Di pesta 1 tahun pernikahan, Reta tewas dalam kecelakaan mobil yang diatur suami dan sahabatnya sendiri.
Beruntung Tuhan memberi Reta kesempatan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan merebut semua yang pernah menjadi miliknya.
Berencana menghubungi satu-satunya keluarga yang dipercaya, malah berakhir dalam kesalahpahaman.
"Kubeli tubuhmu seharga 3M." tegas Max menatap gadis bersetelan bikini di depannya,
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan yang harus disetujui
Suasana hening di tengah ruang yang disediakan khusus oleh kampus untuk para tamu. Tanpa ada suara, tak ada pergerakan, hanya ada keheningan.
Gorden yang menghalangi cahaya luar membuat suasana semakin sunyi.
Max berdiri di depan Ana, wajahnya tegas nampak geram. Sementara Ana duduk diam di sofa dengan kepala tertunduk,
Menggenggam erat jas yang mengalung di tubuhnya.
"Bukankah kamu sudah punya banyak uang? Kenapa tidak membeli pakaian yang lebih tebal?" tanya Max, nada suaranya sedikit meninggi.
Mengomentari baju yang dianggap tak layak, sebab menunjukkan lekuk tubuh dan tembus pandang sampai memperlihatkan pakaian dalam Ana.
"Tidak apa-apa. Lagi pula saya nyaman dengan baju ini,"
Max menggeleng keheranan. "Tidak apa-apa katamu? Kamu ga lihat bagaimana penampilanmu sekarang?"
Ana bersikukuh. "Ini gara-gara kesiram air. Semua baju pun bakal begini,"
Max menarik napas, tak bisa membiarkan Ana. Langsung direbutnya kembali jas tadi, membiarkan dalaman warna merah Ana terekspos.
Ana meringkuk, sigap merangkul tubuhnya karena malu. "Bapak, apa-apaan sih?!"
"Kalau ga ikhlas pinjemin bilang dong! Pasti saya balikin, ga usah main tarik-tarik gini."
"Tadi, katanya kamu nyaman memakai baju itu. Terus kenapa malah kamu tutupi?" sindir Max,
"Enggak, kok. Siapa coba yang mau nutupi---"
Ana berdiri tegak sambil membusungkan dada, memamerkan kepercayaan diri meski harus menahan malu.
"..." Max diam, menatap lekat dua gundukan yang tampak jelas.
"Jadi kamu nyaman berpakaian seperti ini?" kata Max, mengambil satu langkah maju.
Tubuh Ana bergerak mundur, matanya berkedip karena gugup.
"Katakan, kamu nyaman memakainya?" imbuh Max merendahkan suara,
Semakin menghapus jarak, mendorong tubuh Ana ke atas sofa.
Mata mereka saling menatap, membuat jantung Ana berdegup kencang seperti akan meledak.
Mulai panik saat Max semakin mendekatkan wajahnya. Napasnya yang hangat menyentuh wajah Ana, bagai bara api yang mencoba membakar.
Tatapan dalam dan tajam yang Max lontarkan mulai menakutkan. Ana merasakan firasat buruk, ada sesuatu yang tidak beres.
Dirinya mencoba menjauh, tapi kakinya seperti terikat di tempat.
"Apa yang mau Bapak lakukan?" kata Ana dengan panik,
Max tidak menjawab, dia hanya mendekat dan terus memojokkan Ana sampai terbaring jatuh ke belakang.
DUG!
Ana berusaha mendorong tubuh Max. Namun kekuatan Max terlalu besar,
Tubuh kekar itu menindihnya, seketika Ana dibuat tak berkutik. Dirasakannya jemari yang perlahan menarik kemeja,
"Tu-tunggu, Bapak tidak boleh melakukan ini." tegur Ana,
Terusik oleh sorot penuh nafsu yang Max berikan. Lengannya reflek menahan kain tadi,
"Apa kamu sudah lupa soal kesepakatan kita?" lugas Max mengernyitkan alis.
"Lagi-lagi kesepakatan. Saya tidak lupa! Lagian kesepakatannya kan sudah berakhir, saya sudah setuju membantu Bapak malam itu."
"3 miliar hanya untuk satu malam? Bukankah kamu terlalu jual mahal." cibir Max tak terima,
"Malam itu sudah jelas kukatakan. Kalau aku membayar untuk menjadikanmu wanitaku,"
"W-wanitanya? Apa dia gila?!" batin Ana terbelalak.
Seketika teringat kalimat yang tak terlalu dihiraukan pada malam lalu.
"Saya tidak mau!"
"Kalau begitu, gampang saja. Kembalikan uangku," sahut Max dengan angkuh.
"Ng---saya...tidak bisa," gumam Ana mengalihkan pandangan.
Mana mungkin dia mengembalikan 3 miliar uang yang telah dihabiskan dalam sekejap mata.
"Kalau begitu, kamu tidak berhak untuk menolak."
Max berbisik, tangannya tak segan menerobos masuk ke dalam kain. Begitu mudah mengangkat tubuh Ana lalu menarik pengait di belakang,
"Hah!" Mata Ana membulat sempurna.
Merasakan aliran listrik yang menyengat seluruh tubuh, serta rasa geli yang menggelitik perutnya.
Ketika Max menunduk dan mengendus kuat leher jenjang Ana,
"Mhm..." tubuh Ana menggeliat,
"Yang benar saja. Menjadi wanitanya? Jadi dia rela menghamburkan uang sebanyak itu demi menjebakku? Dasar om-om mesum!" hardiknya dalam hati,
Tak ragu menahan dengan kedua telapak agar tubuh mereka tak saling bersentuhan.
"Hhh!" Max menyeringai licik,
Penolakan Ana justru semakin membuatnya bersemangat. Bergerak mencengkram pergelangan Ana dengan satu telapak tangan dan ditarik ke atas sofa.
"Tunggu!" sontak Ana tak kehabisan akal,
Berusaha mengulur waktu. "Pintu, pintunya belum dikunci."
"Tenang saja, tidak akan ada yang berani masuk tanpa seizinku." sanggah Max bersiap melanjutkan aksi,
"Jangan! Lebih baik kunci pintunya dulu."
Max mendengus, terpaksa menuruti.
Sejenak Ana bisa bernafas lega, melihat punggung itu mulai menjauh.
Tubuhnya bangun, mengusap lembut pergelangan yang terasa panas. Bersiap untuk berdiri,
"Mau kemana kamu?" tegur Max, suaranya terdengar lantang.
Ana terjingkat kaget, perlahan menoleh dengan senyum kikuk. "Hehe, saya cuma mau ambil minum."
"Jangan kamu pikir, aku akan melepaskanmu. Urusan kita belum selesai," imbuh Max terdengar serius.
GLEK!
Ana menelan saliva, selangkah-demi selangkah bergerak mundur ketika Max berjalan mendekat.
Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu yang mengalihkan perhatian.
TOK!
TOK!
TOK!
Mereka serentak menoleh,
"Cih! Mengganggu saja." kata Max tampak kesal,
Ana tersenyum lega, melihat Max pergi untuk membuka pintu.
Di sana dia melihat Fero, sekretarisnya datang membawa 1 tas belanja.
Max menatap Fero dengan penuh kebencian, membuat Fero tidak nyaman.
Dia bingung, tak tahu apa yang salah. "Ini, baju yang anda minta, Pak."
Max merebut tas belanja itu dengan kasar, semakin menyudutkan Fero seperti telah melakukan kesalahan fatal.
"Ya sudah, cepat pergi." suruh Max, dengan nada dingin.
"Anu---sebentar lagi seminarnya akan dimulai. Rektor kampus sudah menunggu---"
"Aku tahu. Aku akan menyusul sebentar lagi," menyahuti datar.
Fero mengangguk, merasa tidak nyaman. Tak tahan oleh tatapan tajam yang terus Max lontarkan,
jangan lupa mampir juga di novel saya judul nya"Dialah sang pewaris" di tunggu yah kaka semua