mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Saatnya Berpamitan
Jakarta masih setia dengan panas yang menyengat di siang hari. Tapi di rumah Menteng, ada kehangatan yang tidak bisa diusir oleh terik matahari. Setelah kepergian Pak Willem, keluarga ini belajar bahwa hidup harus terus berjalan. Kenangan tetap hidup, tapi waktu tidak berhenti.
Pagi itu, Eyang Kusuma—kini 84 tahun—bangun lebih lambat dari biasanya. Lastri yang menemani di kamarnya merasakan ada yang berbeda. Napas Eyang terdengar lebih berat, wajahnya pucat.
"Tante? Tante, apa kabar?" tanya Lastri pelan.
Eyang membuka mata. Senyum tipis terukir di wajah keriputnya. "Lastri... Eyang mimpi indah."
"Mimpi apa, Tante?"
"Aku mimpi bertemu Asmara. Anakku. Dia tersenyum, mengulurkan tangan. Katanya, 'Ibu, ayo pulang.'"
Lastri menangis. "Tante... jangan bicara begitu. Tante masih kuat."
Eyang meraih tangan Lastri. "Lastri, aku sudah 84 tahun. Aku sudah melihat anak-anakku tumbuh, cucu-cucuku bahagia, cicit-cicitku lucu-lucu. Aku tidak punya penyesalan."
Lastri tidak bisa menahan tangisnya. Ia memeluk Eyang, seperti anak kecil yang takut kehilangan ibu.
Di ruang keluarga, kabar menyebar cepat. Arsya yang sedang sarapan langsung berhenti mengunyah. Nadia memegang tangannya. Kalara yang sedang menyuapi Kiki, sendoknya jatuh. Raka diam, meraih tangan istrinya.
Rara yang mendengar dari pintu kamar langsung berlari. "Eyang kenapa?!"
"Tenang, Nak," kata Kalara. "Eyang hanya... sedikit lelah."
Mereka semua masuk ke kamar Eyang. Ruangan yang biasanya terang, pagi itu terasa lebih teduh. Eyang terbaring dengan selimut tipis, wajahnya tenang.
"Kalian semua datang?" bisik Eyang.
"Kami di sini, Eyang," jawab Arsya, berlutut di samping tempat tidur.
Eyang menatap mereka satu per satu. Arsya, Nadia, Kalara, Raka, Rara, Melati, Asmara, Kiki, Lastri. Semua ada.
"Eyang mau bilang sesuatu," katanya pelan.
"Eyang, istirahat dulu," potong Kalara. "Nanti kita bicara."
"Tidak. Sekarang. Eyang takut kehabisan waktu."
Suasana hening. Rara memegang tangan Eyang erat. Melati memeluk kaki Eyang. Asmara dan Kiki duduk diam, tidak mengerti tapi ikut sedih.
"Anak-anakku... Eyang bangga punya kalian. Kalian membuat hari tua Eyang berarti. Kalian mengajarkan Eyang bahwa keluarga bukan hanya tentang darah. Tapi tentang cinta."
Arsya menangis. "Eyang..."
"Dengar, Nak. Rumah ini... rumah Menteng... harus terus bernyanyi. Jangan pernah biarkan sepi. Janji?"
"Kami janji, Eyang," jawab Kalara sambil menangis.
Eyang tersenyum. Lalu matanya beralih ke Rara.
"Rara, lukislah terus. Lukis dengan hati. Jangan pernah berhenti."
Rara mengangguk, air matanya jatuh. "Rara janji, Eyang."
"Melati, menarilah. Biarkan orang lain bahagia melihatmu."
Melati memeluk Eyang. "Melati janji, Eyang."
"Asmara, jadilah anak baik. Seperti kakekmu."
Asmara mengangguk, meskipun matanya berkaca-kaca. "Asmara janji."
"Kiki... Kiki, jadilah penolong. Seperti yang kamu suka."
Kiki tersenyum meskipun menangis. "Kiki janji, Eyang."
Eyang lalu menatap Lastri. "Lastri, terima kasih. Kamu sudah menjadi anak bagiku. Jaga mereka."
Lastri tidak sanggup berkata-kata. Ia hanya mengangguk, memeluk Eyang.
"Arsya, Kalara..." suara Eyang semakin pelan. "Kalian hebat. Kalian berdua adalah anugerah terindah dalam hidupku. Anak-anak Rarasati yang kuat."
Mereka berdua memeluk Eyang.
Eyang Kusuma tersenyum. Matanya mulai terpejam. Napasnya semakin pelan. Lalu... hening.
Dia pergi dengan tenang. Dengan senyum di wajahnya. Dengan tangan masih digenggam cucu-cucunya.
Rara menjerit pelan. Melati menangis keras. Asmara dan Kiki ikut menangis meskipun belum mengerti. Orang dewasa hanya bisa terdiam, air mata mengalir tanpa suara.
Lastri menutup wajahnya. "Tante... selamat jalan..."
---
Hari-hari berikutnya, rumah Menteng dipenuhi duka. Tamu datang silih berganti, memberikan penghormatan terakhir. Rumah yang biasanya ramai dengan tawa, kini sunyi dengan tangis.
Rara tidak bisa melukis. Ia hanya duduk di kamarnya, memandangi foto Eyang. Melati tidak bisa menari. Ia duduk di pojok ruang keluarga, memeluk bonekanya. Asmara dan Kiki masih terlalu kecil untuk mengerti, tapi mereka merasakan ada yang hilang.
Arsya dan Kalara mengurus pemakaman. Lastri paling terpukul—ia kehilangan sosok ibu kedua. Raka dan Nadia bergantian menjaga anak-anak.
Pemakaman digelar di TPU Menteng Pulo. Hari itu cerah, seolah alam ikut melepas kepergian Eyang. Kerabat dari Solo datang, keluarga dari Kalimantan juga hadir. Rara dan Melati berdiri di depan makam, memegang bunga melati—bunga kesukaan Eyang.
Arsya memimpin doa. Setelah selesai, ia berdiri di depan semua.
"Eyang Kusuma... bukan hanya nenek bagi saya. Beliau adalah ibu, sahabat, guru. Beliau mengajarkan kami arti keluarga. Beliau mengajarkan bahwa cinta tidak pernah salah."
Suaranya bergetar.
"Selamat jalan, Eyang. Kami akan menjaga rumah ini. Kami akan terus bernyanyi."
Bunga-bunga ditabur. Satu per satu. Rara menabur bunga sambil berbisik, "Eyang, Rara akan terus melukis. Rara janji." Melati menabur bunga sambil berkata, "Eyang, Melati akan terus menari. Untuk Eyang." Asmara ikut menabur, "Eyang, Asmara sayang." Kiki meniru, "Sayang, Eyang."
Mereka pulang ke rumah Menteng dengan hati berat. Rumah yang dulu hangat, kini terasa sepi tanpa Eyang di kursi malasnya, tanpa teh hangat di beranda, tanpa cerita-cerita tentang masa lalu.
---
Seminggu setelah pemakaman, suasana masih sunyi. Rara belum juga menyentuh kuas. Melati enggan berlatih tari. Asmara dan Kiki lebih banyak diam, merasakan kehilangan yang tidak bisa mereka jelaskan.
Suatu malam, Rara tidak bisa tidur. Ia turun ke ruang keluarga, menemukan Arsya duduk sendirian di sofa, menatap kursi kosong Eyang.
"Om? Om juga tidak bisa tidur?"
Arsya menoleh. "Rara. Sini."
Rara duduk di sampingnya. Mereka diam sejenak.
"Om, Rara kangen Eyang."
"Aku juga."
"Rara nggak bisa lukis. Setiap kali pegang kuas, Rara ingat Eyang. Sedih."
Arsya meraih tangannya. "Rara, dengar. Eyang tidak ingin kamu berhenti melukis. Eyang ingin kamu terus berkarya. Lukislah kesedihanmu. Lukislah kenanganmu. Itu cara terbaik untuk mengenang."
Rara menatap Arsya. "Om pikir Eyang mau?"
"Eyang pasti mau. Eyang selalu bangga melihat lukisanmu."
Rara mengangguk. Ia menatap kursi kosong Eyang. Lalu perlahan, ia berdiri, mengambil kuas dan kanvas.
Malam itu, Rara melukis. Bukan pemandangan, bukan potret. Ia melukis kursi kosong Eyang, dengan cahaya matahari menerpa, seolah Eyang baru saja pergi sebentar.
Ia melukis dengan air mata. Tapi ketika selesai, ia merasa lega. Seperti ada beban yang terangkat.
"Om, lihat," panggilnya.
Arsya menatap lukisan itu. "Ini... indah."
"Rara kasih judul 'Tempat yang Masih Hangat'."
Arsya memeluknya. "Eyang pasti bangga."
---
Minggu berikutnya, giliran Melati yang mulai menari. Bukan tarian gembira seperti biasanya, tapi tarian pelan, syahdu, seperti angin yang berbisik. Ia menari di halaman belakang, di bawah pohon beringin, tempat Eyang biasa duduk.
Asmara dan Kiki menonton. Mereka tidak mengerti, tapi mereka diam.
Setelah selesai, Melati duduk di samping Kalara. "Ma, Melati nari untuk Eyang."
Kalara memeluknya. "Eyang lihat, Nak. Eyang tersenyum."
Lastri yang melihat dari beranda menangis. Tapi kali ini, tangis bahagia.
---
Bulan berganti. Duka perlahan berubah menjadi kenangan indah. Rara mulai melukis lagi. Lukisannya kali ini lebih dalam, lebih bermakna. Ia melukis Eyang bersama Pak Willem di surga, tersenyum bahagia.
Melati mulai menari lagi. Tariannya lebih matang, lebih ekspresif. Gurunya bilang ada perubahan—seperti ada kedalaman baru dalam gerakannya.
Asmara mulai bercerita tentang Eyang di sekolah. "Eyang Asmara di surga," katanya pada teman-temannya. "Dia baik. Asmara sayang Eyang."
Kiki lebih sering bertanya tentang Eyang. "Ma, Eyang ke mana?" tanyanya suatu sore.
"Ke surga, Sayang."
"Surga di mana?"
"Di atas sana." Kalara menunjuk langit.
Kiki menatap langit biru. "Eyang, Kiki sayang. Kiki janji jadi penolong, ya."
Kalara memeluknya, tidak bisa menahan air mata.
---
Agustus tiba. Dua bulan sudah Eyang tiada. Rumah Menteng perlahan kembali hangat. Bukan hangat yang sama, tapi hangat baru—hangat yang lahir dari kenangan.
Suatu sore, mereka berkumpul di ruang keluarga. Rara menunjukkan lukisan terbarunya: seluruh keluarga di halaman belakang, dengan Eyang di tengah, dikelilingi semua orang.
"Ini untuk Eyang," katanya. "Rara mau gantung di samping foto Eyang."
Mereka menggantung lukisan itu di dinding, di samping foto keluarga besar. Dua gambar bersebelahan, seolah Eyang tetap hadir.
Melati menari di halaman belakang, di bawah pohon beringin. Tarian gembira, seperti dulu. Asmara dan Kiki menari-nari di sampingnya, meskipun tidak bisa.
Lastri duduk di beranda, tersenyum. "Tante, lihat. Mereka baik-baik saja."
Angin berhembus, membawa wangi melati dari taman. Seolah jawaban dari yang di surga.
Malam harinya, mereka makan malam bersama. Meja makan tidak sepenuhnya penuh—satu kursi kosong, tempat Eyang dulu. Tapi tidak ada yang merasa kehilangan. Mereka tahu, Eyang tetap hadir dalam hati.
Arsya mengangkat gelas. "Untuk Eyang. Untuk Pak Willem. Untuk semua yang telah pergi. Mereka mengajarkan kita tentang cinta. Dan cinta tidak pernah mati."
"Untuk cinta," sahut semua.
Mereka minum bersama. Asmara dan Kiki ikut meskipun hanya air putih.
Rara kemudian angkat bicara. "Om, Ma, Ayah, Tante... Rara mau ngomong sesuatu."
"Apa, Nak?" tanya Kalara.
"Rara ingin mengadakan pameran lukisan. Untuk mengenang Eyang dan Pak Willem. Hasil penjualan akan Rara sumbangkan ke panti jompo."
Semua terkejut. "Pameran? Kamu serius?" tanya Raka.
"Serius, Ayah. Rara sudah punya beberapa lukisan. Rara mau lukis lebih banyak lagi. Rara mau cerita tentang Eyang dan Pak Willem lewat lukisan."
Arsya tersenyum. "Itu ide bagus. Om dukung."
Kami semua dukung," sahut Nadia.
Melati ikut, "Melati mau nari di pameran! Biar rame!"
Asmara angkat tangan. "Asmara mau jaga pintu!"
Kiki ikut, "Kiki mau bagi-bagi makanan!"
Semua tertawa. Suasana hangat kembali.
---
September. Persiapan pameran dimulai. Rara sibuk melukis setiap hari. Ia menghasilkan puluhan karya—potret Eyang, potret Pak Willem, pemandangan rumah Menteng, bunga-bunga, dan yang paling istimewa: lukisan seluruh keluarga di halaman belakang, dengan dua kursi kosong di bawah pohon beringin, seolah menunggu yang pulang.
Arsya membantu mengurus tempat—sebuah galeri kecil di Kemang. Nadia membantu desain undangan dan katalog. Kalara dan Lastri sibuk menyiapkan makanan kecil untuk acara. Raka mengurus promosi.
Melati berlatih tari khusus untuk pembukaan. Asmara dan Kiki "membantu" dengan cara mereka sendiri—Asmara membuat papan petunjuk dari kardus, Kiki memilih bunga-bunga untuk dekorasi.
Eyang Kusuma dan Pak Willem mungkin tidak hadir secara fisik. Tapi mereka hadir dalam setiap goresan kuas, dalam setiap gerakan tari, dalam setiap senyum yang tersungging.
Rumah Menteng bernyanyi lagi.
Bernyanyi dengan suara kuas di kanvas.
Bernyanyi dengan suara hentakan tari.
Bernyanyi dengan suara anak-anak yang tertawa.
Bernyanyi dengan suara cinta yang tak pernah padam.
Karena mereka yang pergi tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka hidup dalam kenangan.
Mereka hidup dalam cinta.
Mereka hidup dalam setiap langkah yang kita ambil.
---
**Bersambung...**
**Catatan Penulis:**
Bab 33 ini menjadi bab tentang perpisahan dan penerimaan. Kepergian Eyang Kusuma meninggalkan luka baru bagi keluarga ini. Tapi seperti semua luka sebelumnya, mereka belajar untuk sembuh. Rara menemukan cara untuk berduka melalui lukisan. Melati melalui tarian. Asmara dan Kiki melalui kepolosan mereka. Arsya, Kalara, Nadia, Raka, Lastri—mereka semua belajar bahwa berduka bukan berarti berhenti hidup.
Pameran yang direncanakan Rara menjadi simbol bahwa dari kesedihan bisa lahir karya. Dari kehilangan bisa lahir makna. Eyang dan Pak Willem tidak akan dilupakan. Mereka akan hidup dalam setiap lukisan, setiap tarian, setiap doa yang dipanjatkan.
Rumah Menteng, dengan segala suka dukanya, terus bernyanyi. Mungkin tidak selalu dengan nada yang sama. Kadang sendu, kadang riang. Tapi selalu penuh cinta.