Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32| Tak banyak berharap
Jason menatap Ara yang masih terlelap, tangan lelaki itu terulur mengusap pelan puncak kepala sangistri.
Tadi malam Ara terlalu banyak menangis, sehingga sangat jelas di bawah matanya terdapat lingkaran hitam.
Jason mengusap pelan bawah mata Ara dan mengecup lama mata wanita itu. Tak lama kemudian, Ara mulai membuka matanya dan menatap sayu Jason di hadapannya itu. Lelaki itu tersenyum manis dan mengusap kepala Ara.
“Apa aku sudah membangunkanmu?” tanya lembut Jason.
“Tidak, aku sudah terlalu lama tidurnya. Kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi?” tanya Ara yang merubah posisinya menjadi duduk.
Ara mengambil ikat rambut di atas nakas dan mengikat rambutnya di hadapan Jason. Lelaki itu menelan ludahnya dengan susah payah, saat melihat pemandangan indah di depan matanya. Ara sangat cantik dan kecantikan yang dimiliki Ara begitu natural, sehingga Jason tanpa sadar membuka mulutnya.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Ara saat melihat wajah sang suami yang terlihat aneh.
Jason gelagapan dan menggelengkan kepalanya seperti anak kecil. Sangat menggemaskan di mata Ara, ingin sekali Ara mencubit pipi Jason.
“Tidak ada, aku mandi dulu!” seru Jason beranjak menuju ke arah kamar mandi.
Tetapi sebelum masuk ke kamar mandi, Jason sempat menabrak tembok di samping pintu kamar mandi, Ara tidak bisa menahan tawanya saat melihat tingkah konyol lelaki itu.
“Akhirnya kau tertawa lagi,” gumam senang Jason di dalam kamar mandi saat mendengar tawa Ara yang begitu lepas.
Ada kesenangan tersendiri di hati Jason saat mendengar tawa itu, ia sangat senang bisa membuat Ara kembali tertawa dan itu disebabkan olehnya.
Jason memegang dadanya yang masih berdebar, debaran yang di sebabkan oleh Ara saat ia menatap mata indah Ara terbuka tadi.
“Jantungku! Diamlah! Aku tidak ingin Ara mendengarnya! Mau taruh di mana wajah tampanku ini?” kesal Jason menatap pantulan dirinya di depan cermin kamar mandi.
...***...
Ara beranjak dari ranjang dan melangkah ke arah balkon kamar, ia meregangkan otot-ototnya sambil menikmati suasana pagi di sekitar rumah.
Pemandangan di balkon kamar Jason sangat indah, hampir semua bagunan terlihat jelas dari sini. Ara tidak pernah bosan mengagumi keindahan alam yang di ciptakan oleh Tuhan.
“Kau sedang apa di sini?” tanya Jason yang baru selesai mandi, ia memeluk Ara dari belakang dan membuat sang istri terkejut dengan tindakannya itu.
Ara memang tidak menyadari kehadirannya, karena ia terlalu fokus dengan keindahan yang ia lihat secara percuma.
Jason menumpukan kepalanya di bahu Ara dan hal itu membuat jantung Ara berdebar begitu cepat. Tidak hanya Ara, jantung Jason juga berdebar sama cepatnya dan itu membuat kedua sama-sama terdiam saat mendengar detak jantung mereka satu sama lain yang saling berlomba itu.
“Aku akan siapkan sarapan dulu,” ujar Ara melepas pelukan Jason dan keluar dari kamar.
Jason memegang dadanya yang masih berdebar sangat kencang.
“Sial! Aku sangat malu!” umpat Jason sambil mengacak-acak rambutnya sampai berantahkan.
Jason melangkah ke dalam kamarnya, ia mengambil kemeja yang sudah di siapkan oleh Ara untuknya.
“Kau sangat manis,” gumam Jason saat melihat semua kebutuhannya sudah di siapkan oleh Ara.
Dengan cepat Jason memakainya dan tersenyum bangga saat melihat penampilannya di depan cermin. Jason sangat senang, pilihan Ara sangat bagus dan cocok dengan seleranya, warna kesukaannya.
Jason bergegas keluar dari kamarnya dan bersenandung kecil saat menuruni tangga, ia melihat Ara yang baru selesai menaruh masakannya di atas meja makan.
Jason tersenyum melihatnya dan mempercepat langkah kakinya. Bau masakan yang dibuat Ara untuknya sudah tercium di hidungnya dan membuat perutnya meronta ingin cepat diisi.
“Kau tidak ingin makan bersamaku?” tanya Jasob dengan menahan lengan Ara yang hendak pergi dari ruang makan.
Jason menatap Ara dengan wajah sedihnya.
“Aku tidak bisa sarapan di pagi hari, perutku tidak terbiasa,” jujur Ara yang membuat Jason langsung merubah ekspresi wajahnya yang awalnya muram kini di hiasi dengan senyum kecil.
Jason mengira Ara tidak ingin sarapan dengannya, karena masih belum bisa menerimanya. Tetapi ternyata alasan Ara, karena ia tidak biasa sarapan pagi.
“Kau harus bisa membiasakannya, Ara. Kau lupa kalau ada buah hati kita yang membutuhkan makan juga. Sini, biar aku suapi!” Jason menarik lembut lengan Ara dan menarik kursi di sebelahnya.
Mau tak mau, Ara duduk di sebelah lelaki itu.
“Tidak perlu! Aku bisa makan sendiri!” tolak Ara saat Jason bersiap untuk menyuapinya.
Jason menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah manik mata Ara yang masih terlihat penuh dengan luka. Jason akan menghapus luka di mata itu dan menggantikannya dengan kebahagiaan yang tidak pernah bisa dilupakan.
“Tidak! Biarakan aku tetap menyuapimu. Aku tahu kau tidak akan menghabiskannya kalau makan sendiri,” Jason berkata dengan tegas.
“Kau akan terlambat berangkat ke kantor, kalau menungguku makan. Aku akan sangat lama kalau sarapan,” ujar Ara dengan jujur.
Jason hanya tertawa kecil mendengarnya. Ara terlihat sangat jujur dan itu membuatnya begitu gemas.
“Kau lupa siapa pemilik kantor itu? Jadi, kau tidak perlu khawatir aku akan terlambat. Bahkan sekarang aku bisa saja tidak masuk dan memilih di rumah untuk menjagamu,” jelas Jason yang membuat Ara terdiam, karena memang yang di katakan lelaki itu benar adanya.
Ara menatap Jason dengan wajah memelasnya mencoba untuk meluluhkan hati lelaki itu, tetapi yang di lakukan Jason adalah menciumnya dengan tiba-tiba. Hal itu membuat Ara terkejut dan ia hanya diam saja, tidak membalasnya.
“Kau begitu menggemaskan, sehingga aku tidak bisa menahannya. Maaf sudah membuatmu kesusahan bernapas,” ucap Jason di depan bibir Ara yang bengkak akibat ciumannya.
Jason menyesal melihat perbuatannya kepada Ara, bibir Ara hampir terluka, karena gigitannya. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat orang itu adalah Ara. Sang istri bisa membuatnya kehilangan kontrol dan melewati batasan.
“Sekarang kita makan ya? Aku suapi,” ucap Jason dan mulai menjauhkan wajah mereka.
Ara masih terdiam dan mencoba menormalkan detak jantungnya yang berdebar kencang, sedangkan Jason mencoba mengembalikan akal sehatnya yang hampir habis.
“Ara?” suara Jason menyadarkan Ara dari lamunannya.
Ara melihat Jason menyodorkan sendok kepadanya, Ara membuka mulutnya menerima suapan dari lelaki itu.
“Mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan nona Jeon!” seru Jason dengan tegas, Ara hanya terdiam.
Di dalam hatinya, Ara meyakinkan dirinya untuk tidak mudah menaruh hatinya lagi. Ara mencoba meyakini hatinya untuk tidak terlalu berharap dengan semua yang dijanjikan Jason kepadanya.
“Aku tidak terlalu banyak berharap dengan kata-katamu, tetapi aku hanya ingin bukti nyata bukan sekedar omongan belaka.”
Bersambung...