Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Tragedi Bon Kosong
"Pesan dua gelas kopi karamel ukuran paling besar. Pakai susu almond. Aku yang bayar." Elvano menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam legam bertuliskan nama prioritas ke arah Aluna.
Aluna tidak langsung mengambil kartu sakti itu. Matanya melotot menatap papan menu digital yang menyala terang di atas meja kasir kedai Kopi Bintang.
"Satu gelas harganya delapan puluh ribu, Pak! Dua gelas seratus enam puluh ribu! Bapak kesurupan jin warung liwet ya? Tumben mau traktir barang semahal ini. Biasanya beli air mineral kemasan saja Bapak mikir dua kali." Aluna menatap bosnya dengan raut curiga yang sangat kental.
Elvano tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka. "Kontrak bahan baku kakao kita aman. Target profit tahun ini bisa naik tajam berkat strategi emak-emakmu tadi di warung tenda. Harga bahan baku turun signifikan. Anggap kopi ini bonus dari perusahaan atas kinerjamu hari ini."
Mendengar kata warung tenda dan makan siang, Aluna tiba-tiba menepuk jidatnya sendiri dengan bunyi pukulan yang cukup nyaring. Plak!
"Astaga naga! Pak Bos! Gara-gara Bapak jalan ke mobil sewaan cepat banget tadi, aku sampai lupa melakukan ritual wajib para karyawan yang lagi dinas luar kota!" seru Aluna panik sambil mengacak-acak isi tas selempang bututnya.
Elvano mengerutkan kening, memasukkan kembali kartunya ke dalam saku jas. "Ritual apa? Barangmu ada yang tertinggal di warung makan kotor itu? Buku catatan kerjamu hilang?"
"Bukan barang, Pak! Kertas bon kosong! Aku lupa minta bon kosong berstempel cap warung sama Bu Ning!" omel Aluna dengan wajah ditekuk parah, seolah dia baru saja menjatuhkan emas batangan ke dalam selokan.
Elvano melongo. Miliarder yang terbiasa menandatangani cek miliaran itu jelas tidak paham istilah jalanan ini. "Bon kosong? Buat apa kamu minta kertas tidak berguna begitu dari pemilik warung?"
"Ya buat diklaim ke bagian keuangan kantor dong, Pak! Kan kita habis perjalanan dinas, ada jatah uang operasional harian buat makan. Kalau ada bon kosong, aku bisa tulis sendiri harga nasi liwetnya jadi dua kali lipat! Lumayan selisihnya bisa buat tambahan beli kuota internet bulan ini!" cerocos Aluna tanpa henti, mengeluarkan isi hatinya sebagai karyawan kelas menengah ke bawah dengan sangat jujur.
Elvano masih menatap asistennya dengan tatapan tidak percaya. "Aluna, kamu sadar tidak sedang bicara dengan siapa sekarang?"
"Sama bos kulkas yang pelitnya minta ampun! Makanya aku harus pintar-pintar cari celah tambahan pemasukan. Kalau Bapak santai saja, Bapak kan orang kaya. Lah aku? Gaji dobel saja belum turun, bonus dari ngawasin Nona Elora juga masih minggu depan cairnya!"
"Bukan begitu maksudku," Elvano berkacak pinggang, berusaha keras menahan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat berwibawa. "Kamu secara terang-terangan sedang merencanakan korupsi dana operasional perusahaan. Kamu berencana melakukan pemalsuan dokumen klaim makan siang. Dan lucunya, kamu membicarakan rencana licik itu tepat di depan wajah CEO pemilik perusahaan yang uangnya mau kamu rampok."
Aluna terdiam kaku. Mulutnya setengah terbuka. Otaknya kembali melakukan proses sinkronisasi data.
Bosnya adalah CEO. Perusahaan itu miliknya mutlak. Bagian keuangan yang akan dia tipu itu adalah anak buah bosnya. Uang yang mau dia klaim pakai bon kosong itu adalah uang pria yang sedang berdiri tegak berkacak pinggang di depannya ini.
Wajah Aluna mendadak berubah memerah menahan malu. "Eh, anu, Pak. Kan cuma niat. Belum kejadian. Niat buruk tidak dicatat dosa kalau belum dikerjakan, kan? Lagian, cuma beda lima puluh ribu doang masa Bapak perhitungan banget sama bawahan yang sudah menyelamatkan omset pabrik."
Elvano menatap wajah salah tingkah Aluna lekat-lekat. Gadis ini baru saja menyelamatkan kontrak triliunan rupiah dengan negosiasi luar biasa cerdas, tapi otak pragmatisnya malah meratapi kegagalan mendapat untung recehan dari bon kosong warung makan pinggir jalan.
Perlahan, dada Elvano terasa bergetar. Bahunya naik turun. Sebuah suara yang sangat asing keluar dari tenggorokannya.
"Hahahaha!"
Tawa itu meledak begitu saja. Bukan tawa sinis seperti biasa. Bukan tawa mengejek atau meremehkan. Itu adalah tawa lepas, tawa sungguhan yang sangat tulus dan bergema di tengah hiruk pikuk ruang tunggu bandara. Kepala Elvano sedikit mendongak, deretan giginya terlihat jelas. Dia benar-benar terhibur dengan pola pikir absurd asisten barunya ini.
Beberapa calon penumpang yang lalu lalang sampai menoleh melihat pria tampan berjas rapi itu tertawa lepas di depan kedai kopi.
Aluna mematung di tempatnya berdiri. Matanya menatap lekat wajah Elvano tanpa berkedip. Selama dia mengenal pria ini, Elvano selalu memasang wajah datar, kaku, dan siap memarahi siapa saja yang membuang uang seratus rupiah. Tapi sekarang, pria itu tertawa lepas karena kekonyolannya. Wajah Elvano saat tertawa ternyata terlihat jauh lebih hidup, hangat, dan sangat memesona.
Dug. Dug. Dug.
Kali ini, bukan dada Elvano yang bergemuruh aneh. Aluna refleks menyentuh dada kirinya sendiri. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ada sensasi menggelitik yang mengalir cepat ke pipinya, membuat wajahnya terasa memanas tanpa alasan yang jelas. Pipinya mulai merona merah muda.
"Bapak, kesambet jin penunggu bandara ya?" cicit Aluna pelan, memalingkan wajahnya buru-buru untuk menyembunyikan senyum dan rona salah tingkahnya.
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁