Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Mobil Tama berhenti pelan di depan pagar bambu rumah Mbah Supinah.
Langit sudah mulai menguning. Sore hampir berganti malam.
Dita membuka pintu mobil… lalu langsung berhenti.
Di halaman rumah, beberapa orang berdiri.
Wajah-wajah yang ia kenal.
Dan tepat di tengah-tengah mereka—
Sari.
Sepupunya itu berdiri dengan perut hamil besar. Tangannya bertolak pinggang, wajahnya masam seperti orang yang sudah menunggu lama.
Begitu melihat Dita turun dari mobil—
Sari langsung melangkah maju.
“Dita!”
Nada suaranya tinggi dan tajam.
Dita menutup pintu mobil perlahan.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Tama juga turun dari sisi lain mobil, tapi ia hanya berdiri di dekat kendaraan. Sikapnya santai, kedua tangannya masuk ke saku celana. Ia memperhatikan saja.
Sari sudah berdiri beberapa langkah di depan Dita.
Matanya menyala.
“Kamu berani juga datang ke kelurahan hari ini.”
Dita mengernyit.
“Maksudmu?”
Sari mendengus.
“Jangan pura-pura tidak tahu!”
Ia menunjuk wajah Dita.
“Aku dengar kamu datang ke kelurahan… ketemu Bakri!”
Dita menarik napas pelan.
“Iya.”
Jawaban itu membuat Sari semakin panas.
“Tuh kan! Kamu pikir aku tidak tahu kamu ke sana buat apa?”
Dita memiringkan kepala.
“Buat apa?”
“Menggoda suamiku!”
Beberapa orang yang berdiri di pinggir halaman langsung saling melirik.
Dita sendiri justru terdiam.
Lalu…
Ia hampir tertawa.
Benar-benar hampir.
Ia sampai harus menutup mulut sebentar.
“Sari…” katanya sambil menghela napas.
“Apa?”
“Ge-er sekali kamu.”
Sari langsung melotot.
“Apa?!”
Dita menggeleng kecil.
“Ya ampun… kamu benar-benar pikir aku datang ke kelurahan buat Bakri?”
“Tentu saja!”
Dita melipat tangan di dada.
“Sorry ya, Sari… aku ke kelurahan memang untuk urusan nikah.”
Ia menunjuk ke arah mobil.
Ke arah Tama yang berdiri tenang sejak tadi.
“Kau lihat pria tampan dan kaya itu?”
Sari menoleh.
Tentu saja ia tau.
Pria itu adalah orang yang datang bersama keluarganya beberapa hari lalu… melamar Dita di rumah Mbah Supinah.
Calon suami Dita.
Wajah Sari langsung berubah sedikit.
Namun ia tetap mencoba mempertahankan sikap sinis.
“Aku tau kamu belum melupakan Mas Bakri. Kamu masih berniat menggodanya.”
Kalimat itu membuat Dita akhirnya benar-benar tertawa kecil.
“Sari… Kamu ini lucu sekali...”
Ia menatap sepupunya dengan tatapan yang kini jauh lebih tajam.
“Aku sudah punya calon suami dengan spek tinggi begitu. Tampan, kaya, pengusaha sukses.”
Ia menunjuk Tama tanpa ragu.
“Ngapain juga aku memungut lagi barang bekas yang sudah aku hibahkan ke kamu?”
Kalimat itu membuat udara di halaman langsung hening.
Beberapa tetangga menahan napas.
Di dekat mobil—
Tama hampir tersenyum.
Sudut bibirnya bergerak sedikit.
Namun ia cepat menahannya.
Matanya terlihat sedikit geli melihat keberanian Dita.
Sari memerah sampai ke telinga.
“Kamu—!”
Ia ingin membalas.
Tapi kata-kata seperti tersangkut di tenggorokannya.
Wajahnya marah… tapi juga malu.
Dan tepat saat itu—
Suara langkah cepat terdengar dari arah jalan.
“Sari!”
Semua orang menoleh.
Bakri datang dengan wajah kesal.
Begitu melihat keributan di halaman itu, alisnya langsung berkerut.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Sari langsung menunjuk Dita.
“Dia tadi datang ke kelurahan! Aku yakin dia—”
“Cukup.”
Bakri memotongnya keras.
Sari terdiam.
Bakri menghela napas kesal.
“Kamu hamil besar.”
Nada suaranya penuh tekanan.
“Kenapa malah berdiri di sini bikin keributan?”
“Tapi dia—”
“Ayo pulang.”
Bakri meraih lengan istrinya.
Sari mencoba menolak.
“Aku belum selesai!”
Bakri menatapnya tajam.
“Sudah.”
Ia menarik Sari menjauh dari halaman itu.
Namun arah yang mereka tuju… bukan ke rumah Mbah Supinah.
Bakri justru membawa istrinya berjalan ke arah jalan besar.
Ke rumah mereka sendiri.
Sari masih mengomel, tapi suaranya semakin jauh.
Halaman rumah kembali sunyi.
Beberapa tetangga mulai bubar perlahan.
Dita berdiri diam beberapa detik.
Lalu ia menghela napas panjang.
Baru setelah itu ia menoleh.
Tama masih berdiri di dekat mobil.
Dan tiba-tiba saja…
Rasa malu menyerbu wajahnya.
Ia baru saja berkata macam-macam tadi.
“Aku… minta maaf,” katanya pelan.
Tama mengangkat alis sedikit.
“Untuk?”
Dita menunduk.
“Tadi aku ngomong konyol.”
Ia menggaruk tengkuknya canggung.
“Aku memanfaatkan kamu buat membalas Sari.”
Beberapa detik hening.
Tama menatapnya.
Lalu tersenyum kecil.
Tidak mengejek.
Hanya senyum tipis yang tenang.
“Tidak apa-apa.”
Dita menatapnya lagi.
“Serius?”
“Serius.”
Tama membuka pintu mobil.
“Kalau itu membuatmu tidak diinjak lagi… tidak masalah.”
Dita tersenyum kecil.
Namun wajahnya masih merah.
Tama masuk ke mobil.
“Sampai besok,” katanya.
“Besok kita masih harus mengurus berkas ke KUA.”
“Iya…”
Mobil itu perlahan pergi meninggalkan halaman.
Dita berdiri memandang sampai mobilnya hilang di tikungan jalan.
Baru setelah itu ia masuk ke rumah.
Namun malam itu…
Ia tidak bisa benar-benar tenang.
Dita duduk di tepi ranjang sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
“Ya Tuhan… aku ngomong apa sih tadi…”
Ia merasa sangat malu.
Tiba-tiba—
Ponselnya berdering.
Dita langsung menoleh.
Ia melihat nama di layar.
Bu Diana.
Jantungnya langsung berdebar.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia menjawab telepon itu.
“Halo… Bu?”
Suara hangat langsung terdengar dari seberang.
“Dita? Kamu belum tidur?”
“Belum, Bu.”
“Aduh, Mama kangen kamu.”
Dita terdiam.
“Kangen?”
“Iya,” kata Bu Diana lembut. “Baru sehari tidak ketemu rasanya rumah sepi.”
Dita tersenyum gugup.
Mereka mengobrol beberapa menit.
Lalu Bu Diana tiba-tiba berkata ceria,
“Besok Mama mau ke rumahmu.”
Dita terkejut.
“Ke rumah saya?”
“Iya! Kamu ajak Mama jalan-jalan ya.”
“Jalan-jalan?”
“Lihat tempat wisata di desa kamu. Mama penasaran.”
Dita hanya mengangguk-angguk.
“Iya… boleh, Bu…”
Padahal Bu Diana tidak bisa melihatnya.
Namun tiba-tiba—
Terdengar suara lain dari dekat telepon.
“Tidak bisa.”
Dita langsung menegakkan punggungnya.
Ia mengenali suara itu.
Tama.
Bu Diana terdengar kesal.
“Kenapa tidak bisa?”
“Besok masih harus mengurus berkas ke KUA,” jawab Tama tenang.
“Masih banyak yang harus diselesaikan.”
Dita memegang ponselnya erat.
Jantungnya berdetak lagi.