NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Han masih memperhatikan pria dengan leher bertato itu dari balik kontainer. Tatapannya dingin dan tajam. Nara bisa merasakan perubahan suasana wajah Han.

“Siapa dia?” bisiknya pelan.

Han menjawab tanpa mengalihkan pandangan.

“Kalau benar dia orang yang kupikirkan…” Ia berhenti sejenak, “…kita harus mundur sekarang.”

“Setuju. Sangat setuju benget,” kata Arga sambil mengangguk cepat.

“Kita tidak cukup siap masuk ke sana,” lanjut Han.

Nara masih menatap kea rah gudang itu.

“Tapi anak-anak itu…,” kata Nara cemas.

“Aku tahu,” jawab Han

Nada Han rendah, namun tegas.

“Kalau kita ketahuan, kita tidak akan bisa menolong siapa pun.”

Ia kembali melihat pria di depan gudang itu.

“Dan orang itu sangat berbahaya.”

Arga tidak banyak tanya kali ini. Ekspresi Han sudah cukup menjelaskan semuanya. Mereka mulai bergerak mundur perlahan menyusuri jalur gelap di antara kontainer. Langkah mereka nyaris tanpa suara.

Lampu sorot masih bergerak menyapu area pelabuhan. Han berjalan paling belakang sekarang, sambil mengawasi, menghitung dan memastikan mereka tidak diikuti.

Lalu,

klik.

Han tiba tiba berhenti. Suara itu sangat kecil dan halus. Nyaris tenggelam oleh suara ombak dan mesin kapal jauh di laut.

Klik.

Klik.

Itu seperti suara shutter kamera. Tatapan Han langsung berubah tajam. Ia memberi isyarat untuk berhenti. Arga langsung berhenti dan diam dengan wajah pucat.

“Kenapa lagi…” bisiknya panik.

Han tidak menjawab.  Dengan ia perlahan mengangkat kepalanya. Matanya bergerak dengan tajam menyapu atap-atap gudang di sekitar area mereka.

Klik.

Suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Dan Han menemukannya. Sosok berpakaian gelap sedang tengkurap di atas atap gudang lain. Lensa kamera panjang mengarah ke gudang nomer tujuh belas. Orang itu bersembunyi dengan cepat saat lampu sorot mulai menyapu ke arahnya. Ia beringsut mundur seperti sudah terbiasa bergerak diam-diam.

Han menyipitkan mata. Itu bukan penjaga dan bukan orang Helios. Kalau orang itu memotret dengan diam-diam, artinya ada pihak lain yang juga sedang menyelidiki tempat ini.

Sosok itu tiba-tiba bangkit, lalu berlari cepat, menuruni atap gudang. Han langsung bergerak.

“Han!” bisik Nara tertahan.

Namun pria itu sudah melesat ke dalam gelap.

“Astaga dia pergi sendiri lagi…” bisik Arga sambil membelalakan matanya

Han berlari menyusuri lorong sempit antar gudang. Langkah sosok misterius di depan sangat ringan dan cepat. Terlalu cepat untuk orang biasa. Han mengambil radio kecil dari sakunya.

“Damar!”

Suara statis terdengar sebentar.

“Ya?”

“Ada orang kabur ke arah timur.”

“Teman atau musuh?”

“Belum tahu…tapi … ia bisa membantu sekali.”

Han memotong belokan sempit sambil terus mengejar. Sosok itu melompati pagar rendah dengan gesit. Han ikut melompat tanpa memperlambat kecepatannya. Jarak mereka mulai dekat. Namun orang itu ternyata cukup terlatih. Ia menendang tong logam ke arah Han sebelum kembali berlari.

BRAK.

Tong berguling keras menabrak dinding. Han menghindar dengan melompatinya lalu kembali mengejar. Di depan, Damar muncul dari sisi jalan yang gelap dekat mobil van mereka.

“Sebelah sini!”

Sosok misterius itu langsung mengubah arah larinya.

Terlambat, Damar trelebih dahulu menerjangnya dari arah samping. Keduanya jatuh bergulingan menghantam aspal. Orang itu ternyata cukup kuat, kakinya langsung menghantam perut Damar dengan keras.

“UGH!”

Damar terguling setengah meter sambil mengumpat.

“SETAN!!”

Sosok itu mencoba untuk segera bangkit lagi. Namun Han sudah sampai disitu. Tangannya menangkap lengan orang itu lalu membantingnya ke arah tumpukan peti kayu.

BRAK.

Orang itu masih bisa melawan. Ia bergerak dengan cepat. Sikunya menghantam ke arah leher Han. Han menahannya lalu mengunci pergelangan tangannya. Damar bangkit sambil memegangi perutnya sakit.

“Gue tonjok aja ya?”

Ia mengangkat tangan dengan mengepal keras tapi Han langsung menahannya.

“Tunggu.”

Sosok itu masih berusaha memberontak saat Han menarik kupluk hitam yang menutupi kepalanya. Rambut hitam pendek sebahu tergerai keluar. Wajahnya menatap tajam kearah mereka. Ia seorang wanita.

Napas Damar tertahan sebentar.

“…cewek?”

Jaket bomber hitam dan celana kargo longgar membuatnya sekilas memang terlihat seperti pria. Tatapannya tajam dan galak. Dan jelas ia sangat tidak suka ditangkap.

Ia mencoba bicara namun Han langsung membekap mulutnya. Karena saat itu juga, suara mesin mobil terdengar mendekat. Lampu kendaraan menyapu area lorong sempit tempat mereka berdiri. Han langsung menarik wanita itu ke balik tumpukan peti besar. Damar ikut masuk sambil menahan napas. Mereka bertiga merapat dalam gelap. Sangat dekat.

Wanita itu masih mencoba bergerak. Han menekan bahunya ke peti kayu sambil tetap membungkam mulutnya.

“Diamlah,” bisiknya rendah.

Mobil hitam berjalan pelan melewati lorong. Lampu depannya menyapu peti-peti kayu selama beberapa detik. Damar perlahan menggeser tangannya ke pistol di pinggangnya.

Suasana langsung berubah jadi sangat tegang. Jika mobil itu berhenti, habis sudah, mereka bertiga pasti ketahuan.

Han tetap diam tanpa bergerak sedikit pun. Tatapannya tajam memperhatikan cahaya lampu yang bergerak perlahan melewati sela-sela peti. Wanita di hadapannya juga diam sekarang. Mungkin akhirnya ia sadar kalau situasinya akan jauh lebih buruk daripada sekadar ditangkap orang asing.

Mobil itu melambat. Sangat lambat. Lalu, radio dari dalam kendaraan berbunyi samar.

“Area belakang clear.”

Pengemudi mendecak malas dan mobil kembali berjalan, menjauhi tempat itu dengan perlahan dan menghilang di tikungan di ujung lorong.

Sunyi.

Damar menghembuskan napas panjang.

“Shiit…nyaris aja!”

Han belum melepas wanita itu. Tatapan mereka bertemu dalam gelap, dan untuk pertama kalinya, Han menyadari ada satu hal yang aneh.

Wanita ini, tidak terlihat takut sama sekali.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!