Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Upaya Sabotase Sang Mantan
Minggu pagi di area Persami SMA 1 Nusa Bangsa disambut oleh sisa-sisa kabut tipis dan aroma tanah basah. Setelah malam panjang yang penuh gejolak, mulai dari perburuan stiker di gedung barat yang mencekam hingga percakapan jujur di samping sisa bara api unggun dini hari. Suasana pagi ini terasa begitu berbeda bagi Cinta. Ada rasa hangat yang manis, namun sekaligus mendebarkan yang menyelimuti hatinya.
Tepat pukul enam, seluruh peserta sudah berkumpul di lapangan utama untuk melakukan senam pagi dan olahraga ringan demi meregangkan otot-otot yang kaku. Cinta berdiri di barisan depan kelas XI MIPA 1, mencoba fokus mengikuti gerakan instruktur di podium. Namun, pandangannya sesekali terlempar ke barisan belakang, tempat Rian berada.
Cowok itu tampak bugar dengan kaos olahraga hitam, bergerak santai namun tetap terlihat mencolok di antara siswa lainnya. Setiap kali mata mereka tidak sengaja bertatapan, Rian akan melempar senyum tipis yaitu tipe senyum rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka berdua setelah obrolan dini hari tadi.
Setelah sesi olahraga selesai, seluruh siswa diarahkan ke kelas masing-masing untuk menikmati sarapan pagi berupa nasi goreng bungkus yang dibagikan oleh panitia.
"Nih, bagianmu, Sekretaris," ucap Rian yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Cinta, menyodorkan satu bungkus nasi dan satu botol air mineral.
Cinta tersenyum kecil, menerima pemberian itu. "Terima kasih, Rian. Kamu tidak sarapan dengan anak-anak cowok?"
"Di sini lebih tenang," sahut Rian santai, lalu mengambil posisi duduk di pembatas teras, tepat di sebelah Cinta.
Mereka menikmati sarapan dalam kebersamaan yang tenang di tengah hiruk-pikuk lorong sekolah. Bagi Cinta, melihat bagaimana Rian yang biasanya dingin kini bisa duduk membaur di lingkungan sekolahnya yang sederhana membawa rasa damai tersendiri.
...****************...
Pukul sepuluh siang, upacara penutupan Persami telah usai dilaksanakan. Lapangan utama kembali ramai oleh para siswa yang sibuk membongkar tenda dan mengemas barang bawaan mereka untuk bersiap pulang.
Cinta baru saja selesai membantu Sarah merapikan sisa perlengkapan regu mereka di kelas. Saat ia sedang menyampirkan tas ranselnya ke bahu dan bersiap mencari Rian di parkiran, sebuah tangan dengan kuku yang dipulas rapi tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
Cinta tersentak dan menoleh. Di hadapannya, Clarissa berdiri dengan tatapan mata yang memancarkan kedengkian yang tertahan.
"Cinta, ikut aku sebentar. Ada sesuatu hal penting yang harus kamu dengar. Ini menyangkut keselamatanmu dan masa depanmu," ucap Clarissa dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Eh? Mau kemana, Clarissa? Aku harus ke parkiran, Rian sudah menunggu," tolak Cinta, mencoba melepaskan tangannya namun cengkeraman Clarissa justru semakin mengencang.
"Ini tidak akan lama. Dan ini justru tentang Rian-mu itu," desis Clarissa. Tanpa menunggu persetujuan Cinta, ia menarik paksa lengan Cinta, membawanya setengah menyeret menuju area belakang laboratorium biologi, sudut sekolah yang paling sepi dan jauh dari jangkauan pandangan anak-anak lain yang sedang sibuk di lapangan.
Begitu sampai di lorong belakang lab yang sunyi, Clarissa menghempaskan tangan Cinta dengan kasar.
Cinta mengusap pergelangan tangannya yang memerah, menatap Clarissa dengan berani meskipun hatinya mulai merasa tidak enak. "Mau bicara apa? Tolong cepat, aku mau pulang."
Clarissa tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat sinis di telinga Cinta. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Cinta dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan merendahkan. "Kamu benar-benar polos ya, Cinta. Atau lebih tepatnya... bodoh? Kamu pikir cowok seperti Rian bisa berubah hanya karena pindah ke sekolah ini?"
"Kalau kamu cuma mau menjelek-jelekkan Rian, aku tidak mau dengar. Dia sudah menceritakan masa lalunya padaku," balas Cinta tegas, mencoba mempertahankan benteng keyakinannya yang baru saja kokoh semalam.
"Oh ya? Dia menceritakan semuanya?" Clarissa melangkah satu langkah lebih dekat, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Cinta. Senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya saat ia bersiap meluncurkan kebohongan yang telah ia rancang matang-matang. "Apa dia menceritakan padamu kalau selama kami pacaran di Jakarta dulu, kami sudah sering menginap berdua di apartemen pribadinya?"
Deg.
Jantung Cinta seolah berhenti berdetak mendengar kalimat itu. Seluruh pasokan udara di sekitarnya mendadak hilang. "Apa... apa maksudmu?" bisik Cinta, suaranya tiba-tiba melemah.
"Kamu tidak sebodoh itu untuk tidak paham maksud menginap berdua, kan?" Clarissa mencondongkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam mata Cinta yang mulai berkaca-kaca, menikmati setiap detil kehancuran ekspresi gadis di depannya.
"Rian itu bukan cowok suci yang bisa kamu banggakan, Cinta. Kami sudah melakukan banyak hal jauh sebelum dia mengenalmu. Menginap berdua, menghabiskan malam bersama di Jakarta itu sudah jadi rutinitas kami dulu. Bagi Rian, perempuan itu cuma mainan untuk memuaskan egonya. Dan sekarang, dia bersikap manis padamu di Persami ini, membawakan tasmu, menjagamu di jurit malam karena itu semua cuma trik lamanya untuk menjebakmu, melakukan hal yang sama padamu!"
Kata-kata Clarissa mengalir seperti racun yang langsung merusak seluruh memori manis Cinta tentang malam tadi. Bayangan Rian yang menatapnya penuh ketulusan di samping bara api unggun, genggaman erat yang hangat di lorong gelap, dan janji manis untuk berjalan pelan-pelan. Semuanya mendadak terasa menjijikkan dan palsu di kepala Cinta. Hubungan fisik di masa lalu yang digambarkan Clarissa dengan begitu gamblang membuat dada Cinta terasa sangat sesak hingga air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Rasa sakit hati yang luar biasa dan kekecewaan yang teramat dalam menghantam lubuk hatinya yang paling dalam. Ia merasa bodoh karena telah membiarkan dirinya percaya begitu saja pada orang Jakarta yang penuh tipu daya itu.
"Kenapa diam? Sakit hati?" ejek Clarissa puas melihat reaksi Cinta. "Makanya, jadi perempuan jangan terlalu gampang murahan percaya sama omongan cowok seperti Rian. Di matanya, kamu itu cuma pelarian sementara karena dia sedang bosan di sini."
Cinta tidak sanggup membalas sepatah kata pun. Air matanya luruh membasahi pipi. Tanpa memedulikan Clarissa yang masih berdiri dengan senyum kemenangan, Cinta berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan lorong laboratorium, mengabaikan segala hal selain rasa hancur di dadanya.
...****************...
Di dekat lobi sekolah, Rian berdiri bersandar pada motor besarnya dengan gelisah. Tas miliknya dan milik Cinta sudah tertata rapi. Alisnya bertaut saat melihat Cinta berjalan tergesa-gesa keluar dari koridor dalam dengan kepala menunduk.
Namun, senyum cemas di wajah Rian langsung sirna digantikan oleh kepanikan yang luar biasa saat melihat air mata yang membanjiri wajah gadis itu ketika jarak mereka mengikis.
"Cinta? Kamu kenapa? Ada yang tertinggal?" tanya Rian panik, melangkah maju dan mencoba meraih kedua bahu Cinta untuk menenangkannya.
"Jangan sentuh aku!" teriak Cinta dengan suara bergetar, menepis tangan Rian dengan kasar. Tatapan mata Cinta yang biasanya lembut kini penuh dengan rasa sakit, kekecewaan, dan kemarahan yang membara.
Rian tertegun, tangannya menggantung di udara dengan rasa tidak percaya. "Cinta, ada apa? Beritahu aku, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu menangis?"
"Aku mau pulang sendiri," ucap Cinta dengan suara serak menahan tangis, mengabaikan pertanyaan Rian.
"Tidak bisa, Cinta. Kamu berangkat bersamaku, pulangnya harus bersamaku. Ini sudah siang, dan barang-barangmu banyak," tegas Rian, mencoba meraih tas ransel Cinta yang masih melekat di bahu gadis itu.
"Aku bilang aku tidak mau, Rian! Jangan paksa aku!" potong Cinta dengan nada tinggi, membuat beberapa siswa yang lewat di parkiran sempat menoleh.
Bersamaan dengan itu, di dekat gerbang sekolah yang terbuka lebar, Cinta melihat seorang pengemudi ojek online baru saja menurunkan penumpang di luar pagar. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memedulikan panggilannya yang terus menggema, Cinta berlari keluar dari area parkir, menembus gerbang sekolah.
"Cinta! Tunggu!" seru Rian mencoba mengejar.
Namun, langkah Rian tertahan karena ia harus melewati kerumunan orang di gerbang. Di luar pagar, Cinta sudah menghampiri sang driver ojek online dengan napas memburu dan air mata yang terus mengalir. "Pak, antarkan saya pulang sekarang ya, Pak. Tolong cepat."
"Eh, iya, Neng. Silakan naik," ucap sang driver yang bingung melihat kondisi psikologis penumpangnya yang tampak sangat terguncang.
Cinta langsung naik ke atas boncengan. Saat motor ojek online itu mulai melaju membelah jalanan depan sekolah, Cinta menoleh sekilas ke belakang. Ia melihat Rian berdiri di depan gerbang dengan napas memburu, menatap kepergiannya dengan raut wajah penuh frustrasi, kebingungan, dan amarah yang campur aduk.
Cinta memalingkan wajahnya kembali ke depan, membiarkan angin siang menghapus air matanya. Kebersamaan manis sepanjang acara Persami yang baru saja ia lalui, kini runtuh total dalam sekejap mata, menyisakan luka dalam yang digoreskan oleh bayang-bayang masa lalu Rian yang belum sepenuhnya selesai.