Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.
Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...
Penasaran dengan alurnya? yukk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PERWIRA 32
Masih POV Aabid....
Aku hendak mencari solusi agar pernikahan tidak terjadi, tapi selina tiba-tiba menarik tanganku dengan kasar, aku tersentak hingga mulutku menggantung ucapan. Begitu kuat selina menarik tanganku hingga aku pun terduduk di depan penghulu sekarang.
Seperti beberapa bulan lalu bersama Radina, jantungku berdebar kuat, tapi tak sekuat sekarang.
"Kami bisa menikah bukan, Pak?" tegas selina pada penghulu.
Ah, tidak, apa selina sedang berusaha mencari pelampiasan?
"Jangan gila, selina," bisikku di telinganya.
"Om yang mulai, ya kali dobel malunya," bisik selina di telingaku.
Aku sedikit kaget, rupanya dia sedang berusaha membalas, kukira dia sedang meratapi nasibnya, menjadi wanita lemah dan tak berdaya, tapi nyatanya tidak.
"Maksudmu?" Meski sudah bisa sedikit meraba maksud selina, namun aku perlu untuk memastikannya.
"Nanti kita bicarakan. Sekarang ucap saja, namaku di depan sana. Nama bapakku Harun aja," ujarnya, bola matanya bergerak ke arah dinding yang berada di bagian belakang penghulu.
Aku mendongakkan kepala di dinding ku baca namanya Selina Ningtyas.
"Pak please, Pak. Sebelum laki-laki itu dan keluarganya merusak semuanya." Lagi, selina memohon dan mengiba pada penghulu.
Ini benar-benar gila. Aku seperti termakan senjataku sendiri.
"selina, kamu teh kumaha?" Bu Asri bertanya, raut wajahnya bingung sekaligus tak percaya.
"Bu, nanti akan selina jelaskan. Pokoknya selina mau nikah sama Om ... A'aabid," rengek selina pada ibunya, aku semakin merasa kesulitan menelan Salivaku, rasanya seolah tak ada air di dalam mulutku.
"A' Aabid?" Dahi Bu Asri sekarang berkerut dalam, mendengar panggilan yang kini berubah dari selina.
"selina pernikahan bukan main-main." Kini wanita yang ingin kulempar wajahnya dengan segebok uang kemarin ikut bicara.
Tumben sekali apa yang dikatakannya benar.
"Nenek, ini bukan mainan. selina teh benar-benar mau menikah sama A'aabid." selina kembali memasang wajah yang tak pernah kusangka sebelumnya bisa ia lakukan.
Setengah merengek, tapi bagiku sungguh menyebalkan. Tak kusangka dia pintar sekali dalam bersandiwara.
"Bu Hasna, tenang saja, selina tidak akan menikah dengan lelaki ini. Jangan khawatir." Pria tak dapat diandalkan itu menimpali lagi. Mungkin urat malunya sudah putus.
Hati dan logikaku kembali berperang, ingin melawan dan memberi pelajaran, tapi kenapa caranya terkesan terlalu berlebihan. Menikah? Ah tidak.
Membayangkannya saja aku tak mampu. Aku berpikir lama, mencoba untuk mencari cara lain.
"A' Dimas, sudah lah, jangan terus mengejarku. Biarkan aku menikah dengan pujaan hatiku. Mungkin saja ini takdir dan jalan dari Allah untuk menunjukkan bahwa kita ini tidak berjodoh, jadi kumohon lepaskan aku dengan pilihanku."
Ya Tuhan ... jantungku seolah berhenti berdetak sekarang. Kata-kata dan raut wajahnya membuatku semakin tak percaya. Bahkan air matanya mengalir deras, membuatku ingin muntah saja.
"Kamu itu mau menuduh balik kalau Dimas yang mengguna-gunaimu? Itu, kan? Jadi orang miskin kok belagu dan nggak tahu malu." Wanita yang mulutnya bak petasan banting itu kembali berujar.
"Mana mungkin saya berani mempertaruhkan masa depan saya hanya karena hal itu. Kalau masalah itu biar Tuhan yang menjawab. Demi Tuhan saya tidak mengguna-gunainya. Saya justru tertekan." selina kembali bicara dengan nada menyedihkan, tapi menatapku, mengerjap padaku beberapa kali, seolah mengancam ku untuk mengikuti saja, jangan banyak bicara, dan memohon agar aku bisa bekerja sama. Apa yang dilakukanya sungguh membuatku ternganga, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat.
Aku tersentak ke belakang. Ia lalu mengerjap padaku lagi memberi isyarat agar aku segera mengikuti sandiwara.
Entah mimpi apa aku semalam sehingga aku bisa masuk ke dalam drama selina yang di luar nalar.
"Ayo kalau memang kamu sungguhan berani benar-benar menikah," tantang Dimas.
Aku bergeming. Bingung harus bagaimana. Wajahnya pun membuatku sebal dengan senyum miring ia menatap selina dan menatapku.
"Sudah-sudah. Jangan buang waktu, Asri, Harun. Sudah berapa kali ibu bilang. Kalian itu seharusnya lihat dan tahu diri. Cari menantu yang sepadan. Inilah kalau kalian tidak tahu diri jadinya memalukan."
Kini hinaan keluar dari mulut wanita tua berstatus nenek yang sudah ku tandai sebagai musuh bebuyutan ku.
Lalu netraku menatap ke arah dua orang yang kini bahkan tak bisa menegakkan kepalanya. Bu Asri dan Pak Harun, hatiku selalu menangis dan terenyuh melihat penderitaan yang mereka balut dengan segudang kebaikan.
Gadis di sebelahku pun bergeming sekarang, sorot matanya meredup bak seorang yang tak ada semangat hidup, berbeda dengan sebelumnya.
Indra pendengaranku kini mulai menangkap gunjingan hingga hinaan yang terlontar dari para tamu.
Memang tidak keras dan hanya serupa bisikan sayup-sayup, tapi cukup mengena dan membuat hatiku berdenyut marah. Kata-kata mereka seolah menghujam tepat di jantungku saat mereka mengatakan keluarga Pak Harun tidak pantas mendapatkan yang lebih.
Tanganku terkepal, ekor mataku beralih pada lelaki yang didampingi kedua orang tuanya, yang justru tidak berusaha membela melainkan hanya menatap selina dengan senyuman yang bagiku seolah mengatakan bahwa kau tidak akan mampu hidup tanpaku selina.
Semua yang kulihat dan kudengar akhirnya membimbing tanganku untuk mengeluarkan uang yang dikirim oleh Arga waktu itu.
"Lima juta sebagai mahar selina. Mempelai wanita dan mempelai pria. Saksi dan juga wali dari keluarga wanita sudah ada bukan? Saya rasa semua syarat sudah cukup. Silahkan lakukan ijab kabul sekarang," ujarku pada akhirnya.
Hatiku tak bisa melihat penderitaan Pak Harun dan Bu Asri. Ya, baru kali ini hatiku memang atas logikaku meskipun ... Ah, aku ingin menjerit dan entah aku tak bisa menjelaskan apa yang kini kurasakan.
Semua menatapku kaget dan terperangah. Lima juta aku keluarkan semua kala sempat kudengar mahar yang diberikan pria itu sebesar dua juta saat aku berada di kamar.
Kulihat pria itu memucat, dalam hatiku berkata, kau tak akan bisa mengalahkan seorang Aabid Pradipta.
Aku tersenyum menang, lalu menatap selina yang juga menatapku.
Binar di matanya seolah kembali, entah apa yang diharapkan dari lelaki pengangguran di hadapannya ini. Namun, aku bisa melihat sorot penuh harap itu benar-benar besar.
Tapi aku, ah, aku ingin sekali meremas anak ini dan menenggelamkannya dalam ketiakku, gemas.
Aku menghela napas, penghulu menatapku, namun tak lantas mengiyakan permintaanku. Aku paham.
"Surat-surat akan menyusul secepatnya. Yang penting hari ini kita harus menikah." Mulutku lagi-lagi tak bisa menahan.
Malah memberi janji.
"Bagaimana nak selina, Pak Harun?" tanya Penghulu pada keduanya.
Pak Harun bergeming, sementara selina menatap kedua orang tuanya itu dengan tatapan penuh permohonan dan setengah mengiba.
Bahkan, tangannya di tangkupkan di depan dada, matanya mengembun, demi terwujudnya keinginan.
Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini, rencana apa yang hendak ia jalankan.
Sementara aku, aku hanya bisa menghela napas secara berulang, pasrah, dan tak bisa mengelak.
Dadaku ikut berdentam dan menghitung dalam hati, terlebih saat Dimas terlihat semakin menyebalkan, dengan senyuman remeh nya ia seolah sangat percaya diri bahwa pernikahan tak akan pernah terjadi lalu dialah yang menjadi pemenangnya.
Apa dia sudah hilang akal dan tidak memikirkan nasib keluarga selina?
Lama, kami menunggu jawaban dari Pak Harun dan Bu Asri. Lama juga selina menatap ke arah keduanya.
Lalu ......
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣
double up thor,,,🙏🙏🙏