NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran yang Tertunda

​Pagi di Amsterdam menyapa dengan cahaya pucat yang menembus tirai tipis apartemen Nina. Udara musim dingin yang menggigit masih terasa di sela-sela jendela, namun di dalam ruangan, aroma kopi panas dan roti croissant yang baru dipanggang memenuhi udara. Julian datang lebih awal, seperti janjinya semalam. Ia meletakkan nampan sarapan di meja kecil balkon dalam, mencoba menciptakan suasana hangat yang selama ini ia rindukan.

​"Makanlah, Nina. Kamu butuh tenaga setelah pementasan luar biasa semalam," ujar Julian lembut, sambil mengoleskan mentega ke sepotong roti.

​Nina duduk di hadapannya, namun tatapannya kosong menembus uap kopi yang mengepul. Tangannya hanya memainkan pinggiran cangkir porselen. Secara fisik ia berada di sana, di pelukan kota yang memuja bakatnya, namun jiwanya sedang berkelana di lorong-lorong rumah sakit Jakarta, mencari sisa-sisa ingatan seorang pria yang kini tak lagi mengenalnya.

​Julian memperhatikan setiap gerak-gerik Nina. Ia melihat kesedihan yang telah mengakar, sebuah duka yang tak mampu dihapus oleh tepuk tangan ribuan penonton. Julian tahu ada sesuatu yang besar yang disembunyikan Nina, namun ia memilih diam, berharap perhatiannya bisa memenangkan kembali hati wanita itu.

​"Nina? Kamu melamun lagi?" tegur Julian lirih.

​Nina tersentak, lalu menatap mata biru Julian yang penuh kasih. Rasa bersalah menghujam jantungnya. Pria ini terlalu baik untuk terus dibohongi dengan raga yang tak berjiwa.

​"Julian... kita harus bicara," suara Nina tenang, namun ada getaran ketegasan yang menyayat.

​Julian meletakkan pisaunya. Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah bisa merasakan arah pembicaraan ini, namun ia belum siap untuk mendengarnya. "Jika soal semalam, tentang permintaanku... aku minta maaf, Nina. Aku tidak bermaksud menekannmu. Aku hanya takut kehilanganmu."

​Nina menggeleng perlahan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Bukan soal itu, Julian. Ini soal aku. Aku tidak bisa melanjutkan ini lagi. Aku tidak bisa memberikan apa yang seharusnya kamu dapatkan dari seorang pasangan. Hatiku... hatiku tidak lagi utuh untukmu."

​*

​Keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Julian tertegun, tangannya yang berada di atas meja mulai gemetar. "Apa maksudmu? Apa karena pria di Indonesia itu? Pria yang kecelakaan itu?"

​Nina tidak menjawab dengan kata-kata, namun tangisnya yang pecah menjadi jawaban yang paling jujur.

​"Maafkan aku, Julian. Terima kasih untuk semua yang sudah kamu lakukan. Kamu menyelamatkanku saat aku hancur, kamu memberiku panggung, kamu menghargai budayaku... tapi aku tidak bisa terus membohongimu. Aku mencintaimu sebagai pelindungku, tapi jiwaku sudah tertinggal di tempat lain."

​Julian memalingkan wajah ke arah jendela, air matanya jatuh tanpa suara. Seorang pria Eropa yang biasanya logis dan tegar itu kini tampak hancur. Ia berbalik dan menggenggam tangan Nina dengan putus asa.

​"Nina, tolong... jangan putuskan sekarang. Kamu hanya sedang emosional karena berita itu. Lupakan permintaanku soal 'pembuktian cinta' itu. Aku bersedia menunggu sampai pernikahan, aku bersedia menunggu selamanya asal kamu tetap di sini. Jangan pergi, Nina. Amsterdam adalah tempatmu sekarang."

​"Tidak, Julian," Nina menarik tangannya perlahan. "Justru karena aku menghargaimu, aku harus berhenti. Kamu pantas mendapatkan wanita yang mencintaimu dengan seluruh hidupnya, bukan wanita yang setiap malam menangisi pria lain di sampingmu. Aku harus belajar berdiri sendiri tanpa sandaran siapa pun."

​Pagi itu, Julian meninggalkan apartemen Nina dengan langkah gontai. Ia membawa kembali nampan sarapan yang hampir tak tersentuh, meninggalkan Nina yang bersimpuh di lantai, menangisi kehancuran hubungan mereka sekaligus meratapi takdirnya yang tak kunjung menemukan pelabuhan yang tenang.

​***

​Beberapa hari kemudian, di Jakarta, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat memberikan lampu hijau bagi Kapten Pradipta Arya untuk pulang. Luka fisiknya telah mengering, meskipun ia masih harus menggunakan tongkat untuk berjalan dan kepalanya masih sering berdenyut hebat jika mencoba mengingat sesuatu terlalu keras.

​Rumah dinas mereka dihias dengan bunga-bunga segar oleh Maura. Wanita itu tampak sangat bersemangat. Baginya, amnesia Arya adalah berkah dari langit. Sebuah tombol reset yang diberikan Tuhan untuk menghapus Nina dari sejarah hidup suaminya.

​"Selamat datang di rumah, Mas," ujar Maura manis sambil menuntun Arya duduk di sofa ruang tamu.

​Arya menatap sekeliling dengan pandangan asing. Foto-foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding terlihat seperti gambar dua orang asing baginya. Ia merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.

​"Ini benar rumah kita?" tanya Arya datar.

​"Tentu saja, Mas. Kita sudah tinggal di sini sejak menikah. Kamu mungkin tidak ingat, tapi kita sangat bahagia di sini," bohong Maura dengan lancar.

​Selama hari-hari pemulihan di rumah, Maura bersikap sangat sempurna. Ia memasak makanan kesukaan Arya (berdasarkan catatan yang ia kumpulkan), memijat kaki Arya, dan membacakan buku-buku militer untuk merangsang ingatan suaminya. Ia sengaja melupakan semua pertengkaran hebat mereka sebelum kecelakaan. Ia memperlakukan Arya layaknya pengantin baru yang sedang dimabuk asmara.

​Maura menyadari satu hal: ia harus segera mengikat Arya secara batin dan fisik sebelum ingatan pria itu kembali. Ia mulai menggunakan pakaian-pakaian tidur yang menggoda, menebar aroma parfum yang memikat, dan seringkali menyentuh Arya dengan cara yang provokatif.

​*

​Suatu malam, saat kondisi fisik Arya sudah jauh lebih stabil, Maura masuk ke kamar dengan gaun malam sutra tipis. Arya sedang duduk di tepi ranjang, menatap ke arah jendela, tampak merenung.

​"Mas... dokter bilang kamu sudah pulih total secara fisik," bisik Maura sambil memeluk leher Arya dari belakang. "Aku sangat merindukanmu. Selama ini aku merasa sangat kesepian."

​Arya menoleh. Ia menatap wajah cantik Maura. Secara logis, wanita ini adalah istrinya. Secara moral, ia memiliki kewajiban untuk membalas kasih sayangnya. Meski hatinya terasa tumpul dan kosong—seolah ada lubang besar yang tak tahu apa isinya—Arya mencoba untuk bersikap normal. Ia pikir, mungkin dengan melakukan hubungan suami istri, ingatannya atau setidaknya perasaannya pada Maura akan bangkit kembali.

​"Maura... maafkan aku jika aku terasa dingin selama ini," ujar Arya pelan.

​Maura tersenyum penuh kemenangan. Ia mulai mencium Arya, mencoba membangkitkan gairah pria itu. Arya membalasnya, mencoba mengikuti arus yang dibawa istrinya. Mereka berdua tenggelam dalam keintiman di atas ranjang pengantin yang selama berbulan-bulan hanya menjadi pajangan dingin.

​Namun, saat hubungan itu mencapai puncaknya, ada sesuatu yang mengejutkan Arya. Sebagai seorang pria, ia merasakan hambatan yang nyata. Ada rasa sakit yang tertahan dari pihak Maura, dan sebuah kenyataan biologis yang tak bisa dibohongi.

​Arya berhenti mendadak, napasnya memburu. Ia menatap Maura yang tampak meringis namun mencoba tersenyum di bawah temaram lampu kamar.

​"Maura... kamu..." Arya terbata, matanya membelalak tidak percaya.

​"Ada apa, Mas?" tanya Maura malu-malu.

​"Kamu... kamu masih perawan?" tanya Arya dengan nada bicara yang penuh keterkejutan dan kebingungan.

​Maura terdiam, wajahnya memerah. Ia baru menyadari bahwa ia baru saja membuka rahasia yang selama ini ia tutup-tutupi. Selama berbulan-bulan pernikahan mereka, Arya yang sadar memang tidak pernah menyentuhnya. Dan Maura selalu berbohong pada keluarga besar bahwa hubungan mereka normal.

​Bagi Arya yang sedang amnesia, kenyataan ini adalah sebuah anomali besar. Jika kami sudah menikah berbulan-bulan dan kami disebut pasangan yang sangat bahagia, kenapa istrinya masih perawan? Kenapa ia tidak pernah menyentuh istrinya sendiri sebelum kecelakaan ini?

​Pikiran itu menghantam kepala Arya seperti martil. Sebuah keraguan besar mulai tumbuh di hatinya yang kosong. Ia menyadari bahwa ada potongan cerita yang tidak masuk akal dalam narasi "pernikahan bahagia" yang dibangun Maura selama ini.

​Di Amsterdam, Nina sedang menatap bulan yang sama, tidak tahu bahwa di Jakarta, sebuah kebenaran kecil baru saja meledakkan pondasi kebohongan Maura. Amnesia mungkin menghapus nama Nina dari otak Arya, namun tubuh dan insting Arya mulai mencium ada yang tidak beres dengan "kenyataan" yang ada di depannya.

1
kartini aritonang
semangat thor...lanjuuut.
kartini aritonang
saya suka karya ini , sayang sekali peminatnya sangat sedikit, Banyak karya karya bagus di nt yang sepi pembaca, semoga othor tidak lelah untuk berkarya, mungkin bukan sekarang, tetapi nanti akan banyak yang membaca karyamu thor. semangat 💪
Boa: kak😍Terima kasih banyak sudah menyukai karya sy. Terima kasih juga utk setiap like nya. sy termasuk penulis pemula disini. bisa cek karya sy yg lain juga ya kak, siapa tau suka ☺🙏
total 1 replies
falea sezi
heleh muter mbuh lah males
Indryana Imaniar
woou kereeen
falea sezi
moga Arya g plin plan lagi klo. emak loe pura2 sakit. lagi. mending nina balik ke Belanda gak balik.
falea sezi
cerai lah oon bgt jd cowok. plin. plan makan itu penyesalan salah sendiri manut ma emak mu yg kayak. lampir itu
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!