NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Keesokan harinya

Jessica menuju ke rumah tempat kejadian pembunuhan kedua orang tuanya.

Langkahnya cepat… namun ragu. Di tangannya, ia menggenggam ponsel. Ia menekan kontak Max. Sambil menunggu sambungan, Jessica mendorong pintu rumah itu dan masuk.

Cahaya redup menyambutnya.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Tatapannya kosong saat melihat rumah yang dulu dipenuhi kehangatan… kini berubah menjadi tempat penuh luka.

Ia melangkah perlahan.

Setiap sudut rumah itu menyimpan kenangan.

Tawa… suara orang tuanya... semua terasa begitu dekat, namun tidak bisa digapai.

Langkah Jessica terhenti.

Matanya tertuju pada lantai.

Bekas garis penanda tempat jasad kedua orang tuanya ditemukan.

Napasnya langsung tercekat.

Tubuhnya membeku.

Tiba-tiba—

Jessica memegang kepalanya.

Rasa sakit yang tajam menyerang tanpa peringatan.

“Ahhh!” jeritnya, tubuhnya langsung berjongkok sambil mencengkeram kepalanya.

Di saat yang sama suara dari ponselnya terdengar.

“Hallo, Jessica!” suara Max dari seberang.

Namun Jessica tidak menjawab.

“Jessica? Apa kau ada di sana?” suara Max kembali terdengar, kini lebih cemas.

Napas Jessica memburu.

Tangannya gemetar.

Ponselnya hampir terjatuh.

Potongan-potongan ingatan mulai bermunculan.

Bayangan malam itu seseorang berdiri di sana…

Jessica terengah.

Matanya melebar.

Bibirnya bergetar.

“Orang itu…” bisiknya lirih.

Namun ... rasa sakit kembali menyerang lebih kuat.

“Ahhh!” tubuhnya semakin melemah.

“Jessica! Jawab aku! Kau di mana sekarang?!” suara Max terdengar panik dari ponsel.

Jessica masih berjongkok di lantai.

Terjebak antara rasa sakit… dan ingatan yang hampir kembali.

Jessica memaksakan diri mengangkat ponselnya.

Tangannya gemetar.

Keringat dingin membasahi wajahnya.

“Detektif… aku di sini… di lokasi kejadian,” ucapnya terengah. “Aku harus mengingat kembali apa yang terjadi…”

Di sisi lain, Max langsung membulatkan matanya.

“Jessica?!” suaranya meninggi.

“Jessica, dengarkan aku!” katanya tegas. “Cepat tinggalkan tempat itu… atau cari tempat persembunyian!”

Max sudah berada di dalam mobil. Mesin dinyalakan. Kakinya langsung menginjak pedal gas.

“JJ akan kembali ke sana!” lanjutnya dengan nada mendesak.

Namun ... tiba-tiba panggilan terputus.

“Jessica? Jessica!” panggil Max.

Tidak ada jawaban.

Wajah Max langsung berubah tegang.

Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Adrian.

Sambungan tersambung.

“Hallo!” suara Adrian terdengar dari seberang.

“Adrian, segera ke lokasi kejadian!” seru Max cepat. “Jessica ada di sana!”

Adrian yang sedang menyetir langsung menyipitkan mata.

“Dia sudah sampai di sana…” gumamnya pelan.

Tanpa ragu ia menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil melaju kencang di jalanan.

“Aku menuju ke sana sekarang,” jawabnya singkat.

Di dua arah berbeda ... dua mobil melaju dengan kecepatan tinggi.

Menuju satu tempat yang sama.

Sementara Jessica masih berjongkok di lantai, napasnya memburu sementara tangannya mencengkeram kepala yang terasa seperti akan pecah. Rasa sakit itu datang berulang, namun kali ini—di balik rasa sakit itu—sesuatu mulai terbuka. Bayangan malam itu perlahan muncul, awalnya samar, lalu semakin jelas, seolah ia kembali berada di sana.

Rumah itu… tidak sunyi.

Terdengar suara pecahan kaca, langkah kaki terburu-buru, lalu suara ayahnya yang tegas, “Siapa kau?!” membuat tubuh Jessica yang sekarang ikut bergetar. Ia memejamkan mata, tapi justru dari kegelapan itulah semuanya terlihat semakin nyata.

Ia melihat ruang tengah rumahnya… dan seseorang berdiri di sana.

Tinggi. Diam. Mencekam.

Wajahnya tertutup bayangan, namun suaranya—suara itu tidak asing.

“Aku harus ingat semuanya…” bisik Jessica lemah dan memaksakan diri untuk mengingat kejadian itu.

Ingatan terus memaksa keluar. Ibunya berteriak dengan panik, “Jessica! Lari!!” tapi dalam bayangan itu, Jessica justru hanya bisa berdiri kaku di sudut ruangan, tubuhnya gemetar, tidak mampu melangkah sedikit pun.

Pria itu bergerak mendekat. Langkahnya pelan… namun penuh niat membunuh.

Cahaya lampu jatuh di wajahnya.

Sekilas.

Namun cukup untuk membuat jantung Jessica seakan berhenti berdetak.

Matanya terbuka lebar.

“JJ…” suaranya nyaris tidak terdengar.

Air mata mengalir deras, tubuhnya semakin lemah, tapi ingatan itu belum berhenti. Ada sesuatu yang terasa janggal… sesuatu yang belum lengkap.

Dan benar dalam bayangan itu, JJ tidak sendirian. Ada seseorang di belakangnya.

Berdiri diam.

Mengawasi.

Jessica mencoba melihat lebih jelas, memaksa ingatannya untuk menangkap wajah itu, namun kepalanya kembali berdenyut hebat.

“Ahhh!” jeritnya lagi, tubuhnya hampir roboh.

Bayangan itu goyah… kabur… sosok kedua itu tidak terlihat jelas, hanya siluet samar, tapi kehadirannya terasa nyata—dan menakutkan.

Napas Jessica tersengal, matanya dipenuhi ketakutan.

“Bukan… hanya dia…” bisiknya pelan. Tangannya semakin gemetar.

“Masih ada… orang lain…”

Kepala Jessica semakin terasa sakit, seolah ada sesuatu yang memaksa keluar dari dalam ingatannya. Wajahnya memucat, napasnya tersengal, namun ia tetap memaksakan diri untuk bertahan.

Rasa sakit itu tidak lagi bisa ditahan dan tiba-tiba bayangan itu menjadi jelas.

Ia melihat semuanya.

Malam itu.

Ayahnya berdiri di depan JJ Zhou, mencoba melindungi ibunya.

“Kenapa kau melakukan ini?!” suara ayahnya penuh amarah.

Namun JJ tidak menjawab.

Tatapannya dingin.

Tanpa ragu ia mengangkat tangannya.

“Tidak…!” suara Jessica bergetar, tubuhnya ikut gemetar mengikuti ingatan itu.

Dalam bayangan itu ia melihat dengan jelas.

Pisau di tangan JJ.

Kilatan dingin dan kemudian—

Darah.

Tubuh ayahnya roboh ke lantai.

Suara benturan itu terasa begitu nyata, seakan kembali menggema di telinganya.

“Tidak!!!” jeritan ibunya pecah.

Ia berlari menghampiri, memeluk tubuh suaminya yang sudah bersimbah darah.

JJ masih tidak berhenti.

Dengan langkah perlahan, ia mendekat. Tanpa belas kasihan.

Jessica yang sekarang menggigil hebat.

Air matanya mengalir deras.

“Berhenti… tolong berhenti…” bisiknya, meski tahu itu hanya ingatan.

Dalam bayangan itu ibunya menoleh ke arah Jessica.

Tatapan penuh ketakutan… dan kasih sayang.

“Jessica… lari…”

Namun semuanya terlambat.

JJ mengangkat tangannya lagi

dan jeritan ibunya menggema di seluruh ruangan.

Darah kembali mengalir.

Mengotori lantai ... menghapus semua kebahagiaan yang pernah ada di rumah itu.

“AHHHH!!” Jessica menjerit keras, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.

Tangannya mencengkeram lantai.

Seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Semuanya terlalu jelas.

Terlalu nyata.

“JJ Zhou…” ucapnya dengan suara bergetar, dipenuhi kebencian dan ketakutan.

Jessica tergeletak di lantai, tubuhnya gemetar, napasnya tersengal. Rasa sakit di kepalanya belum juga mereda, justru semakin menjadi-jadi setelah ingatan itu kembali sepenuhnya. Air mata masih mengalir di pipinya, sementara pandangannya mulai kabur.

Namun di tengah kesakitannya ia mendengar sesuatu.

Langkah kaki.

Perlahan.

Mendekat.

Jessica berusaha mengangkat kepalanya.

Dan saat pandangannya fokus sosok itu berdiri di hadapannya.

JJ Zhou.

Dengan tatapan penuh kebencian.

Jantung Jessica seakan berhenti. Tubuhnya membeku.

“Jessica…” suara JJ terdengar dingin.

Ia melangkah mendekat, lalu berjongkok di hadapan Jessica.

Tatapannya tajam, tanpa sedikit pun rasa bersalah.

“Kau datang sendiri untuk mengantar nyawa…” gumamnya pelan. “Putri kesayangan mereka…” Senyumnya tipis.

Namun menyeramkan.

“Kalau begitu… aku akan mengirimmu menyusul mereka.”

Tiba-tiba tangan JJ mencengkeram leher Jessica dengan kuat.

“Ukh…!” Jessica terkejut, tangannya refleks mencoba melepaskan cengkeraman itu.

Napasnya langsung terhenti.

JJ menekan lebih kuat.

Wajahnya semakin dekat.

“Kalau saja waktu itu kau mati bersama mereka… maka aku tidak akan menjadi tersangka," bisiknya dingin.

Jessica berusaha melawan.

Tangannya gemetar, mencengkeram pergelangan tangan JJ.

Pandangan Jessica mulai menggelap.

Napasnya semakin sulit.

Di tengah kondisi itu matanya masih menatap JJ dengan penuh kebencian.

Jessica yang hampir kehilangan kesadaran masih berusaha melawan. Napasnya semakin sesak, pandangannya mulai gelap, namun di tengah keputusasaan itu—jemarinya tanpa sengaja menyentuh sesuatu di lantai.

Sebuah pecahan kaca.

Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Jessica menggenggamnya erat.

Matanya menatap JJ tidak lagi takut.

Hanya ada satu tekad.

“Ukh…!” napasnya tersendat, namun tangannya bergerak.

Cepat.

Tepat.

Tusss!

Pecahan kaca itu menancap ke perut JJ.

“Arghhh!!” JJ langsung menjerit, cengkeramannya di leher Jessica terlepas seketika.

Tubuhnya mundur beberapa langkah, tangannya refleks memegang perutnya yang mulai berdarah.

1
Nadila Fathania Alfi
JJ ini anak hasil hubungan luar pernikahankan? curiga dia bersekongkol sama keluarga pihak ibunya nih entah siapa itu
erviana erastus
hadehhhhh adrian sama max ini 😏😏😏 ngapain kalian bisa kecolongan gini
Dian Fitriana
update
Dian Fitriana
up lg Thor
Anonymous
Lanjut… crazy up Thor 💪💪
Anonymous
Lanjut… crazy up Thor 💪💪
Maria Mariati
benar benar di luar nulur,masak orang koma bisa bunuh orang,kalo bukan di novel mana ada,bagus thorrr lanjut kan,dan bikin heboh lagi yakk biar makin mantab 💪💪👍👍
falea sezi
pasti ulah jalang itu
Melinda Cen
lanjut perbyk eps nya lg seru nih💪
Dian Fitriana
benar jg...holdi ad perannya dgn kematian ortua Jesica...up lg
Maria Mariati
jangan jangan kematian orang Jesica ada campur tangan holdi fu
Dian Fitriana
update
Maria Mariati
hehhhhh
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!