NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:104.5k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Suasana sunyi menyelimuti mansion megah di kawasan elit Kota Medan itu. Hanya suara rintik hujan sisa badai tadi sore yang sesekali terdengar mengetuk kaca jendela setinggi plafon. Di dalam kamar utama yang luasnya hampir menyamai luas rumah mewah orang biasa, cahaya lampu remang berwarna warm white menciptakan bayangan panjang yang melankolis di atas lantai marmer Italia.

Garvi Darwin melangkah masuk dengan langkah yang sedikit berat. Aroma alkohol mahal dan cerutu tipis masih tertinggal di jas kasmir yang ia sampirkan di lengan. Pria itu berhenti di ujung ranjang king-sized. Di sana, terbungkus selimut sutra berwarna abu-abu, istrinya—Alsava Emily Claretta—tengah terlelap.

Sava terlihat begitu damai dalam tidurnya. Rambut brunette curly-nya yang legendaris itu tersebar di atas bantal, membingkai wajah cantiknya yang biasanya terlihat tegas dan tak tersentuh di kantor. Dalam tidur, Sava tidak memakai topeng COO-nya yang dingin. Dia hanya Ave—wanita yang selama ini menjadi pusat obsesi Garvi.

Perlahan, Garvi duduk di tepi ranjang. Kasur itu sedikit amblas di bawah beban tubuhnya yang tegap dan atletis. Dengan jemari yang gemetar, ia mengulurkan tangan, membelai pelan anak rambut yang menutupi wajah Sava. Kulit istrinya terasa begitu halus, kontras dengan hatinya yang mungkin sudah berkerak karena luka.

Tiba-tiba, setetes air hangat jatuh dari mata tajam sang CEO. Garvi Darwin, pria yang dikenal dingin, manipulatif, dan tak kenal ampun di dunia bisnis Skyline Group, kini menangis dalam diam.

"Maafkan aku, Ave... Maafkan aku," bisiknya dengan suara serau yang sarat akan penderitaan.

Ia membungkuk, mendaratkan kecupan lama di kening Sava, lalu turun ke bibir istrinya. Kecupan yang penuh dengan rasa bersalah, sebuah permohonan maaf yang tidak akan pernah sampai jika hanya diucapkan saat wanita itu terlelap.

Tak tahan dengan sesak di dadanya, Garvi bangkit dan melangkah masuk ke kamar mandi. Ia tidak menyalakan lampu, hanya membiarkan cahaya dari luar menyinari ruangan yang didominasi batu alam gelap itu.

Ia berdiri di bawah shower, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya yang masih mengenakan kemeja lengkap. Saat air membasahi wajahnya, kilasan perbincangannya dengan Roy di bar tadi kembali berputar di kepalanya seperti film horor yang menyakitkan.

Flashback: The Edge Private Bar, Satu Jam yang Lalu.

Gelas wiski di tangan Garvi sudah kosong untuk yang kelima kalinya. Matanya memerah, menatap Roy yang duduk dengan raut wajah datar namun prihatin.

"Roy... katakan padaku. Apa lagi yang aku lewatkan?" tanya Garvi, suaranya parau.

Roy menarik napas panjang. Ia adalah saksi bisu perjalanan hidup Garvi dan Sava sejak mereka masih kecil.

"Tuan ingin tahu kenapa Miss Sava sangat tertutup? Ingatkah Anda saat pesta ulang tahun Anda yang ke-27?"

Garvi mengernyit. Ingatannya tentang masa itu sedikit kabur, tertutup oleh arogansi masa mudanya.

"Malam itu, Miss Sava baru berusia 19 tahun. Dia datang ke pesta Anda dengan gaun paling cantik yang pernah saya lihat. Dia membawa kado yang dia siapkan selama berbulan-bulan. Dia sangat bersemangat karena dia pikir, setelah perjodohan itu diumumkan, Anda akan mulai melihatnya sebagai seorang wanita," Roy memulai cerita dengan nada pahit.

Garvi terdiam, membiarkan Roy melanjutkan.

"Dia berdiri di balik pilar besar di taman, hendak memberi kejutan. Tapi saat itu, Anda sedang bersama teman-teman Casanova Anda. Anda tertawa keras saat ditanya tentang pertunangan itu. Suara Anda malam itu... saya pun masih ingat betapa tajamnya."

Roy menirukan nada bicara Garvi saat itu, membuat Garvi di masa sekarang merasa ingin menghancurkan kepalanya sendiri.

"Sava? Dia hanya adik kecil yang manis, titipan kakekku," tiru Roy. "Tidak akan ada cinta di antara kami. Pernikahan itu hanya kontrak bisnis. Aku tidak bisa mencintai anak kecil yang masih bau krayon."

Garvi yang berada di bawah shower memejamkan mata kuat-kuat. Brengsek! Kenapa aku sepicik itu? batinnya mengumpat.

"Miss Sava menjatuhkan kado itu, Tuan. Dia lari dan menangis semalaman. Dan besoknya, Anda justru memperparah keadaan," lanjut Roy di bar.

"Kenapa? Apa yang aku lakukan?" tanya Garvi tak sabar.

"Anda melihatnya di kampus bersama seorang teman pria. Anda meledak marah, padahal saat itu mereka hanya sedang mengerjakan tugas kelompok. Tapi karena ego Anda yang setinggi langit, Anda menuduhnya berselingkuh. Anda mematainya, membatasi ruang geraknya, dan menghinanya di depan teman-temannya hanya untuk menunjukkan kekuasaan Anda."

Garvi memukul dinding kamar mandi dengan keras hingga tangannya memerah.

"Aku... aku benar-benar sepicik itu? Aku tidak mendengarkannya?"

"Cinta yang Anda rasakan saat itu bukan cinta, Tuan. Itu adalah obsesi. Anda merasa memiliki hak atas hidupnya, tapi Anda tidak memberikan hati Anda padanya. Apa pun yang dikatakan Miss Sava, bagi Anda itu adalah kebohongan jika tidak sesuai dengan spekulasi Anda. Anda merasa diri Anda adalah kebenaran mutlak," Roy berucap tanpa ampun.

Garvi mematikan air shower. Ia berdiri dalam kegelapan, tubuhnya basah kuyup, napasnya memburu. Perasaan benci pada dirinya sendiri kini mencapai puncaknya. Ia keluar dari kamar mandi, tidak memedulikan air yang menetes ke lantai marmer yang mahal.

Pikirannya kembali pada momen terakhir di bar sebelum Roy menyeretnya pulang.

"Roy!" bentak Garvi saat itu, mencengkeram kerah kemeja Roy. "Lalu bagaimana dengan pernikahan itu? Jika aku sejahat itu, kenapa dia masih mau menandatangani surat pernikahan itu bersamaku?"

Roy menatap Garvi dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kesedihan, kemarahan, dan rahasia besar di sana. Roy melihat Garvi yang sudah mulai mabuk berat, bicaranya sudah mulai melantur namun tatapannya masih menuntut jawaban.

"Kita pulang dulu, Tuan. Anda sudah terlalu mabuk. Besok saya akan melanjutkan ceritanya," ujar Roy mencoba menenangkan.

"Tidak! Sekarang! Aku ingin mendengarnya sekarang!" Garvi berteriak, mengabaikan beberapa mata penjaga bar yang melirik ke arah ruangan privat mereka. "Kenapa dia setuju? Apakah aku memaksanya lagi? Atau kakek yang mengancamnya?"

Garvi tersentak di masa sekarang. Ia mendekati meja rias Sava, melihat beberapa dokumen kantor yang istrinya bawa pulang. Di antara tumpukan berkas itu, ada sebuah amplop kecil yang terselip.

Dengan tangan gemetar, Garvi membukanya.

Isinya bukan dokumen bisnis. Melainkan sebuah foto usang—foto saat mereka masih kecil. Di belakang foto itu, ada tulisan tangan Sava yang rapi namun terlihat sedikit pudar:

“Untuk Mas Garvi, cintaku yang pertama. Semoga suatu hari, kau tidak hanya melihatku sebagai beban kakek, tapi sebagai wanita yang ingin mencintaimu selamanya.”

Hati Garvi serasa diremas. Tulisan itu dibuat bertahun-tahun lalu, sebelum ia menghancurkan hati wanita itu berkali-kali. Sebelum ia mengubah gadis ceria menjadi COO yang sedingin es.

Tiba-tiba, suara erangan kecil terdengar dari atas ranjang. Garvi menoleh cepat.

Sava bergerak dalam tidurnya, keningnya berkerut seolah sedang mengalami mimpi buruk. Bibirnya bergumam lirih, "Jangan... Mas Garvi, jangan pergi dengan dia... maafkan aku..."

Garvi mematung. Bahkan dalam tidurnya, Sava masih memohon maaf padanya? Padahal dialah yang seharusnya berlutut memohon ampun.

Ia mendekat, menyentuh tangan Sava, kemudian mengecup punggung tangan itu.

***

1
Idawati Wijaya
kereeennnnn... sukaaaaa bbgt ma alur ceritanya
Deera__
memuakkan.. jahat Kau Garvi. 😢😑
Deera__
Garvi si Cassanudin bangkekkk emangg
Deera__
tak terlupakan matamu soek! /Smug//Curse/🙄🙄
Deera__
Ternyta Tuan Darwin setampan ini... Hmmm minta di ruqyah kek nya ... masak tega acuhkan dan abaikan istri secantik Sava itu.
Deera__
hmmm penasaran.. apa alasan dibalik dinginnya suami Sava itu? kek misterius gitu...
Deera__
beuh seksooy sekali wkwkwk
Deera__
Assalamu'alaikum, Medan. Horas bajua jua. eh benar GK kosa katanya? 🤭😅😅🤣🤣🤣
Teh Adhe
Masya Allah Thor, dari awal cerita, kisah ini full ngaduk2 emosi ku. Keren dikau ...👍👍👍
Nesya
lengkap sudah kebahagian kalian welcom baby raviel selamat menjadi orang tua garvi ave 🥰🥰
Dew666
💜💜💜
partini
garvi junior ,, ortunya Kya gitu anaknya akan seperti apa yah pasti lebih cool lagi
partini
good story
Penta Ning Thiyas
Alhamdulillah 😍akhirnya.. tp jangan cepat tamat yah thor
ren_iren
kan sudah kuduga dan kukira...
mereka ini saling cinta mati tp saling menyakiti.... 😁😂🤭
Nesya
lanjuut thour
ren_iren
mr. Garfield itu cuma akting aja, gk bener2 celup sana sini... sama2 tinggi egonya jd ya gtu dech....
pada gengsian mau bilang ilopeyu
ayu cantik
bagus
Nesya
❤️❤️❤️
Nesya
waah semoga garvi junior segera lounching 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!