NovelToon NovelToon
Tergila-gila Duda

Tergila-gila Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vlav

Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.

Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.

Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.

Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

031

Roseo berjalan mengikuti langkah Mary yang sibuk mencari kain di salah satu toko kain terbesar yang ada di Dagoo.

Mary terlihat begitu teliti dan detail saat memeriksa setiap kain yang dipegangnya.

Roseo bertanya-tanya, apakah Mary memang ingin menyelesaikan gaun kurang bahan yang waktu itu dipamerkan oleh Mary.

Roseo menyugar rambutnya sambil berpikir, Mary tak perlu memakai gaun hanya untuk merayunya karena ia sudah tergoda.

Rasanya Roseo masih tak bisa memercayai bahwa bidadari secantik Mary bersedia bercocok tanam bersamanya.

“Roseo, menurutmu, mana yang lebih bagus, kain bermotif ini, atau yang polos ini?” Tanya Mary.

Mary mengerutkan keningnya melihat Roseo yang melamun.

“Ros!” panggil Mary.

“Eh, maaf, apa tadi?” Tanya Roseo.

“Yang bermotif, atau yang polos? Mana yang lebih bagus?" Tanya Mary sambil menunjukan dua kain itu.

Roseo menghampiri Mary, mendekat lalu berbisik.

“Aku lebih suka, kau tidak memakai apapun daripada memakai gaun kurang bahan itu".

“Roseo!” Mary melotot sambil mencubit lengan pria itu.

Roseo menyeringai melihat Mary melotot.

“Kenapa kau jadi mesum begitu sih,” cibir Mary.

“Bukannya kau yang membuatku jadi mesum begitu,” balas Roseo.

Mary kembali memukul lengan Roseo dengan gemas.

Semalam mereka memang menghabiskan malam dengan bercocok tanam.

Mereka melakukannya di semua tempat yang ada di kamar hotel itu. Mulai dari tempat tidur, sofa, kamar mandi, hingga area balkon.

Ide-ide gila yang diajukan Mary benar-benar membuat Roseo merealisasikan semua kegilaan itu dan gilanya, ia sangat menyukai kegilaan itu.

Mary kembali memilih kain yang hendak dibelinya. Sepertinya ia benar-benar sudah salah bertanya pada pria yang sama sekali tidak paham estetika dan keindahan.

Mary akhirnya membeli lumayan banyak gulungan kain, beserta pernak-pernik lainya.

Untunglah ada Roseo yang menemaninya, sehingga Mary tidak perlu merasa repot membawa semua barang belanjaannya yang dikemas dalam dua buah kardus besar.

“Roseo, apakah berat?” Tanya Mary.

“Ini bahkan lebih ringan daripada dua karung labu,” sahut Roseo.

“Haha, sepertinya kau ini memang monster,” Mary tertawa kecil.

Roseo menyeringai merasa senang karena kehadirannya berguna bagi Mary.

Langkah Roseo terhenti saat Mary pun berhenti untuk melihat adanya proses pemotretan model di jalan.

“Wah, tampan sekali!” Puji Mary.

Roseo mengerutkan keningnya melihat Mary yang matanya berbinar-binar melihat para pria tampan dengan tubuh ramping dalam balutan pakaian modis sedang berpose di depan kamera mengikuti arahan dari sang fotografer.

“Tampan?! Mereka bahkan terlihat seperti cacing yang memakai baju!” Cibir Roseo.

Mary melemparkan senyumnya pada Roseo.

“Roseo, fashion teroris sepertimu tidak perlu berkomentar,” kata Mary.

“Apa? Fashion teroris? Aku bukan teroris, aku ini petani!” Protes Roseo.

Mary hanya melemparkan senyumnya, ia kembali terfokus pada model yang sedang berpose.

Sementara Roseo hanya bisa mendelik gusar melihat Mary yang seakan terpesona pada para pria itu.

“Apa bagusnya para pria kurus ceking yang aku yakin bobot tubuhnya tidak lebih berat  dari sekarung labu,” Roseo kembali berkomentar.

“Mereka terlihat angkuh dan banyak gaya! Aku yakin, tulang mereka pasti akan langsung patah jika kusuruh mereka mengangkat dua karung labu!”

“Haha!” Mary tertawa mendengarkan komentar Roseo.

“Roseo, apa kau tahu, mengapa mereka disebut sebagai model?” Tanya Mary.

“Karena mereka kurus,” jawab Roseo sekedarnya.

Mary mengulum senyumnya, Roseo sungguh pria dengan cara berpikir yang sangat sederhana.

“Mereka disebut model karena mereka tidak mengangkat berkarung-karung labu sepertimu”, sahut Mary.

Mary kembali menatap para model pria itu secara saksama. 

Roseo jadi berpikir, Mary tak pernah menatapnya dengan tatapan seperti itu. Mary terlihat begitu fokus dan begitu detail memandangi para model itu.

Apakah Mary sungguh sangat menyukai para pria tampan dengan tubuh kurus berpenampilan trendi?

Roseo juga teringat saat pertama kali Mary melihat Leo, Mary juga menatap Leo dengan tatapan seperti itu. Ia memerhatikan penampilan Leo secara menyeluruh, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Mary!”

Mary menoleh saat seseorang menyapanya. Netra Mary segera menangkap sosok pria berpenampilan rapi dan klimis dengan lanyard dari perusahaan terkemuka yang terkalung di lehernya.

“Alex!” Balas Mary.

Pria rapi dan klimis itu mengulas senyum selebar mungkin saat menarik tangan Mary agar mereka berjabat tangan.

“Sudah lama kita tidak bertemu, Mary. Kau terlihat sangat cantik, tidak kau masih tetap terlihat sangat cantik seperti dulu,” puji Alex.

Mary mengulas senyumnya mendengar pujian dari Alex. Alex sendiri adalah pria yang dulu sangat tergila-gila pada Mary. Namun, Mary hanya menganggap Alex sebagai teman.

Alex dulu merupakan anak dari pemilik rumah kos tempat Mary tinggal.

“Alex kau terlalu memuji, tapi aku senang dengan kejujuranmu,” ucap Mary.

“Mary, bagaimana jika kita berbincang sebentar? Mari kita pergi ke kafe itu,” kata Alex.

Mary melirik ke arah Roseo, pria itu sama sekali tidak berekspresi melihat Alex masih menjabat tangan Mary, seakan pria itu enggan untuk melepas tangan Mary.

“Oh ya, ngomong-ngomong siapa pria ini? Pria ini bukan kekasihmu, kan?”

Alex memindai penampilan Roseo yang berdiri di samping Mary.

“Kekasih?” Mary terperangah. “Tentu saja, dia bukan kekasihku, Alex,” sahut Mary.

“Haha, tentu saja, maafkan aku karena sudah mengira standarmu terhadap pria sudah turun, Mary,” kata Alex.

“Haha,” Mary balas tertawa kecil.

Roseo tertegun mendengar percakapan Mary dan Alex.

Roseo jadi berpikir, apakah keberadaannya sungguh begitu memalukan hingga Mary tidak mengakuinya.

“Oh, ya, Alex, perkenalkan, ini Roseo,” kata Mary.

“Namaku Alex”.

Alex yang tadinya hendak mengulurkan tangan langsung tak jadi karena melihat Roseo membawa dua kardus besar.

“Aku adalah teman baik Mary, dulu Mary tinggal di rumahku, lebih tepatnya rumah kos milik orang tuaku!” Tukas Alex memperkenalkan dirinya.

“Hmm, ya,” sahut Roseo datar.

“Mary, ayo kita mampir di kafe itu, kita sudah lama tidak bertemu jadi sebaiknya kita berbincang-bincang sebentar,” ajak Alex.

Mary melirik ke arah Roseo. Pria itu segera balik badan dan melangkah pergi.

“Roseo, kau mau kemana?” Tanya Mary.

“Aku tunggu di sana,” jawab Roseo.

“Di kafe lebih nyaman,” kata Mary.

“Ya, aku tidak masalah, teman Mary akan kuanggap temanku juga,” sahut Alex.

Roseo mengerutkan alisnya melihat sikap Alex yang begitu sok akrab.

***

“Kau mau pesan apa Roseo?” 

Mary bertanya pada Roseo yang nampak sibuk membaca daftar menu yang diberikan pegawai kafe. Daftar menu yang tertulis dalam bahasa Inggris jelas membuat pria itu mengerutkan keningnya.

Alex melihat Roseo yang dari tadi hanya membolak-balik buku menu padahal pelayan sudah menunggu.

Sejujurnya, Alex tidak suka Mary mengajak pria itu karena Alex ingin berbincang banyak dengan Mary dan tentunya ia ingin menyombongkan pencapaiannya. Siapa tahu Mary akan tertarik padanya.

“Apa kau butuh rekomendasi?” Tanya Alex pada Roseo.

“Jangan merasa sungkan seperti itu karena aku bisa melihat bahwa pria sepertimu sepertinya tidak pernah nongkrong di kafe, benar begitu kan?!” Lanjut Alex.

Roseo langsung mengembalikan buku menu pada pelayan sambil menunjuk menu yang ia pesan.

“Ya, kau benar,” jawab Roseo. “Aku memang tidak pernah nongkrong di kafe”.

“Oh, wah, aku yang pegawai perusahaan top saja harus selalu nongkrong demi menghilangkan penat karena tekanan pekerjaan,” kata Alex.

Nada bicara Alex terdengar merendahkan Roseo. 

“Ngomong-ngomong Alex, selamat kau sudah bekerja di perusahaan top karena itu cita-citamu dari dulu,” potong Mary.

“Oh tentu saja Mary! Aku benar-benar senang, aku bahkan akan lebih senang lagi, jika kau bersedia berkencan denganku,” kata Alex.

1
Mely L
jono asal klaim aja
VLav: namanya juga jono ka 😄
total 1 replies
La La
babi 🤣 haram
Milan Oh
tinggalin jejak 👍
oppa super
ciee dijemput
Syahdar Gazali
awalnya menarik 👍
Syahrin Arizki
ditolongin itu ya ucapkan terima kasih, kok malah shamming
Nancy Avika
estetika keindahan 👍
Lucynta Guo
plis yg paling butuh validasi minggir
Nancy Avika
kapoo poll 🤣
nay
wahh jadi ibu dewan ya
Sha Sha
kucing lapar🤭
Sha Sha
Jono, tunggu janda yaa
Lavia
hihh jono
Nancy Avika
hayoloohh gentong air kumuh
Dedew
Minta tolong kek ngajak gelut
Tinsley Carmichael
Lanjut thor
Tinsley Carmichael
Mmpz
Tinsley Carmichael
Salah bgt km gendis strateginya
Tinsley Carmichael
Awalnya simpati ma gendis klo jd ibu tunggal ternyata ad lakinya 🤣
Tinsley Carmichael
Berasa dracin wkwkkw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!