Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 – Bima
“Kamu sudah bangun belum sih?” tanya Celsi di telepon. Suaranya yang cempreng menusuk telingaku. Kadang-kadang dia jadi lebih bawel daripada ibuku.
“Kalau udah, gue nggak bakalan ngangkat telepon elu!” jawabku yang masih tiduran di kasur, sejak subuh tadi aku nggak berenti ke kamar mandi. Perutku mules sekali. Buang air besarku tidak bagus. Cair. Sekarang aku merasa lemas sekali.
“Terus kenapa, tiba-tiba telepon dan nggak jadi mau ambil stripping?”
“Nggak mau. Cape. Itu berarti syutingnya gue udah nikah kan?”
“Iya, kalau emang elu beneran jadi nikah.”
“Jadi lah!” aku menghela napas, “insya Allah.”
“RCTI udah maksa banget. Mereka butuh sinetron buat naikin rating, kalau nggak bakalan bangkrut total. Secara iklan mereka udah nggak ada yang bertahan!” cerocos Celsi yang terdengar beradu dengan suara makanan yang ada di mulutnya.
“Elu, kalo ngomong, jangan sambil makan! Biar cuma ditelepon, kuping gue bisa ngerasa ludahlu muncrat ke mana-mana!” kataku kesal sambil mengusap perutku yang lagi-lagi terasa mules.
“Bim, bener elu nggak mau ambil sinetron stripping?”
“Nggak. Gue nggak mau. Ntar gue nggak punya waktu buat Naya. Masa udah nikah, tapi gue jarang di rumah. Sama aja kayak kalau gue nggak nikah?”
“Ehhmmm…, agak mulai waras rupanya lu?”
“Udah ah, perut gue sakit banget, mau ke kamar mandi. Gue udah diare tiga kali.”
“Kenapa sih? Elu makan apa kemaren?”
“Diajak Naya makan iga bakar sambel ijo,” kataku sambil melangkah gontai ke kamar mandi.
“Yah elah, elu makan sambel ijo. Sambel sasetan aja nangis! Kenapa nggak bilang kalau elu nggak bisa makan pedes? Malu ya? Aaaah… pasti malu kan lu!”
Aku yang sudah duduk di kloset, terdiam.
Tak lama kemudian, terdengar suara buang air.
“Anjir, elu bawa gue ke kamar mandi! Gila lu!” Celsi memutuskan telepon.
--
Aku duduk di sofa ruang tengah menerima bubur dari Mbok Asih, “Makasih, Mbok.”
“Mau dianter ke dokter?” tanya Mbok Asih. Pak Mardi berdiri di sebelahnya.
“Nggak usah. Mau istiarahat aja. Ntar siang juga baikkan.”
“Yo wis. Nanti siang makan nasi tim aja ya?” tanya Mbok Asih.
“Iya, makasih mbok.”
Setelah Mbok Asih dan Pak Mardi pergi, ponselku berbunyi. Ternyata dari Naya. Aku berdehem, memberikan energi pada suaraku agar tidak terdengar lemas, lalu menjawa telepon, “Halo?”
“Kata Kak Celsi, kamu sakit?” tanya Naya langsung tanpa basa-basi.
“Nggak.”
“Bohong!”
“Serius!” kataku sambil menyuap bubur, tapi kepanasan sehingga mulutku terbuka agar ada menenangkan lidahku.
“Aku ke rumah ya?” tanya Naya.
Deg.
“Eh.. nggak usah,” aku simpan mangkuk bubur di atas meja, menegakkan badan, lalu menggaruk-garuk kepala padahal tidak ada yang gatal.
“Mau dibawain apa? Buah?” tanya Naya lagi.
“Nggak usah, Nay. Aku sehat kok!” aku memperagakan gerakan senam, meski tahu Naya tidak akan bisa melihat apa yang aku lakukan. “Nih, aku lagi senam, tau!”
“Ya udah, aku ke situ nanti siang,” ucap Naya sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon.
Maksa banget! Aku bilang nggak usah, malah dia mau datang.
Gawat! Dia mau dateng! Berarti aku harus mandi, beberes, wangi.
Aku bangkit, pergi ke kamar, tapi lalu ingat perutku masih tidak enak, lalu aku kembali duduk ke sofa, menghabiskan bubur sampai terbatuk-batuk karena keselek makan terlalu cepat.
--
“Mau pergi ke mana, Mas Bima?” tanya Mbok Asih yang lagi merapikan nasi dan lauk di meja makan, ketika melihatku sudah seperti mau pergi ke luar. “Tadi katanya mau di rumah aja, mau istirahat. Sudah sembuh tah, perutnya?”
“Udah. Udah enakan kok,” jawabku tersenyum.
Tiba-tiba Pak Mardi datang dengan wajah terkejut, “Dan! Ada Neng Naya di depan, boleh masuk jangan?”
“Ya masuk, lah!” kataku sambil melangkah ke ruang tamu, meninggalkan Pak Mardi dan Mbok Asih yang saling melirik. Aku tahu mereka pasti membicarakan aku sesudah ini.
Di depan pintu ruang tamu yang putih dan besar, aku mengambil napas panjang, menenangkan jantungku yang berdebar kencang. Ini pertama kalinya, Naya datang ke rumahku. Sejak sarapan dan minum obat, frekuensi buang air besarku tidak terlalu sering lagi. Aku pegang gagang pintu silver mengkilap itu, lalu ku buka perlahan.
Naya berdiri dengan anggun. Padahal dia cuma pakai baju kerja biasa. Mungkin karena cahaya matahari hari itu bersinar cerah, wajah Naya di hadapanku tampak seperti cahaya di ujung lorong yang gelap. Memberikan ketenangan akan adanya harapan.
“Assalamu'alaikum?” kata Naya dengan suara lembutnya. Kepalanya agak miring sedikit, memastikan aku sadar karena tampak terlalu sering menatapnya.
“Eh, iya. Waalaikum salam. Ayo, masuk Nay,” kataku sambil melangkah masuk ke ruang tamu.
Ruang tamuku biasa saja. Memang luas dan besar, tapi hanya ada enam sofa dan meja kecil. Kadang ruang tamuku menjadi tempat pertemuan para produser atau sutradara yang datang meeting. Tapi kalau untuk keluarga, biasanya aku langsung mengajak mereka masuk ke ruang tengahku yang terhubung langsung dengan meja makan dan teras samping yang merupakan akses ke kolam renang.
Naya tampak melihat sekeliling, “Ini semua kamu bangun apa beli?”
“Bangun,” kataku sambil menuntunnya duduk di ruang tengah, di depan televisi 60 inch.
Naya duduk sambil memberikan buah pisang. “Aku beliin ini, nggak apa-apa kan?”
“Eh, iya. Makasih.” Aku simpan pisang di atas meja, “Kamu tau rumah aku dari siapa?”
“Kak Celsi,” jawabnya sambil masih memindai ruangan. Tidak ada foto atau poster apa pun di rumahku.
“Jadi Celsi bilang aku sakit apa?”
“Diare!” katanya menatapku.
“Ah, nggak cuma biasa aja. Sekarang udah nggak apa-apa,” kataku sambil melebarkan tangan, tapi tiba-tiba muncul gelombang mules dan bunyi geruguk geruguk di perutku.
“Serius nggak apa-apa?” tanya Naya mencondongkan kepalanya ke arah ku.
“Serius!” kataku menepuk perutku yang makin terasa mules.
“Aku bawain obat diare kalau kamu masih,” katanya sambil mengeluarkan obat anti diare.
“Nggak usah. Aku udah sembuh kok,” kataku duduk bersandar, padahal keringat dingin mulai keluar, karena perutku semakin terasa mules.
“Kamu kalau emang nggak bisa makan pedes, bilang aja.”
“Nggak. Ini bukan karena makanan pedes,” kataku menahan rasa ingin kentut yang amat sangat.
Alih-alih bicara, Naya menatapku dengan serius, seperti tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Aku akhirnya menyerah, menghela napas, lalu bangkit dan berkata, “Sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu.”
Naya tersenyum.
Aku bergegas lari masuk ke kamar mandi, karena sudah tidak tahan lagi.