Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Di Balik Pintu Besi
Fajar pertama di Dubai datang dengan warna jingga muda yang merayap pelan di antara celah tirai. Di kamar kecil apartemen yang mereka tinggali, Tento bangun lebih dahulu. Matanya sekejap menatap langit-langit, memastikan dia tidak sedang bermimpi berada di negeri asing. Kipas angin masih berputar lambat, menghasilkan suara ritmis yang menenangkan. Perikus masih terlelap di ranjang sebelah, wajahnya tenang, tasbih terlilit di jemari, seakan ia mengusapnya bahkan dalam tidur.
Tento meraih buku catatan dari meja kecil dan menulis beberapa baris tentang mimpi yang ia alami: bayangan seorang wanita bersuara lembut membawa sebuah vial berisi cairan ungu, memintanya menyelamatkan orang-orang. Ia tidak percaya pada mimpi sebagai pesan gaib, namun ia selalu mencatatnya. “Catatan membantu ingatan tetap jernih,” pikirnya.
Perikus terbangun ketika aroma teh tawar yang diseduh Tento memenuhi ruangan. “Pukul berapa?” tanya Perikus dengan suara serak.
“Tujuh pagi,” jawab Tento. “Kita ada janji dengan Farid jam sepuluh. Makanlah dulu.”
Mereka makan roti pipih yang mereka beli semalam di pasar. Roti itu sedikit kering, namun mereka menambahkan selai kurma yang manis. Setelah itu, mereka mengenakan pakaian yang sudah mereka siapkan: kemeja lengan panjang berwarna terang dan celana panjang, menyesuaikan dengan kebiasaan setempat. Perikus memasukkan tasbih ke saku, sementara Tento memasukkan buku catatan dan kamera kecil ke tas pinggang.
Pukul sepuluh kurang lima, terdengar ketukan di pintu. Mereka sempat saling memandang, waspada. Tento meraih gagang pintu dengan hati-hati, membuka sedikit, memastikan. Di luar, Farid berdiri sambil tersenyum, memegang segelas kopi to-go. “Selamat pagi,” sapa Farid. “Kalian siap?”
Mereka mengangguk, mengambil kunci, dan mengikuti Farid ke mobil. Di luar apartemen, jalanan masih sepi. Matahari belum terlalu tinggi, tetapi udara sudah hangat dan kering. Mereka masuk ke mobil. Farid menyalakan mesin dan memutar radio pelan. Musik pop Arab mengalun, liriknya terdengar asing namun menarik.
Di perjalanan, Farid memberitahu mereka tentang jadwal tur. “Kita punya 30 menit tur resmi di rumah sakit. Aku sudah mengurus sebagai tamu dari Indonesia yang ingin belajar tentang sistem kesehatan di sini. Pemandu akan membawa kita melihat lobi, ruang perawatan umum, dan laboratorium umum. Kalian harus mencari alasan untuk berpisah dari tur kalau ingin melihat lebih jauh. Lift ke basement berada di sayap timur. Aku tidak tahu apa yang ada di bawah, tapi aku tahu tidak semua orang bisa masuk.”
Perikus mendengarkan dengan seksama. “Apakah ada ruang kontrol keamanan?”
“Ada di lantai dua, dekat ruang administrasi. Ada banyak monitor CCTV. Aku pernah mengantar teknisi ke sana. Aksesnya ketat. Jangan coba masuk ke sana, kecuali kalian punya rencana,” jawab Farid.
Lima belas menit kemudian, mereka tiba di depan gedung rumah sakit yang disebutkan. Bangunan itu tinggi dengan arsitektur modern: kaca biru berkilau, pilar putih, dan logo emas. Di pintu masuk, air mancur kecil memercik, mengeluarkan gemericik yang kontras dengan udara kering. Bendera Uni Emirat Arab berkibar di depan, berdampingan dengan bendera rumah sakit.
Seorang wanita muda berkacamata berdiri menunggu di lobi. Ia mengenakan seragam navy dengan nametag bertuliskan “Rashidah – Public Relations.” Ia tersenyum sopan ketika mereka mendekat. “Selamat datang di Rumah Sakit Al-Amal. Saya Rashidah. Apakah kalian dari Indonesia?”
“Ya, kami,” jawab Tento. “Kami tertarik melihat fasilitas rumah sakit kalian.”
Rashidah memulai tur. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen Arab. Dia memandu mereka melewati lobi luas dengan marmer putih, melewati toko kecil menjual bunga dan cenderamata. Kemudian mereka mengunjungi ruang perawatan umum yang bersih dan teratur. Perawat dan dokter berjalan cepat, berbicara dengan suara pelan. Tidak ada yang aneh di ruangan tersebut, tetapi kamera CCTV di setiap sudut membuat pergerakan mereka terekam.
Ketika tur mencapai lantai dua, Rashidah menunjukkan ruang administrasi. Pintu kaca transparan memperlihatkan beberapa pegawai duduk di depan komputer. Di sudut ruangan, mereka melihat rak berisi kamera pengawas. Monitor menampilkan berbagai ruangan, termasuk lift. Tento menangkap sekilas gambar lift dengan nomor “B1” di pojok layar. Ia menandainya dalam ingatan.
Tur berlanjut ke laboratorium umum, yang dipenuhi peralatan canggih. Di sini, seorang teknisi berdiri di samping mesin PCR. “Ini laboratorium untuk pemeriksaan darah rutin dan penelitian kecil,” jelas Rashidah. “Laboratorium utama kami berada di gedung sebelah.”
Tento dan Perikus saling melirik. “Apakah kami bisa melihat laboratorium utama?” tanya Tento dengan nada netral.
Rashidah tersenyum. “Maaf, itu tidak termasuk dalam tur. Laboratorium utama hanya bisa diakses oleh staf peneliti. Keamanan sangat ketat di sana.”
Mereka melanjutkan tur ke area luar. Ketika mendekati ujung koridor sayap timur, mata Tento menangkap pintu logam dengan panel angka. “Authorized Personnel Only” tertera di atasnya. Dalam hati, ia ingat kode 9-4-7-2. Ia berpura-pura terkejut melihat pemandangan dari jendela, menarik Rashidah ke arah lain. “Wah, pemandangannya menakjubkan!” katanya sambil menunjuk taman di belakang.
“Ya, taman itu dibuka dua tahun lalu,” jawab Rashidah sambil menjelaskan lebih lanjut. Sementara Rashidah berbicara, Perikus diam-diam memeriksa pintu logam. Ia menghitung langkah dari jendela ke pintu, mencatat posisi kamera. Ia juga memperhatikan seorang petugas keamanan berseragam hitam yang lewat, memandang mereka sekilas sebelum kembali menyusuri koridor.
Tur berakhir di kafetaria. “Silakan menikmati minuman dan makanan ringan di sini. Tur resmi selesai. Terima kasih sudah datang. Jika ada pertanyaan, saya siap membantu,” kata Rashidah.
Mereka duduk di sudut kafetaria. Farid berdiri di dekat pintu, seolah menunggu. Mereka memesan jus buah dan roti pipih. Di meja seberang, beberapa dokter berbicara dalam bahasa Arab. Mereka memerhatikan, tetapi tidak mencolok. Mereka belum melihat Nur.
Sepuluh menit kemudian, seorang wanita berhijab dengan seragam perawat berjalan mendekat. Matanya bergerak cepat menatap sekitar. “Kalian dari Indonesia?” bisiknya saat sampai di meja mereka. Tanpa menunggu jawaban, ia menambahkan, “Namaku Nur.”
“Kami teman dari Maya,” kata Tento pelan. “Duduklah.”
Nur duduk, tangannya sedikit gemetar. “Aku tidak punya banyak waktu. Istirahatku cuma lima belas menit,” katanya. “Aku mulai curiga sejak tiga bulan lalu. Ada pasien yang dipindah ke basement dengan alasan perawatan khusus. Tidak pernah kembali. Data rekam medis mereka hilang. Aku bertanya ke atasanku, tetapi aku ditegur. Ada perawat yang hilang minggu lalu. Malam sebelum hilang, dia bilang melihat ruangan dengan alat yang aneh. Ia juga sempat melihat formula B19 di layar. Aku takut, tapi aku tidak bisa diam.”
Perikus menelan ludah. “Apa kau tahu bagaimana masuk ke basement?”
Nur mengeluarkan kartu dari sakunya, menaruhnya di bawah serbet. “Ini kartu akses tingkat tiga. Aku mengambilnya dari perawat yang hilang. Kode lift 9-4-7-2. Tapi ada sensor wajah. Aku tidak tahu apakah kalian bisa melewati. Mungkin kalian bisa masuk saat pergantian shift ketika petugas sibuk. Ada pintu darurat di lorong belakang yang menuju tangga layanan. Tapi tangganya sempit dan jarang dipakai.”
“Kenapa kamu percayakan ini kepada kami?” tanya Tento.
Nur menatap mereka, matanya berkaca-kaca. “Aku lihat video kalian di konferensi etika riset. Aku tahu kalian melawan White Lotus. Aku tidak tahu harus ke siapa lagi. Aku tidak ingin pasien dipakai sebagai kelinci percobaan. Aku juga ingin keluar dari sini, tapi aku belum punya jalan. Tolong selamatkan mereka.”
Mereka merasakan beban tanggung jawab yang besar. Tento memasukkan kartu ke dalam kantong rahasia. “Terima kasih. Kau harus berhati-hati. Jangan sampai mereka tahu kau yang membantu kami.”
Nur mengangguk. “Aku harus kembali. Tolong jaga dirimu. Dan… jangan percayai semua orang. Bahkan mungkin orang di luar sana yang mengaku sebagai jurnalis,” tambahnya sebelum pergi, seakan tahu tentang Arman.
Setelah Nur pergi, Farid mendekat. “Waktu hampir habis. Kita harus pergi agar tidak mencurigakan,” bisiknya. Mereka berdiri, membawa minuman, dan meninggalkan kafetaria. Mereka keluar lewat pintu depan, kembali ke mobil.
Di perjalanan pulang, mereka tetap diam beberapa saat, mencerna informasi. Perikus akhirnya bicara. “Ada sensor wajah. Bagaimana kita lewat?”
“Mungkin kita bisa menipu sensor dengan foto wajah salah satu petugas, atau dengan mematikan sistem,” jawab Tento, memikirkan. “Maya mungkin bisa membantu dari jarak jauh, tapi jaringan rumah sakit pasti tertutup. Kita harus improvisasi.”
Farid menyetir ke arah pasar di Deira. “Kalian perlu berbaur. Jangan kembali ke apartemen langsung. Kita bisa pergi ke pasar dulu, membeli sesuatu, lalu pulang. Orang-orang akan melihat kita sebagai turis. Ini membuat kita sulit dilacak.”
Pasar Deira ramai. Kios-kios menjual rempah, parfum, emas, dan kain. Aroma kapulaga dan saffron menguar. Mereka berjalan perlahan di antara kerumunan. Farid menunjukkan jalan ke sebuah kios kain yang dimiliki rekannya. “Belilah beberapa syal untuk penyamaran. Gunakan syal ini ketika kalian masuk malam ini. Syal akan membantu menutupi sebagian wajah kalian,” kata Farid.
Penjual kain itu, pria tua berkumis, menyambut mereka ramah. Ia berbicara dengan Farid dalam bahasa Urdu. Farid membalas dengan bahasa yang sama. Kemudian ia beralih kepada mereka. “Ini teman saya. Syal ini bagus untuk musim panas dan musim dingin. Ambil dua, gratis,” katanya dengan senyum lebar. Mereka memilih syal berwarna abu-abu dan cokelat, lalu membungkusnya.
Di kios lain, Perikus tertarik dengan bumbu rempah. Ia mencium aroma kapulaga, jintan, dan cengkeh. “Ini seperti di dapur Pak Mulyono, tapi lebih kuat,” gumamnya. Penjual menawarkan segenggam kurma muda. “Coba ini,” katanya. Perikus menggigit, merasakan manis legit. “Ini enak, tapi bukan soto,” ujarnya, membuat penjual tertawa.
Setelah membeli beberapa barang, mereka kembali ke mobil. Farid membawa mereka pulang ke apartemen melalui rute berbeda untuk memastikan mereka tidak diikuti. Di apartemen, mereka menutup jendela dan menyalakan lampu kecil. Mereka menghubungi Maya melalui aplikasi terenkripsi.
“Kami sudah mendapat kartu akses dan kode,” lapor Tento.
Maya muncul di layar, wajahnya serius. “Bagus. Aku akan mencari cara mematikan sensor wajah. Ada potensi menggunakan sinyal pengacau. Tapi kalian harus membawa perangkat. Aku bisa mengirim instruksi. Selain itu, aku menemukan bahwa Arman sudah berada di Dubai. Dia memesan kamar di hotel dekat rumah sakit. Aku tidak tahu rencananya, tetapi aku khawatir dia akan menghadiri pertemuan investor White Lotus besok. Dia mungkin mencoba mengalihkan perhatian kalian atau menyamar sebagai wartawan untuk mendapatkan akses.”
“Jadi dia benar-benar di sini,” gumam Perikus. “Kita harus siap jika dia muncul.”
Maya mengirimkan file berisi diagram sistem keamanan rumah sakit. “Sensor wajah terhubung ke server lokal. Aku tidak bisa meretas dari sini karena firewall. Satu-satunya cara adalah mengalihkan listrik sejenak. Ada panel listrik di ruang penyimpanan dekat lift. Jika kalian memutuskan listrik selama lima detik, sensor akan reboot, dan kalian punya waktu untuk masuk. Tapi akan ada alarm jika terlalu lama. Pastikan tidak lebih dari lima detik. Aku tahu ini berisiko, tapi ini jalan terbaik.”
Tento mencatat dengan teliti. “Oke, kita coba malam ini. Farid, apakah kau bisa menunggu lebih lama?”
Farid mengangguk. “Aku akan parkir di dekat pintu belakang jam sembilan malam. Aku akan menunggu sampai tengah malam. Jika kalian tidak muncul, aku akan pergi. Aku tidak ingin tertangkap.”
Mereka menutup panggilan. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Mereka memiliki beberapa jam sebelum malam tiba. Mereka memutuskan untuk istirahat sejenak. Perikus tidur, tetapi Tento duduk di kursi, menatap kartu akses. Ia membolak-baliknya, merasakan bahan plastik dingin. “Kartu ini bisa menyelamatkan atau mencelakakan,” pikirnya.
Menjelang malam, mereka bersiap. Mereka memakai pakaian gelap, jaket ringan, dan syal yang baru mereka beli. Mereka membawa tas kecil berisi kamera, obeng, dan perangkat kecil yang diberikan Maya – pengacau sinyal sementara yang hanya bisa dipakai sekali. Mereka menaruh kartu akses di tempat aman, dan masing-masing menyelipkan satu lembar uang di sepatu, berjaga-jaga.
Pukul delapan tiga puluh, mereka turun ke jalan. Farid sudah menunggu di mobil dengan mesin hidup. “Kita pergi sekarang. Jalanan belum terlalu ramai. Aku akan menurunkan kalian di pintu belakang. Jangan berbicara dengan siapa pun,” katanya.
Perjalanan terasa cepat, meski jantung mereka berdebar. Mereka memasuki area parkir belakang rumah sakit, yang lebih sepi. Lampu-lampu neon menerangi area dengan cahaya putih kebiruan. Beberapa kendaraan ambulans terparkir, pintu belakang rumah sakit tertutup rapat, tetapi tidak dijaga. Ini pintu untuk staf malam.
“Aku akan parkir di ujung sana. Ingat kata sandi jika butuh pertolongan,” kata Farid. Mereka mengangguk dan turun.
Mereka berjalan ke pintu belakang. Pintu itu memiliki panel kartu magnet. Tento mengeluarkan kartu akses, menggesekkannya. Lampu hijau menyala, pintu berbunyi klik, terbuka. Mereka masuk ke koridor sempit yang sepi. Bau antiseptik menyeruak. Lampu neon berpendar. Mereka berjalan perlahan, mengikuti denah di kepala mereka menuju lift. Kamera CCTV di pojok ruangan mengawasi, tetapi mereka sudah memakai syal menutupi sebagian wajah.
Di ujung koridor, mereka menemukan panel listrik yang disebut Maya. Ini kotak metal setinggi pinggang dengan kunci kecil. Mereka mencoba membukanya. Terkunci. Perikus mengambil obeng, mencoba mencongkel. Setelah beberapa detik, kunci terbuka. Mereka melihat switch listrik berjajar.
Tento menatap jam tangan. “Kita harus memutus arus selama lima detik. Siap?”
“Siap,” jawab Perikus, tangan gemetar memegang sakelar. Ia menarik napas, kemudian menekan switch. Lampu lorong berkedip, lalu mati. Koridor menjadi gelap gulita. Jantung mereka berdetak cepat. Mereka menghitung: satu, dua, tiga, empat, lima. Perikus menyalakan kembali sakelar. Lampu menyala. Alat di panel mengeluarkan bunyi klik saat sistem menyala ulang.
Mereka berlari ke lift. Tombol lift berkedip, menandakan sensor restart. Tento menekan tombol. Pintu terbuka. Mereka masuk, memencet tombol ke basement. Pintu tertutup pelan. Jantung mereka berdebar semakin keras. Lift mulai turun. Suara logam bergesek terdengar lembut. Mereka menatap angka menurun: 3, 2, 1…
Namun, ketika sampai di “B1”, lift berhenti mendadak. Lampu di dalam lift berkedip, kemudian padam. Pintu tidak terbuka. Mereka terjebak dalam kegelapan. Suara alarm kecil terdengar, samar. Mereka saling menatap, meski sulit melihat. Keringat dingin membasahi telapak tangan mereka.
Di tengah kegelapan, suara pelan terdengar dari speaker lift. “Apa kalian pikir kalian bisa masuk tanpa diketahui?” Suara itu tidak asing bagi Tento. Ia seperti suara di telepon yang pernah memperingatkan mereka tentang Arman. Malam itu berakhir dengan sebuah pertanyaan baru: siapa yang berbicara, dan apakah mereka terjebak di tengah jebakan White Lotus? Mereka tidak tahu. Yang pasti, misi ini baru saja berubah arah.