Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tegak di Tengah Badai
Ruang rapat utama di lantai tiga puluh itu terasa seperti sebuah kotak es. Suhu pendingin ruangan sengaja diturunkan, menambah ketegangan yang sudah memuncak di antara kedua belah pihak. Di satu sisi meja, duduk sang investor, seorang pria paruh baya bernama Pak Danu, yang sejak tadi terus mengetukkan jarinya ke atas meja mahoni dengan nada yang merendahkan. Di sisi lain, Isaac duduk dengan punggung tegak, meskipun keringat dingin mulai merembes di balik kemeja mahalnya. Hendra berdiri di belakang Isaac, wajahnya yang kaku seperti patung memancarkan aura mengintimidasi. Ia tidak berbicara, namun sorot matanya yang tajam tertuju lurus pada Pak Danu, menunjukkan bahwa ia siap meledak kapan saja jika fitnah itu kembali terlontar.
"Jadi, bagaimana keputusan Anda, Pak Isaac?" suara Pak Danu memecah keheningan, terdengar begitu percaya diri. "Saya tidak punya waktu seharian. Dana itu adalah investasi besar, dan saya tidak sudi melihatnya dikelola oleh asisten yang tidak jujur. Pilihannya sederhana: keluarkan Hendra, atau saya tarik seluruh modal saya detik ini juga."
Isaac merasakan kepalanya berdenyut hebat. Rasa mual mulai menyerang perutnya yang kosong sejak pagi, namun ia menekan perasaan itu dalam-dalam. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan di depan predator seperti Pak Danu.
"Pak Danu," Isaac membuka suara, terdengar tenang namun berwibawa. "Di perusahaan IL Architecture & Associates, kami bekerja berdasarkan data dan integritas. Saya sudah memeriksa seluruh laporan audit yang Anda pertanyakan. Hasilnya nihil. Tidak ada satu rupiah pun yang keluar tanpa persetujuan sistem. Tuduhan Anda terhadap Hendra bukan hanya tidak berdasar, tapi juga mencoreng nama baik perusahaan kami."
"Anda membela dia?" Pak Danu tertawa sinis. "Anda mempertaruhkan proyek miliaran ini hanya demi satu orang asisten?"
Isaac mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke mata Pak Danu. "Saya tidak membela satu orang asisten, Pak Danu. Saya membela kebenaran. Jika saya membiarkan Anda memecat orang yang tidak bersalah hanya karena ego Anda, maka besok-besok Anda akan meminta saya memecat siapa pun yang tidak Anda sukai. Saya adalah pemimpin di sini, bukan pion Anda."
Hendra yang berada di belakang Isaac sempat terkejut. Ia tahu betapa krusialnya dana dari Pak Danu untuk keberlangsungan proyek ini—termasuk gaji para staf dan operasional panti di perbukitan. Namun, melihat Isaac yang begitu gigih melindunginya, rasa hormat Hendra kepada atasannya itu meningkat berkali-kali lipat.
"Baik kalau begitu!" Pak Danu memukul meja dan berdiri. "Siapkan dokumen pembatalannya. Saya akan menarik dana saya, dan saya pastikan rekan-rekan saya yang lain juga akan melakukan hal yang sama. Semoga panti asuhan Anda tetap bisa makan dengan idealisme Anda itu!"
Kalimat terakhir Pak Danu tentang panti asuhan membuat rahang Isaac mengeras. Itulah titik di mana ia tidak akan memberikan ampun lagi. Isaac berdiri, meskipun kakinya terasa sedikit lemas.
"Silakan, Pak Danu. Tarik dana Anda," ujar Isaac dingin. "Tapi perlu Anda ketahui, saya sudah menyiapkan investor pengganti yang jauh lebih menghargai profesionalisme. Dan mengenai penarikan dana sepihak ini, pengacara saya akan memastikan Anda membayar denda penalti sesuai kontrak yang kita tanda tangani di depan notaris. Selamat siang."
Pak Danu keluar dengan wajah merah padam, membanting pintu dengan keras. Begitu pintu tertutup, keheningan menyelimuti ruangan itu. Isaac perlahan duduk kembali, ia memejamkan matanya rapat-rapat. Seluruh tenaganya seolah terkuras habis.
"Pak Isaac..." Hendra melangkah maju, suaranya yang tadi menyeramkan kini berubah menjadi penuh kekhawatiran. "Bapak tidak perlu melakukan itu. Saya benar-benar bisa mengundurkan diri demi kebaikan perusahaan."
Isaac menggeleng lemah tanpa membuka mata. "Jangan katakan itu lagi, Hendra. Perusahaan ini dibangun dengan kepercayaan. Jika aku membuangmu demi uang, maka aku bukan lagi Isaac yang kau kenal. Sekarang, tolong ambilkan aku air minum dan obat di laci mejaku."
Hendra segera bergerak cepat. Melihat Isaac yang tampak sangat pucat, ia menyadari bahwa atasannya sedang berada di ambang batas kemampuannya. Setelah meminum obat, Isaac bersandar di kursinya, mencoba menormalkan napasnya.
"Pekerjaan kita baru saja menjadi sepuluh kali lebih sulit, Hendra," bisik Isaac. "Kita harus mencari pengganti investor itu dalam waktu kurang dari seminggu. Aku tidak mau anak-anak di bukit merasakan dampak dari konflik ini."
"Saya akan bekerja dua puluh empat jam jika perlu, Pak," sahut Hendra mantap. "Saya akan hubungi koneksi kita di Singapura dan Surabaya. Kita akan dapatkan penggantinya."
Isaac tersenyum tipis. "Terima kasih, Hendra. Sekarang, tinggalkan aku sendiri selama sepuluh menit. Aku harus... aku harus menenangkan diriku sejenak."
Setelah Hendra keluar, Isaac meraih ponselnya. Ia melihat balasan pesan dari Luna. Luna mengirimkan foto anak-anak yang sedang belajar bersama, serta sebuah pesan pendek yang menanyakan kapan ia akan pulang. Hati Isaac berdenyut perih. Ia ingin sekali menelepon Luna, mendengar suaranya yang lembut, dan mengadu tentang betapa lelahnya ia hari ini.
Namun, ia teringat janjinya pada diri sendiri. Ia tidak boleh membuat Luna khawatir. Luna adalah dunianya yang tenang, tempat ia pulang untuk melepas lelah, bukan tempat untuk menambah beban. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengetik balasan.
[Pesan Terkirim ke Luna]
"Anak-anak terlihat sangat hebat. Terima kasih sudah menjaga mereka, Sayang. Pekerjaanku sedang sedikit rumit, tapi jangan khawatir, semuanya terkendali. Aku mungkin akan sedikit lambat membalas pesanmu karena ada banyak pertemuan mendesak. Jaga kesehatanmu di sana, ya? Aku akan segera pulang begitu semuanya tuntas. Aku merindukan masakanmu dan pelukanmu."
Isaac meletakkan ponselnya dengan berat hati. Ia merasa seperti sedang hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di satu dunia, ia adalah arsitek tangguh yang harus bertarung dengan hiu-hiu bisnis di kota besar. Di dunia lain, ia adalah suami dan ayah asuh yang harus memberikan rasa aman dan kebahagiaan.
Sore itu, Isaac kembali ke ruangannya dan mulai meninjau kembali berkas-berkas proyek lain. Tekanan tidak hanya datang dari investor, tapi juga dari beberapa kontraktor yang mengeluhkan kenaikan harga material. Ia harus menghitung ulang setiap anggaran agar tidak ada defisit yang membahayakan operasional panti.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, namun lampu di kantor IL Architecture & Associates masih menyala terang. Isaac baru saja menyelesaikan pembicaraan telepon yang cukup alot dengan seorang calon investor baru ketika ia merasakan penglihatannya sedikit kabur. Ia segera memegang tepian meja untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Satu per satu, Isaac. Satu per satu," gumamnya pada diri sendiri, mencoba memotivasi tubuhnya yang sudah menjerit minta istirahat.
Ia tahu Luna mungkin sedang menunggunya di seberang ponsel, mengharapkan obrolan panjang seperti biasanya. Namun bagi Isaac, setiap detik saat ini adalah pertaruhan. Ia lebih memilih untuk dicurigai atau dianggap dingin untuk sementara waktu, daripada membiarkan impian yang ia bangun bersama Luna runtuh karena satu kesalahan finansial di kota.
Di luar jendela kantornya, lampu-lampu kota mulai menyala, menciptakan pemandangan yang indah namun dingin. Isaac menatap ke arah utara, ke arah perbukitan yang jauh di sana. Ia tahu di sanalah hatinya berada. Dan demi menjaga hati itu tetap aman, ia bersedia menjadi pejuang yang terluka di tengah belantara beton kota ini, asalkan Luna dan lima belas anak di sana tidak pernah perlu tahu betapa berdarahnya perjuangan yang ia lalui setiap harinya.
Ia kembali duduk di depan komputernya, jemarinya mulai menari di atas keyboard. Malam ini akan kembali menjadi malam yang panjang bagi sang nakhoda panti. Namun, bayangan senyum Luna dan tawa anak-anak di perbukitan adalah bahan bakar yang membuatnya terus melaju, meski tubuhnya sudah berulang kali memberi sinyal untuk menyerah.