"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Di bawah taburan bintang Jakarta yang berkedip malu-malu di balik kabut tipis kota, dekapan Arvin terasa begitu nyata. Zoya bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan pria itu yang bersandar kokoh di pinggangnya.
Angin malam bertiup, membawa aroma parfum maskulin Arvin bercampur dengan wangi lavender dari lilin-lilin yang mulai meleleh di meja makan. Tidak ada musik, tidak ada suara penyanyi terkenal, hanya ada bisikan angin yang menyusup di antara pilar-pilar beton pembatas rooftop dan deru napas mereka yang beraturan.
"Zoya... tetaplah bersamaku," rintihan pelan itu kembali bergema, menyentuh sudut terdalam hati Zoya yang selama beberapa hari ini membeku akibat luka.
Zoya perlahan membuka matanya. Jarak wajah mereka begitu dekat, hingga ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di dalam manik mata hitam Arvin yang biasanya tajam, namun kini meredup penuh harap.
Di dalam benak Zoya, badai batin berkecamuk. Logikanya berteriak untuk mengingat kembali bagaimana kejamnya tuduhan Arvin kemarin, bagaimana sakitnya diusir dan dianggap sebagai wanita tanpa harga diri.
Namun, getaran di punggung tangannya saat ini memberikan sinyal yang berbeda. Pria ini sedang memohon. Sang singa Dewangga sedang menurunkan seluruh pelindungnya demi seorang gadis pesantren yang dulu ia nikahi hanya dengan selembar kertas kontrak.
Zoya menghela napas pelan, embusan napasnya menerpa kain cadar sutra emerald-nya, membuat permukaan kain tipis itu bergerak sedikit.
"Bagaimana saya bisa yakin, Arvin? Kemarin kau menganggap aku tidak lebih dari sekadar masalah yang mengotori tanganmu. Sekarang, di atas gedung ini, kamu meminta aku bertahan. Hatiku bukan mainan yang bisa kau bongkar pasang sesuai suasana hatimu."
Arvin menghentikan langkah dansanya. Ia tidak melepaskan tangannya dari pinggang Zoya, justru menariknya satu inci lebih dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan tanpa jarak.
"Aku tahu aku bersalah, Zoya. Aku bodoh," ucap Arvin, suaranya serak, menahan luapan emosi yang tertahan di tenggorokan. "Selama hidupku, aku diajarkan untuk tidak memercayai siapa pun. Di dunia bisnis, kepercayaan adalah kelemahan yang bisa membunuhmu dalam semalam. Tapi aku lupa... kau bukan rekan bisnisku. Kau istriku."
Kata 'istriku' keluar dari bibir Arvin dengan begitu alami, tanpa ada keraguan seperti sebelum-sebelumnya. Zoya terpaku. Perubahan atmosfer di antara mereka begitu pekat, merubah suasana malam yang tadinya romantis melankolis menjadi sebuah medan konfrontasi emosi yang sangat intim.
Zoya mencoba menarik tangannya dari genggaman Arvin, bukan karena benci, melainkan karena ia takut pertahanannya runtuh sepenuhnya.
Namun, Arvin menahannya. Pria itu menatap jemari Zoya yang mungil, lalu perlahan, dengan gerakan yang sangat berhati-hati seolah takut merusak sesuatu yang rapuh, tangan Arvin bergerak ke arah wajah Zoya.
Zoya menahan napas. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Jari-jemari Arvin yang hangat menyentuh tali cadar sutra emerald yang terikat di balik khimar Zoya. Ia tidak langsung membukanya, ia menatap mata Zoya, meminta izin lewat pandangan yang sarat akan permohonan.
"Boleh aku melihatmu? Tanpa ada penghalang apa pun malam ini?" bisik Arvin lembut.
Zoya tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Keheningan malam seolah menjadi jawaban setuju yang tak terucap. Dengan perlahan, Arvin melonggarkan ikatan sutra tersebut.
Kain hijau zamrud itu perlahan luruh, menyingkap wajah Zoya seutuhnya di bawah temaram cahaya lilin dan lampu kota. Bibir Zoya yang sedikit pucat namun alami, hidungnya yang bangir, dan pipinya yang merona merah akibat malu kini terekspos sepenuhnya di depan mata Arvin.
Arvin tertegun. Keindahan di depannya bukan jenis keindahan kosmetik yang biasa ia lihat pada wanita-wanita di pesta korporat. Ini adalah keindahan yang murni, yang memancarkan kedamaian sekaligus ketegasan.
"Zoya..." tangan Arvin beralih mengusap pipi Zoya yang lembut. "Demi Allah, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Termasuk diriku sendiri."
Air mata yang sejak tadi ditahan Zoya akhirnya jatuh juga, membasahi ibu jari Arvin yang sedang mengusap pipinya. "Jangan berjanji atas nama-Nya jika kamu belum tentu bisa menepatinya, Arvin. Luka di hati ini belum sembuh."
"Maka biarkan aku menyembuhkannya setiap hari. Berikan aku waktu, Zoya. Jangan kembali ke pesantren. Rumah itu... apartemen kita... terasa sangat mati tanpa adanya suaramu yang mengaji di sepertiga malam," pinta Arvin tulus.
Drama pernikahan mereka bukan lagi tentang konspirasi eksternal dari Nadia atau fitnah kampus, melainkan tentang ego dua manusia yang sedang belajar saling menerima.
Zoya yang terluka namun mendambakan sandaran, dan Arvin yang angkuh namun mendadak sadar bahwa ia rapuh tanpa wanita di pelukannya.
Setelah malam yang panjang dan penuh pengakuan di atas rooftop, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, tidak ada lagi jarak yang membentang.
Arvin menggenggam tangan Zoya dengan jemari yang saling bertautan, meletakkannya di atas pahanya, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Zoya akan menghilang bak asap.
Sesampainya di penthouse, suasana terasa berbeda. Mbok Sum rupanya benar-benar memasak hidangan sup ayam kampung hangat dan beberapa lauk kesukaan Zoya, sesuai perintah Arvin sebelum keributan tadi siang.
Aroma masakan rumah yang hangat menyambut mereka begitu pintu lift pribadi terbuka.
"Kalian sudah pulang?" Mbok Sum menyambut dengan wajah sumringah, matanya berkaca-kaca melihat tangan majikannya yang saling menggenggam. "Non Zoya... Alhamdulillah, Mbok cemas sekali setelah melihat berita di televisi tadi siang."
"Zoya tidak apa-apa, Mbok. Terima kasih sudah memasak," jawab Zoya dengan senyuman tulus yang kini belum dilihat karena ia belum membuka cadarnya di dalam rumah.
"Ya sudah, ayo langsung makan, mumpung masih hangat. Mbok permisi ke belakang dulu ya, Tuan, Non," pamit Mbok Sum, memberikan ruang privasi bagi pasangan suami istri tersebut.
Arvin menarikkan kursi untuk Zoya di meja makan mewah mereka.
Namun, alih-alih duduk di kursinya sendiri yang berada di ujung meja, Arvin justru menggeser kursinya agar bisa duduk tepat di sebelah Zoya. Jarak yang begitu dekat membuat suasana makan malam itu terasa sangat berbeda dari biasanya yang selalu formal dan kaku.
"Makan yang banyak. Kau terlihat lebih kurus setelah pulang dari pesantren kemarin," ujar Arvin sambil menyendokkan sup ke mangkuk Zoya.
Zoya menerima perlakuan manis itu dengan perasaan campur aduk. "Arvin, kamu tidak perlu berlebihan seperti ini."
"Aku tidak berlebihan. Aku hanya sedang belajar menjadi suami yang baik. Bukankah seorang suami harus memastikan istrinya cukup makan?" Arvin tersenyum menggoda, sebuah ekspresi yang sangat langka yang membuat ketampanannya meningkat berkali-kali lipat.
Wajah Zoya seketika memerah. Ia menunduk, menyembunyikan senyumnya di balik mangkuk sup. Drama rumah tangga yang sederhana seperti ini justru terasa jauh lebih menggetarkan daripada kemewahan yang selama ini Arvin pamerkan.
Selesai makan, Zoya berjalan menuju balkon kamar utama untuk menikmati angin malam terakhir sebelum tidur. Kamar mewah dengan ranjang king size yang biasanya terasa asing dan dingin kini terasa memiliki atmosfer yang berbeda.
Arvin menyusul dari belakang, membawa sebuah selendang rajut tebal dan menyampirkannya di bahu Zoya. "Jangan terlalu lama di luar, nanti kamu bisa masuk angin."
Zoya menoleh, menatap Arvin yang kini hanya mengenakan kaus rumahan hitam santai, jauh dari kesan CEO yang kaku. "Arvin, terima kasih untuk hari ini. Pengakuanmu di kampus... itu sangat berarti bagiku dan keluargaku di kampung."
Arvin bersandar pada jeruji balkon, menatap profil samping wajah Zoya. "Itu sudah kewajibanku. Dan mengenai pesantren... lusa aku akan ikut bersamamu kembali ke sana."
Zoya terkejut. "Untuk apa?"
"Untuk meminta maaf secara resmi kepada Abah dan Ummi. Aku ingin meminta izin mereka untuk mengulang kembali pernikahan ini, tapi kali ini dengan caraku, bukan karena tuntutan atau situasi," jawab Arvin dengan nada serius yang tak terbantahkan.
Zoya terdiam, matanya menatap lurus ke depan, ke arah gemerlap kota Jakarta. Di dalam hatinya, rasa penasaran dan ketidakpastian tentang masa depan pernikahan mereka masih ada.
Namun, melihat perubahan drastis pada sikap Arvin, bagaimana pria itu menekan egonya, bagaimana ia meruntuhkan ketakutannya sendiri demi menjaga perasaannya, membuat Zoya sadar bahwa babak baru pernikahan mereka baru saja dimulai.
Pernikahan mereka bukan lagi tentang siapa yang memiliki siapa, melainkan tentang bagaimana dua hati yang berbeda latar belakang bisa saling menyembuhkan luka.
Arvin perlahan melingkarkan lengannya di bahu Zoya, menarik wanita itu ke dalam dekapannya dari belakang. Kali ini, Zoya tidak menolak.
Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Arvin, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup konstan, sebuah melodi baru yang akan menemaninya menghadapi setiap kehidupan di kota besar ini.
...----------------...
Next Episode ....