Qirana Velaryne Azzahra atau bisa kalian panggil gua rana/Luna Mahasiswa dari kampus swasta biasa, Gadis cantik harapan orang tua, itu sulit buat merealisasikannya, ketika gua beranjak dewasa, banyak hal yang gua sesali, terutama masa kecil gua, mungkin andai kata gua bisa balik ke masa itu, mungkin gua bisa merubah sedikit takdir gua, andai gua ngungkapin perasaan gua sejak dulu, pasti cowok yang gua suka bakal jadi pacar gua saat ini, andai gua fokus bangun diri gua, terutama bakat utama gua di bidang seni lukis, mungkin gua akan ada penghasilan tambahan, kenapa gua nggak bisa mewujudkan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elegi223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Liburan pt 1
Matahari cerah bersinar cerah, membawa berkah dan kebahagian, itulah yang Gua lihat saat pagi hari di jendela kamar yang sederhana. Setelah sidang perceraian beberapa waktu lalu, rumah kembali mendapatkan warnanya yang sempat hilang.
"Lana sayang! cepat mandi, sarapan sudah siap"ucap Ibu yang terdengar keras di arah dapur, Gua kemudian menyudahi menggambar pemandangan indah pagi ini kemudian berjalan ke kamar mandi.
"Iya bundah!"ucap Gua menjawab dengan keras, berharap bisa di dengar Ibu di sebrang sana.
Sejak Ayah dan Ibu bercerai, semua yang tak bisa di lakukan bisa di lakukan sekarang. Seperti menanam bunga di jendela kamar, memelihara kucing dan banyak lagi hal yang bisa Gua lakukan sesuka hati.
Di rumah ada sekitar 3 kucing peliharaan Gua, awalnya Ibu sempat bilang kalo ini terlalu banyak takutnya merepotkan Gua tapi, Gua ngerasa mereka adalah teman rumah Gua. Sejak para kakak Gua memasuki usia remaja, mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kak Viera saja yang menemani Gua, itu juga kalo dia nggak ada tugas sekolah.
"wahhh Bunda lagi masak apa? harum banget!"ucap Gua yang nimbrung di sisi belakangnya yang lagi asik mengoseng sesuatu, setelah Gua liat itu adalah sayur favorite Gua.
"anak Bunda yang manis~ Bunda lagi sibuk masak sayur kangkung kesukaan kamu, udah gih sana duduk"ucap Ibu dengan lembut mencubit pipi Gua yang sudah mulai bulat, lalu menyuruh Gua untuk duduk di meja makan sederhana.
"LANA! MAIN YUK!"ucap Yura yang suaranya sudah menggelegar sampai seisi rumah terdengar, Gua menepuk pelan kepala Gua lalu mengusap wajah Gua dengan kasar. Ibu hanya tersenyum karna tau Yura itu anak yang memiliki energi tak terbatas
"YUHUUUU LANA I MISS YOU SO MUCH"ucap Annie yang ikut berteriak di depan rumah, Gua yang udah mulai geram melangkahkan kaki dengan kasar menuju pintu depan, Ibu terkekeh di belakang lalu berkata
"suruh masuk teman kamu"ucapnya lalu lanjut kembali dengan aktifitasnya, Gua dengan langkah yang kasar semakin dekat dengan pintu depan rumah lalu membuka pintu rumah dengan kasar.
"berisik!! kalian pagi-pagi udah bikin onar aja!"ucap Gua dengan suara keras sambil memaki mereka, Yura dan Annie menggaruk belakang kepala mereka yang tidak gatal lalu mengulurkan jarinya memeberi salam berdamaian dengan mengangkat dua jari telunjuk dan jari tengah.
"hadehh maaf lan udah ganggu lo, dua reog ini udah di bilangin panggilnya pelan pelan aja, siapa bisa tebak kalo mereka teriak kayak gini"ucap Erin tersenyum canggung menatap Gua.
"hihihi asik bener ya cara kalian manggil Qirana"ucap Ghina sambil tertawa terbahak bahak. Gua mendengus pelan lalu membuang muka ke samping. Namun, pandangan Gua tertuju pada jendela rumah Alvin yang terbuka lalu terlihat ia sedang sibuk dengan sesuatu tapi Gua tak bisa melihat nya dengan jelas.
Setelah keributan yang di buat oleh Yura dan Annie, Gua mempersilahkan mereka masuk kerumah, Yura, Erin dan Ghina udah biasa dengan keadaan rumah Gua yang sederhana namun, berbeda dengan Annie yang menatap Gua dengan mata yang berkaca-kaca, lalu menangis di pelukan Gua seperti memberikan semangat untuk menjalani hidup. Gua menatap Annie dengan ekspresi bingung.
"Maaf ya tante hanya bisa memberikan kalian jamuan ini saja"ucap Ibu lalu meletakan kue kering yang selalu ia buat ketika senggang di tengah meja tamu yang sederhana.
"nggak papa tante, nggak perlu sungkan begitu"ucap Yura lalu mengambil toples itu kemudian membukanya dan memakannya dengan lahap, Ghina dan Annie menatap kelakuan Yura dengan ekspresi terkejut, sedangkan Erin kembali menepuk jidatnya.
"Annie monggo di makan juga, ini enak loh"ucap Yura lalu menyodorkan Kue kering tersebut, Annie tak sempat beraksi mulutnya sudah di masukan Kue tersebut. begitupun Ghina ia juga di sodorkan Yura kue kering buatan Ibu. mata mereka memelotot setelah merasakan rasa kue tersebut lalu meminta Yura untuk berbagi. Setelah itu terjadilah keributan kecil antara mereka bertiga, Erin makin pusing melihat tingkah mereka.
"adeh lan, bisa bisa gua cepat mati kalo bareng mereka begini"ucap Erin dengan ekpresi pasrah menatap kelakuan mereka bertiga, Gua tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka yang absurb ini, jarang sekali melihat momen kebersamaan ini.
***
Keesokan harinya sesuai kesepakatan di Grub semua orang akan berlibur ke bali, untuk korban dari bencana yang waktu lalu untungnya sudah di amankan pemerintah. Mereka mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada "QieronYc" dan memberikan penghargaan pahlawan tertinggi. Bukan cuma itu aja, Gua memberikan dana bantuan pada pihak keluarga yang terkena bencana sehingga mereka bisa bertahan hidup dengan bantuan yang Gua berikan.
Untuk bisa sampai ke Bali, Gua naik pesawat terbang untuk pertama kalinya selama hidup Gua di dua kehidupan ini. Gua melihat Erin nampak anteng duduk, seperti ia sudah biasa duduk, sama halnya juga dengan Annie. Yura nampak antusias menatap pemandangan lewat jendela pesawat.
"adek nggak perlu takut, kakak ada disini"ucap kak Viera yang duduk di sebelah Gua sambil menggenggam tangan Gua dengan erat, Gua juga melihat Ibu memejamkan mata sambil berdoa berharap perjalanan ini berlangsung dengan baik.
Liburan ini tak hanya kami para perempuan, tapi ada orang tua Yura, pengasuh Erin dan juga ada pengawal Annie. Pesawat mulai lepas landas, awalnya emang terasa sedikit guncangan karna pesawat dalam proses terbang tapi, seiring berjalan waktu guncangan itu mulai hilang dan Gua bisa melihat palembang dari sisi atas awan.
Sepanjang perjalanan Gua selalu memperhatikan sekitar, mulai dari interaksi pramugari dengan para penumpang, hingga berapa orang yang berlalu lalang, pesawat ini sungguh menakjubkan. Pandangan Gua tertuju pada satu orang yang sangat Gua kenal, ternyata itu Mella.
"eh lan lagi liat apa?"ucap Yura yang menyadarkan Gua, lalu melihat ke arah tatapan Gua
"eh bukannya itu Mella? apa dia ikut?"ucap Yura sambil memiringkan kepalanya
"bukannya dia belum masuk Grub? kok bisa dia tau?"ucap Erin penasaran
"yuk samperin"ucap Yura yang beranjak duduk, awalnya ia kena marah sama pramugari yang berjaga namun, Yura memberitahu kalo ia sedang ingin bertemu seseorang yang ia kenal, setelah itu kami di izinkan untuk lewat ke arah kursi Mella. Yura ini memang mengerikan kalo soal negosiasi.
"hai Mel, kok lo nggak ngabarin sih kalo mau ikut"ucap Yura yang menyadarkan Mella dari lamunannya
"eh kalian liburan juga ya?"ucap Mella dengan senyum palsu yang hanya Gua liat sekilas, pasti ada sesuatu terjadi padanya.
"Kita kemarin sibuk banget lupa minta nomor kamu, kami kesini sekalian minta nomor kamu biar enak kalo saling kabar"ucap Yura dengan skill basa basi tingkat Dewanya, emang dah kalo soal ini Yura ahlinya.
"ah iya... ini nomorku"ucap Mella menunjukan ponselnya yang tertera nomor kontaknya, lalu Yura, Erin, dan Ghina pamit, sebelum itu Gua menatap Mella sejenak, terlihat jelas ia sepertinya ada masalah tapi. Gua tak perlu terburu-buru menuntut kejelasan, nanti bisa gua kontak.
"siapa yang kalian samperin?"ucap Annie bertanya setelah kami duduk di bangku masing-masing
"Teman sekolah, kebetulan juga satu pesawat"ucap Yura menunjuk Mella, Annie menatap samar samar, Mella yang membelakanginya
"bukanya itu... Putri tuan Albert!"
Nyahoo sampai sini dulu makasih udah baca cerita ku sampai jumpa di bab selanjutnya see you MUACH