ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5—Menyenangkan Sang Ratu
Hari sudah minggu. Sekolah libur, Rahmat seharusnya menjaga Galeri kalau kalau ada pengunjung tamu penting atau hama. Namun ia menyerahkan hal itu kepada Maya, sekarang gadis itu menjaga di lantai satu, duduk di kursi dan meja, sebuah laptop terpampang di depannya.
Ada sedikit keraguan meninggalkan gadis itu sendiri bukan karena tidak percaya akan kemampuan melainkan dia takut kalau datang pengunjung dan dengan kemampuan sosial yang rendah gadis itu akan mengacau.
Tapi dia memutuskan untuk percaya saja, lagian status Gelari milik dia belum buka resmi. Untuk sekarang ada hal yang lebih penting lagi, dia baru saja ingat tentang tanggal dan hari ini.
Rahmat melihat kalender di layar ponselnya. 22 November melingkar merah. Ia menepuk jidatnya pelan, hampir saja ia tenggelam dalam barisan kode dan urusan Galeri sampai melupakan hari paling sakral bagi wanita yang telah membesarkannya dalam kemiskinan selama belasan tahun.
"Maya, aku titip Galeri sebentar. Ada urusan mendesak," ucap beberapa saat lalu sebelum meninggalkan gadis itu sendiri.
Maya hanya mengangguk patah-patah tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "I-iya, Kak Rahmat. Hati-hati di jalan... Kak Rahmat."
Sekarang Rahmat sampai di salah satu Mall paling elit di pusat kota. Tempat di mana satu helai kemeja harganya bisa setara dengan gaji promotor handphone (A/n author mantan sales hp, wkwk jadi masukin aja) selama tiga bulan.
Dulu, jangankan masuk, lewat di depan pintunya saja Rahmat sudah merasa minder karena pakaiannya yang lusuh.
Namun sekarang, ia berjalan dengan langkah tegak.
Tentu saja dia tidak datang sendirian. Ibunya Dewi sudah berdiri di samping.
Ibu Dewi tampak ragu. Tangannya yang kasar karena bertahun-tahun bekerja berat sesekali membenahi rambut yang sudah pudar mulai memutih.
Matanya menatap gedung mal megah itu seolah-olah itu adalah istana terlarang.
"Rahmat, beneran kita kesini? Kayaknya tempat ini kemahalan buat Ibu. Kita cari di pasar Beringharjo aja ya, Le?" bisik Ibu Dewi, suaranya sedikit gemetar.
Rahmat tersenyum tipis. Ia jadi teringat dulu ibunya sakit-sakitan, dibawa ke rumah sakit. Rahmat yang dulu sangat miskin kesulitan membayar. Setelah dia mendapatkan berkah sistem, dia bisa melunasi tunggakan tersebut, bahkan sang ibu sekarang tampil sehat-sehat saja.
Saat ibunya sehat Rahmat juga dengan cepat membawanya ke sebuah hotel alfaris bintang 5—yang dia dapatkan dari hadiah sistem. Dia berkata saat itu bahwa dia kerja di sana dan manajer hotel mengizinkan sang ibu dan dirinya untuk sementara waktu tinggal disana.
Namun setelah semua yang terjadi dia masih belum menjelaskan dengan sang ibu, tentang dia pemilik hotel yang mereka tempati sekarang, tentang dia yang diam diam membuka usaha galeri, dan tentang kekayaannya.
Ia sesekali juga sudah membelikan baju baru untuk sang ibu, dia tidak akan jadi anak durhaka yang lupa kulit. Tentu semua yang dia belikan adalah bermerk dan mahal.
Namun setiap kali dia menyerahkan pakaian itu ke sang ibu, dia terlihat mengerutkan kening, mengatakan ini pasti mahal. Di saat itulah Rahmat hanya terpaksa berbohong bahwa itu cuma baju murahan di pasar.
Sekarang adalah hari ulang tahun ibunya, Rahmat ingin sedikit jujur kali ini. Paling tidak dia mau Melihat ibunya banga bahwa sekarang anaknya mampu membeli barang barang mahal tepat di depan matanya sendiri tanpa berbohong.
Rahmat semakin bersemangat, ia merangkul bahu ibunya dengan mantap.
"Ibu, hari ini hari spesial. Jangan pikirin harga. Rahmat cuma mau lihat Ibu pakai baju yang nyaman. Ayo, masuk."
“Baju kan kamu kemarin kemarin sudah sering beli? Katanya yg kamu bilang di pasar itu. Kalau kita mau beli disana saja! Jangan disini, hemat!”
Andai saja ibunya tahu bahwa baju baju yang kemarin kemarin dibeli untuk ibunya adalah barang mahal yang jelas bukan dari pasar Mungkin dia sudah menjerit histeris.
Begitu melangkah melewati pintu kaca otomatis, embusan AC yang dingin dan aroma parfum mahal langsung menyambut mereka. Penampilan mereka memang kontras; Rahmat dengan gaya santainya, dan sang Ibu dengan pakaian sederhana yang sangat menunjukkan kelas ekonomi mereka dulu.
Mereka berhenti di depan sebuah gerai brand ternama dari Perancis. Seorang pelayan pria dengan setelan jas rapi berdiri di depan pintu, matanya memindai dari bawah ke atas saat melihat Ibu Dewi.
Ada kerutan tipis di dahi pelayan itu, jenis tatapan yang sangat dikenal Rahmat: tatapan
"Anda salah masuk toko".
"Maaf, Pak, Bu... Koleksi di dalam sedang terbatas untuk tamu appointment," ucap pelayan itu dengan nada yang dibuat-buat sopan, padahal toko di belakangnya tampak kosong.
Rahmat tidak terpancing emosi. Ia sudah kebal dengan diskriminasi seperti ini. Tanpa suara, ia merogoh dompet kulitnya, mengeluarkan sebuah kartu hitam legam dengan aksen emas yang elegan—itu adalah Black VIP Card yang dia dapatkan dari menyelesaikan misi dulu.
Rahmat tidak menyodorkan kartu itu, ia hanya menggunakannya untuk menunjuk salah satu manekin di etalase. "Saya mau lihat gaun itu untuk Ibu saya. Bisa?"
Pelayan itu nyaris tersedak ludahnya sendiri. Sebagai pekerja di mal elit, dia tahu kartu itu bukan sekadar kartu kredit biasa. Itu adalah tiket masuk ke kasta tertinggi perbankan yang limitnya bisa membeli satu ruko di mal ini.
"E-eh... Tentu! Tentu saja, Tuan! Mohon maaf, silahkan masuk! Mari saya antar ke ruang privat!" Pelayan itu mendadak membungkuk dalam, wajahnya berubah drastis dari merendahkan menjadi sangat menjilat.
Ibu Dewi melongo. Dia bingung melihat orang berseragam rapi itu tiba-tiba memperlakukannya seperti seorang ratu. "Le, itu kartu sakti apa? Kok dia jadi kayak ketemu bupati gitu?”
Rahmat tertawa kecil, menenangkan sang Ibu. "Ini cuma kartu langganan Bu. Tenang saja."
Di dalam ruangan VIP yang dilapisi beludru, Ibu Dewi mencoba beberapa gaun sutra yang sangat halus. Saat melihat bayangannya di cermin—wanita tua yang selama ini tertutup debu jalanan kini tampak anggun seperti nyonya besar—mata Ibu Dewi berkaca-kaca.
"Ibu cantik banget, Bu," puji Rahmat tulus.
"Ini... terlalu mahal, Rahmat. Ibu takut ngerusakin bahannya," ucap sang Ibu sambil meraba kain sutra itu dengan sayang.
"Buat Ibu, nggak ada yang kemahalan," jawab Rahmat tegas. Ia menoleh ke pelayan yang sejak tadi berdiri siaga dengan wajah tegang.
"Bungkus tiga warna yang berbeda. Semuanya."
[ Ding! ]
[ Misi Sampingan: Senyum Sang Ratu Selesai!]
[ Anda menghabiskan Rp85.000.000 untuk bakti kepada orang tua. ]
[Hadiah
Rp 70.000.000
Kemampuan double cashback lv up →2 (dari 30% aktif menjadi 40% aktif]
Rahmat berhenti dan menatap layar. Siapa sangka ini juga bagian dari misi, baginya tanpa ada misi juga dia akan melakukan hal ini, namun dengan bonus reward membuat dia makin semangat.
[Ding!]
[Kemampuan double cashback lv 2 aktif
[ Selamat! Anda mendapatkan Cashback Sistem 2x lipat: Rp170.000.000! ]
[ Saldo rekening Anda telah diperbarui. ]
Rahmat menyeringai di balik punggung
Ibunya. Belanja untuk Ibu malah bikin dia makin kaya. Sistem ini benar-benar mengerti arti "anak berbakti".
Dan untuk pertama kali kemampuan double cashback Aktif, dia kurang hoki soalnya .
Tapi sekarang kemampuan itu sudah naik level 2 peluang jadi 40%
Ditambah dia punya Artefak peningkat keberuntungan. Acara belanja Belum juga kelar!
"Sekarang, kita cari sepatu dan perhiasannya, ya?" ajak Rahmat.
Ibu Dewi hanya bisa pasrah, menyeka air mata bahagianya dengan tisu yang disodorkan pelayan. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya, tapi ia bisa merasakan satu hal: masa-masa sulit mereka benar-benar sudah berakhir.
Sementara Rahmat semakin bersemangat untuk mencoba kemampuan double cashback yang meningkat jadi hampir 50:50.
Dan saat itulah seseorang yang dia kenal datang.
“Eh, kak Rahmat?” Seorang gadis berambut sebahu dengan topi telinga kucing yang terlihat familiar menatapnya. “Ah, aku benar itu kak Rahmat! Hahaha kebetulan sekali. Kakak lagi belanja ya?”
Dan dia ketambahan satu personil untuk mencoba kemampuan itu. Dia pun tersenyum.
“Kamu datang di waktu yang tepat!”