Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.
Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!
Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34. Penyakit Cemburu Akut
Hari yang ditunggu tunggu oleh Mala pun akhirnya tiba. Seminggu sudah berlalu dan hari ini adalah hari pameran fashion yang diadakan kakak iparnya.
Semangat Mala sudah menggebu dari pagi, walaupun ia tidak tidur cukup semalam karena harus pulang malam, tapi seolah tenaganya telah pulih sempurna.
Pameran fashion yang diadakan anak perusahaan Anderson yang ada di Indonesia itu berjalan dengan sangat lancar.
Berbagai rancangan design nya yang diperagakan oleh para model tampak sempurna dan menuai pujian. Tak jarang beberapa sosialita ingin bertemu padanya dan menanyakan design - design miliknya.
"Design yang itu sungguh indah, Nona. Apa anda yang merancangnya sendiri?" Pertanyaan tersebut datang dari salah satu istri konglomerat yang tiba tiba ingin bertemu padanya saat acara selesai. Beberapa saat tadi Mala juga sempat menemui para Nona kaya yang penasaran dengannya.
"Iya, Nyonya. Itu rancangan saya sendiri." Jawab Mala.
Wanita itu tersenyum. "Beberapa minggu lagi putri saya akan menikah dan sedang mencari designer untuk merancang gaun pernikahan nya. Bolehkah saya memiliki nomor asisten Nona?"
"Tentu saja." Mala dengan senang hati memberikan nomor yang bisa dikontak wanita tersebut.
Acara tersebut menuai kesuksesan untuk kedua belah pihak. Terutama untuk butik Mala yang tergolong baru itu, mendadak banjir akan pelanggan. Entah memesan gaun atau sekedar penasaran saja.
"Terimakasih, Kak. Acara ini memberikan keuntungan besar untuk butikku. Semua ini berkat Kak Devan." Ujar Mala yang saat ini tengah menyusuri koridor dengan Devan disampingnya.
"Aku yang seharusnya berterimakasih karena kau bersedia berpartisipasi dalam acara ini. Tanpa rancangan mu, mungkin acara ini tidak akan semegah ini." Devan mengulurkan tangannya, Mala menjabatnya dengan senang hati dan melemparkan senyum termanisnya.
Ditengah pembicaraan mereka, Mala dikejutkan dengan kedatangan suaminya yang mendadak.
"Danzel." Gumam Mala. Terkejut memandang sang suami yang tampak berjalan bersisian dengan sekretaris nya.
"Sudah selesai acaranya, Sayang?. " Tanya lelaki itu penuh penekanan di akhir kalimatnya. Memandang Devan dengan sinis.
Mala meneguk ludahnya kasar, takut kalau suaminya itu mencari masalah dengan kakak iparnya yang sudah sangat berjasa untuknya.
"Bagaimana kabarmu, Danzel?" Tanya Devan.
"Seperti yang kau lihat." Datar dia menjawab.
Roy yang berdiri disebelah lelaki itu menghela napas pelan. Kalau dia ada di posisi tuan Devan, sudah ditendangnya anak yang sombong itu.
"Daddy kerap menanyakan tentangmu, dia mengkhawatirkan mu disini."
"Aku rasa Daddy Arthur hanya peduli dengan bisnis dan nama baiknya di Amerika. Tidak apa. Katakan padanya aku bahagia disini hidup dengan Opa."
Mala mencium bau pertengkaran. Demi menghindari hal yang buruk terjadi, ia mendekat kepada suaminya dan merangkul tangannya.
"Danzel, acaranya sudah selesai lebih baik kita pulang." Mala menyuguhkan senyumannya saat mengatakan itu.
Lelaki itu mengangguk kecil dan menggandeng tangan istrinya. Meninggalkan Devan disana tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kenapa berbicara dengannya?" Tanya lelaki itu saat sudah memasuki mobil. Danzel duduk dibelakang bersama Mala. Sementara Roy dengan supir didepan.
Mala menatapnya aneh. Memangnya apa yang salah.
"Kami hanya bicara biasa saja, aku berterimakasih karena Kak Devan sudah banyak membantu. Karenanya butikku menjadi untung besar."
"Kamu tahu, Danzel?.Tadi banyak sekali para nyonya kaya yang ingin bertemu denganku dan menanyakan rancangan gaunku. Ah, untung saja kak Danzel menawarkan kerjasama ini. Dia benar benar baik memberikan kesempatan untuk perintis sepertiku bergabung pada acara itu. Padahal aku lihat peserta lain adalah para butik terkenal yang sudah punya nama."
Mala bercerita dengan senyum secerah mentari dan mata berbinar binar. Menyalurkan kebahagiaan yang ia dapat hari ini dengan bercerita pada sang suami. Tapi yang tak ia sadari, pujian yang ia lontarkan menyulut penyakit akut suaminya yaitu cemburu buta.
Mala masih terus bercerita dan tak menyadari telinga Danzel yang sudah memerah mendengarnya.
"Berhenti!" Perintahnya tiba tiba yang membuat Mala menghentikan ocehannya. Mobil berhenti bukan karena perintah Danzel tapi memang didepan sana lampu berubah menjadi merah.
"Kenapa, Danzel?" Mala menatap heran suaminya.
"Turun disini!"
"Kamu mau turun? Kenapa? Kan masih jauh." Dahinya mengernyit heran.
"Bukan aku, tapi kamu yang turun! Sudah turun sana dan minta saja diantar oleh pahlawan mu itu!." Ketusnya.
Mala menggelengkan kepalanya. Tak menyangka ia mendapat suami yang begitu menyebalkan.
'Kurang ajar sekali lelaki ini. Kalau dia bukan suamiku sudah kuracuni dia tempo hari!'
Sungut Mala hati.
"Kamu serius?"
"Hmm"
"Oke, aku turun!." Mala membuka pintu dan benar benar turun dari kendaraan roda empat tersebut. Roy yang melihatnya menggelengkan kepalanya namun tak kuasa berbuat apa apa, ia tak berniat mencampuri urusan rumah tangga orang.
"Dan aku akan minta Opa Johan untuk menjemputku!" Teriak Mala di kaca mobil yang sontak membuat Danzel membulatkan matanya.
Mala segera berlalu darisana dan hilang dalam sekejap mata diantara ratusan kendaraan dibelakang.
"Siaal! Kenapa beneran turun!"
Danzel takut kalau Mala mengadukan pada Opa. Ia merutuki dirinya yang gegabah dan selalu terbawa emosi dalam menyelesaikan masalah. Danzel ingin mengejar istrinya namun lampu sudah berubah menjadi hijau dan bunyi klakson dari kendaraan lain membuat mobil itu tancap gas kembali.
"Hey, kenapa jalan?! Berhenti, aku mau mengejar gadis itu!" Seru Danzel pada sopir.
"Maaf Pak, yang di belakang sudah marah marah."
"Siall!" Umpatnya.
Roy menoleh kebelakang.
"Pak, boleh saya memberi saran. "
"Saya rasa Pak Danzel ini perlu terapi-"
"Diam!"