NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Pintu kamar tertutup pelan di belakang Fania.

Bunyi “klik” itu terasa lebih keras dari seharusnya. Seolah menandai batas antara luar dan dalam. Antara yang ditampilkan dan yang sebenarnya terjadi.

Lampu kamar menyala redup dan hangat. Namun tidak cukup untuk mengusir dingin yang terasa di dalam dirinya. Fania berdiri di sana beberapa detik, dalam keterdiaman.

Masih mengenakan gaun yang sama. Masih dengan riasan yang belum ia hapus. Namun ekspresinya sudah berbeda.

Ia berjalan pelan ke arah cermin, menatap dirinya sendiri. Lama dan seolah mencoba mengenali sesuatu yang baru saja muncul.

Atau mungkin sesuatu yang selama ini ia abaikan.

Di belakangnya, pintu kembali terbuka. Ronald masuk. Langkahnya tenang seperti biasa. Menutup pintu tanpa suara, matanya langsung tertuju pada Fania. Yang berdiri membelakanginya.

Jarak mereka hanya beberapa langkah, namun terasa jauh. Ronald tidak langsung bicara. Ia melepaskan jasnya, meletakkannya di kursi. Gerakannya teratur dan terkontrol. Namun pikirannya jelas tidak setenang itu.

Fania melihat pantulan Ronald di cermin. Namun ia tidak berbalik, tidak menyapa. Tidak juga membuka percakapan hanya diam. Namun diam yang penuh isi, beberapa detik berlalu. Hanya keheningan yang menyertai.

Namun bukan hening yang kosong. Lebih seperti menunggu siapa yang akan lebih dulu kalah. Ronald akhirnya bicara.

“Kau lelah?” Nada suaranya datar, seperti pertanyaan biasa. Namun jelas, itu bukan inti dari yang ingin ia tanyakan.

Fania tersenyum tipis, masih menatap cermin.

“Iya” singkat. Namun terasa seperti dinding. Ronald mengangguk kecil. Meski Fania tidak melihatnya secara langsung.

Ia melangkah mendekat sedikit, tidak terlalu dekat. Cukup untuk mempersempit jarak, tanpa benar-benar menghapusnya.

“Lelah karena pesta” ia berhenti sejenak. Lalu melanjutkan. “Atau dari yang lain?”

Pertanyaan itu halus, namun tepat sasaran. Fania menarik napas pelan, sangat pelan. Namun terlihat di bahunya yang sedikit naik.

“Ronald” ucapnya, masih lembut. Namun kali ini ada nada peringatan. “Aku bilang aku lelah.”

Ronald menatapnya, lebih lama. Tidak puas, jelas tidak. Namun ia juga tidak memaksa secara langsung.

“Kau tampak berbeda saat di sana” langsung. Tanpa berputar lagi. Fania akhirnya berbalik, pelan. Menatapnya, tatapan mereka bertemu.

Dan di sana tidak ada lagi yang benar-benar tersembunyi.

“Semua orang berubah bukan?” balasnya. Nada suaranya masih terkontrol namun lebih tajam. “Tak ada yang tetap sama.”

Ronald mengernyit tipis. “Itu jawaban atau pengalihan?." Tepat dan Fania tahu itu.

Ia tertawa kecil, namun tidak ada hangat di sana.

“Kau sedang mengintrogasi aku?”

Ronald tidak tersenyum, tidak ikut bermain.

“Aku coba mengerti.” Kalimat itu sederhana, namun jujur.

Dan justru itu membuat pertahanan Fania sedikit goyah, hanya sedikit. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Menghindar beberapa detik. Hingga.

“Wanita itu siapa?”

Pertanyaan itu kembali muncul. Namun kali ini lebih jelas dan lebih sadar. Bukan lagi lepas kontrol.

Ronald tidak terlihat terkejut, seolah sudah menunggu. “Sepupu.” Singkat.

Fania mengangguk kecil. “Yang ‘dulu’ itu?” Nada suaranya ringan, terlalu ringan. Seperti sengaja dibuat tidak penting. Namun justru terasa sebaliknya.

Ronald menatapnya. “Iya.”

Hening lagi. Namun kali ini lebih padat. Fania melipat tangannya. Refleks.

“Kalian dekat.” Bukan tanya lebih seperti pernyataan.

Ronald menarik napas pelan. “Biasa saja.” Jawaban yang sama.

Nada yang sama, namun tetap tidak cukup.

Fania tersenyum tipis, senyum yang hampir sinis. “Oh ... biasa.” Ia mengulang kata itu, pelan.

Seolah menimbang maknanya. Lalu menatap Ronald lagi. Lebih langsung.

“Cara mu menatapnya tak kelihatan ‘biasa’.” Kalimat itu akhirnya keluar. Dan begitu keluar tidak bisa ditarik kembali.

Ronald terdiam, beberapa detik. Mencerna bukan karena tidak mengerti. Tapi karena memilih respon.

“Kau melihatnya?.” Bukan defensif. Namun juga bukan netral.

Fania langsung menjawab. “Terlihat jelas.” Cepat dan tanpa ragu.

Dan itu lebih jujur dari semua jawaban sebelumnya.

Ronald menatapnya lebih dalam. “Jadi?” satu kata. Namun membuka banyak hal.

Fania menghela napas lebih berat kali ini.

“Tak ada.”

Namun suaranya mulai berubah. Lebih emosional. Meski masih ditahan.

“Hanya aneh saja.” Ronald mengangkat alis tipis.

“Aneh?”

Fania mengangguk. “Iya.”

Ia berhenti sebentar. Seolah menimbang apakah akan lanjut atau tidak. Namun akhirnya ia melanjutkan.

“Karena aku tak pernah melihatmu sedekat itu dengan wanita.” Jujur, akhirnya.

Ronald tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya memproses. Dan di sana ada sesuatu yang mulai jelas.

“Kau cemburu.” Bukan tanya, melainkan pernyataan.

Fania langsung bereaksi dengan cepat, hampir refleks.

"Aku tak cemburu." Nada suaranya naik sedikit. Namun kali ini tidak sekuat sebelumnya.

Ronald tidak memotong, tidak menyanggah.

Hanya menatap dan itu lebih menekan daripada bantahan.

Fania mendengus pelan merasa frustrasi.

“Untuk apa aku cemburu?.” Ia menatap Ronald lagi, lebih tajam.

“Aku sudah tak mencintai mu” kalimat itu kembali. Namun kali ini lebih terasa. Lebih berat karena diucapkan dalam jarak sedekat ini.

Ronald terdiam lama. Tangannya yang tadi santai kini sedikit menegang.

“Kesepakatan yang kau inginkan.” Nada suaranya turun. Dingin bukan marah. Namun jelas menjaga jarak.

Fania menatapnya, beberapa detik. Lalu mengangguk. “Iya.” Pelan.

Namun kali ini tidak sekuat sebelumnya. Hening. Namun bukan hening yang sama seperti tadi. Ini lebih rapuh.

Fania menoleh lagi ke cermin, namun tidak benar-benar melihat. Pikirannya jauh.

Ronald masih di tempatnya, tidak mendekat dan tidak juga pergi. Namun sesuatu di antara mereka sudah bergeser. Dan keduanya tahu itu. Tanpa perlu dikatakan, beberapa detik berlalu.

Lalu Fania bicara lagi, pelan. Hampir seperti bicara pada diri sendiri.

“Harusnya memang tak jadi masalah.” Ia menelan kalimatnya sendiri. "Kan?” Pertanyaan itu menggantung.

Ronald mendengarnya dengan jelas. Namun tidak langsung menjawab. Karena ia tahu pertanyaan itu bukan benar-benar ditujukan padanya. Melainkan pada sesuatu yang lebih dalam di dalam diri Fania.

Dan di sanalah masalahnya sebenarnya berada. Ronald akhirnya menarik napas pelan.

“Kalau kau harus menanyakan nya” ia berhenti sebentar. Menatap Fania, "berarti itu masalah.” Langsung tanpa dibungkus.

Fania terdiam, kali ini benar-benar diam. Tidak ada bantahan, tidak ada penolakan. Karena untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban. Dan itu lebih mengganggu daripada apapun.

Kamar itu kembali sunyi. Namun sekarang, bukan karena tidak ada yang terjadi. Melainkan karena terlalu banyak hal yang akhirnya tidak bisa lagi dihindari.

"Aku akan mandi lebih dulu" demi menutupi kecanggungan yang terjadi, Fania memilih untuk melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

"Hm" Ronald menjawabnya dengan singkat. Netranya masih betah memperhatikan punggung Fania yang mulai hilang tertelan pintu kamar mandi.

"Kau tak lagi mencintaiku" gumam Ronald lirih dengan tawa sinis tersungging di bibirnya, ia menyugar rambutnya ke belakang merasa kesal.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!