Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelapan yang Disembunyikan
Kael berjalan ke tengah ruangan, semua mata mengikuti gerakannya.
"Jauh sebelum Ryzen datang ke laboratorium," katanya,
"gue sudah lebih dulu hidup di sana. Merasakan penyiksaan setiap hari."
Dia menutup mata sejenak, mengingat kembali neraka yang dia alami.
"Suntikan dari berbagai jenis obat yang membuat tubuh gue terasa terbakar dari dalam. Peralatan yang selalu terpasang, kabel, jarum, monitor. Seperti gue adalah mesin, bukan manusia. Percobaan pembunuhan, mereka memasukkan gue ke ruangan dengan suhu ekstrem, dengan racun, dengan berbagai cara untuk melihat seberapa kuat tubuh gue bertahan."
Suaranya datar sekarang, seperti robot yang membaca laporan.
"Tapi gue punya cara tersendiri untuk hidup. Gue berpura-pura bodoh. Berpura-pura lemah. Berpura-pura menjadi produk yang cacat."
Kael membuka matanya, menatap Rafael.
"Mereka menambahkan sel di dalam tubuh gue. Sel yang meningkatkan IQ, membuat otak gue bekerja lebih cepat, lebih efisien. Kekuatan fisik yang meningkat, otot yang lebih padat, tulang yang lebih kuat."
Dia berhenti sejenak.
"Dan mereka merusak mata gue."
Dengan gerakan yang pelan, Kael menyentuh mata kanannya. Lalu dengan sesuatu yang seperti lensa kontak tapi lebih canggih, dia melepas lapisan yang menutupi matanya.
Semua orang di ruangan terdiam total.
Mata kanan Kael terlihat berbeda sekarang. Di dalam iris yang berwarna coklat gelap, ada dua buah pupil, bukan satu seperti mata normal. Dua pupil yang bergerak independen, yang menciptakan efek visual yang mengerikan dan menakjubkan sekaligus.
"Pupula duplex," kata Kael dengan suara yang tenang.
"Kelainan yang mereka ciptakan dengan memanipulasi saraf optik gue. Hal ini lah yang membuat gue bisa melihat dari jarak sepuluh kilometer jauhnya tanpa menggunakan alat tambahan. Seperti sniper scope yang tertanam di mata gue."
Rafael menatap mata itu dengan campuran antara kagum dan ngeri. Ini bukan anugerah. Ini kutukan yang dipaksakan.
"Gue berpura-pura bodoh selama masa eksperimen," Kael melanjutkan sambil menutup matanya lagi dengan lapisan yang menyembunyikan kelainannya.
"Gue hanya bertahan. Menunggu waktu yang tepat."
"Nama kode gue adalah Alpha 09. Produk eksperimen urutan kesembilan."
Dia menatap lantai sekarang.
"Alih-alih membunuh produk yang cacat, mereka membuang gue begitu saja. Seperti sampah. Sebagai anak yang menderita penyakit disabilitas permanen, tunanetra, kata mereka ke rumah sakit yang menerima gue."
"Dan gue dibuang di negara Pakistan-India."
Kael mengangkat kepala, menatap Rafael lagi.
"Di sana gue bertemu seseorang yang tanpa ragu membawa gue makan ke tempat restoran mewah. Orang pertama yang memperlakukan gue seperti manusia setelah bertahun-tahun menjadi objek eksperimen."
"Dia bernama Elijah Kain Dravovich."
Rafael langsung bereaksi. "Bukannya dia adalah pengusaha dari Eropa? Tangan kanan Samuel Alkava yang mengambil alih Novacrest International Corp?"
Kael tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. "Bisa iya, bisa tidak. Elijah punya banyak wajah. Karena dia adalah komandan dari Valhalla generasi kedua sekaligus tangan kanan dari pemimpin kami."
Rafael membuka mulut untuk bertanya lagi. "Siapa? Siapa pemimpin kalian?"
Tapi Ryzen memotong, suaranya keras, tegas.
"Lo gak perlu tahu. Tidak sekarang."
Dia berdiri, berjalan mendekati Rafael.
"Yang lo perlu tahu adalah kisah selanjutnya. Setelah Kael dikeluarkan dari laboratorium itu, gue adalah salah satu korban yang selanjutnya."
***
Ryzen mengambil napas dalam, mempersiapkan dirinya untuk membuka luka lama.
"Berbeda dari Kael yang berpura-pura bodoh," katanya,
"gue menunjukkan peningkatan dan kecerdasan yang luar biasa. Terlalu luar biasa."
Layar TV berubah, menampilkan dokumen-dokumen dengan tulisan Cyrillic dan angka-angka yang menunjukkan statistik.
"Di umur lima tahun, gue sudah bisa menghitung probabilitas serangan dengan akurasi sembilan puluh persen. Gue bisa memecahkan enkripsi yang biasanya butuh komputer super. Gue bisa mengingat setiap detail, setiap wajah, setiap suara, setiap informasi yang pernah gue dengar."
Suaranya mulai naik sekarang, ada kemarahan yang terpendam.
"Di umur tujuh tahun, gue bahkan bisa menghindari peluru. Refleks gue berkembang sampai gue bisa memprediksi trajectory peluru hanya dari melihat posisi senjata dan jari yang menarik pelatuk."
Ryzen mengepalkan tangannya, buku-buku jari memutih dari tekanan.
"Dan itu membuat mereka takut. Takut bahwa gue bisa membahayakan elite dunia suatu hari nanti. Takut bahwa gue tidak bisa dikontrol."
Dia menatap Rafael dengan mata yang menyala.
"Lalu mereka akan memusnahkan gue."
Keheningan yang mencekam.
"Itu adalah kekonyolan yang luar biasa," kata Ryzen dengan tawa pahit.
"Mereka menciptakan monster. Namun mereka yang ingin mengakhiri hidup ciptaan-nya sendiri."
Dia berjalan ke jendela, menatap kegelapan di luar.
"Gue gak boleh mati. Tidak saat gue masih berumur tujuh tahun. Gue masih punya banyak hal yang ingin gue lakukan, meskipun saat itu gue belum tahu apa."
"Oleh karena itu gue melawan sampai kehilangan kontrol atas tubuh gue sendiri."
Layar TV menampilkan footage yang buram, seperti diambil dari CCTV yang rusak. Menunjukkan seorang anak kecil dengan rambut perak yang bersinar, bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, membunuh orang dewasa dengan tangan kosong.
"Siapapun yang ada di dalam laboratorium itu," Ryzen melanjutkan tanpa menoleh,
"tidak peduli mau itu ilmuwan ataupun bahan eksperimen lainnya, gue membun*h mereka semua."
Suaranya dingin sekarang—dingin seperti es.
"Hasilnya, kemarahan gue memicu kerusakan di dalam laboratorium. Sistem pendingin rusak. Generator meledak. Dan yang paling fatal, aktivitas vulkanik di bawah gunung terganggu."
Dia berbalik menghadap Rafael.
"Mount Elbrus adalah gunung berapi yang sudah tidak aktif selama ratusan tahun. Tapi laboratorium itu dibangun tepat di atas magma chamber yang masih panas."
"Dan gue membuat gunung itu kembali aktif."
Zen, yang selama ini diam, akhirnya bicara dengan suara yang rendah. "Tepat setelah Ryzen membantai mereka semua dan gunung Mount Elbrus akan meletus, Valhalla generasi kedua datang."
"Delapan orang," Zen melanjutkan.
"Memakai helikopter tempur. Ryzen menyerang mereka, karena dia sudah tidak percaya siapapun. Tapi Ryzen kalah dari pemimpin mereka."
Ryzen tersenyum pahit. "Gue yang bisa membunuh puluhan orang dewasa terlatih, kalah dari satu orang. Itu menunjukkan seberapa kuat pemimpin Valhalla."
"Hingga pada akhirnya," Zen melanjutkan,
"setelah Ryzen berhasil diselamatkan oleh Valhalla, gunung itu meletus."
Layar TV menampilkan berita—headline dalam berbagai bahasa yang semua mengatakan hal yang sama.
"MOUNT ELBRUS MELETUS—LEBIH DARI 10.000 JIWA TEWAS"
"BENCANA VULKANIK TERBURUK DALAM SEABAD"
"SELURUH DESA DI KAKI GUNUNG TERKUBUR LAVA"
Rafael menatap layar dengan horror. Sepuluh ribu jiwa.
"Dan apa yang hebat setelah itu?" kata Ryzen dengan sarkasme yang tajam.
"Elite dunia menutupi laboratorium. Mengatakan bahwa meletusnya gunung Mount Elbrus ada hubungannya dengan organisasi gelap yang bernama Valhalla."
Layar menampilkan dokumen-dokumen rahasia, semua data tentang laboratorium, tentang eksperimen, tentang anak-anak yang diculik, semuanya masih lengkap.
"Di layar TV ini," kata Ryzen,
"seluruh datanya masih komplit. Semua bukti yang dunia tidak akan pernah lihat karena elite mengontrol semua media."
Dia menggelengkan kepala, mencoba menghapus kenangan pahit yang sudah pernah dia jalani. Tapi kenangan itu masih saja terasa menyakitkan, seperti luka yang tidak pernah sembuh.
"Lo tau?" kata Ryzen dengan suara yang lebih lembut sekarang.
"Di Valhalla gue punya nama. Bukan Omega 07 atau nomor lainnya. Ryzen Zinhai, nama yang pemimpin kami berikan."
"Di Valhalla gue menjadi manusia. Gue punya perasaan, emosi, selayaknya manusia pada umumnya. Dan mereka tidak melihat gue sebagai objek eksperimen."
Air mata mulai mengalir di pipi Ryzen, dia tidak berusaha menyembunyikannya.
"Mereka memperlakukan gue sebagai anak didik mereka. Mengajarkan gue tentang dunia yang sebenarnya. Tentang kebaikan yang masih ada meskipun kejahatan begitu dominan."
Rafael merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Dia merasa bersalah karena sudah bertanya, membuka luka yang begitu dalam.
Tapi di sisi lain, dia harus tahu semuanya.
Ryzen menghapus air matanya dengan kasar. Lalu dia menatap yang lain, Seraph, Adrian, Draven, Zen.
"Dan mereka," katanya,
"juga punya cerita yang tidak kalah menyakitkan."
...****************...
Bersambung...
cerita tak monoton seperti novel bertemakan mafia atau CEO sama Y/N gituhhhh 😜, dan terima kasih buat Mimin yg bikin novel ini, guehh suka nya kebangetan Ama ni novel ,Semangat terus bang.