Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paspor, Pasar, dan Perjalanan yang Tidak Selesai
Matahari belum tinggi ketika Tento duduk di teras kontrakan, berhadapan dengan secangkir teh tawar yang masih mengepul. Jaket hoodie hijau tua yang hampir tidak pernah lepas dari tubuhnya menahan udara dingin pagi itu. Pandangannya tertuju pada lembaran kertas yang disebar di meja kayu – formulir visa, paspor bertanda tinta lama, dan daftar perbekalan yang ia buat semalam. Setiap kata ia tandai dengan pulpen hitam; kebiasaannya sebagai mantan aktivis yang tak bisa melepaskan detail.
Di dalam rumah, Perikus sedang menyalakan kompor untuk memasak mi instan. Suara saringan air yang bergesekan dengan panci bergema, bercampur dengan batuknya yang khas akibat rokok yang tidak pernah jauh dari bibir. Rambutnya masih acak-acakan, matanya sedikit memerah, namun wajahnya memancarkan semangat baru.
“Sudah siapkah engkau menghadapi proses pembuatan visa?” tanya Perikus sambil membawa dua gelas kopi ke teras. Ia meletakkan satu gelas di hadapan Tento, menggantikan teh yang hampir habis. Aroma kopi hitam yang pekat memenuhi udara.
Tento menatap kopi itu sebentar, kemudian menyeruputnya pelan. “Aku lebih suka teh, tapi kopi pagi ini mungkin bisa membantu pikiran jernih. Kita harus siap untuk birokrasi yang membingungkan,” jawabnya. Ia menelusuri ulang daftar perbekalan: soto instan, obat-obatan, kamera kecil, buku catatan, baju panas, dan, tentu saja, jaket hujan.
Perikus tertawa kecil. “Birokrasi? Hei, dulu kita pernah mengorganisir demonstrasi dengan ribuan mahasiswa tanpa izin resmi. Bagaimana bisa selembar kertas membuat kita gentar?”
“Karena kertas ini menentukan apakah kita bisa menjejakkan kaki di Dubai,” balas Tento. “Dan ada hal yang lebih besar di sana daripada sekadar gedung-gedung tinggi dan gurun pasir. White Lotus disebut-sebut punya jaringan bisnis kesehatan di Timur Tengah. Kita perlu melihatnya sendiri.”
Nama White Lotus membuat Perikus sedikit bergidik. Sejak kasus pertama di pabrik tua, setiap petunjuk seakan membawa mereka ke organisasi itu. Seperti efek domino, satu fakta membuka fakta lainnya, hingga sekarang mereka menatap dokumen perjalanan ke luar negeri. “Aku lebih khawatir tentang hal-hal mistis yang mungkin menempel,” gumamnya sambil menyulut rokok. “Negara itu penuh cerita tentang jin di gurun.”
“Berhenti berbicara tentang jin saat kita berbicara tentang perusahaan farmasi,” ujar Tento menggeleng. “Kita harus fokus pada data. Ada laporan pengiriman cairan misterius dari Jakarta ke Dubai, yang kabarnya dipakai untuk uji coba B19. Kalau laporan ini benar, maknanya sangat serius.”
Setelah sarapan sederhana, mereka menaiki motor tua Perikus yang selalu tampak kelelahan namun tetap setia. Jalanan Malang mulai ramai; pedagang sayur menata dagangannya, anak sekolah berpakaian putih biru bergegas, tukang ojek bersandar di sepeda motor sambil mengobrol. Mereka menuju kantor agen perjalanan yang membantu pengurusan visa. Kertas-kertas di tangan mereka bergetar pelan setiap kali motor melewati lubang.
Kantor itu terletak di ruko dua lantai, dindingnya dicat putih, dengan poster bertuliskan “Visa Kilat, Perjalanan Lancar” terpampang di depan. Seorang pegawai muda dengan seragam biru muda menyambut mereka dengan senyum formal. “Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?”
“Kami mau mengurus visa untuk ke Uni Emirat Arab,” jawab Tento sambil menyerahkan berkas. Ia menahan diri untuk tidak memulai diskusi tentang kebijakan migrasi internasional yang ia anggap sering tidak adil.
Pegawai itu memeriksa berkas, menatap foto paspor Tento yang menunjukkan wajah kurus dengan rambut bergelombang setinggi bahu. “Bapak pernah ke Timur Tengah sebelumnya?”
“Belum,” jawab Tento, jujur. “Ini pertama kali. Kami pergi untuk penelitian sosial.”
“Dan membawa kamera,” tambah Perikus spontan. “Kami suka mengambil foto makanan.”
Pegawai itu tersenyum, lalu memberikan selembar form tambahan. “Ini form kesehatan. Sejak wabah kemarin, prosedur kesehatan diperketat. Harap diisi jujur. Apakah Bapak memiliki alergi terhadap buah tertentu?”
Tento segera mencoret pilihan “pisang” dengan tegas, mengingat kebenciannya yang hampir tidak rasional terhadap buah itu. Ia terkekeh dalam hati, memikirkan kemungkinan pisang menjadi masalah dalam perjalanan.
Sementara mereka menunggu proses administrasi, telepon Tento bergetar. Sebuah pesan masuk dari Maya, hacker yang menjadi rekan mereka. “Ada informasi baru. Temui aku di pasar burung belakang terminal siang ini,” demikian bunyi pesannya.
Tento menunjukkan pesan itu kepada Perikus. “Pasar burung? Aku tidak punya burung,” kata Perikus bingung.
“Maya suka tempat ramai di mana orang tidak terlalu memperhatikan. Kita ke sana setelah selesai di sini. Mungkin ada sesuatu tentang Dubai,” jawab Tento.
Proses administrasi memakan waktu lebih lama daripada yang mereka bayangkan. Mereka harus memasukkan sidik jari, mengambil foto digital, bahkan menjawab pertanyaan tentang pekerjaan masa lalu. Setiap kali pegawai menanyakan hal-hal pribadi, Tento menjawab dengan singkat, sementara Perikus beberapa kali ingin menjelaskan cerita panjang tentang masa di pondok pesantren yang membuat pegawai justru salah paham.
Setelah lebih dari dua jam, mereka keluar dengan bukti penerimaan. “Visa akan selesai dalam tujuh hari kerja,” kata pegawai itu. “Pastikan nomor kontak aktif.”
Mereka berjalan menuju pasar burung yang dimaksud, melintasi terminal bus yang ramai. Suara pedagang memanggil, bau campur aduk antara makanan, bensin, dan aroma burung yang khas memenuhi udara. Di antara deretan kios, mereka melihat Maya berdiri dengan jaket hitam, topi dipasang rendah, seperti biasa berusaha tidak menarik perhatian.
“Kalian lambat,” kata Maya tanpa basa-basi. Rambutnya diikat rapi, matanya fokus menatap layar ponsel. “Aku sudah memonitor komunikasi White Lotus di wilayah Timur Tengah. Ada email yang disandi, isinya rencana pertemuan investor di Dubai bulan depan. Mereka menyamar sebagai konferensi medis.”
“Investor?” tanya Tento. “Jadi bukan hanya uji coba, mereka juga mencari pendanaan di sana.”
“Ya. Dan ada nama baru: Sheikh Khalid bin Nasser. Ia pemilik jaringan rumah sakit di Abu Dhabi. White Lotus menawarinya teknologi ‘peningkatan kapasitas otak’ dengan harga fantastis,” jelas Maya. “Aku butuh kalian mendekati orang dalam yang bekerja di rumah sakit itu. Ada seorang perawat asal Indonesia bernama Nur, yang pernah menghubungi komunitas kita tiga minggu lalu. Dia mengaku melihat sesuatu yang aneh.”
Perikus menggoyangkan rokoknya, mencoba mencerna informasi. “Apakah ada sesuatu yang berkaitan dengan jin? Atau mungkin mereka menaruh chip di otak pasien?”
Maya melirik Perikus, lalu tersenyum tipis. “Kita bicara tentang teknologi, bukan jin. Tapi aku tidak menolak kemungkinan gangguan spiritual, itu bukan keahlianku.”
Tento mencatat nama-nama itu. “Bagaimana caranya menghubungi Nur?”
“Dia tinggal di asrama rumah sakit. Aku akan kirimkan kontaknya. Kalian harus hati-hati. Keamanan di sana ketat. Nur bilang beberapa perawat menghilang setelah bertanya terlalu banyak. Selain itu, aku menemukan catatan keuangan bahwa Jakarta Biotech mengalirkan dana ke sebuah yayasan di Dubai. Kemungkinan ada sangkut paut dengan politisi lokal,” jelas Maya sambil menyerahkan flashdisk kecil. “Isi file ini berisi rencana gedung yang akan mereka gunakan. Pelajari sebelum berangkat.”
Suara penjaja burung bersahut-sahutan ketika mereka berbincang. Seekor merpati putih terbang rendah, hampir menyentuh kepala Perikus. Ia terkejut dan hampir menjatuhkan rokoknya. “Ada tanda-tanda ini, pasti,” gumamnya pelan, mencoba menenangkan diri dengan alasan mistis.
Maya tersenyum sedikit. “Ingat, ini bukan petunjuk dari burung. Ini tugas serius. Dan satu lagi, ada seseorang yang ingin bertemu kalian.”
Maya memanggil seorang pria yang sejak tadi berdiri di dekat kios kicauan. Wajahnya tirus, berkacamata, dengan topi memanjang menutupi sebagian wajah. Ketika mendekat, Tento mengenalinya. Ia adalah Haris, mantan aktivis yang dulu bersama mereka di kampus, yang belakangan menghilang dari peredaran.
“Aku dengar kalian akan ke Dubai,” sapa Haris tanpa basa-basi. Suaranya serak, seolah jarang dipakai. “Aku tidak bisa membantu banyak, tetapi aku ingin menyampaikan sesuatu. Ada orang yang menyamar di antara kita. Aku tidak tahu siapa, tapi dataku menunjukkan ada kebocoran informasi. Periksa lingkaran kalian.”
Tento menelan ludah. “Kebocoran? Dari mana informasi ini?”
“Aku bekerja sebagai analis di salah satu organisasi internasional, aku tidak bisa banyak bicara di sini. Tapi percayalah, ada seseorang yang mengirimkan catatan pertemuan kita ke pihak lain. Aku rasa White Lotus sudah tahu beberapa rencana. Aku hanya bisa memperingatkan. Hati-hati dengan apa yang kalian bagikan,” jelas Haris. Ia menatap dalam-dalam, seakan ingin mengatakan lebih banyak, tetapi kemudian mundur.
Perikus menatap Haris penuh kecurigaan. “Bagaimana kami mempercayaimu? Kau menghilang begitu lama.”
“Aku tidak meminta kalian mempercayai. Aku hanya menyampaikan,” balas Haris. Ia memberikan secarik kertas kecil dengan tulisan tangan. “Ini nomor kontak seseorang di Dubai yang mungkin bisa diandalkan. Namanya Farid. Dia bekerja sebagai sopir untuk rumah sakit Sheikh Khalid. Dia pernah membantu beberapa aktivis.”
Setelah Haris pergi, Maya menatap mereka. “Kalian harus memutuskan. Kapan pun kalian menunda, White Lotus bisa bergerak lebih cepat. Visa akan selesai minggu depan. Tiga hari setelah kalian tiba di Dubai, investor akan berkumpul. Kalian harus masuk sebelum itu.”
Perikus menghembuskan asap rokok ke udara, menatap langit. “Baik. Aku akan mempelajari rute. Aku akan belajar bahasa Arab, setidaknya untuk memesan kopi dan menanyakan arah masjid,” katanya mencoba santai. “Dan tentu saja, aku akan membawa tasbih.”
Maya tertawa kecil. “Sah-sah saja membawa tasbih. Tapi ingat, jangan terlalu percaya pada kebetulan.”
Malam hari, mereka kembali ke kontrakan. Lampu-lampu kota berpendar di jalan basah karena hujan sore. Mereka melepas sepatu, duduk di lantai, membuka flashdisk dari Maya. Di layar laptop, muncul rancangan gedung rumah sakit: aula besar, lorong-lorong, kamar VIP, dan ruang laboratorium di bawah tanah. Di bagian bawah, ada catatan: “Akses ke lantai bawah melalui lift khusus di sayap timur. Kode: 9-4-7-2.”
“Laboratorium di bawah tanah?” gumam Tento. “Mengapa rumah sakit membutuhkan laboratorium tertutup di bawah tanah? Ini pasti tempat mereka menyimpan formula B19.”
Perikus menggaruk kepalanya. “Aku lebih terganggu dengan kode. Apakah 9-4-7-2 ada artinya? Apakah itu tanggal? Atau angka mistis? 9 ditambah 4 ditambah 7 ditambah 2 sama dengan dua puluh dua. Dua puluh dua itu jumlah huruf dalam salah satu ayat?”
Tento menepuk bahu sahabatnya. “Jangan terlalu jauh. Fokus. Tugas kita mencari cara masuk dan bertemu Nur serta Farid. Kita harus membuat rencana penyamaran. Mungkin sebagai tamu rumah sakit, atau sebagai pekerja katering.”
Mereka menuliskan skenario di papan tulis kecil. “Penyamaran 1: fotografer acara rumah sakit. Kelebihan: bisa membawa kamera. Kekurangan: harus punya undangan,” baca Tento. “Penyamaran 2: teknisi AC. Kelebihan: banyak akses ke ruangan. Kekurangan: harus tahu cara memperbaiki AC.”
“Penyamaran 3: penari tradisional Indonesia di acara budaya. Kelebihan: jarang dicek. Kekurangan: kita harus menari,” tambah Perikus. Mereka tertawa, tetapi menandai ide itu dengan catatan kecil: “Humor, tapi mungkin.”
Di tengah perencanaan, ponsel berbunyi lagi. Kali ini dari nomor yang tidak dikenal. Ketika Tento mengangkat, suara di seberang pelan dan parau. “Kalian bukan satu-satunya yang mengikuti jalur ini. Hati-hati dengan seseorang bernama Arman. Dia mengaku wartawan, tapi bekerja untuk White Lotus.”
Tento ingin bertanya lebih lanjut, tetapi sambungan terputus. Perikus menatap dengan mata membesar. “Siapa Arman? Apakah dia orang yang kita temui di warung minggu lalu?”
“Bisa jadi,” jawab Tento sambil menatap layar ponsel yang kosong. “Hari-hari belakangan ini banyak orang yang muncul mendadak.”
Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika mereka akhirnya berhenti menulis. Hujan kembali turun, meninju genteng dengan ritme monoton. Mereka duduk bersandar di dinding, minum teh hangat. Perikus membuka buku doa kecil, membacanya perlahan, sementara matanya sesekali menatap papan tulis yang penuh coretan.
“Aku selalu berdoa agar misi ini berakhir dengan baik,” katanya lirih. “Bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk orang-orang yang jadi korban.”
“Doa penting, tapi tindakan juga,” balas Tento, menatap cangkirnya. “Dan jangan lupa, setelah misi, kita janji makan soto ayam di warung Pakde Mat. Sudah lama kita tidak menikmati itu tanpa rasa was-was.”
Perikus tertawa pelan. “Kopi, teh, soto. Hidup memang sederhana, tetapi kita selalu dibuat repot oleh orang-orang serakah yang ingin mengendalikan sains untuk keuntungan pribadi.”
Mereka terdiam sesaat, merenungkan beratnya perjalanan yang menanti. Mereka sadar, misi ini lebih besar daripada apa pun yang pernah mereka hadapi. Ada kemungkinan mereka akan bertemu orang baru, menghadapi budaya berbeda, mungkin juga menghadapi pengkhianatan dari orang dekat. Setiap langkah harus diukur, setiap tindakan dipikirkan.
“Ingat juga pesan Haris,” kata Tento akhirnya. “Ada penyusup. Kita tidak tahu siapa. Kita harus ekstra hati-hati. Jangan sembarang berbagi rencana, bahkan kepada orang yang tampak baik.”
Perikus mengangguk. “Aku bahkan akan curiga pada bayangan sendiri sekarang,” ujarnya setengah bercanda.
Malam semakin larut. Lampu kamar dipadamkan, hanya cahaya dari layar laptop yang masih menyala, menampilkan peta Dubai dan skema rumah sakit. Hujan mereda, berganti suara serangga. Di sudut ruangan, tas perjalanan mulai diisi dengan pakaian, buku catatan, kamera, dan secarik kain hijau tua yang selalu menemani Tento. Mereka merapikan barang-barang dengan hati-hati, seakan tahu bahwa kali ini, kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.
Di luar rumah, jalanan sepi. Seseorang melintas di kejauhan dengan payung. Dari balik jendela, dua pasang mata mengawasi, namun mereka tidak menyadari. Bayangan itu memegang ponsel, mengetik pesan: “Mereka sudah mempersiapkan diri. Jadwal keberangkatan sesuai rencana. Kita pantau.”
Malam itu berakhir dengan pertanyaan besar yang menggantung: siapa yang akan menunggu mereka di Dubai? Apakah Farid dan Nur bisa dipercaya? Siapa Arman? Dan, yang tidak kalah penting, siapakah penyusup yang dibisikkan Haris? Mereka belum tahu jawabannya. Mereka hanya tahu satu hal: perjalanan ini belum akan berakhir dalam waktu dekat, dan setiap pintu yang terbuka bisa membuka pintu lain yang lebih gelap.