Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Tidak semua akhir harus menyakitkan.
Ada juga akhir
yang terasa seperti pulang
bukan ke seseorang,
tapi ke diri sendiri.
Malam setelah pertemuan itu, Nara berjalan pulang dengan langkah yang berbeda.
Tidak tergesa.
Tidak juga berat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa ada yang tertinggal di belakang.
Tidak ada lagi kata-kata yang ingin ia ucapkan.
Tidak ada lagi perasaan yang ingin ia kejar.
Semuanya… benar-benar selesai.
Udara malam terasa lebih sejuk.
Lampu jalan menyinari langkahnya yang pelan tapi pasti.
Dan di dalam hatinya, ada sesuatu yang akhirnya tenang.
Bukan karena ia memilih seseorang.
Tapi karena ia akhirnya memilih dirinya sendiri.
Sesampainya di kamar, Nara tidak langsung tidur.
Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela.
Kota masih ramai di luar sana.
Tapi untuk pertama kalinya… pikirannya tidak.
Ia mengingat semuanya.
Awal pertemuan.
Semua rasa yang pernah ia perjuangkan.
Semua luka yang pernah ia rasakan.
Dan semua pelajaran yang akhirnya ia pahami.
Ia tersenyum kecil.
Bukan karena semuanya indah.
Tapi karena ia berhasil melewatinya.
Pelan-pelan.
Dengan caranya sendiri.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Nara kembali ke rutinitasnya.
Bekerja.
Bertemu orang-orang yang sama.
Menjalani hidup yang sederhana.
Tapi ada satu hal yang berubah
cara ia melihat semuanya
Ia tidak lagi mencari sesuatu untuk melengkapi dirinya.
Ia tidak lagi menunggu seseorang untuk membuatnya bahagia.
Karena sekarang, ia tahu
bahwa ia sudah cukup.
Sore itu, setelah beberapa hari tidak datang, Nara kembali ke kafe.
Bukan karena ragu.
Bukan juga karena ingin memastikan sesuatu.
Tapi karena ia ingin datang… tanpa beban.
Saat ia membuka pintu, suasana terasa sama seperti biasanya.
Tenang.
Hangat.
Dan di sana
Arga.
Duduk di tempat yang sama.
Seperti seseorang yang tidak pernah benar-benar pergi.
Saat melihat Nara, ia tersenyum.
Bukan senyum yang penuh tanya.
Bukan juga senyum yang penuh harap.
Hanya… senyum yang tulus.
“Kamu datang lagi,” katanya.
Nara mengangguk kecil.
“Iya.”
Ia duduk di depannya.
Dan untuk beberapa detik, mereka hanya saling diam.
Tapi kali ini, diam itu tidak canggung.
Tidak juga penuh pertanyaan.
Hanya… nyaman.
“Apa kabar?” tanya Arga.
Nara tersenyum.
“Baik.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi berbeda.
Karena kali ini… benar.
Arga memperhatikannya sejenak.
Seolah memastikan sesuatu.
“Kamu kelihatan lebih tenang,” katanya.
Nara mengangguk.
“Karena aku sudah selesai.”
Kalimat itu langsung dipahami tanpa perlu penjelasan panjang.
Arga tidak bertanya tentang Raka.
Tidak juga ingin tahu detailnya.
Ia hanya mengangguk.
“Bagus,” ucapnya pelan.
Hening sejenak.
Tapi kali ini, bukan karena bingung.
Melainkan karena ada sesuatu yang sedang menunggu untuk diucapkan.
Nara menarik napas panjang.
Lalu menatap Arga.
Matanya tidak lagi ragu.
Tidak lagi penuh pertahanan.
Hanya… jujur.
“Aku nggak tahu ini akan ke mana,” katanya pelan.
Arga diam.
Mendengarkan.
“Tapi aku mau coba,” lanjutnya.
Kalimat itu sederhana.
Tidak berlebihan.
Tidak menjanjikan apa-apa.
Tapi cukup untuk membuat semuanya berarti.
Arga tersenyum kecil.
Bukan senyum kemenangan.
Bukan juga senyum lega.
Tapi senyum seseorang yang menghargai proses.
“Kita pelan-pelan aja,” katanya.
Nara mengangguk.
“Iya.”
Dan di saat itu,
tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata indah yang berlebihan.
Hanya dua orang
yang memilih untuk berjalan
ke arah yang sama
dengan langkah yang pelan.
Tanpa paksaan.
Tanpa ketakutan yang sama seperti dulu.
Hari itu, mereka tidak melakukan sesuatu yang istimewa.
Hanya duduk.
Berbicara.
Sesekali tertawa.
Tapi justru di situlah letak keistimewaannya.
Karena untuk pertama kalinya,
Nara tidak merasa harus menjadi seseorang yang lain.
Ia cukup menjadi dirinya sendiri.
Dan itu… sudah cukup.
Malam mulai turun saat Nara keluar dari kafe.
Langit gelap, tapi tidak terasa berat.
Arga berjalan di sampingnya.
Tidak terlalu dekat.
Tapi cukup untuk membuatnya merasa ditemani.
Mereka berhenti di persimpangan jalan.
Tempat yang sama seperti sebelumnya.
“Aku ke sini,” kata Nara.
Arga mengangguk.
“Iya.”
Nara tersenyum.
Dan kali ini, ia tidak ragu.
“Terima kasih ya,” ucapnya.
Arga sedikit mengernyit.
“Untuk apa?”
“Untuk tetap ada… tanpa maksa aku.”
Arga tersenyum.
“Terima kasih juga.”
Nara menatapnya.
“Untuk apa?”
“Untuk akhirnya nggak lari lagi.”
Nara tertawa kecil.
Dan tanpa sadar… hatinya terasa ringan.
Lebih ringan dari sebelumnya.
Ia melangkah pergi.
Tapi kali ini, bukan untuk menjauh.
Melainkan untuk melanjutkan.
Dengan cara yang baru.
Dengan hati yang berbeda.
Dan dengan satu keyakinan
bahwa tidak semua yang datang setelah luka
akan menyakitkan.
Beberapa di antaranya…
justru datang untuk menyembuhkan.
Dan untuk pertama kalinya,
Nara tidak takut lagi
untuk mencoba.
Karena ia tahu
apa pun yang terjadi nanti,
ia tidak akan kehilangan dirinya lagi.
Dan itu… lebih dari cukup.