundur setengah langkah, bukan takut, tapi terkejut bahwa “anak baru” bisa membalik meja.
Lalu Robert Ng bergerak cepat, meraih senjata Rick yang tadi dilucuti, pistol milik Rick sendiri, dan mengarahkannya ke kepala Rick.
Rick membeku.
Detik itu, Rick tahu:
Ini selesai.
Robert Ng menatap Rick, mata dingin. “Kau seharusnya mati tadi.”
Rick menelan ludah, tidak memohon. Ia hanya menatap laras.
Pistol meletus.
Rick menutup mata refleks.
Namun tidak ada rasa sakit.
Tidak ada gelap.
Ketika Rick membuka mata, Robert Ng terhuyung.
Peluru menembus kepala Robert Ng dari sisi.
Robert Ng jatuh seperti boneka yang talinya diputus.
Rick terpaku, napas tertahan.
Tiga orang masuk cepat, senjata terangkat.
“Jangan bergerak! FBI!”
Rick membeku.
Dan di antara tiga orang itu… ada wanita yang ia temui kemarin.
Wanita “popcorn”.
Kini memakai jaket taktis, pistol di tangan, mata tajam tanpa senyum.
Rick menatapnya, mulutnya terbuka.
Wanita itu melangkah mendekat, mengambil ponsel Rick dari meja tanpa minta izin, lalu memotret mayat Robert Ng, sekali, dua kali, cepat, profesional.
Kemudian ia menggiring Rick keluar ruangan.
Petugas FBI lain masuk untuk “membereskan”, mengamankan pria-pria berjas yang tumbang, memasang pita, menyapu bukti.
Rick berjalan seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk.
Di tempat parkir mobil, wanita itu berhenti mendadak dan membalik tubuh Rick dengan kasar, bukan menyakiti, tapi membuat Rick menatap matanya.
Wajahnya marah. Benar-benar marah.
Di lehernya tergantung name tag.
ADELINE BROKE — FBI