Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31 Menjadi Putra Seseorang
Setelah beberapa saat dan Aditya menjadi sedikit lebih tenang, Santi membawanya masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tamu dan menyajikan susu hangat untuknya. Aditya menunduk malu menenggelamkan wajahnya sedalam mungkin. Ia tidak sadar telah melakukan sesuatu yang sangat besar. Apalagi kepada orang yang belum lama ia kenal. Namun memang benar, dadanya yang terasa sangat sesak tadi. Terasa lebih ringan dan plong dirasanya. Tapi di sisi lain ia tidak bisa menahan malu menghadapi Santi yang duduk di depannya.
"Minumlah dulu. Kamu akan merasa lebih tenang setelah minum susu manis yang hangat, " ucap Santi. "Setidaknya sejauh ini berhasil Tante lakukan kepada Aksa ketika dia sedang dalam kondisi seperti ini, " tambahnya kemudian.
"Maafkan aku, " ucap Aditya kemudian tanpa mengangkat wajahnya.
"Kenapa kamu minta maaf? " sahut Santi bertanya dengan lembut.
"Aku sangat tidak tahu malu. Aku sudah begitu lancang sudah datang kepada Tante, dan menangis seperti itu di depan Tante. Tante pasti merasa sangat tidak nyaman. Aku benar-benar menyesal, " ujarnya lagi terdengar sangat menyesal.
Santi tersenyum dan meraih pipi Aditya. Perlahan, sentuhan tangannya menuntun Adit untuk menegakkan pandangannya dan mengangkat wajah yang ia tundukkan sejak tadi. Hingga tatapan mereka saling berlabuh dan bertemu dengan mesra.
"Tidak juga. Tante malah bersyukur kamu datang menemui Tante disaat kamu tidak tahu harus kemana. Tante harap ke depannya, ketika kamu merasa lebih sulit dari ini datanglah kepada Tante. Meskipun Tante tidak bisa benar-benar membuat kamu merasa lebih baik, tapi setidaknya kamu punya tempat tujuan untuk dirimu sendiri. Tidak perlu sungkan sama Tante, " ungkap Santi sambil menatap lekat kedua bola mata Aditya yang berkaca-kaca.
Aditya tersenyum. "Tante memang malaikat tidak bersayap. Sangat keren! " Adit memuji sambil mengacungkan kedua jempol terbaiknya. Santi tertawa malu dengan pujian Aditya yang terasa berlebihan.
"Ah tidak. Kamu ini bisa saja. Jangan berlebihan memuji, nanti Tante jadi besar kepala," balasnya.
"Tidak kok, memang itu kenyataannya. "
Suasana yang tadinya begitu sedih dan penuh haru kini akhirnya berhasil Aditya cairkan dengan sedikit bercanda. Mereka tidak sadar tertawa bersama seolah kesedihan yang baru saja terjadi hilang seketika.
"Iyah, sudah sudah. Kamu sudah makan? Tadi Tante masak banyak sekali. Duduklah di sana, Tante akan menghangatkan makanan tadi, " ujar Santi sambil beranjak bangun dari duduknya dan bergegas ke dapur. Sementara Aditya menyeruput susu yang sudah agak dingin di depannya sebelum pergi duduk di meja makan.
Aditya menatap punggung kecil yang tengah sibuk itu. Ia menatap dengan penuh ketenangan. Rasanya Aditya telah benar-benar menemukan tempat sandaran. Rumah yang paling dia impikan. Mungkin takdir sedang mengasihani dan memberinya kesempatan untuk bisa merasakan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan sejak kecil. Dipungut oleh orang asing dengan perhatian dan kasih sayang lebih baik daripada ditelantarkan oleh orang yang sangat ia harapkan dalam hidupnya.
"Tante? " Panggil Aditya dengan nada rendah nyaris tidak terdengar oleh telinga Santi.
Santi menengok dengan tatapan penuh tanya apakah ia memang sedang memanggilnya atau tidak. Senyuman kecil namun menenangkan terlontar dari wajah Aditya dengan tatapan lembutnya.
"Aku tahu permintaanku ini akan terdengar sangat lancang dan tidak malu. Tapi, jika bisa.... bolehkah aku menganggap kamu sebagai Ibuku?"
Santi terkejut mendengar perkataan Aditya dan tertegun sejenak. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Adit dan mematikan kompor, lalu dengan tenang mengalihkan makanan yang ada di wajah ke atas piring lalu membawanya dan menaruh makanan itu di meja makan. Kemudian, ia mengambil piring lain dan menyodok nasi hangat dari rice cooker. Ia pun kembali dan menaruh sepiring nasi porsi sedang hangat di depan Aditya.
"Makanlah dulu. Kamu pasti sangat lapar, " ucap Santi seraya duduk berhadapan dengan Aditya yang terhalang oleh meja makan.
Aditya sedikit merasa kecewa karena Santi mengabaikan pertanyaannya tadi. Namun, Aditya tahu diri dan tidak semua orang bisa menerima orang asing di sekitarnya lebih dekat. Aditya tertawa sekilas merasa canggung sambil mengambil sendok di depannya untuk melahap makanan yang sudah tersaji di depan matanya.
"Maaf, aku tidak bermaksud demikian. Lupakan saja perkataanku yang barusan. Anggap saja Tante tidak pernah mendengarnya. Terima kasih atas makanannya, aku akan sangat menikmatinya, " ujar Aditya merasa tidak enak dan mengambil satu suapan besar untuk nasinya.
"Kenapa kamu ingin aku jadi ibumu? Lalu bagaimana dengan Ibumu? "
Mendengar pertanyaan yang Santi lontarkan, Aditya merasa tersendat oleh nasi yang ada di mulutnya. Ia berhenti mengunyah dan menelannya dengan kuat, mendorong nasi itu supaya bisa tertelan. Aditya menatap Santi dan menaruh sendok yang ia pegang di atas piring.
"Ibuku?" Aditya tersenyum lagi dengan tatapan sedihnya. "Dia sudah lama meninggalkanku. Aku sempat berharap dia meninggalkanku karena terpaksa dan bukan keinginannya. Tapi setelah aku pikir kembali, dia memang pergi atas keinginannya sendiri dan meninggalkan ku sejak masih kecil. Itu pilihannya untuk membuang ku, " ungkap Aditya bercerita dengan santai dan tidak lupa untuk tersenyum.
Santi menjadi lebih sedikit mengerti tentang perasaan Aditya yang ingin menganggap dirinya sebagai Ibu. "Kenapa kamu bisa berpikir begitu? Kamu sudah menyelidikinya? Mungkin saja dia memang pergi karena terpaksa dan karena ada alasan yang membuat dia bisa melakukan hal itu. "
"Tidak. Aku memang tidak mau menyelidikinya. Tapi semua sudah nampak jelas. Selama bertahun-tahun dia pergi. Tapi dia tidak pernah menelpon sekali pun, atau bertanya tentangku. Jika dia terpaksa, setidaknya dia akan menelpon atau menemui ku sekali saja, dan meminta maaf padaku lalu menyesal karena sudah meninggalkanku. Tapi, dia tidak pernah melakukan itu, sama sekali tidak pernah. "
Santi terdiam sejenak mencoba memahami ke putus asaan yang tengah dipikul olehnya. Santi pun hanya bisa mengangguk kecil mendengar kisahnya.
"Baiklah. Anggaplah aku Ibu sesuka hatimu. Aku akan menyambut mu sebagai anakku. Tapi, jangan berharap terlalu lebih padaku. Aku, bukan Ibu yang baik bahkan untuk anakku sendiri, " ucap Santi mengizinkannya dengan satu peringatan kecil.
"Sungguh? Aku sungguh boleh melakukan itu?" Adit nampak begitu senang sampai tersenyum begitu lebar. "Kalau begitu aku boleh memanggilmu, 'Ibu?"
Santi mengangguk mengiyakan. Lantas, kebahagiaan terpancar dari wajahnya karena saking bahagia karena telah diakui sebagai anak oleh Santi.
"Terima kasih, Ibu? " Aditya tanpa ragu lagi memanggil Santi sebagai Ibunya sendiri. Dan ia sangat bersyukur karenanya.
"Apa kamu sesenang itu bisa memanggilku Ibu? " tanya Santi lagi ikut merasa bahagia karena akhirnya ia telah membuat keputusan besar yang entah akan ia sesali atau malah sebaliknya. Karena walau bagaimanapun juga, sebenarnya ia cukup kesulitan hanya dengan satu putra tanpa peran seorang suami. Dan sekarang ia menerima putra orang lain untuk dijadikan putranya sendiri yang pada akhirnya ia akan menjadi tanggung jawabnya juga.
"Tentu saja. Aku sangat senang. "
"Kalau begitu, cepatlah makan. Dan setelah itu mandi. Karena tidak ada pakaianmu dirumah ini, pakailah baju Aksa dulu. "
"Iyah, Bu. "
Aditya makan dengan lahap merayakan kebahagiaan dirinya yang sudah diterima sebagai putra seseorang. Walau begitu, ia berjanji dalam hatinya bahwa akan memperlakukan Santi layaknya seorang Ibu yang ia inginkan. Dan ia berjanji tidak akan menyulitkannya dengan masalah apapun.