Warning ***+
~~~
Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.
Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
***
Kabut di Puncak tak pernah benar-benar menghilang; ia hanya menipis sejenak untuk memberikan harapan palsu sebelum kembali menelan vila itu dalam kesuraman. Memasuki trimester kedua, kehamilan kelima Mayang terasa seperti kutukan yang nyata. Janin di dalam rahimnya seolah tumbuh dengan menyerap setiap sisa nutrisi dan tenaga dari tubuh ibunya. Rasa mual yang seharusnya mereda di bulan keempat, justru menetap dengan intensitas yang lebih menyiksa.
Pagi itu, Mayang merayap di lantai marmer kamar mandi yang dingin. Suara perutnya yang bergejolak bergema di ruangan yang sunyi.
"Huekk... nghhh... ahhh..." Mayang memuntahkan empedu kuning yang pahit. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi daster sutra tipisnya. Ia merasa rahimnya berdenyut kencang, sebuah kontraksi dini akibat stres fisik yang luar biasa.
Pintu kamar mandi terbuka. Sepatu kulit Aditya yang mengkilap muncul di depan wajahnya. Pria itu menunduk, tidak untuk membantu, tapi untuk memeriksa kondisi "asetnya".
"Masih mual?" Aditya bertanya, suaranya seperti mesin yang tak punya empati. "Suplemen yang kuberikan seharusnya sudah menekan refleks muntahmu, Mayang."
"Tubuhku... ahhh... tubuhku bukan mesin, Adit," rintih Mayang parau sembari mencoba berdiri dengan bertumpu pada wastafel. "Anak ini... dia sangat kuat, dia mengambil segalanya dariku."
Aditya mencengkeram pinggang Mayang, menariknya hingga berdiri tegak. "Tentu dia kuat. Dia adalah garis keturunanku. Dan kau harus kuat untuknya. Berhenti mengeluh dan bersihkan dirimu. Aku ingin kau menemaniku di ruang kerja."
**
Di ruang kerja yang dipenuhi buku-buku hukum dan laporan audit, Mayang dipaksa duduk di sofa kulit sementara Aditya sibuk dengan setumpuk dokumen. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Obsesi Aditya terhadap tubuh hamil Mayang selalu menang di atas segalanya.
"Kemari," perintah Aditya tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
Mayang berjalan dengan langkah gontai. Kepalanya berputar, rasa mual kembali merambat di tenggorokannya. Begitu sampai di depan meja, Aditya menariknya ke atas pangkuannya. Tangannya yang kasar langsung merayap masuk ke dalam pakaian Mayang, menyentuh perut yang kini sudah mulai menonjol dengan jelas.
"Nghhh... Adit... kumohon, kepalaku sangat pening..." Mayang merintih, mencoba menjauhkan wajahnya saat Aditya mulai menciumi lehernya dengan kasar.
"Peningmu akan hilang jika kau fokus padaku," desis Aditya. Ia tidak peduli bahwa Mayang baru saja muntah hebat sepuluh menit yang lalu. Baginya, setiap detik adalah kesempatan untuk menanamkan dominasi.
"Ahhh... nghhh... Tuan Aditya... jangan di sini... huekk..." Mayang menahan mulutnya, rasa mual itu memuncak tepat saat Aditya mulai mendominasi tubuhnya di atas kursi kerja kayu yang keras.
"Telan mualmu, Mayang! Rintihlah untukku!" Aditya memaksa Mayang untuk mengikuti ritmenya. Di antara desahan napas yang memburu dan rintihan kepedihan, Mayang dipaksa untuk terus melayani nafsu pria itu.
"Ahhh... ahhh... nghhh! Sakit... pelan-pelan... ahhh!" Mayang mendesah parau, keringatnya bercampur dengan keringat Aditya. Suara gesekan kulit dan rintihan memenuhi ruang kerja yang kaku itu. Aditya benar-benar tidak mengenal ampun; ia seolah ingin merobek kesadaran Mayang agar hanya berisi namanya.
"Sebut namaku saat kau merasa mual! Katakan bahwa benihku yang membuatmu begini!" perintah Aditya dengan gairah yang meluap.
"Aditya... ahhh... nghhh... benihmu... ahhh... membunuhku... nghhh!" Mayang merintih kencang saat puncak gairah Aditya menghantamnya. Ia terkulai lemas di dada pria itu, napasnya tersengal-sengal, sementara perutnya kembali bergejolak hebat.
**
Kesempatan itu datang saat Aditya harus meninggalkan vila selama beberapa jam untuk pertemuan mendesak dengan menteri di Jakarta—sebuah urusan yang tidak bisa dilakukan lewat video call. Ia meninggalkan Mayang di bawah pengawasan ketat kamera dan pelayan, namun ia melakukan kesalahan fatal: ia meninggalkan tablet cadangannya yang sedang dalam proses update sistem di meja kerja.
Mayang, dengan sisa tenaga yang ada, menggunakan pengetahuan teknis yang ia pelajari secara sembunyi-sembunyi. Ia berhasil meretas masuk ke folder tersembunyi yang dilindungi enkripsi tingkat tinggi.
Matanya melebar saat melihat isi dokumen tersebut.
*****
Bersambung