NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31

Suasana makan malam di ndalem biasanya berlangsung khidmat dan hangat. Aroma opor ayam buatan Umi Hannah memenuhi ruangan, berpadu dengan suara denting sendok yang beradu pelan dengan piring porselen. Di kepala meja, Abi Luqman duduk dengan wibawa, sementara Gus Azlan berada di sisi kanan, tampak tenang seperti biasanya, meski pikirannya sesekali melayang pada tumpukan kitab di perpustakaan.

Zavier dan Zaheera duduk berdampingan. Zavier tampak sangat bersemangat malam ini; nafsu makannya telah kembali sepenuhnya sejak sembuh dari demam pasca-nikah beberapa bulan lalu. Ia menyendok kuah opor ke piring Zaheera dengan penuh perhatian, sebuah pemandangan romantis yang sudah biasa bagi penghuni rumah itu.

"Oh iya, Mas Azlan," buka Zavier di tengah kunyahannya. "Tadi sore saat aku meminjam skutermu untuk membeli batagor di persimpangan jalan, kami bertemu seseorang yang aneh."

Azlan mengangkat wajahnya perlahan, matanya yang tajam menatap adiknya datar. "Aneh bagaimana? Apa skuternya mogok?"

"Bukan skuternya," jawab Zavier santai, ia menoleh pada Zaheera yang mendadak terdiam dan sibuk dengan nasinya. "Kami bertemu seorang wanita. Penampilannya... cukup mencolok untuk ukuran desa ini. Dia teman lama Zaheera di kota A, katanya...."

Zaheera menyikut lengan Zavier di bawah meja, namun Zavier yang merasa tidak ada yang salah justru melanjutkan ceritanya dengan polos.

"Wanita itu punya banyak tato, Mas. Bahkan ada tato kupu-kupu hitam yang cukup besar di lehernya. Pakaiannya juga... yah, kau tahu sendiri bagaimana gaya orang kota yang sedang depresi," lanjut Zavier sambil terkekeh kecil.

Prang!

Bunyi pecahan kaca yang menghantam lantai ubin terdengar begitu nyaring di ruang makan yang tadinya tenang. Gelas berisi air putih yang sedari tadi dipegang Azlan terlepas dari genggamannya, hancur berkeping-keping. Air membasahi sebagian sarung dan lantai, namun Azlan seolah tidak merasakannya.

Wajah Azlan yang biasanya kokoh seperti batu karang, seketika berubah pucat pasi. Matanya membelalak, menatap kosong ke arah meja. Napasnya memburu, dan tangannya yang berada di atas meja tampak gemetar hebat.

"Mas Azlan? Ada apa?" tanya Zavier panik, ia segera berdiri hendak membantu kakaknya.

Umi Hannah, yang duduk di seberang Azlan, tidak tampak terkejut dengan jatuhnya gelas itu. Ia justru menatap putranya dengan pandangan yang sangat dalam dan penuh kesedihan. Sebagai seorang ibu, Umi tahu persis mengapa nama "gadis bertato" itu bisa meruntuhkan benteng pertahanan Azlan dalam sekejap. Umi tahu tentang surat taaruf yang tak terbalas itu. Umi tahu tentang luka lama yang tak pernah kering.

"Azlan... tenanglah, Nak," ucap Umi Hannah dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti bisikan.

Abi Luqman menghentikan makannya, menatap putra sulungnya dengan dahi berkerut. "Ada apa denganmu, Azlan? Kau tampak seperti melihat hantu."

Azlan tidak menjawab pertanyaan Abinya. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap Zavier dengan sorot mata yang penuh dengan kepedihan sekaligus tuntutan. "Di... di mana kau bertemu dengannya, Zavier? Di persimpangan jalan mana?"

Zavier mengernyitkan dahi, bingung dengan reaksi kakaknya yang berlebihan. "Di persimpangan jalan menuju pasar, Mas. Dekat penjual batagor Pak Man. Kenapa? Apa Mas Azlan mengenalnya?"

Azlan tidak menjawab. Ia justru beralih menatap Zaheera yang kini tertunduk dalam, tangannya meremas kain serbet di pangkuannya. "Zaheera... apa dia Azalea? Azalea Maheera?"

Zaheera mendongak pelan, matanya bertemu dengan mata Gus Azlan yang tampak hancur. "Iya, Mas. Dia Lea. Temanku dari kota A. Dia bilang dia baru saja kembali ke kampung halamannya."

Azlan memejamkan matanya rapat-rapat. Kalimat itu berputar-putar di kepalanya: Dia sudah kembali. Dia sudah di sini. Di kota ini.

Dalam hatinya, Azlan menjerit. Apa dia benar-benar sudah kembali dari Kota A? Setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar, setelah ia membuang Tuhannya dan menghias tubuhnya dengan tinta yang haram? Kenapa ia kembali sekarang?

Bayangan Azalea yang suci dengan jilbab panjangnya dulu, kini bertabrakan dengan deskripsi Zavier tentang "gadis bertato" yang berpenampilan urakan. Hati Azlan terasa seperti diremas. Luka yang ia kira sudah menutup selama bertahun-tahun, kini terbuka lebar kembali, lebih perih dari sebelumnya.

"Maaf, Abi... Umi... aku merasa kurang enak badan," ucap Azlan dengan suara yang hampir menghilang. Ia berdiri tanpa memperdulikan pecahan gelas yang masih berserakan. "Zavier, bereskan sisanya. Aku mau ke kamar."

Azlan melangkah pergi dengan terburu-buru, meninggalkan ruang makan dalam keheningan yang mencekam. Zavier menatap punggung kakaknya dengan penuh tanya, lalu beralih menatap Umi Hannah.

"Umi... apa Zavier salah bicara?" tanya Zavier dengan rasa bersalah yang besar.

Umi Hannah menghela napas panjang, ia memberi isyarat agar Zaheera mendekat. Umi mengusap bahu menantunya itu. "Tidak, Zavier. Kau tidak salah. Hanya saja... ada beberapa cerita masa lalu yang mungkin lebih baik tetap menjadi rahasia untuk saat ini. Biarkan Mas-mu menenangkan diri."

Di dalam kamarnya, Azlan menyandarkan punggungnya di balik pintu yang terkunci. Ia merosot hingga terduduk di lantai, persis seperti yang ia lakukan bertahun-tahun lalu saat mendengar kabar Azalea pindah agama dan bertato.

Ia meraih kitab yang terselip foto lama itu. Ditatapnya wajah Lea yang masih tersenyum tipis di sana.

"Kenapa kau kembali, Lea?" bisiknya pada kegelapan. "Kenapa kau kembali dalam keadaan seperti itu? Apa kau ingin menunjukkan padaku bahwa doa-doaku selama ini sia-sia?"

Azlan teringat pesan terakhir yang disampaikan Zavier; wanita itu menitipkan salam untuk "pemilik motor". Azlan tahu, itu bukan sekadar salam. Itu adalah sebuah tantangan, atau mungkin sebuah tangisan minta tolong yang disamarkan dalam bentuk sinisme.

Di saat yang sama, di kamar sebelah, Zaheera memeluk suaminya dengan erat. Ia merasa bersalah karena telah membawa nama Azalea ke tengah-tengah keluarga ini. Zavier mengusap rambut istrinya, mencoba memberikan ketenangan meski ia sendiri masih bingung.

"Mas... apa Gus Azlan sangat mencintai Azalea?" tanya Zaheera lirih.

Zavier terdiam sejenak. "Sepertinya begitu, Sayang. Mas belum pernah melihat Mas Azlan sekacau itu hanya karena sebuah nama. Sepertinya, badai baru saja dimulai di pesantren ini."

Malam itu, Pesantren Al-Iman tidak lagi terasa setenang biasanya. Di satu kamar ada doa syukur atas sebuah pernikahan, sementara di kamar lain ada rintihan pedih atas sebuah kehilangan yang kembali menghantui.

Dan di kejauhan, di bawah lampu jalan yang remang, seorang wanita dengan tato kupu-kupu di lehernya sedang menatap bintang, menantikan kapan takdir akan mempertemukannya kembali dengan pria yang pernah menjanjikannya mahar Surah Ar-Rahman.

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
Ros🍂: Okay kak🥰
total 1 replies
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!