Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Runtuh Diam-Diam
"Nona." Winda menghampiri Shafiya yang sedang duduk membaca. "Tuan Agam menunggu Anda di luar."
Shafiya menutup bukunya. "Agam?"
"Benar."
Shafiya mengangguk. Ia kemudian bangkit, berjalan keluar kamar. Ratri sudah menunggu di luar. Selanjutnya ia memimpin langkah melewati beberapa koridor menuju ke ruang depan.
Agam berdiri di sana. "Maaf ganggu," katanya langsung, saat melihat kedatangan
Shafiya. "Tapi saya perlu bawa kamu sekarang."
Shafiya sedikit mengernyit. "Sekarang?"
Agam mengangguk.
"Iya."
"Kemana?"
"Adinata Holding."
Shafiya menatap Agam beberapa detik lebih lama. Mencari sesuatu di wajah lelaki itu.
"Perintah Sagara?"
"Siapa lagi."
“Kenapa tidak dia sendiri yang hubungi saya?”
Agam menarik napas pendek.
Bukan ragu--lebih ke… memilih untuk tidak membuka terlalu banyak.
“Dia lagi di tengah jadwal padat.”
Nada suaranya tetap tenang.
“Tapi dia minta kamu datang.”
Shafiya diam.
Ada banyak kemungkinan yang bisa ia pikirkan. Tapi tidak satu pun yang terasa tepat. “Ada sesuatu?” tanyanya akhirnya.
Agam menggeleng kecil.
“Harusnya tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.”
Harusnya.
Shafiya menangkap kata itu.
Tapi tidak memperpanjang.
"Saya minta waktu lima menit untuk bersiap," kata Shafiya yang langsung diangguki setuju oleh Agam.
Lima menit kemudian mobil Agam keluar dari area Adinata Residence 3. Hanya ada Shafiya di dalamnya. Ia duduk di kabin tengah, sedangkan Agam bertindak sebagai sopir. Tak ada percakapan apapun selama perjalanan sampai akhirnya
mobil berhenti tepat di depan gedung Adinata Holding.
Langkah Shafiya turun terukur.
Seperti biasa--tenang, rapi, tanpa tergesa.
Namun begitu ia memasuki lobby, ada satu hal yang langsung terasa berbeda.
Agam memimpin langkah di depannya. Sesekali menoleh--memastikan Shafiya tetap mengikuti dengan aman.
“Lewat sini."
Agam mengarahkan ke koridor yang berakhir di depan lift khusus.
Shafiya tetap mengikuti tanpa bertanya.
Tapi langkahnya sedikit melambat sepersekian detik saat hendak memasuki lift khusus itu.
Lift terus naik. Tidak berhenti di lantai mana pun. Langsung ke atas.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan.
Hanya suara mesin lift yang halus.
Dan satu perasaan yang mulai terbentuk--pelan, tapi pasti:
Ada sesuatu yang terjadi dengan Sagara.
Pintu lift terbuka.
Koridor lantai eksekutif tampak lebih sunyi dari biasanya.
Beberapa staf yang mereka lewati menunduk hormat, meski ada sebagian yang mencuri lihat.
Tapi tidak ada yang berani menatap lama.
Seolah yang lewat di depan mereka adalah Sagara.
Agam berhenti sejenak di depan meja Kaluna. Gadis cantik itu menatap Agam tanpa kata, tapi tatapannya bertanya lebih banyak dari sekedar bahasa. Dan tatapan itu berubah saat membentur wajah cantik Shafiya.
"Masih di dalam?" tanya Agam seraya memberi isyarat ke ruangan eksekutif yang tertutup.
Kaluna mengangguk. Sekali.
Agam maju ke depan pintu.
Mengetuk sekali.
“Masuk.”
Suara itu terdengar dari dalam.
Tetap sama. Datar. Tegas.
Namun bagi Shafiya--ada yang tidak tepat.
Pintu dibuka.
Sagara berdiri di dekat meja kerjanya.
Tablet masih di tangan.
Beberapa dokumen terbuka di layar besar di belakangnya. Ia tidak langsung mendekat.
Juga tidak menyambut.
Hanya menatap.
“Sudah datang.”
Kalimat yang sederhana. Nada biasa.
Tapi Shafiya berhenti satu langkah setelah masuk. Matanya menangkap sesuatu dengan Cepat.
Cara Sagara berdiri. Terlalu tegak.
Terlalu diam. Seolah tubuhnya sedang menahan sesuatu.
“Ya,” jawab Shafiya pelan.
Agam tidak masuk lebih jauh.
Ia hanya berhenti di dekat pintu.
Mengamati.
Sagara meletakkan tablet ke meja.
Gerakannya terkontrol.
"Duduklah di sofa."
Shafiya mengangguk. Tatapannya tak lepas dari Sagara.
“Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Tanpa rencana.
Satu detik. Sagara diam.
“Ya.” lalu menjawab dengan cepat.
Shafiya tidak mengangguk. Ia lalu duduk.
Sagara menatapnya sejenak. Mendekat, lalu duduk tak jauh dari perempuan itu.
Saat itulah Agam keluar ruangan.
"Ada apa memanggil saya kemari?"
Sagara tidak menjawab. Ia sedang merasakan tubuhnya seperti bergerak di luar kendali.
Aroma Shafiya yang samar tercium.
Dan nyeri yang sejak tadi ia tahan--
bertemu. Beradu.
Yang satu melemah.
Dan yang lain… mengambil alih.
Sagara menarik napas pelan.
“Kamu menahan sesuatu.” Suara Shafiya kembali terdengar.
"Ya." Sagara menjawab cepat. "Tadi hampir tak terkendali." Menatap Shafiya sesaat.
"Sekarang tidak lagi."
Shafiya diam. Ucapan itu tidak sepenuhnya dimengerti, tapi ia memilih tidak bertanya.
"Lima menit lagi, saya ada meeting."
Sagara mengatakan itu tanpa menatap.
Fokusnya masih pada tubuhnya sendiri yang perlahan mulai stabil.
"Kamu di sini," lanjutnya.
"Jika butuh sesuatu, panggil saja." Ia memberi isyarat pada Interkom di dekat meja. "Seseorang akan datang."
Setelah itu ia bangkit.
"Jadi." Satu kata dari Shafiya menahan langkahnya. "Tujuan kamu memanggil saya kemari, apa?"
"Tidak ada yang spesifik."
"Lalu?" Shafiya menunggu.
“Hanya agar kamu…”
Kalimat itu terpotong sejenak
Untuk pertama kalinya Sagara seperti masih memilih kata.
“…dekat dengan saya.”
...
...
Di luar ruangan.
Kaluna tidak menggeser pandangannya sedikit pun dari Agam, sejak lelaki itu keluar hingga kini berdiri tak jauh di hadapannya.
“Tanyakan saja.”
Agam sudah terlalu paham arti tatapan itu.
“Perempuan itu… siapa?”
“Siapa dia,” jawab Agam tenang, “kamu bisa tanyakan langsung pada Sagara.”
Kaluna menggeleng.
“Aku takut mendengar jawabannya.”
“Tapi tetap ingin tahu.”
Senyum miring Agam tipis. Nyaris tidak terlihat.
Kaluna menghembuskan napas pelan. Menyandarkan tubuhnya ke dinding.
“Ini… di luar kebiasaan Sagara.”
Tatapannya masih belum lepas.
“Dia tidak pernah membiarkan orang asing sedekat itu.”
Agam menatapnya. Kali ini lebih lama.
“Dia bukan orang asing.”
Hening.
“Lalu?”
Suara Kaluna turun setengah nada.
Agam tidak langsung menjawab.
Sepersekian detik--ia seperti menimbang sesuatu.
“Namanya Shafiya.”
Jeda yang disengaja.
Lalu...
"Istri Sagara," lanjutnya.
Kaluna terdiam.
Tatapannya masih mengarah pada Agam--tapi tidak lagi benar-benar melihat.
Bukan karena terkejut. Tapi karena sesuatu yang runtuh diam-diam.
Juga… semuanya tiba-tiba masuk akal.
Dan justru itu--yang paling menyakitkan
Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Keren, Kak Naj...