INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Siang dengan matahari Jakarta yang terasa terik, di dalam mobil hitam berlapis kaca gelap.
Aditya Suradinata duduk di kursi belakang sambil memegang ponselnya, kacamata hitam menutupi sorot matanya, namun garis rahangnya tegas.
Di tangannya, ponsel menyala menampilkan laporan singkat.
Emas batangan yang ada dalam petikemas aman, begitu juga dengan petikemas berisi senjata---lolos pemeriksaaan awal.
Pria yang sudah paruh baya itu duduk tenang di kursi belakang,duduk di mobil yang mau berjalan ke Tanjung Priok.
Sudut bibirnya terangkat tipis, saat mengetahui barangnya aman.
Sementara dari Hanna jika misi Gani dan Nayla di sebuah Desa Cikadut aman, sabu dan ganja berhasil di sembunyikan dengan aman.
"Nayla...apa aku harus menikahkan kamu ya, Nak."
Sejenak Aditya menghela napas sambil memejamkan mata, dirinya memikirkan sesuatu agar tak kehilangan Nayla.
"Itu saya lakukan agar kamu aman dari kejaran orangtua yang sudah menyakitimu."
Lalu sang supir mengatakan, jika sudah sampai---yang membuat lamunannya menjadi terbuyar.
"Boss kita sudah sampai," ujar anak buahnya.
Aditya hanya menganggukkan kepalanya, langkah kakinya turun dari mobil.
Dirinya ke Pelabuhan Tanjung Priok hanya untuk memeriksa barang-barangnya.
Sudut bibirnya terangkat tipis, lalu tangannya membuka kacamatanya.
Barang-barang hasil dari penyelundupan----dari negara tetangga.
Hal ini bukanlah operasi kecil, karena jalurnya sudah di rancang rapi, dokumen dimanipulasi, nomer kontainer berhasil di samarkan.
Bahkan beberapa petugas pelabuhan oleh anak buah Aditya juga di suap, agar di bersihkan jejaknya.
Langkah Aditya berjalan dengan di kawal bodyguard di belakangnya mengenakan jas rapih.
Matanya menatap sekeliling, kontainer warna-warni menjulang tinggi, kapal kargo besar bersandar.
Crane untuk pemindah muatan bergerak lambat saat mengangkat kontainer agar barang-barang di dalamnya aman.
Seorang pria berkemeja dinas berjalan mendekat saat mobil berhenti di titik tertentu.
Itu adalah Raffi.
Seorang pria berkemeja dinas mendekat saat mobil berhenti di titik tertentu, menunduk hormat pada pria yang di panggil 'Pedro'.
Melalui jendela yang terbuka sedikit, Hanna duduk mengawasi.
"Pedro biar aku yang membawa muatan emas-emas itu ke rumah," ucap Raffi.
Aditya hanya mengangguk dan menepuk pundak Raffi dengan bangga, lalu tiba-tiba ponselnya berdering.
Cuaca terik tak di hiraukan para mafia itu, karena mereka tak peduli dengan panas.
Mereka hanya peduli dengan bisnis yang nanti akan lancar, "Hanna untuk apa meneleponku."
Hanna adalah bawahan Aditya, wanita mafia itu mengenakan atasan lengan panjang dengan rambut di ikat dan bibir berpoles lipstick merah menyala.
Tak lupa tangannya memegang rokok, wanita itu tengah duduk di dalam mobil.
"Boss semua terkendali, untuk sabu aman. Tapi bagian cyber mengatakan jika Fahad sedang bekerja sama dengan kepolisian mencari Nayla."
Mendengar itu Aditya langsung tersedak kaget dan membulatkan matanya.
"Apa!!" ucapnya.
Hanna melanjutkan dengan memegang ponsel sambil merokok santai.
"Apa yang harus kita selamatkan jika Nayla tertangkap," ujar Hanna.
"Barang-barang kita atau Nayla?" tanyanya.
Aditya langsung memijit pelipisnya, dirinya harus melakukan sesuatu.
"Hanna ambil ponsel Nayla dan Gani tetap awasi mereka dan pastikan barang-barang kita aman," ucap Aditya.
"Jika Nayla tertangkap biarkan dia tertangkap asalkan barang kita aman,"lanjutnya.
"Baik boss," ujarnya.
Hanna mematikan ponselnya lalu menghirup aroma rokok, dirinya menghela napas.
Membayangkan wajah Nayla.
Tentu saja Aditya lebih memilih bisnisnya daripada Nayla---seorang gadis yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.
Padahal Nayla sudah berusaha melayani Aditya selayaknya anak sendiri, tapi pria itu malah memilih barang-barangnya dibanding rasa cinta seorang anak dari Nayla.
Sungguh Ironi, satu di korbankan sementara bisnisnya aman.
Raffi mendata barang-barang itu lalu di masukan ke dalam mobil, dirinya sebenarnya sempat menguping apa yang akan Aditya lakukan.
Tapi hanya sebagian rencana Aditya saja.
"Raffi," panggil Aditya.
"Iya Pedro," sahutnya.
"Bagaimana apa sudah di data?" tanya Aditya.
“Semuanya sesuai arahan, Pak. Kontainer sudah dipindahkan ke gudang transit. Tidak ada pemeriksaan lanjutan," ujar Raffi.
"Bagus, Nak." kata Aditya.
Lalu Aditya menelepon bagian cyber untuk menanyakan sejauh mana kepolisian bergerak, karena dirinya tak mau kecolongan lagi.
Nayla pernah terluka hanya untuk menyelamatkan bisnisnya, namun Aditya malah lebih memilih bisnisnya daripada Nayla.
"Hallo bagaimana?" tanya Aditya.
"Lapor Boss, kepolisian Malang tengah bergerak memantau gudang sabu dan ganja kita yang akan di kirim ke Australia," ujar Tim Cyber bernama Fandi.
Aditya memijit pelipisnya lalu dirinya segera melakukan sesuatu.
"Bagaimana cara agar ponsel Nayla diamankan, karena disitu ada data yang penting," kata Aditya.
"Data di ponsel Nona bisa kita curi untuk menghindari pelacakan," kata Hacker itu.
"Bagus, tolong kerjasamanya," ucap Aditya.
Pria itu berjalan mengenakan kacamatanya masuk ke dalam mobil kembali.
Mobil itu kembali bergerak menuju area gudang pelabuhan, untuk memeriksa hasil penyeludupannya.
Di dalam kontainer tertentu, emas batangan tersusun rapi dalam peti kayu dan siap di angkut Raffi.
Sementara di peti lain, terdapat senjata-senjata terbungkus plastik hitam, siap di distribusikan ke Desa tempat Nayla dan Gani bertugas.
Karena disana mereka akan bertempur dengan aparat, apalagi Nayla yang sudah amat membenci keluarganya.
Setelah selesai Aditya bersandar di dalam mobil yang mengangkut peti emas.
Keuntungan dari emas akan menggandakan kekayaannya, sedangkan senjata adalah kekuasaannya.
Raffi segera mengirimkan pesan singkat pada Nayla.
Pesan agar Nayla waspada karena tadi Aditya akan melakukan sesuatu pada ponsel Nayla, dan akan ada banyak senjata yang di kirim.
Sementara di lain sisi.
Nayla yang sedang merokok sambil menyelundupkan sabu kepada warga desa, amat kaget membaca pesan dari Raffi.
"Gan! Gani!" teriak Nayla.
Gani yang sedang mendata dan sibuk menguburkan jasad pria yang mengaku suami Ningsih itu---Memutar bola matanya jengah.
"Apaan sih kak?! Sini gua lagi sibuk tahu!" ujar Gani.
Nayla segera berlari menuju Gani dan menunjukkan ponselnya, sontak saat membaca pesan dari Raffi.
Mata Gani membulat dan mulutnya melebar, "What the fu*ck!" umpat Gani dengan tab di tangannya.
"Terus kita harus gimana cokk?" tanya Nayla.
Gani dan Nayla sama-sama sibuk, satu sama lain di sertai panik, karena tak biasanya satu peti senjata di kirimkan begitu saja oleh Aditya jika tak ada sesuatu.
*
*
*
*